LOGINDengan gerakan yang sangat telaten, janda desa itu mulai menggosok dada serta perut Tresna. Jemari lentiknya bergerak memutar secara ritmis, memastikan setiap inci kulit yang terkena bensin terlapisi oleh busa sabun untuk mengangkat sisa minyak yang berbahaya.Tresna menahan napas saat merasakan sentuhan tangan Silvi yang halus beradu dengan otot-ototnya yang keras. Ada sensasi lain yang mulai menjalar di balik rasa perihnya, sebuah tarikan naluri pria yang mendesak saat menyadari betapa pasrah dan berabdinya wanita ini di hadapannya.Ia membiarkan Silvi terus bekerja, menikmati setiap usapan lembut yang pelan-pelan memadamkan api kimia di tubuhnya, sekaligus menyalakan percikan lain yang jauh lebih purba di dalam dada."Ssshh... pelan-pelan, Sil. Di sebelah situ agak perih," gumam Tresna saat tangan Silvi menyentuh luka lecet di dekat rusuknya."Maaf, Mas... aku bakalan lebih hati-hati," bisik Silvi.Wajah janda itu kini sangat dekat dengan dada Tresna, hingga napas hangatnya bisa di
"Ssshh... keparat," desis Tresna. Ia mengepalkan tangan, menahan panas yang membakar dada bidangnya. "Bensin ini kayak ngelupasin kulitku."Baru saja hendak meraih gayung di atas bak mandi, terdengar langkah kaki terburu-buru mendekat. Langkah itu ringan namun pasti. Tresna menoleh sigap, otot bahunya yang lebar menegang waspada laksana harimau siap menerkam.Ia terkejut melihat sosok Silvi muncul dari balik kegelapan pohon kamboja, menyusulnya menuju bilik kamar mandi yang terpisah dari bangunan utama."Silvi? Kamu ngapain di sini?" tanya Tresna dengan nada suara tertahan. Matanya menatap tajam ke arah janda desa itu."Aku kan udah bilang, jaga pria itu. Jangan sampai dia punya kesempatan buat kabur! Kalau dia lepas, rumah ini bisa kebakar!"Tresna berdiri dengan napas memburu, membiarkan tubuh bagian atasnya yang polos dan memerah terpapar pandangan Silvi. Di bawah cahaya lampu minyak yang remang, otot-ototnya yang berkilat karena keringat dan bensin tampak semakin menonjol, menegas
Sebelum pria berwajah luka itu sempat memulihkan keseimbangan atau meraih senjata lain, Tresna sudah menerjang maju laksana harimau yang lepas pasungan. Dengan satu gerakan taktis lahir dari insting petarung, sang mantri merangsek ke belakang tubuh lawan.Ia mencengkeram pergelangan tangan pria itu, memutarnya paksa, lalu mengunci kedua lengan si bekas luka ke arah punggung dengan tenaga yang meluap-luap."Aaakkkhhhh! Lepasin! Tanganku!" pria itu menjerit saat sendi bahunya dipaksa melewati batas normal."Diam! Tadi kamu mau bakar rumah ini? Kamu mau bunuh kami semua termasuk tanteku yang nggak bisa liat?" bentak Tresna sambil menekan lutut kokohnya ke punggung lawan.Sentakan itu memaksa tubuh raksasa di bawahnya tersungkur tengkurap, mencium permukaan tanah yang dingin dan lembap. Tresna merasakan getaran ketakutan dari otot lawan yang tadi begitu sombong, sebuah sensasi dominasi yang memberikan kepuasan purba di tengah sisa adrenalinnya.Sorot matanya berkilat tajam, melirik ke ara
"Lepasin... bajingan... jangan bakar rumah ini... ada orang tua di dalam..." rintih Tresna. Suaranya nyaris hilang, hanya berupa bisikan yang tertelan oleh deru napas yang sesak.Pria berwajah penuh luka itu justru tertawa merendahkan, sebuah tawa kering yang menggema di kesunyian halaman rumah joglo."Orang tua? Maksud kamu wanita buta itu? Bagus! Itu artinya bakal ada lebih banyak jeritan yang nemenin kamu ke neraka malam ini. Juragan bilang, kalau kamu nggak bisa diusir halus pakai surat pengadilan, maka abu adalah jawaban paling tepat.""Kamu... kamu nggak bakal lolos... warga bakal kembali..." ancam Tresna sambil terus berusaha mendorong kaki besar yang menginjak dadanya."Warga? Mereka sibuk mengurus teman-temanku di perkebunan tebu. Di sini, cuma ada kita," sahut si bekas luka sambil menyeringai binal.Ia mengangkat tangan yang memegang korek api sedikit lebih tinggi ke udara. Ia membiarkan api itu semakin membesar karena tertiup angin malam yang dingin, bersiap menjatuhkan bat
Tresna tidak menunggu lebih lama lagi. Amarahnya sudah meluap hingga ke ubun-ubun melihat rumah yang penuh kenangan itu dilecehkan. Dengan langkah yang eksplosif, ia keluar dari bayang-bayang pilar."Berhenti, bajingan!" geram Tresna dengan suara rendah yang mematikan.Tresna mengayunkan kayu bakarnya lurus ke arah punggung pria itu, sebuah pukulan vertikal yang bertenaga penuh untuk menghentikan aksi pembakaran yang mengancam nyawa keluarganya. Kayu jati padat itu mendesing membelah udara malam.Namun, pria di depannya bukanlah seorang amatir. Seolah memiliki mata di belakang kepala, pria itu menyadari kedatangan Tresna lalu menundukkan kepalanya dengan sangat cepat, membiarkan kayu bakar Tresna hanya menghantam angin kosong di atas pundaknya.WUSS!Sentakan angin dari ayunan balok jati itu hampir mengenai telinga si pelaku. Dengan gerakan yang sangat terlatih, pria bermasker itu memutar tubuhnya sambil menarik sebuah belati panjang dari balik pinggang. Bilah baja itu berkilat tajam,
Mendengar hal itu, pupil mata Tresna seketika mengecil. Ia langsung mengendus udara malam yang dingin.Pada awalnya, ia hanya mencium wangi bunga kamboja serta bau tanah basah. Namun, ketika angin berembus dari arah depan rumah joglo, ia membenarkan adanya aroma bahan bakar minyak yang sangat tajam dan berbahaya tersebut.Aroma itu menusuk hidungnya. Ini pertanda bahwa cairan tersebut baru saja disiramkan dalam jumlah yang sangat besar di area depan."Bajingan..." geram Tresna pelan. Tangannya refleks meraba saku celana, memastikan peta wakaf itu masih ada di sana.Ia segera menarik Linda dan Tante Arum agar menjauh dari bangunan utama. Tresna tahu persis metode pengecut macam ini. Pihak Juragan tidak mau menunggu dua puluh empat jam, mereka ingin membakar habis bukti dan penghuninya sekaligus malam ini juga."Mas, bensin? Juragan itu kayaknya udah gila! Dia mau ngancurin bukti ini sekaligus sama kita!" seru Linda, suaranya bergetar hebat saat ia menyadari bahwa ancaman maut belum ben
Gudang farmasi yang sempit itu seolah kehilangan pasokan udara. Suara detak jam di dinding lorong Puskesmas terdengar samar, kalah telak oleh suara degup jantung Tresna yang berdentum hebat di dalam rongga dadanya. Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Rini barusan laksana sumbu pendek yang mem
Keributan yang terjadi di depan lapak daging itu seketika menarik perhatian sekumpulan bapak-bapak yang sedang asyik bermain kartu. Para pemburu angka togel yang sedari tadi nongkrong di warung kopi dekat situ langsung berdiri dan berhamburan mendekat untuk menonton dengan antusias.Melihat Tresna
Tresna tetap mempertahankan posisinya yang sedang menghujam dari belakang saat suara langkah kaki berat mendadak terdengar berhenti tepat di depan pintu. Gagang pintu besi itu diputar dengan kasar berkali-kali hingga menimbulkan suara gaduh yang sangat mengagetkan
Pintu gudang terbuka dengan suara derit engsel yang nyaring dan memecah kesunyian. Cahaya dari koridor luar masuk menyinari bagian depan gudang yang semula remang-remang.Didin masuk ke dalam ruangan sambil mengomel pan







