Compartir

Bab 6

Autor: F.F
Ketika Yunita terbangun, aroma khas disinfektan tercium di udara.

Dia membuka mata dan mendapati dirinya sedang terbaring di ranjang rumah sakit.

Tangannya digenggam seseorang. Dia menoleh dan melihat Gery duduk di samping ranjang, sambil memegang salah satu tangannya dan matanya terpejam. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya.

Dia seperti merasakan gerakan, dan segera membuka mata.

Saat pandangan mereka bertemu, dia melepaskan genggamannya. Kelelahan dan kilatan rasa sakit yang sempat muncul di sorot matanya menghilang dengan cepat, digantikan oleh sikapnya yang kembali tenang dan terkendali seperti biasanya.

"Aku sudah minta maaf kepada papamu," katanya dengan suara tenang dan datar. "Dia berjanji nggak akan menghukummu. Tapi Yunita, kamu juga harus berjanji padaku, jangan pernah menyakiti Yuan lagi. Bagaimanapun, dia itu adikmu."

"Siapa yang menyuruhmu minta maaf?" Suaranya serak dan penuh sarkasme. "Lagipula, anak haram seperti dia apa pantas jadi adikku? Di zaman dulu, orang dengan status seperti dia bahkan nggak layak membawakan sepatuku!"

Gery sedikit mengerutkan kening, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tepat saat itu, pintu kamar pasien didorong perlahan terbuka, dan seorang perawat mengintip ke dalam.

"Pak Gery, Nona Yuan di kamar sebelah sangat gelisah dan terus memanggil Anda."

Gery berdiri, merapikan manset bajunya yang sama sekali tidak berantakan, dan berkata kepada Yunita, "Aku pergi melihat Yuan dulu. Dia terluka karena ulahmu. Sebagai tunanganmu, sudah sepatutnya aku menjenguk dan menghiburnya."

Yunita menyunggingkan senyum sinis dan menoleh ke luar jendela. "Cepat pergi. Itu tunanganmu yang sebenarnya."

Gery berhenti, berbalik, dan sedikit mengerutkan kening. "Apa katamu?"

Yunita tidak ingin mengulanginya. Dia menarik selimut dan menutupi kepalanya, menolak untuk berkomunikasi.

Gery menatap sikap penolakan Yunita itu, memijat pelipisnya dengan pasrah, dan akhirnya berbalik meninggalkan ruangan bersama perawat.

Beberapa hari berikutnya, Yunita memulihkan diri di rumah sakit.

Yunita selalu mendengar potongan-potongan percakapan tentang Gery dan Yuan dari para perawat yang datang untuk membawakan obat dan melakukan pemeriksaan rutin.

"Pak Gery sangat menyayangi Nona Yuan, dia selalu menemaninya setiap hari."

"Iya, kudengar Nona Yuan nggak suka rasa pahit, jadi Pak Gery sampai memesankan manisan buah impor khusus untuknya."

"Menurutku, Pak Gery dan Nona Yuan itu seperti pasangan yang sempurna, benar-benar serasi ...."

Mereka semua tampaknya menganggap Yuan yang lembut dan sopan sebagai tunangan asli Gery.

Yunita mendengarkan tanpa ada gejolak di hatinya, bahkan ingin sedikit tertawa.

Dia justru berharap semua orang berpikir demikian.

Pada hari kepulangannya, Gery datang.

Dia mengambil surat keterangan keluar dari rumah sakit dari perawat dan berkata kepada Yunita yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil bermain ponsel, "Kemasi barang-barangmu, aku akan mengantarmu pulang."

"Aku nggak mau kembali ke Keluarga Wongso." Yunita bahkan tidak mendongak.

Wajah Gery menggelap, nadanya tidak memberi ruang untuk bantahan. "Yunita, jangan kekanak-kanakan."

Tanpa memberi Yunita kesempatan untuk menolak, dia melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Yunita. Genggamannya tidak kuat, tetapi mengandung rasa kendali yang kuat. Dia mengangkat Yunita dari ranjang, setengah menyeretnya keluar dari ruangan menuju mobil.

Mobil itu melaju kembali ke rumah Keluarga Wongso. Yunita melepaskan genggaman tangan Gery dan langsung naik ke kamarnya.

Namun, saat membuka pintu, darahnya seolah membeku ....

Yuan sedang duduk di meja riasnya, memegang kalung safir yang berkilauan, sambil mengagumi dirinya sendiri di depan cermin.

Kalung itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya!

"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh barang-barangku?" Suara Yunita sedingin es. "Letakkan dan keluar dari sini!"

Yuan terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba, tetapi kemudian senyum puas muncul di wajahnya. Alih-alih meletakkan kalung itu, dia sengaja menggantungkannya di antara jari-jarinya. "Barangmu? Yunita, asal kamu tahu ya, semua yang ada di rumah ini akan menjadi milikku cepat atau lambat!"

"Sepertinya kamu belum belajar dari pengalaman ditendang jatuh dari balkon, ya?" Yunita mendekat selangkah demi selangkah dengan sorot mata berbahaya.

"Aku kemarin cuma ceroboh!" Yuan mencemooh dengan penuh percaya diri. "Kamu pikir aku takut padamu kali ini?"

Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, sorot matanya berubah tajam, dia tiba-tiba meraih vas bunga antik dari meja rias, membantingnya dengan keras ke lantai. Kemudian dia menjatuhkan diri di samping pecahan-pecahan vas itu sambil menjerit kaget.

Suara keras itu segera menarik perhatian Aditya dan Anggi.

"Apa yang terjadi?" Aditya bergegas masuk, wajahnya pucat pasi saat melihat kekacauan di lantai dan Yuan yang terduduk di tengah pecahan vas sambil menangis.

Yuan segera mendongak dengan mata berkaca-kaca, menunjuk ke arah Yunita, sambil menangis pilu. "Papa ... aku ... aku hanya ingin melihat kalung kakak, tapi nggak disangka kakak ... dia malah mendorongku ...."

"Yunita!" Aditya meledak dalam amarah. Sebelum Yunita bisa menjelaskan, ayahnya melangkah maju dan menamparnya keras di wajah!

Suara tamparan yang keras itu menggema di ruangan.

Pipi Yunita langsung memerah dan bengkak, terasa panas karena kesakitan.

Dia memiringkan kepala, menjilat sisa darah yang merembes dari luka di mulutnya. Bukannya menangis, dia malah tertawa kecil.
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 28

    Waktu berlalu dengan cepat, sepuluh tahun telah berlalu dalam sekejap mata.Yunita dan Davin diundang untuk menghadiri sebuah konser klasik bergengsi di Kota Valien, Auremon.Waktu seolah sangat baik kepada Yunita, pesona kedewasaan menambah daya tariknya, membuatnya tampak semakin anggun dan tenang. Berdiri di samping Davin yang masih tampan dan tak terkekang tetapi sekarang tampak jauh lebih dewasa, mereka tetap menjadi pasangan yang membuat orang iri.Selama waktu istirahat, Yunita pergi ke toilet, sementara Davin ditahan oleh seorang musisi yang dikenalnya untuk berbincang.Dia berjalan sendirian menyusuri koridor yang dilapisi karpet tebal, namun di tikungan, dia berpapasan dengan seseorang secara tak terduga.Dia adalah seorang pria yang duduk di kursi roda, dan didorong oleh seorang perawat. Dia mengenakan mantel gelap yang rapi, selimut menutupi lututnya. Rambutnya hampir seluruhnya putih, wajahnya tampak tua dan kurus dipenuhi kerutan. Hanya sorot matanya yang masih dalam, di

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 27

    Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan, tidak ada janji palsu, hanya pengakuan paling lugas dengan gaya khas Davin. Namun, hal itu sangat menyentuh hati Yunita dibandingkan kata-kata manis apa pun.Memandang pria di hadapannya yang bersedia menerima semua kekurangannya dan memberinya kebebasan tanpa batas, matanya memanas, sementara senyum bahagia yang begitu cerah merekah di wajahnya.Dia mengulurkan tangan, mengangguk kuat, dan berkata dengan suara jernih serta tegas, "Iya! Aku mau menikah denganmu!"Davin terpaku sejenak, lalu melompat kegirangan, buru-buru memasangkan cincin di jari manisnya, ukurannya pas sekali!Davin mengangkatnya ke dalam pelukan, memutar-mutarnya di tempat, sangat bahagia seperti anak kecil yang menemukan harta karun paling berharga di dunia!"Yuhuu! Akhirnya aku punya istri!" teriaknya ke arah ladang lavender, suaranya bergema di senja hari.Yunita melingkarkan lengannya ke leher Davin, tertawa hingga air mata mengalir di wajahnya. Matahari terbenam menyi

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 26

    Ketika dokter keluar dengan wajah lelah dan mengumumkan, "Operasinya berhasil, tapi kondisinya masih kritis. Pemulihan selanjutnya akan sangat lama dan kemungkinan besar akan meninggalkan komplikasi serius," kaki Yunita terasa lemas. Dia hampir terjatuh ke lantai, untungnya Davin segera menopangnya.Gery terbaring tak sadarkan diri di unit perawatan intensif selama dua minggu.Selama itu, Heriadi Group kehilangan pimpinan, harga saham anjlok, dan situasi internal kacau.Melalui koneksi Davin, Yunita secara anonim memberitahukan kondisi Gery pada seorang tetua Keluarga Heriadi yang cukup dapat dipercaya untuk sementara menstabilkan keadaan. Saat Gery akhirnya pulih dan perlahan membuka matanya, yang dilihatnya hanyalah warna putih yang kabur.Rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, terutama di dada. Setiap tarikan napas terasa seperti siksaan yang menyakitkan.Dia memutar bola matanya yang kering, penglihatannya perlahan-lahan menjadi fokus dan melihat Yunita dengan

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 25

    Gery selalu memantau gerak-gerik Yunita secara diam-diam. Setelah mengetahui mereka berada di pulau ini, awalnya dia hanya ingin mengamati dari kejauhan. Namun, tanpa diduga menemukan tingkah mencurigakan Yuan dan anak buahnya, membuatnya melacak mereka hingga ke sini!"Lepaskan dia!" teriak Gery dengan mata berkilat merah seperti binatang terluka yang sekarat, menatap Yuan dengan tajam."Gery?" Yuan terdiam sejenak sebelum tawanya semakin gila. "Hahahaha! Kamu juga datang! Bagus! Sangat bagus! Sekalian saja aku mengirim kalian semua ke neraka!""Kamu mau apa? Lampiaskan padaku saja!" Gery melangkah maju perlahan, suaranya serak. "Lepaskan dia, nyawaku ini milikmu.""Nyawamu?" Yuan mencibir. "Aku sekarang nggak butuh apa-apa! Aku cuma mau dia menderita! Aku mau kamu lihat gimana caraku menyiksanya!"Untuk memprovokasi Gery, Yuan dan anak buahnya mulai melontarkan hinaan kejam pada Yunita, bahkan memukul Davin yang terikat dengan tongkat.Mata Gery memerah, tinjunya terkepal begitu erat

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 24

    Gery melangkah keluar, memandang wanita di bawah kakinya yang tergeletak seperti lumpur. Tak ada sedikit pun emosi di matanya."Cinta?" Dia mencibir, suaranya dingin dan menusuk. "Aku tahu betul bagaimana kamu dan ibumu bersekongkol untuk menindas Yunita. Dulu aku nggak menyentuh kalian karena merasa itu akan mengotori tanganku, dan juga ... agar Yunita bisa membalasnya sendiri."Pria itu berpikir sejenak, suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. "Sekarang, dia sudah bertindak. Aku sangat puas."Dia berbalik dan melemparkan kalimat terakhir kepada para pengawal di belakangnya, "Usir dia."Pintu utama tertutup dengan keras.Yuan terduduk lemas di lantai yang dingin, seolah-olah dia telah jatuh ke jurang.Dalam keputusasaannya, Yuan entah bagaimana menemukan tempat tinggal Yunita. Tubuhnya kurus kering, tatapannya berbisa seperti ular. Dia menjerit mengutuk Yunita, "Yunita! Dasar wanita terkutuk! Kamu akan mati dengan mengerikan! Kamu mencuri segalanya dariku! Kamu akan mendapatka

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 23

    Kota Bandan, ruangan eksekutif di lantai teratas gedung Heriadi Group, suasananya sunyi seperti makam.Tirai tebal tertutup rapat, memutus seluruh cahaya dari luar. Gery terkulai di kursi eksekutifnya yang besar, botol-botol minuman keras kosong berserakan di kakinya.Tubuhnya kurus hingga tak berbentuk, rongga matanya cekung, rambut peraknya yang mencolok menambah kesan putus asa dan aneh.Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah foto hasil jepretan paparazi yang agak buram namun tetap jelas.Di sebuah kafe terbuka di sebuah kota kecil di Aurela Selatan, Yunita mengenakan gaun kuning pucat yang cerah, dia mendongak sambil tertawa, menyuapi Davin satu suap es krim.Davin memandangnya dengan wajah penuh kasih, jarinya mencubit lembut hidung Yunita. Sinar matahari menyelimuti mereka, tampak indah hingga menyilaukan mata."Uhuk!"Seteguk darah menyembur dari mulut Gery tanpa peringatan, memercik ke layar ponsel dan karpet wol mahal, menyebarkan warna merah menyala.Dia terbatuk hebat,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status