Teilen

Bab 177

last update Veröffentlichungsdatum: 07.04.2026 18:53:20

Dengan gerakan yang sangat telaten, janda desa itu mulai menggosok dada serta perut Tresna. Jemari lentiknya bergerak memutar secara ritmis, memastikan setiap inci kulit yang terkena bensin terlapisi oleh busa sabun untuk mengangkat sisa minyak yang berbahaya.

Tresna menahan napas saat merasakan sentuhan tangan Silvi yang halus beradu dengan otot-ototnya yang keras. Ada sensasi lain yang mulai menjalar di balik rasa perihnya, sebuah tarikan naluri pria yang mendesak saat menyadari betapa pasrah
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 335

    Silvi yang sudah berada di ujung tanduk kenikmatan langsung membuka matanya dengan napas memburu parah, wajahnya merengut kesal karena digantung begitu saja."Kenapa berhenti, Mas? Kamu nggak mau punya anak sama aku?" tuntut Silvi dengan nada manja yang bercampur kesal, membalikkan sedikit kepalanya menatap Tresna.Tresna tidak langsung menjawab, dia hanya terdiam dengan napas berat yang memburu di atas punggung Silvi. Pikiran sang mantri desa mendadak berkecamuk hebat, membuatnya bingung dan terjebak dalam dilema yang pelik.Di satu sisi, Tresna merasa belum siap. Karso memang sudah berhasil di bereskan ketika juragan sombong itu tertimbun gua, tapi nasib desa Sukamaju jelas belum sepenuhnya aman dari sisa-sisa anak buahnya yang masih berkeliaran di luar sana.Lagipula, menuruti kemauan Silvi sama saja dengan mengikat diri. Memiliki anak berarti dia harus menikahi janda kembang itu.Sementara di lubuk hatinya yang paling dalam, Tresna sadar ada perasaan wanita lain yang dipertaruhkan

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 334

    "Duh, kalau buat melayani Mas Tresna, rasa capekku langsung hilang," bisik Silvi manja, tangannya terjulur menarik kerah jaket hitam tebal Tresna masuk ke dalam kehangatan tumpukan karung padi.Tresna tidak memberikan jawaban lewat kata-kata. Dengan satu gerakan cepat, tangan kekarnya langsung menjulur, merengkuh pinggang ramping Silvi dan menariknya hingga tubuh padat janda kembang itu menempel sempurna pada dada bidangnya."Aduh, Mas... kok langsung buru-buru begini," desah Silvi lirih, matanya sayu menatap wajah tegap Tresna dalam keremangan lumbung."Kamu sendiri yang mulai, Sil. Jangan nyesel ya kalau besok pagi kakimu sampai lemas nggak bisa jalan," kekeh Tresna, suaranya berat penuh dominasi jantan yang pekat."Memangnya aku kelihatan mau kabur? Aku malah mau dikurung terus sama kamu di sini, Mas," rintih Silvi, jemarinya mulai mengelus rahang tegas sang mantri desa.Tresna tidak membiarkan Silvi bicara lebih banyak lagi. Dia menundukkan kepalanya, membungkam bibir tipis Silvi

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 333

    Terdengar suara tangisan histeris Mbah Tejo, sesepuh desa yang bertugas menjaga barak darurat di sebelah klinik. Pria tua itu memukul-mukul kaca jendela dengan wajah yang bersimbah air mata dan dipenuhi kepanikan luar biasa."Mbah Tejo? Ada apa, Mbah?!" tanya Tresna, sedikit membuka celah jendela tanpa melepaskan kendali energinya pada wadah obat."Anak-anak pengungsi, Mas! Tiga anak dari desa seberang mendadak berhenti bernapas di dalam barak! Kulit mereka sudah membiru semua, Mas!" lapor Mbah Tejo dengan suara gemetar hebat, meratapi kondisi para korban yang kian kritis di luar."Gusti... bakterinya sudah menyerang pusat saraf pernapasan mereka, Mas!" pekik Clara spontan, wajah dokternya seketika pucat pasi mendengar laporan tersebut. "Kalau dalam lima menit mereka nggak dapat penawar ini, mereka nggak akan bisa diselamatkan lagi!""Clara, selesaikan sisa campurannya sekarang juga! Biar aku yang urus anak-anak itu duluan!" perintah Tresna dengan suara bariton yang menggelegar penuh

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 332

    Tresna berlari sekencang mungkin membelah jalanan setapak desa, diikuti Clara dan Silvi yang bersusah payah mengejar dengan pakaian yang masih basah kuyup. Begitu mereka tiba di depan halaman klinik, pemandangan di sana jauh lebih kacau dari yang dibayangkan.Asap hitam pekat ternyata berasal dari tumpukan ban bekas yang sengaja dibakar di depan pagar pembatas. Di sana, sudah berkumpul kerumunan ratusan warga dari desa seberang yang berteriak histeris dengan wajah beringas."Keluar kamu, Mantri Sialan! Berikan obatnya pada kami!" teriak seorang pria berkaus dekil sambil mengacungkan sebatang kayu besar."Jangan biarkan warga desa seberang mati kelaparan dan membusuk karena karantina ini! Kalian sengaja mau membunuh kami?!" sahut warga lainnya, menyulut api lebih besar ke tumpukan ban."Mundur kalian semua! Jangan bikin rusuh di sini!" bentak beberapa pemuda karang taruna Sukamaju yang mencoba menahan pagar pembatas agar nggak jebol."Mas Tresna! Gusti... banyakkk banget orangnya!" pek

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 331

    Di seberang kolam, Juragan Karso merangkak kepayahan dengan sisa tenaganya. Namun, sebuah bongkahan batu raksasa seberat ratusan kilogram mendadak runtuh dari langit-langit, tepat jatuh menimbun tubuh lemas Juragan Karso hingga pria tua serakah itu ndak bisa bergerak lagi."Tresna... tolong aku... obatnya... akhhh!" rintih Karso terputus-putus, sebelum akhirnya runtuhan batu yang lebih besar menimbun wajahnya sepenuhnya."Mas Tresna! Cepat kembali ke sini! Batunya makin banyak yang jatuh!" jerit Silvi terpaku menatap langit-langit yang perlahan terbelah.Tresna melompat kembali ke arah kedua wanita itu, matanya melirik ke sekeliling lorong masuk yang kini sudah tertutup total oleh longsoran batu kapur yang masif."Jalur atas sudah tertutup, Clar, Sil! Nggak ada jalan kembali ke tebing!" ujar Tresna taktis sembari menyapu pandangan ke arah aliran air kolam yang berarus deras ke dalam celah bawah tanah."Lalu kita lewat mana, Mas?! Kita bakal mati konyol di dalam sini?!" tanya Clara den

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 330

    "Karso, jangan gila! Kalau kamu meledakkan tempat ini, kamu juga akan mati tertimbun!" seru Clara, mencoba memperingatkan konsekuensi fatal dari tinggakan nekat pria tua itu."Mati? Hahaha! Aku nggak peduli lagi! Kalau aku nggak bisa sembuh, maka kalian semua harus ikut mati bersamaku!" teriak Karso histeris, tawa gila memekakkan telinga kembali keluar dari tenggorokannya yang rusak."Serahkan seluruh sisa obat herbal itu, Tresna! Atau kita semua hancur!" tuntut Juragan Karso dengan napas yang memburu pekat.Pria tua yang sudah kehilangan akal sehatnya itu mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi, tepat berada di atas tombol merah detonator bom rakitan tersebut. Sifat keras kepalanya banget membuat situasi di dalam gua berada di titik paling berbahaya."Mas Tresna... gimana ini? Aku takut banget," tangis Silvi mulai pecah, tubuhnya lemas bergelayut di lengan kiri Tresna."Tenang, Sil. Jangan menunjukkan kelemahan di depan kecoak tua ini," bisik Tresna tetap tenang, matanya mengunci perger

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status