Share

Pulihnya Sayap-Sayap Patah
Pulihnya Sayap-Sayap Patah
Author: F.F

Bab 1

Author: F.F
Yunita Wongso dulunya adalah sosok paling memesona di Kota Bandan, dia bebas seperti angin, penuh vitalitas seperti api, menjalani hidup dengan penuh semangat tanpa batas.

Namun, dia menikahi Gery Heriadi, pengusaha yang terkenal paling disiplin dan kaku di kalangan kelas atas.

Laki-laki itu seperti mesin yang berfungsi dengan presisi, menuntut bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga pada pasangannya.

Yunita menyukai keramaian, menikmati kehidupan malam dan ditemani dengan gigolo, sehingga suaminya kemudian membuat namanya diblokir dari semua tempat hiburan di kota.

Yunita menyukai kebebasan, menikmati sinar matahari di Benua Afrika atau aurora di Isnora, unggul dalam segala hal mulai dari balap mobil hingga terjun payung, sehingga Gery menyita paspor dan membatasi perjalanannya.

Yunita menyukai fotografi dan melukis, tetapi suaminya justru menganggap semua itu sebagai kegiatan yang tidak penting dan membuang waktu, dia lalu menyimpan kamera serta kuas lukis kesayangan istrinya itu untuk selamanya.

Tertekan hingga hampir gila, Yunita hanya bisa memaksakan dirinya untuk mempelajari semua aturan yang ditetapkan suaminya, belajar memantaskan diri menjadi Nyonya Heriadi.

Meskipun sudah berusaha meredam karakter aslinya, namun dalam sebuah jamuan makan, seseorang sengaja mengejek sifat liarnya. Karena emosi, dia menyerang sekelompok wanita itu dan terlibat perkelahian.

Gery tiba setelah mendengar keributan. Tetapi di tengah bisikan dan tatapan orang-orang, dia justru tidak membela Yunita. Sebaliknya, Gery malah berbicara dengan tenang dan acuh tak acuh kepada para provokator itu.

"Maaf, ini salahku karena nggak bisa mendidiknya dengan benar. Dia … memang kurang mengerti sopan santun."

Pada saat itu, Yunita merasa seperti disambar petir, darahnya langsung membeku.

Dia menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya untuk membuktikan satu kenyataan pahit, bahwa Gery tidak mencintainya.

Kemudian, kecelakaan mobil mengakhiri hidup Yunita yang singkat dan menyesakkan itu.

Ketika membuka matanya, Yunita telah terlahir kembali.

Yunita kembali pada masa tepat sebelum pernikahannya dengan Gery.

Melihat wajahnya yang masih cerah dan bersemangat di cermin, merasakan hatinya yang merindukan kebebasan berdetak kembali, Yunita menarik napas dalam-dalam.

Kali ini, dia tidak menginginkan Gery lagi, atau cintanya yang mencekik.

Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri, Yunita yang bebas, ceria, dan tak terkekang!

Hal pertama yang dilakukannya adalah bergegas turun dan mencari ayahnya, Aditya Wongso, yang sedang sarapan di ruang makan.

"Aku mau membatalkan pertunanganku dengan Gery!"

Tangan Aditya yang memegang sendok berhenti, dia tiba-tiba mendongak, dan berkata marah, "Omong kosong apa itu? Papa diam saja sama ulahmu selama ini, tapi pernikahan dengan Keluarga Heriadi itu sesuatu yang diimpikan orang banyak! Apa kamu nggak tahu sehebat apa Gery itu? Latar belakang, kemampuan, penampilan, dia itu ibarat satu dibanding sepuluh ribu!"

Yunita menatap Aditya yang tampak tak sabar ingin segera membawa dan memasukkannya ke dalam Keluarga Heriadi, dia lalu mencibir sinis, "Kalau dia sehebat itu, ya sudah, suruh saja putri haram kesayangan Papa yang menikah dengannya. Aku rela memberikan pertunangan ini buatnya!"

Kemarahan di wajah Aditya langsung membeku, lalu berubah menjadi ekspresi kegembiraan, seakan tak percaya. "Kamu … Apa katamu tadi? Kamu benar rela menyerahkan pernikahan ini ke adikmu?"

"Iya, lagipula, Papa juga selalu lebih menyukai perempuan itu dan putrinya. Yuan juga sudah Papa didik untuk jadi sopan dan tahu aturan. Papa sudah menghabiskan banyak uang untuk mendidiknya menjadi sosialita. Dia sangat cocok untuk menjadi nyonya besar dari keluarga terpandang seperti Keluarga Heriadi!"

"Kamu itu!" Wajah Aditya pucat pasi, dia dengan marah menjawab, "Jangan gunakan bahasa yang sekasar itu, dia itu adikmu!"

"Pernikahan antara kedua keluarga sudah diatur sejak lama dan nggak dapat diubah. Karena kamu bersikeras untuk menyerahkannya .… Ya sudah, ini satu-satunya cara. Papa akan pergi ke Keluarga Heriadi sekarang untuk membahas perubahan calon pengantin!"

Setelah itu, dia langsung bangkit, meraih jaketnya, dan bergegas keluar, bahkan tanpa sempat menyelesaikan sarapan.

Yunita memperhatikan punggung papanya yang berpura-pura tenang, padahal sangat senang, dirinya merasa sungguh ironis.

Dia tak berkata apa-apa lagi, lalu berbalik, naik ke kamarnya mengambil dokumen dan tas, dan segera keluar rumah.

Yunita pertama-tama mengajukan visa kilat, kemudian menelepon sahabatnya, Susi Anggara, dan langsung menuju bar paling populer di pusat kota.

Musik yang memekakkan telinga, lampu-lampu yang menyilaukan, tubuh-tubuh yang bergoyang di lantai dansa .… Semua itu memberi Yunita rasa kebebasan dan kegembiraan yang telah lama hilang.

Dia menarik Susi untuk ikut menari dan minum sepuasnya, bahkan dengan berani memesan beberapa gigolo papan atas untuk menemaninya.

Susi menatap Yunita dengan rasa tak percaya, dia tampak telah terbebas dari semua belenggu dan bahkan lebih memesona dari sebelumnya.

"Yunita, bukannya keluargamu akan segera berbesanan dengan Keluarga Heriadi? Gery itu terkenal sangat kaku dan kuno, aturannya menyeramkan! Kalau dia sampai tahu kamu datang ke tempat seperti ini, dan memesan gigolo .… Keluargaku nggak akan sanggup menanggung kemarahannya! Sayang, kalau kamu mau mencari masalah, jangan ajak-ajak aku ya!"

Yunita menengadahkan kepala setelah meneguk minumannya. Cairan pedas itu meluncur di tenggorokannya, memberikan sensasi terbakar yang menyenangkan.

Dia tersenyum lesu dan berkata, "Jangan khawatir, aku sudah memberikan pertunangan ini ke Yuan."

"Memberikan ke Yuan?!" Mata Susi melebar karena terkejut. "Kamu ... bukannya kamu sangat menyukai Gery? Dulu ada banyak pria yang mengejar cintamu, tapi nggak ada yang kamu suka. Sampai kamu ketemu Gery di jamuan amal itu, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Kamu bahkan sampai bilang kalau cuma pria hebat seperti dia yang pantas untukmu ...."

Yunita melengkungkan bibir merahnya yang menggoda, tetapi tidak ada senyum di sorot matanya, hanya ketidakpedulian yang jelas dan dingin. "Menyukai dan cocok itu ... dua hal yang berbeda. Aku dan dia nggak cocok. Aku nggak akan pernah menyukainya lagi."

"Cinta memang berharga, tapi kebebasan itu lebih berharga. Aku cantik, latar belakang keluargaku juga nggak buruk. Aku nggak percaya kalau nggak bisa menemukan orang yang cocok. Misalnya ...."

Tatapannya menyapu gigolo yang tersenyum malu-malu di sampingnya, dia lalu mengulurkan jari rampingnya dan mengelus dagu pria itu dengan lembut, nadanya terdengar menggoda. "Mereka juga lumayan, kan?"

Begitu kalimat itu selesai terucap, sebuah suara dingin dan berat yang tidak sesuai dengan suasana bar, terdengar dari belakang.

"Coba bilang lagi, siapa yang lumayan?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 28

    Waktu berlalu dengan cepat, sepuluh tahun telah berlalu dalam sekejap mata.Yunita dan Davin diundang untuk menghadiri sebuah konser klasik bergengsi di Kota Valien, Auremon.Waktu seolah sangat baik kepada Yunita, pesona kedewasaan menambah daya tariknya, membuatnya tampak semakin anggun dan tenang. Berdiri di samping Davin yang masih tampan dan tak terkekang tetapi sekarang tampak jauh lebih dewasa, mereka tetap menjadi pasangan yang membuat orang iri.Selama waktu istirahat, Yunita pergi ke toilet, sementara Davin ditahan oleh seorang musisi yang dikenalnya untuk berbincang.Dia berjalan sendirian menyusuri koridor yang dilapisi karpet tebal, namun di tikungan, dia berpapasan dengan seseorang secara tak terduga.Dia adalah seorang pria yang duduk di kursi roda, dan didorong oleh seorang perawat. Dia mengenakan mantel gelap yang rapi, selimut menutupi lututnya. Rambutnya hampir seluruhnya putih, wajahnya tampak tua dan kurus dipenuhi kerutan. Hanya sorot matanya yang masih dalam, di

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 27

    Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan, tidak ada janji palsu, hanya pengakuan paling lugas dengan gaya khas Davin. Namun, hal itu sangat menyentuh hati Yunita dibandingkan kata-kata manis apa pun.Memandang pria di hadapannya yang bersedia menerima semua kekurangannya dan memberinya kebebasan tanpa batas, matanya memanas, sementara senyum bahagia yang begitu cerah merekah di wajahnya.Dia mengulurkan tangan, mengangguk kuat, dan berkata dengan suara jernih serta tegas, "Iya! Aku mau menikah denganmu!"Davin terpaku sejenak, lalu melompat kegirangan, buru-buru memasangkan cincin di jari manisnya, ukurannya pas sekali!Davin mengangkatnya ke dalam pelukan, memutar-mutarnya di tempat, sangat bahagia seperti anak kecil yang menemukan harta karun paling berharga di dunia!"Yuhuu! Akhirnya aku punya istri!" teriaknya ke arah ladang lavender, suaranya bergema di senja hari.Yunita melingkarkan lengannya ke leher Davin, tertawa hingga air mata mengalir di wajahnya. Matahari terbenam menyi

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 26

    Ketika dokter keluar dengan wajah lelah dan mengumumkan, "Operasinya berhasil, tapi kondisinya masih kritis. Pemulihan selanjutnya akan sangat lama dan kemungkinan besar akan meninggalkan komplikasi serius," kaki Yunita terasa lemas. Dia hampir terjatuh ke lantai, untungnya Davin segera menopangnya.Gery terbaring tak sadarkan diri di unit perawatan intensif selama dua minggu.Selama itu, Heriadi Group kehilangan pimpinan, harga saham anjlok, dan situasi internal kacau.Melalui koneksi Davin, Yunita secara anonim memberitahukan kondisi Gery pada seorang tetua Keluarga Heriadi yang cukup dapat dipercaya untuk sementara menstabilkan keadaan. Saat Gery akhirnya pulih dan perlahan membuka matanya, yang dilihatnya hanyalah warna putih yang kabur.Rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, terutama di dada. Setiap tarikan napas terasa seperti siksaan yang menyakitkan.Dia memutar bola matanya yang kering, penglihatannya perlahan-lahan menjadi fokus dan melihat Yunita dengan

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 25

    Gery selalu memantau gerak-gerik Yunita secara diam-diam. Setelah mengetahui mereka berada di pulau ini, awalnya dia hanya ingin mengamati dari kejauhan. Namun, tanpa diduga menemukan tingkah mencurigakan Yuan dan anak buahnya, membuatnya melacak mereka hingga ke sini!"Lepaskan dia!" teriak Gery dengan mata berkilat merah seperti binatang terluka yang sekarat, menatap Yuan dengan tajam."Gery?" Yuan terdiam sejenak sebelum tawanya semakin gila. "Hahahaha! Kamu juga datang! Bagus! Sangat bagus! Sekalian saja aku mengirim kalian semua ke neraka!""Kamu mau apa? Lampiaskan padaku saja!" Gery melangkah maju perlahan, suaranya serak. "Lepaskan dia, nyawaku ini milikmu.""Nyawamu?" Yuan mencibir. "Aku sekarang nggak butuh apa-apa! Aku cuma mau dia menderita! Aku mau kamu lihat gimana caraku menyiksanya!"Untuk memprovokasi Gery, Yuan dan anak buahnya mulai melontarkan hinaan kejam pada Yunita, bahkan memukul Davin yang terikat dengan tongkat.Mata Gery memerah, tinjunya terkepal begitu erat

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 24

    Gery melangkah keluar, memandang wanita di bawah kakinya yang tergeletak seperti lumpur. Tak ada sedikit pun emosi di matanya."Cinta?" Dia mencibir, suaranya dingin dan menusuk. "Aku tahu betul bagaimana kamu dan ibumu bersekongkol untuk menindas Yunita. Dulu aku nggak menyentuh kalian karena merasa itu akan mengotori tanganku, dan juga ... agar Yunita bisa membalasnya sendiri."Pria itu berpikir sejenak, suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. "Sekarang, dia sudah bertindak. Aku sangat puas."Dia berbalik dan melemparkan kalimat terakhir kepada para pengawal di belakangnya, "Usir dia."Pintu utama tertutup dengan keras.Yuan terduduk lemas di lantai yang dingin, seolah-olah dia telah jatuh ke jurang.Dalam keputusasaannya, Yuan entah bagaimana menemukan tempat tinggal Yunita. Tubuhnya kurus kering, tatapannya berbisa seperti ular. Dia menjerit mengutuk Yunita, "Yunita! Dasar wanita terkutuk! Kamu akan mati dengan mengerikan! Kamu mencuri segalanya dariku! Kamu akan mendapatka

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 23

    Kota Bandan, ruangan eksekutif di lantai teratas gedung Heriadi Group, suasananya sunyi seperti makam.Tirai tebal tertutup rapat, memutus seluruh cahaya dari luar. Gery terkulai di kursi eksekutifnya yang besar, botol-botol minuman keras kosong berserakan di kakinya.Tubuhnya kurus hingga tak berbentuk, rongga matanya cekung, rambut peraknya yang mencolok menambah kesan putus asa dan aneh.Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah foto hasil jepretan paparazi yang agak buram namun tetap jelas.Di sebuah kafe terbuka di sebuah kota kecil di Aurela Selatan, Yunita mengenakan gaun kuning pucat yang cerah, dia mendongak sambil tertawa, menyuapi Davin satu suap es krim.Davin memandangnya dengan wajah penuh kasih, jarinya mencubit lembut hidung Yunita. Sinar matahari menyelimuti mereka, tampak indah hingga menyilaukan mata."Uhuk!"Seteguk darah menyembur dari mulut Gery tanpa peringatan, memercik ke layar ponsel dan karpet wol mahal, menyebarkan warna merah menyala.Dia terbatuk hebat,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status