Share

Bab 13

Penulis: Prince Molina
last update Tanggal publikasi: 2026-02-06 15:16:35

Gudang farmasi yang sempit itu seolah kehilangan pasokan udara. Suara detak jam di dinding lorong Puskesmas terdengar samar, kalah telak oleh suara degup jantung Tresna yang berdentum hebat di dalam rongga dadanya. Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Rini barusan laksana sumbu pendek yang memicu ledakan di kepala Tresna.

"Mas... kok jadi keras lagi?"

Rini masih dalam posisi berjongkok. Matanya yang jernih menatap tepat ke arah tonjolan di balik kain celana Tresna yang kian membesar dan me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Gumandasa Gumandasa
Iklannya terlalu panjang bro...!!!!
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 319

    Silvi terus membuntuti pria berjaket tebal itu melewati gang-gang sempit. Kondisi sekitar sangat sepi dan gelap. Napasnya diatur sehalus mungkin, menyelinap di antara bayang-bayang pohon mangga dan dinding batako rumah warga.Pria misterius itu bergerak sangat hati-hati. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, menghindari pantauan lampu jalan yang temaram. Langkah kakinya yang lebar melangkah pasti menuju bangunan penampungan air bersih utama milik desa Sukamaju."Sialan, tebakanku banget," desis Silvi dalam hati. Rahangnya mengencang keras.Janda desa itu sadar kalau pria di depannya adalah penyusup. Si keparat ini sengaja memanfaatkan kekacauan di perbatasan untuk menyabotase fasilitas vital.Pikiran Silvi langsung berputar cepat. Pria itu pasti berniat menularkan bakteri patogen ganas ke dalam sumber air bersih agar seluruh penduduk desa ikut terjangkit wabah mematikan besok pagi."Kalau dia sampai berhasil numpahin racun itu ke bak utama, habis kita semua," bisik Silvi sambil mer

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 318

    "Para pemuda karang taruna, bantu jaga ketertiban! Jangan ada yang berebut atau kalian tidak akan dapat giliran!" perintah Linda lantang melalui megafonnya, kembali mengendalikan situasi dari atas meja administrasi.Silvi dan kelompok ibu-ibu PKK desa Sukamaju dengan cekatan membantu mendistribusikan obat cair berwarna cokelat pekat itu kepada ratusan pengungsi yang sedang merintih kesakitan di dalam tenda terpal darurat."Ayo, Pak, minum ini sampai habis. Jangan disisakan sedikit pun!" ucap Silvi sambil menyodorkan gelas plastik kepada seorang pria yang perutnya kram."Pahit banget ini, Mbak... ugh," rintih pria itu, namun tetap meneguknya dengan rakus demi bertahan hidup."Pahit itu tandanya obatnya bekerja, Pak. Habiskan saja!" timpal seorang ibu-ibu PKK yang berada di sebelah Silvi.Di tengah kesibukan itu, Tresna berjalan menyusuri lorong tenda darurat untuk memantau langsung reaksi obat herbalnya. Langkah kaki tegapnya mendadak terhenti di tengah lorong tenda ketiga.Sepasang ma

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 317

    "Baik, Mbak Kades!" sahut Joko, memberi isyarat kepada pemuda lain untuk mundur dua langkah.Mendengar jaminan keselamatan tersebut, ratusan pengungsi perlahan mundur dan tidak lagi mendorong pagar bambu. Mereka mulai bergerak tertib menuju area tenda terpal darurat yang sudah didirikan oleh kelompok Silvi di pinggir lapangan perbatasan."Ayo, ibu-ibu dan anak-anak sebelah sini dulu! Biar yang laki-laki bantu merapikan barisan di belakang!" seru Silvi dari kejauhan, dengan cekatan mengarahkan warga seberang masuk ke bawah tenda yang teduh."Terima kasih banyak, Mbak Silvi… semoga Gusti Allah membalas kebaikan kalian," ucap seorang nenek tua sambil menuntun cucunya."Sama-sama, Mbah. Yang penting sekarang duduk dulu yang rapi, ya," jawab Silvi dengan senyuman ramah yang menenangkan.Dari atas meja tinggi, Linda kembali mengarahkan megafonnya ke arah barisan warga yang mulai tenang. "Saya berjanji akan memberikan jatah obat dan makanan secara adil kepada setiap orang yang mendaftar pada

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 316

    "Mas Tresna! Dokter! Gawat, Mas!"Pintu kayu itu mendadak terbuka lebar karena didorong kasar dari luar. Di ambang pintu, seorang pemuda karang taruna berdiri sambil memegangi kusen, napasnya putus-putus dan badannya gemetar hebat. Bajunya sudah tidak keruan, basah kuyup dan penuh noda lumpur parit yang kotor.Tresna yang sigap menggeser tubuh kekarnya, berdiri pas di depan Clara untuk melindungi dokter itu. Sorot matanya seketika berubah dingin beneran."Ada apa, Jok?! Masuk nggak pakai aturan, main dobrak saja!" gertak Tresna, suaranya berat memicu wibawa yang bikin merinding."M-maaf, Mas Tresna... tapi ini darurat!" tangis pemuda bernama Joko itu dengan wajah ketakutan setengah mati.Tresna tidak membentak lagi. Dia maju satu langkah, menatap Joko dari atas ke bawah dengan pandangan taktisnya yang tajam. "Tenangkan dirimu, Jok. Bicara yang jelas, ada apa di luar?""Perbatasan, Mas! Perbatasan desa kita jebol!" seru Joko dengan suara serak, napasnya masih putus-putus. "Ratusan warg

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 315

    "Astaga... lukanya langsung mengering, Mas! Ini… ini nggak masuk akal!" seru Clara takjub, matanya melotot nggak percaya menatap hasil kerja Tresna."Sambiloto itu rajanya obat antiseptik alami, ditambah temulawak buat netralisir racun di kulit. Nenek moyang kita sudah pakai ini sebelum manusia jaman sekarang bikin obat dalam bentuk pil," sahut Tresna santai, menaruh kembali spatula kayu ke meja.Ketegangan yang sangat menguras pikiran dan tenaga selama proses pengobatan darurat tadi membuat atmosfer di dalam ruangan tertutup itu terasa sangat pekat. Napas Clara terdengar memburu sangat kencang, dadanya yang padat di balik jas dokter putihnya tampak naik-turun dengan kontras.Clara menatap tubuh kekar Tresna yang gagah, berdiri tegak tanpa ada rasa takut sedikit pun di tengah ancaman wabah mematikan. Gairah dan rasa kagumnya sebagai seorang wanita itu langsung memuncak, mengalahkan rasa takutnya pada penyakit.Dokter muda itu mendadak melangkah maju, lalu menarik lengan kekar Tresna d

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 314

    "Aku harus tahu ini jenis patogen apa, Mas. Tanpa data akurat, kita nggak bakal bisa bikin penawarnya," sahut Clara serius.Clara mengambil sebuah spuit dari dalam lemari kaca. Tanpa membuang waktu, dia mencari area kulit di lengan pemuda itu yang masih bersih dari luka melepuh, lalu dengan jeli menusukkan jarum suntik tersebut tepat di atas pembuluh darahnya.Perlahan, Clara menarik tuas spuit hingga tabung bening itu terisi beberapa mililiter sampel darah yang berwarna agak kehitaman dan kental."Warnanya nggak wajar banget, Mas. Darah manusia nggak sepekat ini kalau cuma infeksi biasa," bisik Clara, wajahnya tegang.Clara membawa tabung sampel darah itu ke sudut meja laboratorium. Dia memasukkannya ke dalam sebuah mesin analisis portabel miliknya, alat khusus yang sengaja dia bawa dari rumah sakit pusat kota karena bisa membaca struktur DNA bakteri dalam hitungan menit.Bzzzzt... bzzzzt...Mesin laboratorium kecil berbentuk kotak hitam itu mulai bekerja, lampu indikator birunya ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status