Share

Bab 3

Author: F.F
Dia berbalik dan berjalan masuk ke rumah. Begitu pintu terbuka, dia melihat ayahnya, Aditya, bersama ibu tirinya, Anggi Riyanto, dan Yuan. Mereka duduk bersama di sofa ruang tamu, jelas sekali sedang menunggunya.

Melihat dirinya yang berbau alkohol dan penampilannya yang berantakan, wajah Aditya langsung menggelap. "Kamu keluyuran dari mana saja? Jam segini baru pulang! Kamu berpakaian terbuka begitu, apa kamu nggak punya malu?"

Yunita terlalu malas untuk berdebat dengan ayahnya, jadi dia langsung berjalan menuju tangga. "Aku sudah putuskan nggak akan menikah dengannya. Mau pergi ke mana, pakai baju apa, itu urusanku."

Saat itu, Yuan bangkit dan berjalan menghampirinya, ada binar kegembiraan yang sulit disembunyikan di wajahnya. "Kak, papa bilang ... kamu sudah memutuskan untuk membatalkan pertunangan dengan Gery, apa itu benar?"

Yunita menatap wajah munafiknya, dia merasa sangat jijik. "Iya, aku berikan buatmu. Lagipula, bukannya kamu memang suka mengumpulkan barang bekas?"

"Yunita, jaga bicaramu!" Aditya meraung. "Menantu seperti Gery itu impian banyak orang! Menikah dengannya itu berkah buat keluarga kita! Papa kasih tahu .... Papa sudah pergi ke Keluarga Heriadi untuk membicarakan soal pergantian calon pengantin. Dibandingkan sama kamu, mereka memang lebih puas dengan Yuan! Jadi, kamu nggak boleh menyesal nanti!"

Yunita terkekeh pelan, nadanya terdengar tegas. "Jangan khawatir, aku nggak akan pernah menyesal."

Mendengar itu, Anggi mendesah dan menimpali dengan sinis dari samping, "Yunita, bukannya Tante mau menceramahimu, tapi kepribadianmu itu terlalu liar. Setelah pernikahanmu dengan Keluarga Heriadi batal, keluarga terhormat mana yang mau menerimamu ...."

Sorot mata Yunita menjadi gelap, mata indahnya yang seperti bunga persik dipenuhi aura mengintimidasi. "Kamu itu siapa, berani sekali mengguruiku? Kamu itu cuma selir .... Ah, bukan, tapi selingkuhan, khawatirkan saja nasib anakmu sendiri! Lagipula, bisa mempertahankan sesuatu dari hasil merebut itu tergantung pada kemampuan! Jangan sampai bukannya untung, tapi malah nggak dapat apa-apa!"

Wajah Anggi menjadi pucat pasi karena hinaan itu, dan Aditya sangat marah hingga hampir meledak lagi.

Namun, Yunita terlalu malas untuk membuang waktu dengan mereka, dia berbalik dan melangkah ke atas menuju kamarnya.

Keesokan paginya, sebelum Yunita bangun, Gery sudah tiba di sana.

Dia masih tampil dengan sikapnya yang biasa, angkuh, terhormat, dan tanpa cela. Saat melihat Yunita, kalimat pertamanya adalah, "Mana surat refleksi dirinya?"

Yunita bersandar di kusen pintu masih dengan piyamanya yang longgar, memperlihatkan sekilas tulang selangkanya yang indah.

Dia menguap malas dan berkata, "Aku nggak buat, dan nggak akan pernah menulis itu lagi."

Wajah Gery langsung berubah dingin, nada suaranya jelas tidak senang. "Yunita, kapan kamu akan belajar patuh?"

"Aku memang terlahir seperti ini." Yunita membalas tatapannya dengan sorot mata indah yang dipenuhi pemberontakan. "Patuh? Nggak akan pernah. Karena aku nggak suka diatur oleh siapa pun."

"Kamu ...."

Tepat ketika suasana di antara mereka menegang, Yuan muncul pada saat yang tepat.

Dia mengenakan gaun yang elegan, sikapnya tenang, dengan senyum lembut di wajahnya.

"Kak Gery, tolong jangan marah ke Kak Yunita." Dia berbicara dengan lembut, sambil menyerahkan selembar kertas yang ditulis rapi kepada Gery. "Kak Yunita pergi ke bar kemarin, mungkin karena suasana hatinya sedang buruk. Surat refleksi diri ini … sudah kutulis buatnya. Nggak masalah kan, Kak?"

Gery mengambil surat itu, melihatnya sekilas, lalu menatap Yunita dengan rasa kekecewaan yang semakin terlihat jelas.

"Lihat adikmu, terus lihat dirimu sendiri. Kalian sama-sama tumbuh di Keluarga Wongso, apa kamu nggak bisa belajar sedikit saja dari kedewasaan dan sopan santun adikmu ini?"

"Ya sudah, lupakan saja kejadian semalam. Jangan ulangi lagi. Sekarang ganti bajumu, nanti ikut aku ke jamuan bisnis."

Yunita menolak tanpa ragu, "Aku nggak mau pergi. Bawa saja Yuan, bukannya kamu lebih suka dia?"

Gery mengerutkan kening dan berkata, "Yunita! Kamu itu yang sudah ditunjuk jadi tunanganku."

Kalimat itu seperti jarum, menusuk hatinya tanpa aba-aba.

Lihat, alasan pria itu mau menikahinya bukan karena tidak bisa hidup tanpanya, tetapi karena pertunangan itu sudah diatur sejak lama, dan Keluarga Heriadi tidak bisa mengingkari janji mereka. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan suka atau tidak.

Jika bisa memilih, dia mungkin sudah memilih Yuan sejak lama.

Dalam kehidupan ini, dia akan mengabulkan keinginan pria itu!

Yuan langsung menyela dengan lembut, "Kak Gery, Kak Yunita mungkin belum terbiasa dengan acara formal seperti itu. Bagaimana kalau … aku ikut menemani? Kalau ada aturan yang nggak dimengerti, aku bisa mengingatkan dari samping."

Sambil berkata demikian, dia langsung meraih lengan Yunita dan menyeretnya ke atas. "Kak, ayo kubantu memilih baju."

Begitu mereka memasuki kamar, Yunita tiba-tiba menepis tangannya, sorot matanya sedingin es. "Sekarang sudah nggak ada orang lain, nggak usah akting lagi seperti kakak adik yang rukun?"

Kelembutan di wajah Yuan langsung lenyap, tetapi nadanya tetap tenang. "Kakak, kamu itu salah paham. Aku beneran ingin akur denganmu."

"Akur? Nggak akan pernah! Kecuali kamu mati! Nggak, bahkan kalau kamu mati, aku akan pergi ke kuburanmu dan menari untuk merayakan! Lebih bagus lagi kalau kamu bawa ibumu sekalian!"

Wajah Yuan berubah muram karena ucapannya yang kasar, dia akhirnya tidak bisa menahan diri untuk membalas, "Yunita, jangan keterlaluan! Apa kamu pikir aku senang menjilatmu? Asal kamu tahu, kalau Kak Gery tahu pengantinnya sudah diganti denganku, dia pasti akan lebih puas! Orang yang nggak tahu aturan sepertimu memang nggak pantas bersanding dengannya!"

"Oh ya?" Yunita mengangkat alis, dia melangkah lebih dekat, berkata dengan nada sinis, "Terus, kenapa kamu nggak langsung bilang saja tadi kalau mempelai wanitanya sudah diganti? Apa kamu nggak percaya diri? Takut dia justru akan memutuskan pertunangan dan nggak mau menerimamu?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 28

    Waktu berlalu dengan cepat, sepuluh tahun telah berlalu dalam sekejap mata.Yunita dan Davin diundang untuk menghadiri sebuah konser klasik bergengsi di Kota Valien, Auremon.Waktu seolah sangat baik kepada Yunita, pesona kedewasaan menambah daya tariknya, membuatnya tampak semakin anggun dan tenang. Berdiri di samping Davin yang masih tampan dan tak terkekang tetapi sekarang tampak jauh lebih dewasa, mereka tetap menjadi pasangan yang membuat orang iri.Selama waktu istirahat, Yunita pergi ke toilet, sementara Davin ditahan oleh seorang musisi yang dikenalnya untuk berbincang.Dia berjalan sendirian menyusuri koridor yang dilapisi karpet tebal, namun di tikungan, dia berpapasan dengan seseorang secara tak terduga.Dia adalah seorang pria yang duduk di kursi roda, dan didorong oleh seorang perawat. Dia mengenakan mantel gelap yang rapi, selimut menutupi lututnya. Rambutnya hampir seluruhnya putih, wajahnya tampak tua dan kurus dipenuhi kerutan. Hanya sorot matanya yang masih dalam, di

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 27

    Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan, tidak ada janji palsu, hanya pengakuan paling lugas dengan gaya khas Davin. Namun, hal itu sangat menyentuh hati Yunita dibandingkan kata-kata manis apa pun.Memandang pria di hadapannya yang bersedia menerima semua kekurangannya dan memberinya kebebasan tanpa batas, matanya memanas, sementara senyum bahagia yang begitu cerah merekah di wajahnya.Dia mengulurkan tangan, mengangguk kuat, dan berkata dengan suara jernih serta tegas, "Iya! Aku mau menikah denganmu!"Davin terpaku sejenak, lalu melompat kegirangan, buru-buru memasangkan cincin di jari manisnya, ukurannya pas sekali!Davin mengangkatnya ke dalam pelukan, memutar-mutarnya di tempat, sangat bahagia seperti anak kecil yang menemukan harta karun paling berharga di dunia!"Yuhuu! Akhirnya aku punya istri!" teriaknya ke arah ladang lavender, suaranya bergema di senja hari.Yunita melingkarkan lengannya ke leher Davin, tertawa hingga air mata mengalir di wajahnya. Matahari terbenam menyi

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 26

    Ketika dokter keluar dengan wajah lelah dan mengumumkan, "Operasinya berhasil, tapi kondisinya masih kritis. Pemulihan selanjutnya akan sangat lama dan kemungkinan besar akan meninggalkan komplikasi serius," kaki Yunita terasa lemas. Dia hampir terjatuh ke lantai, untungnya Davin segera menopangnya.Gery terbaring tak sadarkan diri di unit perawatan intensif selama dua minggu.Selama itu, Heriadi Group kehilangan pimpinan, harga saham anjlok, dan situasi internal kacau.Melalui koneksi Davin, Yunita secara anonim memberitahukan kondisi Gery pada seorang tetua Keluarga Heriadi yang cukup dapat dipercaya untuk sementara menstabilkan keadaan. Saat Gery akhirnya pulih dan perlahan membuka matanya, yang dilihatnya hanyalah warna putih yang kabur.Rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, terutama di dada. Setiap tarikan napas terasa seperti siksaan yang menyakitkan.Dia memutar bola matanya yang kering, penglihatannya perlahan-lahan menjadi fokus dan melihat Yunita dengan

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 25

    Gery selalu memantau gerak-gerik Yunita secara diam-diam. Setelah mengetahui mereka berada di pulau ini, awalnya dia hanya ingin mengamati dari kejauhan. Namun, tanpa diduga menemukan tingkah mencurigakan Yuan dan anak buahnya, membuatnya melacak mereka hingga ke sini!"Lepaskan dia!" teriak Gery dengan mata berkilat merah seperti binatang terluka yang sekarat, menatap Yuan dengan tajam."Gery?" Yuan terdiam sejenak sebelum tawanya semakin gila. "Hahahaha! Kamu juga datang! Bagus! Sangat bagus! Sekalian saja aku mengirim kalian semua ke neraka!""Kamu mau apa? Lampiaskan padaku saja!" Gery melangkah maju perlahan, suaranya serak. "Lepaskan dia, nyawaku ini milikmu.""Nyawamu?" Yuan mencibir. "Aku sekarang nggak butuh apa-apa! Aku cuma mau dia menderita! Aku mau kamu lihat gimana caraku menyiksanya!"Untuk memprovokasi Gery, Yuan dan anak buahnya mulai melontarkan hinaan kejam pada Yunita, bahkan memukul Davin yang terikat dengan tongkat.Mata Gery memerah, tinjunya terkepal begitu erat

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 24

    Gery melangkah keluar, memandang wanita di bawah kakinya yang tergeletak seperti lumpur. Tak ada sedikit pun emosi di matanya."Cinta?" Dia mencibir, suaranya dingin dan menusuk. "Aku tahu betul bagaimana kamu dan ibumu bersekongkol untuk menindas Yunita. Dulu aku nggak menyentuh kalian karena merasa itu akan mengotori tanganku, dan juga ... agar Yunita bisa membalasnya sendiri."Pria itu berpikir sejenak, suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. "Sekarang, dia sudah bertindak. Aku sangat puas."Dia berbalik dan melemparkan kalimat terakhir kepada para pengawal di belakangnya, "Usir dia."Pintu utama tertutup dengan keras.Yuan terduduk lemas di lantai yang dingin, seolah-olah dia telah jatuh ke jurang.Dalam keputusasaannya, Yuan entah bagaimana menemukan tempat tinggal Yunita. Tubuhnya kurus kering, tatapannya berbisa seperti ular. Dia menjerit mengutuk Yunita, "Yunita! Dasar wanita terkutuk! Kamu akan mati dengan mengerikan! Kamu mencuri segalanya dariku! Kamu akan mendapatka

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 23

    Kota Bandan, ruangan eksekutif di lantai teratas gedung Heriadi Group, suasananya sunyi seperti makam.Tirai tebal tertutup rapat, memutus seluruh cahaya dari luar. Gery terkulai di kursi eksekutifnya yang besar, botol-botol minuman keras kosong berserakan di kakinya.Tubuhnya kurus hingga tak berbentuk, rongga matanya cekung, rambut peraknya yang mencolok menambah kesan putus asa dan aneh.Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah foto hasil jepretan paparazi yang agak buram namun tetap jelas.Di sebuah kafe terbuka di sebuah kota kecil di Aurela Selatan, Yunita mengenakan gaun kuning pucat yang cerah, dia mendongak sambil tertawa, menyuapi Davin satu suap es krim.Davin memandangnya dengan wajah penuh kasih, jarinya mencubit lembut hidung Yunita. Sinar matahari menyelimuti mereka, tampak indah hingga menyilaukan mata."Uhuk!"Seteguk darah menyembur dari mulut Gery tanpa peringatan, memercik ke layar ponsel dan karpet wol mahal, menyebarkan warna merah menyala.Dia terbatuk hebat,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status