MasukSuasana di teras rumah joglo itu mendadak jadi sangat mencekam. Lebih dingin dari embun malam, tapi lebih panas dari bara api yang baru saja padam di kejauhan.Dokumen kuno di tangan Linda seolah menjadi pusat gravitasi yang menarik seluruh ketegangan malam itu ke satu titik fokus yang mematikan. Kepala Desa, pria yang seharusnya jadi pelindung warga Sukamaju, menatap kertas kulit usang itu dengan pandangan yang perlahan berubah, dari amarah menjadi ketakutan murni."Sini! Kasih ke Bapak! Jangan berani-berani kamu pegang kertas itu, Linda!" bentak Kepala Desa dengan suara parau yang bergetar hebat.Tanpa nunggu persetujuan atau jawaban dari putrinya, Kepala Desa merampas gulungan kertas kulit itu dari tangan Linda dengan gerakan sangat kasar dan nggak terkendali.Sentakan itu begitu kuat sampai bikin Linda terhuyung ke samping, nyaris jatuh di atas lantai teras yang masih licin oleh genangan bensin yang menyengat. Linda terkesiap, menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya.Tresna y
"Itu fitnah yang keji banget, Pak Kades," desis Tresna.Kepala Desa nggak kasih kesempatan buat Tresna jelasin lebih lanjut. Dengan gerakan cepat dan nggak terduga, dia melangkah lebar lalu melayangkan tamparan tangan kanannya dengan sangat keras.PLAKKK!Tamparan itu mendarat telak di pipi kiri Tresna hingga bunyinya menggema di kesunyian teras joglo. Kepala Tresna tersentak ke samping. Sudut bibirnya yang baru saja dibasuh Silvi kini kembali pecah dan mengeluarkan darah segar.Ada rasa panas yang menjalar di pipinya, namun harga diri Tresna sebagai pria jauh lebih terluka daripada fisiknya. Ia perlahan memutar kembali kepalanya, menatap Pak Kades dengan mata yang berkilat tajam, sebuah tatapan dari seorang predator yang sedang menahan diri agar tidak balik menerkam."Mas Tresna!" pekik Silvi dari balik bayang-bayang. Ia tidak berani mendekat karena takut malah bikin suasana makin keruh.Tresna cuma diam. Ia tidak membalas, bahkan tidak mengangkat tangan buat menangkis. Ia menundukka
Pintu jati tua yang kokoh itu terdengar seperti dipaksa terbuka oleh tangan-tangan yang penuh amarah. Adrenalin Tresna yang baru saja surut, kini kembali meledak, membakar habis sisa-sisa kenikmatan di kepalanya.Sang mantri segera meraih celananya, matanya berkilat tajam menembus kegelapan malam. "Sialan... siapa lagi sekarang?" desisnya dengan nada mengancam."Linda! Keluar kamu! Udah dibilang jangan bergaul sama mantri kere itu, masih aja ketemuan sama dia! Kamu malah ngasih tempat tinggal ke dia sama tantenya yang buta itu. Keluar, Linda!" sebuah teriakan kasar pria paruh baya memecah kesunyian malam dari arah teras yang masih berlumur bensin.Tresna tersentak sadar sepenuhnya. Insting petarungnya kembali aktif dalam hitungan milidetik. Ia segera merapikan celana dengan gerakan cepat dan taktis, sambil meraih kaos bersih yang tergantung di dinding bambu."Siapa itu, Mas? Suaranya kayak Pak Kades?" tanya Silvi dengan wajah yang seketika pucat. Tangannya gemetar meraih pakaian sendi
Napas hangat Silvi menyapu permukaan kulit pusaka Tresna yang sudah menegang maksimal. Kontras suhu itu bikin bulu kuduk sang mantri merinding hebat.Tanpa ragu sedikit pun, Silvi memajukan wajah cantiknya. Rambut hitamnya yang basah jatuh menjuntai di paha Tresna. Ia memasukkan seluruh bagian kepala pusaka itu ke dalam mulutnya yang hangat, basah, dan sangat lembut."Nghhh... oohhh, Sil..." Tresna tersentak kecil.Otot-otot perutnya yang atletis seketika mengeras laksana papan cucian. Ia merasakan kehangatan rongga mulut Silvi menyelimuti ujung kejantanannya secara utuh.Silvi mulai menggerakkan kepala maju mundur dengan ritme teratur dan presisi. Gerakannya tidak terburu-buru, melainkan penuh perasaan. Seolah setiap inci gerakan itu adalah cara Silvi bilang terima kasih karena Tresna udah melindunginya dari maut.Tresna memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kepalanya terkulai ke belakang. Ia mengangkat tangan yang besar dan kasar, lalu dengan lembut mengusap rambut basah Silvi.Se
Dengan gerakan yang sangat telaten, janda desa itu mulai menggosok dada serta perut Tresna. Jemari lentiknya bergerak memutar secara ritmis, memastikan setiap inci kulit yang terkena bensin terlapisi oleh busa sabun untuk mengangkat sisa minyak yang berbahaya.Tresna menahan napas saat merasakan sentuhan tangan Silvi yang halus beradu dengan otot-ototnya yang keras. Ada sensasi lain yang mulai menjalar di balik rasa perihnya, sebuah tarikan naluri pria yang mendesak saat menyadari betapa pasrah dan berabdinya wanita ini di hadapannya.Ia membiarkan Silvi terus bekerja, menikmati setiap usapan lembut yang pelan-pelan memadamkan api kimia di tubuhnya, sekaligus menyalakan percikan lain yang jauh lebih purba di dalam dada."Ssshh... pelan-pelan, Sil. Di sebelah situ agak perih," gumam Tresna saat tangan Silvi menyentuh luka lecet di dekat rusuknya."Maaf, Mas... aku bakalan lebih hati-hati," bisik Silvi.Wajah janda itu kini sangat dekat dengan dada Tresna, hingga napas hangatnya bisa di
"Ssshh... keparat," desis Tresna. Ia mengepalkan tangan, menahan panas yang membakar dada bidangnya. "Bensin ini kayak ngelupasin kulitku."Baru saja hendak meraih gayung di atas bak mandi, terdengar langkah kaki terburu-buru mendekat. Langkah itu ringan namun pasti. Tresna menoleh sigap, otot bahunya yang lebar menegang waspada laksana harimau siap menerkam.Ia terkejut melihat sosok Silvi muncul dari balik kegelapan pohon kamboja, menyusulnya menuju bilik kamar mandi yang terpisah dari bangunan utama."Silvi? Kamu ngapain di sini?" tanya Tresna dengan nada suara tertahan. Matanya menatap tajam ke arah janda desa itu."Aku kan udah bilang, jaga pria itu. Jangan sampai dia punya kesempatan buat kabur! Kalau dia lepas, rumah ini bisa kebakar!"Tresna berdiri dengan napas memburu, membiarkan tubuh bagian atasnya yang polos dan memerah terpapar pandangan Silvi. Di bawah cahaya lampu minyak yang remang, otot-ototnya yang berkilat karena keringat dan bensin tampak semakin menonjol, menegas
Sisa kehangatan di dapur itu masih membekas jelas di benak Tresna. Setelah cairan kejantanannya membasahi kulit putih Arum, suasana mendadak sunyi senyap. Hanya suara napas mereka yang saling memburu di antara remang lampu minyak yang mulai meredup.Arum menyeka dadanya yang basah dengan kain serbe
Tresna berdiri mematung di samping jemuran dengan tubuh yang kaku seperti papan kayu. Tangan kanannya masih meremas celana dalam hitam berenda milik Tante Arum, sementara tangan kirinya memegang stang motor yang mesinnya sudah mati sejak tadi.Ia menatap punggung Silvi yang melenggang masuk ke dala
Tresna merasa jantungnya seolah berhenti berdetak saat tangan halus Arum mencengkeram erat pusaka kebanggaannya melalui kain celana yang tipis. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, membasahi wajahnya yang sudah memerah padam karena menahan malu sekaligus gairah yang meledak-ledak.Ia me
Arum mendadak menghentikan kalimatnya yang menggantung. Seolah tersadar bahwa udara di dapur malam itu sudah terlalu panas untuk mereka berdua.Ia melepaskan elusannya pada Si Gatot, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan nadanya. Senyum tipi







