ログイン"Tresna, kamu cuma punya batas waktu dua puluh empat jam untuk mengosongkan rumah joglo tua kakek Linda sebelum tim juru sita datang dengan pengawalan ketat."Kabar itu seperti hantaman godam yang lebih menyakitkan daripada tendangan sepatu bot para pembunuh tadi. Di tengah puing gubuk yang masih berasap, Tresna menyadari kalau musuh yang dia hadapi sekarang bukan lagi otot dan senjata, melainkan kertas dan kekuasaan yang bisa menghancurkan hidup mereka tanpa perlu menumpahkan darah."Dua puluh empat jam?!" pekik Silvi yang berdiri di samping mereka. "Itu gila! Mas Tresna baru aja bertaruh nyawa, dan sekarang kalian mau mengusir dia kayak pengemis?"Para warga desa yang mendengar kabar tersebut langsung menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Suasana yang tadinya riuh karena kemenangan mendadak berubah jadi duka yang mendalam. Mereka merasa sangat iba sama nasib buruk sang mantri. Pria yang baru saja melindungi mereka dari maut, kini justru harus kehilangan tempat berteduhnya di tanah
Bara api dari gubuk yang mulai padam menciptakan siluet kemerahan di wajah Tresna yang bersimbah darah dan lumpur. Di tengah ladang tebu yang berbau sangit, napas Tresna masih memburu, namun tangannya tetap terentang kokoh menyambut Linda yang berlari ke arahnya dengan isak tangis lega.Pelukan wanita itu begitu erat, seolah takut kalau ia melepaskannya sedetik saja, sosok pria di depannya bakal menghilang ditelan kegelapan malam.AKP Darmawan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan degup jantungnya yang tak karuan. Ia menyapu pandangan ke arah tiga tubuh kekar yang tergeletak tak berdaya di atas tanah berlumpur. Kekuatan fisik Tresna benar-benar di luar nalar, ia baru saja menumbangkan pembunuh profesional cuma dengan modal nekat dan kecerdikan mengolah hasil alam."Pak RT! Kang Dadang! Jangan biarin mereka kabur!" perintah perwira polisi itu dengan suara bariton yang kembali berwibawa meski seragamnya carut-marut."Siap, Pak!" sahut Kang Dadang dengan penuh semangat. Dia beralih
Tresna mengambil ancang-ancang singkat, lalu melemparkan seluruh remasan daun beserta getah beracun itu lurus menuju ke arah wajah sang pemimpin kelompok pembunuh bayaran dengan akurasi yang mematikan.PLOK!Cairan getah panas dan remasan daun kemaduh itu mendarat telak, tepat mengenai area wajah dan masuk menembus celah kedua mata pria bertubuh raksasa tersebut dalam hitungan detik. Reaksi kimianya terjadi seketika. Racun kemaduh itu bereaksi dengan cairan mata, menciptakan sensasi terbakar yang seribu kali lebih hebat daripada air cabai."ARGGGGHHHHHH! MATA AKU! PANASSSS!"Pemimpin pembunuh bayaran itu menjerit sangat nyaring. Sebuah teriakan melengking yang membelah sunyi ladang tebu. Rasa perih yang tak tertahankan itu membuatnya kehilangan kendali atas akal sehatnya. Secara refleks, ia melepaskan kuncian lengannya yang berotot besar dari leher Linda hanya untuk mengucek matanya yang terasa sangat perih dan gatal luar biasa.Linda yang mendadak bebas langsung terbatuk hebat, menco
"Ayo, pukul lagi! Dia nggak bakal ngelawan!" sorak sang pemimpin di sela-sela tawanya yang memuakkan."Mas Tresna! Berhenti! Jangan pukul Mas Tresna lagi!" jerit Silvi dari kejauhan. Ia mencoba merangkak maju dengan sisa tenaganya, namun segera ditahan oleh warga agar tidak ikut menjadi sasaran kegilaan para preman kota tersebut.Tresna hanya bisa terdiam, matanya yang mulai bengkak tetap menatap tajam ke arah Linda. Ia menerima setiap hantaman itu sebagai harga yang harus dibayar demi keselamatan nyawa wanita yang ia cintai. Setiap rasa sakit yang ia terima justru semakin memupuk bara dendam yang siap meledak di dalam dadanya."Diam kamu, Janda gila! Giliran kamu bakal datang setelah ini!" maki anak buah itu sambil kembali menendang perut Tresna berkali-kali.Tresna cuma bisa diam menerima siksaan fisik berat dan penghinaan di hadapan puluhan pasang mata warga desa yang menyaksikannya dengan linangan air mata. Setiap hantaman sepatu bot itu menimbulkan suara benturan daging yang memu
Hawa panas dari gubuk yang terbakar hebat di belakang punggung sang pembunuh mulai terasa di kulit Linda. Rasa perih yang membakar itu bercampur dengan sesak napas akibat asap dan jepitan lengan raksasa yang semakin mengunci kuat.Suasana di ladang tebu desa Sukamaju mendadak jadi sangat kaku. Seolah-olah waktu berhenti berdetak cuma buat menyaksikan drama maut di bawah siraman cahaya api yang jingga kemerahan ini.Pemimpin pembunuh bayaran itu menyeringai licik. Matanya yang liar menyapu kerumunan warga yang mengepungnya dengan parang terhunus. Dengan gerakan yang sangat lambat tapi penuh ancaman, ia menempelkan kembali bilah tajam pisau lipat peraknya tepat di atas kulit leher jenjang Linda yang berkeringat.Dinginnya baja beradu dengan panasnya keringat Linda, menciptakan garis kemerahan yang makin jelas di kulit putihnya yang halus."Mundur! Mundur kalian semua, sampah desa!" teriak sang pemimpin dengan suara yang menggelegar. Urat-urat di lehernya menonjol laksana tambang nilon y
"Minggir kalian, sampah desa! Jangan halangi jalan aku!" raung sang pemimpin dengan suara yang sangat mengerikan, seolah keluar dari tenggorokan binatang buas."Berhenti kamu! Jangan harap bisa lari!" teriak warga mencoba mengepung rapat posisi pria besar itu."Rasakan ini!" Sang pemimpin membanting dua orang warga sekaligus dengan kekuatan tenaga dalamnya hingga mereka terpental ke rimbunnya pohon tebu.Sambil menahan rasa sakit di area wajahnya yang sudah hancur bersimbah darah, matanya yang sedingin es tetap mengincar Tresna. Pria bertubuh raksasa itu berlari mengejar posisi Tresna yang baru saja mendaratkan Linda di tanah terbuka. Langkah kakinya yang berat menghentak bumi, menciptakan ancaman maut yang baru bagi sang mantri yang sudah hampir kehabisan tenaga."Linda, awas di belakangmu!" jerit Silvi dengan suara melengking yang memecah riuhnya suasana."Hah? Apa—" Ucapan Linda terputus seketika.Sang pemimpin pembunuh itu berhasil menyergap dan mengunci leher Linda menggunakan le
Wajah Pak Karyo langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari air mendidih. Ia merasa harga dirinya sebagai lelaki terhormat di desa Sukamaju hancur berkeping-keping karena dipermalukan soal ukuran pusakanya di depan warga.Bapak-bapak yang tadi tertawa mengejek Tr
Lingerie merah marun yang dikenakan Arum akhirnya melorot sepenuhnya. Kain tipis itu jatuh, bertumpuk di batas pinggang rampingnya yang putih bersih. Pemandangan itu seketika memamerkan seluruh tubuh bagian atas Arum yang polos.Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, kulitnya nampak sangat ranum.
Ketegangan di pekarangan rumah Silvi semakin memuncak saat aroma bensin dan bau kayu terbakar menguap di antara warga. Kerumunan orang di sana masih berdiri diam melihat pintu penumpang mobil sedan mewah itu terbuka dengan perlahan.Sosok yang turun dari mobil tersebut adalah orang yang sangat dita
Kepala desa terpaksa menuruti keinginan putri tunggalnya itu dan menyuruh para pemuda melepaskan cengkeraman tangan mereka. Ia tidak ingin berdebat lebih lama lagi di depan umum karena bisa merusak reputasi kepemimpinannya di desa Sukamaju.Ia tahu betul kalau Linda sudah bicara, maka tidak ada sat







