Share

Bab 195

Author: Prince Molina
last update publish date: 2026-04-15 13:50:40

Lima orang pria berpakaian jas dokter putih melompat turun dari dalam mobil ambulans itu dengan langkah tergesa-gesa. Mereka nampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar, lengkap dengan stetoskop yang menggantung angkuh di leher masing-masing.

Di barisan paling depan, seorang pria berkacamata dengan bingkai tipis memimpin rombongan itu dengan raut wajah yang luar biasa sombong.

"Amankan Tuan Direktur! Cepat pasang monitor jantung!" teriak pria berkacamata itu, suaranya melengking tinggi mero
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 221

    Langkah kaki Tresna terasa sangat berat dan lambat saat dia mencoba menyeret tubuhnya yang ringsek di atas lantai beton. Paha kirinya yang tertembak terasa seolah sedang dihujam oleh ribuan jarum panas setiap kali ototnya dipaksa untuk menumpu beban.Darah segar merembes keluar dari balik balutan kain daster batik yang melilit erat di kakinya. Jejak merah pekat tertinggal di sepanjang jalur pergerakannya, menandakan sisa kehidupan yang terus terkuras habis."Satu langkah lagi... gue nggak boleh mati di sini," bisik Dia dengan napas yang tersengal parah.Bunyi gesekan sandalnya dengan lantai semen menggema lirih di aula raksasa yang kini mendadak sunyi senyap laksana kuburan.Tresna akhirnya sampai di depan meja kerja kayu jati milik sang Bos Mafia yang baru saja tewas mengenaskan. Dia mencengkeram tepian meja yang kokoh itu menggunakan jemarinya yang gemetar hebat demi menjaga tubuhnya agar tidak ambruk.Pandangan mata Tresna langsung terkunci pada brankas besi baja yang pintunya masi

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 220

    "Hhh... hhh... pergi lu semua," bisik Tresna sambil merosot perlahan karena sudah tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya sendiri.Dia bersandar lemah pada tiang beton yang hancur di belakangnya, mencoba menahan kesadaran yang terus memudar akibat rasa sakit. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan udara memicu rasa perih yang luar biasa menusuk bagian tulang rusuknya yang telah retak.Tangan kanannya menekan kuat luka di paha kirinya yang terus mengeluarkan darah segar berwarna pekat. Cairan hangat itu membasahi telapak tangannya, mengingatkan Tresna bahwa luka tembak itu masih sangat berbahaya jika tidak segera ditangani."Gusti... akhirnya… selesai…" gumam Tresna sambil menatap langit-langit gudang yang remang dengan pandangan mata yang mulai berkunang-kunang.Lelaki itu mencoba berdiri, namun kakinya langsung lemas dan dia kembali terduduk dengan ringisan sakit yang tertahan di kerongkongan. "Sial... paha gue beneran tembus," keluhnya sambil menatap nanar ke arah kakinya yang

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 219

    Angin maut menderu sangat kencang, membawa hawa panas yang nyaris membakar kulit wajah Tresna yang sudah bersimbah darah. Di detik-detik yang seolah berhenti berputar, mata sang mantri tetap terpejam rapat demi memasrahkan diri sepenuhnya pada petunjuk gaib dan memori anatomi di kepalanya.Kepalan tangan raksasa sang Bos Mafia melesat laksana peluru kendali yang mematikan. Serangan itu hanya berjarak satu tarikan napas saja dari tulang tengkorak Tresna yang sudah terpojok di pilar beton."Mampus lu, Mantri gila!" raung Bos Mafia dengan urat leher yang nampak hampir pecah karena amarah."Sekarang atau mati!" batin Tresna berteriak keras menantang maut yang sudah mengintai di depan mata.Dengan refleks yang melampaui batas kewarasan manusia, Tresna memiringkan kepalanya ke arah kanan dengan gerakan yang sangat cepat. Pukulan maut itu meleset tipis, hanya sejauh helai rambut dari telinga kiri Tresna yang masih terus berdenging hebat.BLARRR!Hantaman kepalan tangan sang raja jalanan itu

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 218

    Punggungnya menghantam keras tiang penyangga beton di tengah ruangan hingga menciptakan bunyi dentuman yang mengerikan. Getaran itu merambat ke seluruh rangka bangunan, menjatuhkan debu-debu tua dari langit-langit gudang yang suram ke arah tubuhnya yang ringsek."Uhuk! Uh... hakh!" Tresna memuntahkan darah segar ke atas lantai beton yang dingin dan keras. Dunia di depan matanya nampak bergoyang hebat, seolah gravitasi bumi sedang mempermainkan keseimbangan tubuhnya yang sudah hancur.Dia bersandar pada tiang beton tersebut, mencoba menghirup oksigen yang terasa sangat mahal dan menyakitkan di dadanya. Menyadari kekuatan fisik Bos Mafia itu jauh melampaui kemampuan manusia biasa, Tresna mulai merasa ajalnya sudah berada di ambang pintu."Gimana, Mantri? Masih mau pamer cahaya merah lagi atau mau langsung gue kirim ke neraka?!" teriak Bos Mafia dengan penuh kesombongan. Dia melangkah maju dengan tenang, menikmati setiap detik penderitaan lawannya yang sudah tidak berdaya bersandar pada

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 217 

    "Dokter Richard!" teriak para penjaga yang baru saja tersadar dari kebutaan sementara akibat cahaya merah tersebut.Bos Mafia yang tadi sempat terlempar ke belakang kini mulai bangkit dengan wajah penuh bekas luka yang nampak semakin merah membara. Dia melihat Richard yang sudah tidak bergerak di bawah tumpukan peti, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Tresna dengan penuh kemarahan.Tresna sendiri kini sudah berhasil berdiri tegak, meski kakinya yang tertembak masih bergetar hebat dan terus mengeluarkan darah. Cahaya merah dari Batu Wulung perlahan meredup, namun sisa energi panasnya masih terasa menyelimuti seluruh tubuh Tresna.Sang mantri mengatur napasnya yang memburu, mencoba merasakan aliran darahnya yang kini membawa kekuatan baru yang sangat dahsyat. Dia menatap sekeliling, melihat moncong-moncong senjata yang kembali terarah kepadanya, namun kali ini tidak ada lagi ketakutan di matanya."Ayo maju! Siapa lagi yang mau merasakan panasnya pusaka ini?!" tantang Tresna de

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 216

    Cengkeraman tangan Bos Mafia pada rambut Tresna semakin menguat, terasa seolah-olah seluruh kulit kepalanya akan terkelupas paksa dari tengkorak. Pria berwajah luka itu menyentak wajah Tresna ke atas dengan tenaga yang sangat kasar, memaksa sang mantri untuk menatap langsung ke arah Dokter Richard.Darah yang mengucur dari dahi Tresna mulai masuk ke mata, menciptakan sensasi pedih yang sangat menyiksa. Hal ini semakin memperkeruh pandangannya yang sudah remang-remang akibat gempuran fisik bertubi-tubi sebelumnya."Lihat musuhmu untuk terakhir kalinya, Mantri!" bentak Bos Mafia dengan suara parau yang dipenuhi nada kemenangan mutlak.Dokter Richard melangkah maju satu tindak dengan senyum yang terkembang sangat lebar hingga memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Raut wajah sang Dokter nampak sangat mengerikan di bawah sorot lampu merah yang mencekam. Dari balik saku jas putihnya yang masih bersih, dia mengeluarkan sebuah alat suntik yang berisi cairan kental berwarna hijau terang.C

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status