LOGIN"Nieel, emmbh aaah..." rintih Ayu dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Kedua matanya terpejam rapat saat merasakan kehangatan yang basah dan sangat intim mulai menyapu sensitivitas bagian bawahnya.Ayu meremas ujung sofa kulit abu-abu itu dengan sangat kencang hingga kuku-kukunya memutih. Untuk menikmati sensasi panas yang menjalar tersebut, Ayu mengangkat bokongnya lebih tinggi ke udara. Tangan kirinya bertumpu kuat menahan beban tubuhnya di atas sofa, sementara tangan kanannya bergerak ke belakang, memegang sebelah belahan bokongnya yang sintal dan menariknya lebar-lebar ke samping."Iya, Niel... ahh, kayak gitu... jilat terus, Niel, aaaah!" desah Ayu, tubuhnya gemetar menerima serangan lidah Daniel yang begitu lihai.Rasa rindu yang membakar membuat Ayu kehilangan seluruh urat malunya. Gairah liar yang dipicu dari permainan semalam bersama Rangga seolah menuntut kepuasan yang lebih ekstrem pagi ini."Sayang, uuuh... jilat sebelah sini juga," bisik Ayu dengan napas memburu. Ja
Di atas sofa abu-abu itu, posisi mereka kini berubah. Ayu bergerak merangkak naik dan duduk di atas pangkuan Daniel. Ia memimpin permainan, menaik-turunkan pinggulnya dengan ritme yang semakin cepat, membiarkan kejantanan Daniel menghujam bagian depannya dengan telak. Ruang tamu vila kuno itu kembali riuh oleh suara kulit yang beradu dan deru napas yang memburu."Uuuh, Ayu... kamu semakin liar, aah," ucap Daniel. Suaranya serak, kedua tangannya mencengkeram pinggul Ayu untuk mengimbangi gerakan liar wanita itu.Ayu memejamkan mata, kepalanya mendongak dengan rambut yang basah oleh keringat. "Kamu suka, kan, Niel... ahh... kalau aku di atas seperti ini?" ucap Ayu sambil terus memutar dan menggerakkan pinggulnya di atas batang kejantanan Daniel."Suka banget, Yu... terus, Niel... ahh..." jawab Daniel dengan napas yang semakin pendek.Ayu membawa kedua tangannya ke depan, menuntun tangan Daniel untuk naik ke atas tubuhnya. "Remas dadaku, Niel... ahh, aku rindu banget sama sentuhanmu," la
"Masuk dulu, Yu," ucap Daniel dengan nada gugup. Tangannya yang agak gemetar menarik lengan Ayu agar segera melangkah melewati ambang pintu.Ayu melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang. Sementara itu, Daniel sempat mengeluarkan kepalanya lagi ke luar, menengok ke kanan dan ke kiri halaman dengan waswas, memastikan tidak ada mobil lain yang membuntuti. Setelah merasa aman, ia menarik kepalanya kembali ke dalam.*Klik.*Seketika setelah pintu kayu besar itu tertutup rapat dan terkunci, pertahanan mental Ayu runtuh. Rasa rindu, takut, dan bingung yang ia tahan sepanjang jalan meledak begitu saja. Tanpa membuang waktu, Ayu langsung maju dan memeluk tubuh Daniel dengan erat dari belakang, menyandarkan wajahnya pada punggung pria itu.Bahunya mulai naik turun, sedikit terisak. "Kamu kenapa tiba-tiba pergi, Niel? Apa maksud pesan kamu kalau kita tidak bisa bersama lagi?"Daniel menghela napas panjang, tubuhnya menegang di dalam dekapan Ayu. "Rumit kalau diceritakan, Yu. Tapi sebe
"Kayaknya aku kenal daerah ini," gumam Ayu sambil memicingkan matanya, memperhatikan rute di Google Maps yang terpasang di dekat kemudi mobilnya.Mobilnya terus melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Ayu mengetuk-ngetuk setir dengan jari, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia melewati rute jalanan yang dipenuhi pohon-pohon besar ini."Tunggu dulu... ini kan jalan ke arah Jagakarsa," ucap Ayu pada diri sendiri. Ia melirik sekilas ke arah secarik kertas dari Rangga yang diletakkannya di dasbor. "Alamat ini... astaga, kenapa aku bisa lupa?"Ayu mendadak teringat sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang. Lokasi yang dituju di peta digital itu bukan daerah asing."Ini kan salah satu aset milik keluarga Rangga," gumam Ayu dengan nada tidak percaya. "Iya, benar. Ini tanah milik almarhum ayahnya Rangga. Tapi... kenapa Daniel bisa ada di sana? Untuk apa Daniel sembunyi di properti keluarga suamiku?"Pertanyaan-pertanyaan itu langsung memicu perang batin di dalam kepala A
Guyuran air hangat yang membasahi tubuh telanjangnya justru membuat Ayu merasa semakin gerah dan bergairah. Di dalam benak Ayu, tergambar dengan sangat jelas wajah kaku Rangga semalam yang sedang berada di atas tubuhnya. Bayangan sentuhan tangan Rangga yang meremas bagian depan dan belakangnya terasa begitu nyata."Rangga... ahh... fffh... Rangga..." Ayu terus menyebut nama suaminya di antara desahan napasnya yang semakin memburu. Jari-jarinya di bawah sana bergerak semakin liar dan menekan sudut-sudut terdalam yang paling sensitif.Hasrat yang semakin besar dan tak terbendung membuat Ayu semakin menggila di dalam kamar mandi. Rasa tanggung karena berdiri membuatnya tidak puas. Ayu bergerak dengan napas terengah-engah, lalu memutar keran untuk mematikan shower. Suasana kamar mandi mendadak menjadi hening, hanya menyisakan suara deru napas Ayu yang berat.Ayu kemudian duduk di atas lantai kamar mandi yang basah dan licin. Ia bersandar pada dinding keramik, lalu mengangkat kedua kakinya
Ayu masih berdiri mematung di samping meja makan. Pandangannya kosong, menatap pintu depan yang baru saja tertutup rapat setelah Rangga pergi. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan.Rangga terasa seperti sosok yang sama sekali berbeda dari suami yang ia kenal selama ini. Biasanya Rangga adalah pria yang kaku, monoton, dan membosankan. Namun hari ini, ketenangannya, bentakannya yang berwibawa, hingga cara ia mencengkeram bahu Ayu terasa begitu dominan. Tanpa sadar, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ayu merasakan percikan perasaan terpesona dengan sikap Rangga kali ini. Pria itu tampak begitu jantan dan memegang kendali penuh.Ayu menoleh ke arah meja, melihat secarik kertas kecil yang ditinggalkan Rangga. Ia melangkah pelan, lalu mengambil kertas itu. Pikirannya langsung berkecamuk hebat.Kenapa aku jadi ragu begini? tanya Ayu dalam hatinya, menatap tulisan tangan Rangga yang rapi. Daniel melarikan diri seperti seorang pengecut. Ia memblokir nomorku dan meningga
Aroma teh herbal yang menenangkan memenuhi udara di ruang santai terbuka itu, namun bagi Ayu, atmosfer di sana mendadak terasa mencekam. Ia menyandarkan punggungnya di kursi rotan, memegangi cangkir hangat dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Di depannya, Daniel tampak begitu tenang, jemarinya
Kesadaran Ayu belum sepenuhnya kembali, namun tubuhnya seolah memiliki nyawanya sendiri. Di antara batas tidur dan terjaga, sebuah lenguhan panjang lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka. Napasnya memberat, seirama dengan detak jantung yang memacu darah ke seluruh titik sensitif di tubuhnya.Piki
"Curang..." desah Ayu, bibirnya basah dan merah, bengkak karena ciuman dan aktivitas barusan. "Aku belum selesai bikin kamu nyerah.""Kamu bahaya, Yu," Daniel menatapnya tajam, napasnya memburu. "Kamu hampir bikin aku meledak dalam dua menit. Tapi aku mau keluar di dalam kamu. Aku mau kamu ngerasai
"Lupain dia!" Daniel mempercepat temponya menjadi liar dan tak beraturan. Ia meremas pinggang Ayu, menariknya mundur setiap kali ia mendorong maju, menciptakan gesekan maksimal.Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka berdua, membuat kulit mereka licin dan bersatu. Aroma feromon memenuhi udara.







