LOGINWush!Angin tajam berdesing, nyaris saja merobek daun telinga Tresna. Refleks maut yang terlatih karena terbiasa menghadapi situasi terjepit, membuat Tresna merunduk drastis. Tubuhnya menekuk hingga dagunya hampir mencium lutut sendiri.BRAK!Rantai besi berukuran jempol kaki itu menghantam tiang kayu teras rumah joglo dengan telak. Suaranya menggelegar, dibarengi serpihan kayu yang muncrat ke segala arah. Kalau telat sedetik saja, mungkin isi kepala Tresna sudah berhamburan di atas ubin tanah.Preman kedua dan ketiga tidak membiarkan Tresna bernapas lega. Mereka memanfaatkan momentum saat Tresna masih membungkuk, lalu melompat maju dengan koordinasi yang lumayan rapi. Satu sepatu bot menghantam telak di dada Tresna, sementara satu tendangan lain mendarat di punggungnya secara bersamaan.Bugh! Duak!Napas Tresna tercekat, rasanya paru-parunya dipaksa mengempis dalam sekejap. Tubuhnya terlempar, kehilangan keseimbangan sepenuhnya, hingga tersungkur jatuh menghantam lantai tanah liat di
Langkah kakinya bergerak mendekati titik di mana Richard tadi berdiri paling lama sebelum naik ke mobil. Pandangan mata Tresna tiba-tiba tertuju pada sebuah benda kecil yang nampak ganjil di atas tanah berpasir.Sebuah alat pelacak elektronik berwarna hitam legam tergeletak di sana. Benda itu ukurannya tidak lebih besar dari koin, namun nampak sangat modern dengan lampu indikator kecil yang masih berkedip merah redup.Tresna teringat gerakan tangan Richard yang sempat merogoh saku sebelum naik ke ambulans. Benda itu nampak sengaja dijatuhkan oleh Richard di tanah, tepat di area tempat tinggalnya.Benda mungil berwarna legam itu tergeletak pasrah di atas tanah berdebu, kontras dengan tekstur tanah kering pekarangan rumah joglo yang sudah lama tak tersentuh air. Di bawah bayang-bayang atap kayu yang angker, lampu indikator merah pada alat itu berkedip kalap.Kedipannya ritmis, cepat, dan seolah berteriak memberi tahu seluruh dunia koordinat tempat ini. Richard memang ular. Pria itu seng
Lima orang pria berpakaian jas dokter putih melompat turun dari dalam mobil ambulans itu dengan langkah tergesa-gesa. Mereka nampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar, lengkap dengan stetoskop yang menggantung angkuh di leher masing-masing.Di barisan paling depan, seorang pria berkacamata dengan bingkai tipis memimpin rombongan itu dengan raut wajah yang luar biasa sombong."Amankan Tuan Direktur! Cepat pasang monitor jantung!" teriak pria berkacamata itu, suaranya melengking tinggi merobek suasana.Pria bernama Richard itu mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan Tresna. Dia menatap Tresna dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan sorot mata penuh kebencian yang sangat nyata. Seolah-olah, melihat Tresna yang hanya memakai kaos oblong kusam adalah sebuah penghinaan bagi gelar akademisnya."Minggir kamu! Jangan dekat-dekat dengan pasien kami!" bentak Richard sambil menunjuk hidung Tresna.Tresna cuma bisa berkedip pelan, dia sedikit mundur. "Saya cuma bantu pertolongan p
Difokuskannya seluruh pikiran pada batu hitam kusam tersebut, memancing aliran energi yang biasanya dia simpan untuk keadaan terdesak. Disalurkannya hawa panas penyembuhan dari liontin batu wulungnya langsung ke dalam sirkulasi darah pria tua itu melalui titik-titik saraf yang dia tekan.Terasa getaran halus merambat dari telapak tangan Tresna, seolah-olah ada aliran listrik statis yang mencoba menyetrum balik sistem kelistrikan jantung pria itu yang nyaris padam."Se... dikit... lagi," erang Tresna, wajahnya nampak sangat kelelahan, laksana orang yang sedang memikul beban satu ton di pundaknya.Keajaiban perlahan mulai menampakkan wujudnya di bawah remang lampu teras rumah warga. Napas pria tua yang tadinya tersengal-sengal dan terdengar seperti suara air mendidih, kini perlahan mulai terdengar lebih tenang dan stabil. Warna kulitnya yang tadinya membiru pucat perlahan kembali memerah."Pa? Papa?!" seru Clara dengan suara yang pecah karena harapan yang kembali muncul.Tepat saat itu
"Gawat... kondisinya sudah sangat kritis, Mbak," gumam Tresna dengan rahang yang mengeras dan dahi yang berkerut dalam."Maksud Bapak apa?! Papa masih bisa selamat, kan?! Jangan bilang hal yang aneh-aneh, Pak!" wanita itu kembali histeris, suaranya gemetar menahan takut."Denyut nadinya sudah sangat tipis, Mbak. Ini serangan jantung koroner akut, suplai oksigen ke otaknya bisa terputus kalau nggak segera ada tindakan medis!"Keringat dingin mulai mengalir deras di pelipis Tresna, bukan karena takut menghadapi kematian, tapi karena situasi ini adalah situasi paling buruk bagi setiap tenaga medis yang berada jauh dari fasilitas lengkap.Dengan gerakan refleks yang sudah sangat terlatih, Tresna merogoh seluruh saku celana panjangnya, mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk pertolongan pertama darurat. Dirogohnya saku depan, hanya ada sisa keringat. Diperiksanya saku belakang, kosong melompong.Wajah Tresna seketika berubah tegang saat dia menyadari sebuah kenyataan pahit yang menghan
Gedoran brutal itu laksana guntur yang menyambar tepat di atas ubun-ubun, menghancurkan sisa-sisa kabut kenikmatan yang baru saja menyelimuti bilik bambu yang lembap itu. Tresna tersentak hebat, jantungnya yang baru saja melambat kini kembali berdegup kencang karena kaget yang luar biasa.Linda dan Silvi tak kalah panik, keduanya memekik kecil sambil buru-buru menarik kain apa saja untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos dan basah oleh sisa percintaan."Cepat pakai baju kalian! Jangan ada yang bersuara!" bisik Tresna dengan nada rendah yang penuh otoritas, matanya berkilat waspada menatap ke arah pintu depan yang terus diguncang gedoran.Dengan gerakan yang sangat panik dan terburu-buru, mereka bertiga langsung memungut pakaian masing-masing dari lantai semen yang masih basah.Silvi nyaris terpeleset saat menyambar dasternya yang tersampir di bak mandi, sementara Linda dengan tangan gemetar hebat mencoba memakai celana panjangnya yang tadi dilepas paksa oleh Tresna. Tidak ada wak







