Share

Bab 23

Author: Khai Tsan
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-05 18:11:14

Sensasi nyata tubuh Daniel yang ada di atasnya merasukinya dengan dorongan yang kuat dan memuaskan. Ingatan Ayu tentang Kevin dan Rina, tentang gairah tak terhalang di atas meja rapat, kini berpadu dengan sensasi Daniel, memvalidasi keputusannya.

Daniel bergerak dengan ritme yang tenang namun mendominasi, merespons setiap desahan dan cengkeraman Ayu. Ayu mencengkeram bahu Daniel, menggoreskan kukunya ke kulit pria itu, menuntut lebih banyak agresi dan kecepatan.

"Lebih cepat, Niel! Ahh! Cepat!"
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 143

    "Dan ini adalah koper terakhir. Pak Rangga, Bu Ayu, saya pamit dulu. Selamat beristirahat. Kalau ada perlu apa-apa, Pak Rangga bisa langsung hubungi saya," ucap Pak Tri seraya meletakkan koper besar berbahan polycarbonate itu di samping meja konsol lobi dalam apartemen.Rangga tersenyum ramah, melangkah mendekati sopir paruh baya itu. "Terima kasih banyak ya, Pak Tri. Maaf sudah merepotkan dari pagi, apalagi tadi sempat ada drama sedikit.""Ah, tidak apa-apa, Pak Rangga. Sudah tugas saya," Pak Tri terkekeh pelan, menyalami tangan Rangga dengan penuh hormat. "Ibu Roselyn juga pesan ke saya tadi, pastikan Pak Rangga dan Bu Ayu nyaman. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.""Iya, Pak Tri. Hati-hati di jalan. Nanti kalau saya butuh diantar ke kantor atau tempat lain, saya kabari via WhatsApp.""Siap, Pak. Selamat siang, Bu Ayu," pamit Pak Tri.Ayu tersentak kecil dari lamunannya, lalu menyunggingkan senyum canggung. "Iya, Pak Tri. Terima kasih banyak, ya."Setelah pintu utama apartemen te

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 142

    "Takut apa, Ay?" tanya Rangga lembut. Tangannya masih melingkar di tubuh Ayu, tetapi pelukannya perlahan dilonggarkan. Ibu jarinya menyapu air mata yang mengalir di pipi istrinya.Ayu mengangkat wajah. Matanya sembap, hidungnya memerah. Bibirnya bergetar beberapa saat sebelum akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur."Aku takut..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Takut kamu ninggalin aku."Rangga diam.Ayu menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara semakin bergetar. "Takut kamu menemukan perempuan lain yang lebih baik dari aku. Perempuan yang enggak pernah menyakitimu. Perempuan yang bisa bikin kamu bahagia tanpa harus membawa luka seperti yang aku lakukan."Rangga menatapnya beberapa detik. Tidak ada kemarahan di wajah pria itu. Justru ketenangan itulah yang membuat dada Ayu semakin sesak."Begitu?" jawab Rangga singkat.Ayu mengangguk kecil. "Iya..." Air matanya kembali jatuh. "Aku takut suatu hari kamu sadar kalau kamu sebenarnya enggak perlu aku."Rangga te

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   141

    Pintu kamar yang tadinya hanya terbuka sedikit mendadak terdorong lebar-lebar dengan sendirinya!Suara desahan berganti menjadi keheningan mendadak. Rangga dan Roselyn menghentikan pergerakan mereka secara serentak. Keduanya perlahan memutar kepala, menoleh lurus ke arah Ayu yang berdiri membeku di ambang pintu.Tidak ada raut terkejut atau bersalah di wajah mereka. Malahan, sebuah ukiran senyum sinis perlahan merekah di bibir Rangga, menyebar menjadi derai tawa dingin yang menggema memenuhi seluruh ruangan. Roselyn pun menyusul, tertawa kecil dengan suara nyaring, merdu, namun terdengar begitu menyayat ulu hati Ayu."Rangga...?" bisik Ayu dengan suara tercekat, runtuh ke lantai. "Apa... apa yang kalian lakukan?"Rangga menatap Ayu dari atas tempat tidur, pandangan matanya penuh dengan kedinginan yang mematikan."Kenapa kamu terkejut, Ayu?" tanya Rangga dengan nada santai, namun setiap katanya terasa bagai sembilu tajam. "Ini adalah balasan dari pengkhianatan yang kamu lakukan! Kamu p

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 140

    Mobil kembali melaju setelah Roselyn menghilang di balik pintu kaca gedung megah itu. Ayu masih menoleh ke belakang. Gedung tersebut perlahan menjauh, tertutup oleh kendaraan yang melintas di antara mereka.Entah kenapa, perasaan aneh masih tertinggal di dadanya."Mbak Rose..." gumam Ayu pelan.Rangga yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kenapa?"Ayu tersentak kecil. "Hah?""Kamu manggil Rose.""Oh..." Ayu kembali menatap keluar jendela. "Enggak apa-apa. Aku cuma masih kepikiran.""Urusan tadi?"Ayu mengangguk. "Iya."Rangga diam beberapa saat. "Jangan terlalu dipikirkan."Ayu menoleh. "Mas tahu dari mana aku sedang memikirkannya?"Rangga tersenyum tipis. "Kelihatan.""Kelihatan?""Iya." Rangga menunjuk wajah Ayu. "Alismu kalau sedang bingung suka berkerut."Ayu spontan menyentuh dahinya. "Serius?"Rangga tertawa kecil. "Serius."Ayu ikut tersenyum. Untuk beberapa detik, suasana terasa jauh lebih ringan. Namun, rasa kantuk perlahan datang tanpa bisa ditahan. Ayu menyandarkan kepala ke j

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 139

    Mobil SUV hitam itu melaju mulus meninggalkan kawasan bandara. Kabin yang hangat membuat embusan udara dingin Sydney hanya terlihat lewat embun tipis di kaca jendela. Ayu duduk diam di kursi belakang bersama Rangga, sementara Roselyn sesekali menunjuk bangunan-bangunan yang mereka lewati."Kalau cuacanya lagi cerah, dari jalan ini kamu bisa lihat pelabuhan lebih jelas," ujar Roselyn sambil tersenyum. "Nanti kalau kamu sudah istirahat, aku ajak jalan-jalan."Ayu mengangguk pelan. "Iya, Mbak.""Kamu suka kopi, kan?""Suka...""Nah, dekat apartemen nanti ada kafe kecil langgananku. Baristanya orang Indonesia. Lumayan buat ngobatin kangen suasana rumah."Ayu tersenyum tipis. "Mbak Rose hafal banget, ya..."Roselyn terkekeh kecil. "Ya harus, dong. Rangga sudah berkali-kali mengingatkan aku supaya kamu betah di sini."Rangga hanya tersenyum tanpa ikut menyela. Belum sempat percakapan berlanjut, suara dering ponsel memecah suasana.Tring...Roselyn melirik layar ponselnya. Senyumnya perlahan

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 138

    Sinar matahari pagi yang cerah menembus kaca jendela besar Bandara Internasional Kingsford Smith, Sydney. Udara dingin khas awal musim dingin langsung menyapa kulit saat Ayu melangkah keluar dari garbarata, mengekor di belakang Rangga. Langkah kaki Rangga terasa mantap, sementara Ayu harus berjuang keras menyeimbangkan langkahnya yang gontai. Rasa lelah, kantuk, dan kecemasan yang membakar dadanya sepanjang malam di atas pesawat masih menyisa utuh.Ayu memegang erat tali tas tangannya. Setiap kali ia melirik Rangga, bayangan pesan singkat rahasia di ponsel suaminya semalam kembali teringat jelas: “Semua persiapan di Sydney sudah siap. Pastikan dia tidak curiga.”"Kamu kuat banget pegang tasnya, Ay. Kenapa? Ada yang ketinggalan di pesawat?" tanya Rangga pelan seraya menoleh, menangkap kegelisahan istrinya.Ayu menggeleng cepat, memaksakan senyum tipis. "Enggak, Sayang. Cuma agak dingin saja.""Nanti di mobil langsung pakai jaket tebal, ya. Kita jalan ke area penjemputan sekarang," kata

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 76

    "Apa? Apa pun. Kamu mau tas baru? Perhiasan?" tawar Rangga cepat.Ayu menggeleng. "Bukan. Aku nggak mau langsung balik ke Jakarta."Kening Rangga berkerut. "Terus?""Aku mau tetap di sini. Di Bali," ucap Ayu. "Aku butuh liburan ini, Ngga. Aku capek sama kerjaan di Jakarta, capek sama drama ini. Izi

    last updateHuling Na-update : 2026-03-30
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 71

    Hembusan udara dingin dari pendingin ruangan menyapu kulit telanjang Ayu, namun hangat tubuh Daniel yang memeluknya erat seolah menjadi tameng dari dunia luar. Mata Ayu terpejam, menikmati detak jantung Daniel yang perlahan kembali normal di bawah telinganya. Irama itu teratur, tenang, sangat kontr

    last updateHuling Na-update : 2026-03-29
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 64

    Rangga mendorong tubuh Ayu hingga telentang di atas karpet tebal di kaki tempat tidur. Ia tidak sabar memindahkannya ke kasur. Ia menindih Ayu, lututnya memisahkan kedua paha istrinya dengan paksa."Buka... buka buat aku, Ay," perintah Rangga napasnya memburu di telinga Ayu.Ayu melebarkan kakinya,

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 63

    "Nggak! Demi Tuhan, nggak sampai sejauh itu!" potong Rangga cepat, matanya membelalak panik seolah Ayu baru saja menuduhnya membunuh. "Aku berhasil kabur pas dia ke toilet. Aku lari, Yu. Aku lari kayak pengecut ninggalin beach club itu. Aku takut... aku ngerasa dilecehkan, tapi aku juga ngerasa ber

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status