Se connecter"Takut apa, Ay?" tanya Rangga lembut. Tangannya masih melingkar di tubuh Ayu, tetapi pelukannya perlahan dilonggarkan. Ibu jarinya menyapu air mata yang mengalir di pipi istrinya.Ayu mengangkat wajah. Matanya sembap, hidungnya memerah. Bibirnya bergetar beberapa saat sebelum akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur."Aku takut..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Takut kamu ninggalin aku."Rangga diam.Ayu menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara semakin bergetar. "Takut kamu menemukan perempuan lain yang lebih baik dari aku. Perempuan yang enggak pernah menyakitimu. Perempuan yang bisa bikin kamu bahagia tanpa harus membawa luka seperti yang aku lakukan."Rangga menatapnya beberapa detik. Tidak ada kemarahan di wajah pria itu. Justru ketenangan itulah yang membuat dada Ayu semakin sesak."Begitu?" jawab Rangga singkat.Ayu mengangguk kecil. "Iya..." Air matanya kembali jatuh. "Aku takut suatu hari kamu sadar kalau kamu sebenarnya enggak perlu aku."Rangga te
Pintu kamar yang tadinya hanya terbuka sedikit mendadak terdorong lebar-lebar dengan sendirinya!Suara desahan berganti menjadi keheningan mendadak. Rangga dan Roselyn menghentikan pergerakan mereka secara serentak. Keduanya perlahan memutar kepala, menoleh lurus ke arah Ayu yang berdiri membeku di ambang pintu.Tidak ada raut terkejut atau bersalah di wajah mereka. Malahan, sebuah ukiran senyum sinis perlahan merekah di bibir Rangga, menyebar menjadi derai tawa dingin yang menggema memenuhi seluruh ruangan. Roselyn pun menyusul, tertawa kecil dengan suara nyaring, merdu, namun terdengar begitu menyayat ulu hati Ayu."Rangga...?" bisik Ayu dengan suara tercekat, runtuh ke lantai. "Apa... apa yang kalian lakukan?"Rangga menatap Ayu dari atas tempat tidur, pandangan matanya penuh dengan kedinginan yang mematikan."Kenapa kamu terkejut, Ayu?" tanya Rangga dengan nada santai, namun setiap katanya terasa bagai sembilu tajam. "Ini adalah balasan dari pengkhianatan yang kamu lakukan! Kamu p
Mobil kembali melaju setelah Roselyn menghilang di balik pintu kaca gedung megah itu. Ayu masih menoleh ke belakang. Gedung tersebut perlahan menjauh, tertutup oleh kendaraan yang melintas di antara mereka.Entah kenapa, perasaan aneh masih tertinggal di dadanya."Mbak Rose..." gumam Ayu pelan.Rangga yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kenapa?"Ayu tersentak kecil. "Hah?""Kamu manggil Rose.""Oh..." Ayu kembali menatap keluar jendela. "Enggak apa-apa. Aku cuma masih kepikiran.""Urusan tadi?"Ayu mengangguk. "Iya."Rangga diam beberapa saat. "Jangan terlalu dipikirkan."Ayu menoleh. "Mas tahu dari mana aku sedang memikirkannya?"Rangga tersenyum tipis. "Kelihatan.""Kelihatan?""Iya." Rangga menunjuk wajah Ayu. "Alismu kalau sedang bingung suka berkerut."Ayu spontan menyentuh dahinya. "Serius?"Rangga tertawa kecil. "Serius."Ayu ikut tersenyum. Untuk beberapa detik, suasana terasa jauh lebih ringan. Namun, rasa kantuk perlahan datang tanpa bisa ditahan. Ayu menyandarkan kepala ke j
Mobil SUV hitam itu melaju mulus meninggalkan kawasan bandara. Kabin yang hangat membuat embusan udara dingin Sydney hanya terlihat lewat embun tipis di kaca jendela. Ayu duduk diam di kursi belakang bersama Rangga, sementara Roselyn sesekali menunjuk bangunan-bangunan yang mereka lewati."Kalau cuacanya lagi cerah, dari jalan ini kamu bisa lihat pelabuhan lebih jelas," ujar Roselyn sambil tersenyum. "Nanti kalau kamu sudah istirahat, aku ajak jalan-jalan."Ayu mengangguk pelan. "Iya, Mbak.""Kamu suka kopi, kan?""Suka...""Nah, dekat apartemen nanti ada kafe kecil langgananku. Baristanya orang Indonesia. Lumayan buat ngobatin kangen suasana rumah."Ayu tersenyum tipis. "Mbak Rose hafal banget, ya..."Roselyn terkekeh kecil. "Ya harus, dong. Rangga sudah berkali-kali mengingatkan aku supaya kamu betah di sini."Rangga hanya tersenyum tanpa ikut menyela. Belum sempat percakapan berlanjut, suara dering ponsel memecah suasana.Tring...Roselyn melirik layar ponselnya. Senyumnya perlahan
Sinar matahari pagi yang cerah menembus kaca jendela besar Bandara Internasional Kingsford Smith, Sydney. Udara dingin khas awal musim dingin langsung menyapa kulit saat Ayu melangkah keluar dari garbarata, mengekor di belakang Rangga. Langkah kaki Rangga terasa mantap, sementara Ayu harus berjuang keras menyeimbangkan langkahnya yang gontai. Rasa lelah, kantuk, dan kecemasan yang membakar dadanya sepanjang malam di atas pesawat masih menyisa utuh.Ayu memegang erat tali tas tangannya. Setiap kali ia melirik Rangga, bayangan pesan singkat rahasia di ponsel suaminya semalam kembali teringat jelas: “Semua persiapan di Sydney sudah siap. Pastikan dia tidak curiga.”"Kamu kuat banget pegang tasnya, Ay. Kenapa? Ada yang ketinggalan di pesawat?" tanya Rangga pelan seraya menoleh, menangkap kegelisahan istrinya.Ayu menggeleng cepat, memaksakan senyum tipis. "Enggak, Sayang. Cuma agak dingin saja.""Nanti di mobil langsung pakai jaket tebal, ya. Kita jalan ke area penjemputan sekarang," kata
Deg!Seketika itu juga, jantung Ayu berdetak begitu kencang hingga serasa hendak meloncat keluar dari rongga dadanya. Darah di dalam tubuhnya mendadak berhenti mengalir, menyisakan rasa dingin merayap dari ujung kaki hingga ke tempurung kepalanya.“Pastikan dia tidak curiga?”Kata-kata itu menari-nari liar di dalam ingatan Ayu, membakar habis sisa-sisa ketenangan yang coba ia bangun sepanjang hari. Otaknya bekerja secara instan, membedah setiap suku kata dari pesan misterius tersebut dengan kepanikan yang luar biasa.“Dia? Siapa yang dimaksud 'dia' dalam pesan ini?” bisik Ayu di dalam batinnya yang kini berteriak histeris. “Apakah 'dia' itu aku?! Siapa yang mengirim pesan ini malam-malam begini? Apakah nomor ini milik Roselyn? Ataukah orang lain yang disuruh oleh Rangga? Persiapan apa yang sudah siap di Sydney? Ya Tuhan... persiapan apa?!”Ayu meremas selimut tebal yang melingkupi kakinya. Napasnya mulai tersengal-sengal, naik-turun dengan cepat. Keringat dingin menetes pelan dari pel
Ayu memandangi foto itu. Rangga terlihat bahagia, kasual namun formal, mengenakan jas yang selalu ia kenakan untuk rapat penting. Sementara Tania, wanita di sebelahnya, tampak elegan dan memancarkan aura 'wanita karier sukses'."Tania? Bukannya dia itu rekan satu tim Rangga di kantor cabang Austral
"Daniel, kamu tahu? Tadi pagi aku bangun, panik karena terlambat, dan aku mengecek ponselku. Aku berharap ada panggilan tak terjawab atau pesan panik dari Rangga yang menanyakan aku di mana. Tetapi apa? Hanya satu pesan," Ayu tertawa pahit. "Satu pesan yang bilang dia lagi rapat mendadak dengan kli
Kata-kata itu terngiang. Napas Ayu seketika tertahan. Senyumnya pudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi. Jantungnya berdebar, bukan karena kenikmatan yang memuncak, melainkan karena rasa panik yang merayap.Cinta?Satu kata itu bergema keras dalam kepala Ayu.Cinta? Apakah aku juga cinta kepad
Suara bip pelan dari kunci pintu digital membuyarkan lamunannya. Pintu kamar terbuka perlahan.Ayu menahan napas, menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, meski ia tahu tidak ada satu inci pun dari tubuhnya yang belum dilihat atau dicicipi oleh pria yang kini berdiri di ambang pintu itu.Daniel mas







