Share

Bab 2

Penulis: F.F
Yunita menegang seketika dan perlahan menoleh ke belakang.

Dia melihat Gery, yang entah sejak kapan, sudah berdiri di samping meja mereka.

Gery mengenakan setelan hitam dengan potongan sempurna, sosoknya yang tinggi dan gagah serta sikapnya yang dingin dan kaku menciptakan kontras yang mencolok dengan suasana bar yang berisik dan remang-remang. Dia seperti dewa yang tersesat ke alam fana, membuat segala sesuatu di sekitarnya tampak kehilangan warna.

Susi tersentak, dan langsung tersadar seketika. Dia memandang Yunita dengan tatapan "semoga beruntung", lalu mengambil tasnya, dan bergegas pergi.

Dalam sekejap, hanya Yunita dan Gery yang tersisa, mereka saling menatap.

Tangan Yunita yang sedang beraksi, masih bertumpu dengan canggung di dagu gigolo itu.

Tatapan Gery tertuju pada tangan Yunita, sorot matanya langsung menggelap hingga seolah bisa meneteskan amarah.

Dia kemudian melangkah maju, meraih pergelangan tangan Yunita, lalu mengarahkan tatapan dingin ke gigolo itu, dan hanya mengucapkan satu kata, "Pergi!"

Gigolo itu merasa sangat ketakutan oleh aura kuat yang terpancar dari sosok Gery hingga wajahnya pucat. Dia lalu bergegas pergi bersama yang lainnya dan menghilang dalam sekejap.

Yunita menepis tangannya, menggosok pergelangan tangannya yang memerah, dan menatapnya dengan marah. "Gery! Kenapa kamu bisa ada di sini?"

"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu." Suara Gery dingin seperti es. "Kenapa kamu datang ke tempat seperti ini?"

"Aku mau ke sini, jadi aku datang." Nada bicara Yunita terdengar acuh tak acuh, diselingi provokasi yang jelas. "Memangnya kenapa?"

Gery menatap sikap Yunita yang keras kepala dan arogan, sorot matanya semakin tajam.

Detik berikutnya, diiringi teriakan kaget Yunita, pria itu tiba-tiba membungkuk dan langsung mengangkatnya ke atas bahu!

"Gery! Kamu mau apa? Lepasin! Bajingan!"

Yunita terkejut sekaligus marah, dia memukul punggung Gery dengan keras, kakinya meronta-ronta tanpa henti.

Namun Gery tampak tak peduli, dia terus menggendong Yunita dan mengabaikan tatapan heran dari orang-orang di sekitar mereka. Dia melangkah keluar dari bar dan mendorongnya masuk ke mobil mewah berwarna hitam yang sudah menunggu di pinggir jalan.

"Jalan."

"Baik, Pak."

Mobil itu melaju dengan mulus, dan Yunita yang marah mencoba meraih pintu ingin melompat keluar.

"Yunita!" Gery meraih lengannya dan menariknya kembali ke tempat duduk. "Kapan kamu akan berhenti berulah?"

Dia menatap wanita itu, setiap kata terdengar jelas dan dingin. "Kamu itu akan menikah dengan Keluarga Heriadi. Aku sudah memberimu buku peraturan Keluarga Heriadi kan, salah satu isinya kamu harus pulang sebelum jam sepuluh malam dan dilarang keras pergi ke bar, klub malam, atau tempat hiburan malam. Apa kamu nggak membacanya?"

"Mulai sekarang, jangan pernah datang ke tempat-tempat seperti ini lagi. Kamu harus membuat surat refleksi diri sebanyak sepuluh ribu kata karena kejadian hari ini. Renungkan semua kesalahanmu dalam-dalam!"

Sebuah refleksi diri sebanyak sepuluh ribu kata? Aturan keluarga?

Yunita sangat marah hingga hampir tertawa, dadanya berdebar kencang.

Di kehidupan sebelumnya, dia sudah terbelenggu oleh banyaknya aturan keluarga ini, hidup seperti boneka!

Di kehidupan ini, dia tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama!

"Siapa yang mau menulis refleksi diri bodohmu itu?!" teriaknya. "Apa hubungannya aturan keluargamu itu denganku? Aku nggak akan menikah denganmu!"

Mobil itu menjadi sunyi senyap.

Gery menoleh tajam, matanya yang dalam menatap Yunita, dengan dipenuhi rasa tidak percaya dan emosi yang sangat kompleks.

Dia menatap Yunita lama sebelum akhirnya mendesiskan kalimat dari sela giginya yang terkatup rapat. "… Apa maksudmu?"

Melihat ekspresi Gery yang seperti itu, dorongan awal Yunita untuk menceritakan semuanya tiba-tiba mereda.

Pria itu sangat tidak menyukai dirinya, tunangannya yang sembrono dan liar. Jika dia langsung memberitahukan bahwa tunangannya telah berubah, digantikan oleh wanita terhormat yang paling dia dambakan, bukankah itu berarti membiarkannya lolos begitu saja?

Memikirkan penindasan yang dia terima di masa lalu, Yunita menarik napas dalam.

Dia bertekad untuk membuat pria itu menanggung penderitaan atas pernikahan mereka, untuk menyiksanya selama beberapa hari ke depan!

Memikirkan hal itu, Yunita terpaksa menekan emosinya yang meluap, lalu memalingkan wajah ke luar jendela, dan bergumam, "... Bukan apa-apa, cuma omongan orang emosi saja."

Gery mengamatinya sejenak, kegelapan di sorot matanya tampak sedikit melunak, tetapi nadanya tetap tegas. "Duduk yang benar."

Yunita melihat postur tubuhnya yang tegak, bahkan dalam kemarahan, tidak ada sehelai rambut pun yang berantakan. Kemudian, mengingat kembali aturan-aturan yang mencekiknya di kehidupan yang lalu, kebencian lama dan baru pun melonjak bersatu di dalam hatinya.

Dia tidak mau menurut!

Yunita bahkan sengaja merosot di kursinya, melepas sepatu hak tingginya, dan menginjak karpet mahal itu tanpa alas kaki. Dia menurunkan jendela mobil, membiarkan angin malam mengacak-acak rambut panjangnya yang tertata rapi.

Dia ingin menjadi sebebas ini, bersinar seperti ini, dan tidak peduli dengan citranya!

Inilah Yunita yang sebenarnya!

Gery mengerutkan kening, menatap gadis di sampingnya yang tampak tidak cocok dengan suasana mewah dan elegan di dalam mobil itu, tetapi akhirnya tidak mengatakan apa pun.

Mobil berhenti di depan rumah Keluarga Wongso.

Yunita membuka pintu mobil dan hendak keluar.

"Yunita." Suara Gery terdengar dari belakang, nadanya dingin. "Jangan lupa tulis refleksi diri sepuluh ribu kata, serahkan padaku besok."

Setelah itu, dia memerintahkan supir untuk pergi.

Yunita memperhatikan lampu belakang mobil itu yang menghilang di kejauhan, lalu menendang keras kerikil di pinggir jalan.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 28

    Waktu berlalu dengan cepat, sepuluh tahun telah berlalu dalam sekejap mata.Yunita dan Davin diundang untuk menghadiri sebuah konser klasik bergengsi di Kota Valien, Auremon.Waktu seolah sangat baik kepada Yunita, pesona kedewasaan menambah daya tariknya, membuatnya tampak semakin anggun dan tenang. Berdiri di samping Davin yang masih tampan dan tak terkekang tetapi sekarang tampak jauh lebih dewasa, mereka tetap menjadi pasangan yang membuat orang iri.Selama waktu istirahat, Yunita pergi ke toilet, sementara Davin ditahan oleh seorang musisi yang dikenalnya untuk berbincang.Dia berjalan sendirian menyusuri koridor yang dilapisi karpet tebal, namun di tikungan, dia berpapasan dengan seseorang secara tak terduga.Dia adalah seorang pria yang duduk di kursi roda, dan didorong oleh seorang perawat. Dia mengenakan mantel gelap yang rapi, selimut menutupi lututnya. Rambutnya hampir seluruhnya putih, wajahnya tampak tua dan kurus dipenuhi kerutan. Hanya sorot matanya yang masih dalam, di

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 27

    Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan, tidak ada janji palsu, hanya pengakuan paling lugas dengan gaya khas Davin. Namun, hal itu sangat menyentuh hati Yunita dibandingkan kata-kata manis apa pun.Memandang pria di hadapannya yang bersedia menerima semua kekurangannya dan memberinya kebebasan tanpa batas, matanya memanas, sementara senyum bahagia yang begitu cerah merekah di wajahnya.Dia mengulurkan tangan, mengangguk kuat, dan berkata dengan suara jernih serta tegas, "Iya! Aku mau menikah denganmu!"Davin terpaku sejenak, lalu melompat kegirangan, buru-buru memasangkan cincin di jari manisnya, ukurannya pas sekali!Davin mengangkatnya ke dalam pelukan, memutar-mutarnya di tempat, sangat bahagia seperti anak kecil yang menemukan harta karun paling berharga di dunia!"Yuhuu! Akhirnya aku punya istri!" teriaknya ke arah ladang lavender, suaranya bergema di senja hari.Yunita melingkarkan lengannya ke leher Davin, tertawa hingga air mata mengalir di wajahnya. Matahari terbenam menyi

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 26

    Ketika dokter keluar dengan wajah lelah dan mengumumkan, "Operasinya berhasil, tapi kondisinya masih kritis. Pemulihan selanjutnya akan sangat lama dan kemungkinan besar akan meninggalkan komplikasi serius," kaki Yunita terasa lemas. Dia hampir terjatuh ke lantai, untungnya Davin segera menopangnya.Gery terbaring tak sadarkan diri di unit perawatan intensif selama dua minggu.Selama itu, Heriadi Group kehilangan pimpinan, harga saham anjlok, dan situasi internal kacau.Melalui koneksi Davin, Yunita secara anonim memberitahukan kondisi Gery pada seorang tetua Keluarga Heriadi yang cukup dapat dipercaya untuk sementara menstabilkan keadaan. Saat Gery akhirnya pulih dan perlahan membuka matanya, yang dilihatnya hanyalah warna putih yang kabur.Rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, terutama di dada. Setiap tarikan napas terasa seperti siksaan yang menyakitkan.Dia memutar bola matanya yang kering, penglihatannya perlahan-lahan menjadi fokus dan melihat Yunita dengan

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 25

    Gery selalu memantau gerak-gerik Yunita secara diam-diam. Setelah mengetahui mereka berada di pulau ini, awalnya dia hanya ingin mengamati dari kejauhan. Namun, tanpa diduga menemukan tingkah mencurigakan Yuan dan anak buahnya, membuatnya melacak mereka hingga ke sini!"Lepaskan dia!" teriak Gery dengan mata berkilat merah seperti binatang terluka yang sekarat, menatap Yuan dengan tajam."Gery?" Yuan terdiam sejenak sebelum tawanya semakin gila. "Hahahaha! Kamu juga datang! Bagus! Sangat bagus! Sekalian saja aku mengirim kalian semua ke neraka!""Kamu mau apa? Lampiaskan padaku saja!" Gery melangkah maju perlahan, suaranya serak. "Lepaskan dia, nyawaku ini milikmu.""Nyawamu?" Yuan mencibir. "Aku sekarang nggak butuh apa-apa! Aku cuma mau dia menderita! Aku mau kamu lihat gimana caraku menyiksanya!"Untuk memprovokasi Gery, Yuan dan anak buahnya mulai melontarkan hinaan kejam pada Yunita, bahkan memukul Davin yang terikat dengan tongkat.Mata Gery memerah, tinjunya terkepal begitu erat

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 24

    Gery melangkah keluar, memandang wanita di bawah kakinya yang tergeletak seperti lumpur. Tak ada sedikit pun emosi di matanya."Cinta?" Dia mencibir, suaranya dingin dan menusuk. "Aku tahu betul bagaimana kamu dan ibumu bersekongkol untuk menindas Yunita. Dulu aku nggak menyentuh kalian karena merasa itu akan mengotori tanganku, dan juga ... agar Yunita bisa membalasnya sendiri."Pria itu berpikir sejenak, suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. "Sekarang, dia sudah bertindak. Aku sangat puas."Dia berbalik dan melemparkan kalimat terakhir kepada para pengawal di belakangnya, "Usir dia."Pintu utama tertutup dengan keras.Yuan terduduk lemas di lantai yang dingin, seolah-olah dia telah jatuh ke jurang.Dalam keputusasaannya, Yuan entah bagaimana menemukan tempat tinggal Yunita. Tubuhnya kurus kering, tatapannya berbisa seperti ular. Dia menjerit mengutuk Yunita, "Yunita! Dasar wanita terkutuk! Kamu akan mati dengan mengerikan! Kamu mencuri segalanya dariku! Kamu akan mendapatka

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 23

    Kota Bandan, ruangan eksekutif di lantai teratas gedung Heriadi Group, suasananya sunyi seperti makam.Tirai tebal tertutup rapat, memutus seluruh cahaya dari luar. Gery terkulai di kursi eksekutifnya yang besar, botol-botol minuman keras kosong berserakan di kakinya.Tubuhnya kurus hingga tak berbentuk, rongga matanya cekung, rambut peraknya yang mencolok menambah kesan putus asa dan aneh.Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah foto hasil jepretan paparazi yang agak buram namun tetap jelas.Di sebuah kafe terbuka di sebuah kota kecil di Aurela Selatan, Yunita mengenakan gaun kuning pucat yang cerah, dia mendongak sambil tertawa, menyuapi Davin satu suap es krim.Davin memandangnya dengan wajah penuh kasih, jarinya mencubit lembut hidung Yunita. Sinar matahari menyelimuti mereka, tampak indah hingga menyilaukan mata."Uhuk!"Seteguk darah menyembur dari mulut Gery tanpa peringatan, memercik ke layar ponsel dan karpet wol mahal, menyebarkan warna merah menyala.Dia terbatuk hebat,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status