Share

Bab 239

Penulis: Prince Molina
last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 17:51:21

"Mati lu!" raung si wajah luka dengan mata melotot buas.

Mata parang yang berkilauan itu menebas horizontal dengan kecepatan tinggi, mengincar leher Tresna. Namun, refleks sang mantri desa bergerak melampaui perkiraan lawan. Ketenangan berpikir dan insting bertarungnya segera mengambil alih kendali tubuh secara instan.

Tresna merundukkan kepala seketika untuk menghindari tebasan parang tajam yang melesat di atas rambutnya. Besi tajam itu lewat tanpa menggores kulit lehernya sedikit pun.

"Lho, n
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 242

    "Patahkan kedua kaki dan tangannya, biar dia nggak bisa praktik medis lagi seumur hidup!" perintah Juragan Karso dingin, lalu memberikan isyarat anggukan kepala kepada kesepuluh pengawalnya untuk menyerang."Serangggg!!!!"Para pengawal bertubuh raksasa itu berlari serentak menerjang Tresna dari berbagai sisi halaman yang sempit. Langkah kaki mereka yang berat membuat tanah pekarangan rumah joglo kembali bergetar, menimbulkan kepulan debu baru.Sebagai pria pelindung, ancaman jumlah musuh ini justru memicu fokus taktis Tresna ke titik tertinggi. Dia tak membiarkan intimidasi lawan meruntuhkan mentalnya, melainkan langsung membaca celah dan arah datangnya serangan secara logis. Tresna langsung memasang posisi kuda-kuda rendah. Denyut hangat dari kekuatan fisik di sakunya kembali merambat, mempercepat refleks dan mengeraskan otot-otot tubuhnya dalam sekejap mata."Mati lu!"Pengawal pertama yang bertato ular melompat maju, mengayunkan tongkat pemukul bisbolnya secara vertikal lurus menu

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 241

    "A-aku nggak apa-apa, Mas... cuma kaget banget. Aku takut kamu kenapa-napa tadi. Kaki kamu pasti sakit banget, aku sampe denger suara pukulannya yang kenceng," bisik Linda sambil menyandarkan kepalanya di dada Tresna, mencoba mencari kehangatan dari pelukan pria pelindungnya."Aku nggak apa-apa, Lin. Kamu tahu sendiri kan kemampuanku ini?" goda Tresna sedikit untuk menenangkan hati Linda, yang dibalas dengan anggukan kecil dan senyuman tipis dari bibir Linda yang masih pucat.Tresna kemudian menoleh ke arah Silvi yang berdiri tidak jauh dari mereka bersama Clara. "Silvi, tolong bawa Linda masuk ke dalam rumah. Biarin dia istirahat di kamar bareng Tante Arum. Aku khawatir ada ancaman susulan.""Iya, Mas Tresna. Ayo, Lin, kita masuk dulu. Biar Mas Tresna urus orang ini," ucap Silvi sambil merangkul pinggang Linda dan menuntunnya berjalan pelan menuju anak tangga teras rumah joglo."Clara, kamu juga masuk. Temani mereka di dalam," tambah Tresna kepada Clara yang masih berdiri diam menata

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 240

    Tresna, yang masih berlutut di atas tanah dengan lutut kanan yang berdenyut nyeri, menyaksikan secara langsung bagaimana wanita yang selalu berdiri membelanya diperlakukan kasar. Suara jeritan Linda yang memanggil namanya menjadi pemicu yang menghantam langsung pusat kesadarannya sebagai seorang pria pelindung.Dia merasakan harga dirinya dilecehkan di hadapan publik. Saku celana panjangnya, tempat liontin Batu Wulung itu disimpan, tiba-tiba memancarkan suhu panas yang ekstrem.Rasa sakit luar biasa di persendian lutut kanannya mendadak lenyap, digantikan oleh aliran kekuatan fisik yang besar, dingin, dan tak terbendung. Aliran energi konkrit dari pusaka leluhurnya merambat cepat, mengisi setiap jalinan otot di kedua kaki dan lengannya yang kekar.Mata Tresna yang tadinya nampak sayu menahan sakit, kini terbuka lebar dengan sorot mata tajam yang berkilat penuh dengan hawa membunuh yang pekat. Tatapannya dingin dan fokus menargetkan musuh di depannya."Kalian... udah bosan hidup ya," g

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 239

    "Mati lu!" raung si wajah luka dengan mata melotot buas.Mata parang yang berkilauan itu menebas horizontal dengan kecepatan tinggi, mengincar leher Tresna. Namun, refleks sang mantri desa bergerak melampaui perkiraan lawan. Ketenangan berpikir dan insting bertarungnya segera mengambil alih kendali tubuh secara instan.Tresna merundukkan kepala seketika untuk menghindari tebasan parang tajam yang melesat di atas rambutnya. Besi tajam itu lewat tanpa menggores kulit lehernya sedikit pun."Lho, nggak kena?!" gumam si wajah luka terkejut melihat tebasannya hanya mengenai ruang kosong.Sebelum pemimpin preman itu sempat menarik kembali senjatanya, tubuh kekar Tresna sudah bergerak memutar dari posisi bawah, lalu melayangkan tendangan keras menggunakan tumit tepat ke arah ulu hati lawan.DUAKK!Hantaman tumit Tresna bersarang telak dan menciptakan suara benturan daging yang keras. Kekuatan tendangan itu begitu dahsyat hingga membuat jaket kulit tebal yang dikenakan lawan tidak mampu mereda

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 238

    "KYAAA!!!!" Silvi menjerit histeris karena terkejut, tubuhnya langsung limbung dan jatuh duduk di atas rumput sambil menutup kedua telinganya yang berdenging pelan.Tresna langsung tersentak, matanya terbuka lebar dan kilatan gairah di matanya mendadak lenyap seketika, berganti dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan dan kewaspadaan tingkat tinggi. Insting waspada dan logika berpikirnya sebagai pelindung desa langsung mengambil alih dalam hitungan detik."Mas! Suara apa itu?! Kencang banget!" teriak Silvi dengan wajah yang seketika berubah menjadi pucat pasi, seluruh tubuhnya gemetar ketakutan."Itu suara bom atau granat, Sil! Kayaknya dari halaman depan!" jawab Tresna dengan suara baritonnya yang menggelegar, penuh dengan nada cemas memikirkan keselamatan Tante Arum, Clara, Linda, dan warga desa lainnya.Belum sempat Silvi bangkit berdiri, kepulan asap hitam tebal langsung mengepul dengan sangat pekat, membubung tinggi ke udara menutupi langit pagi yang cerah tepat di atas area

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 237

    Tresna menatap papan nama kayu jati yang tergeletak di ruang tamu itu sekali lagi dengan perasaan lega. Setelah membalas sapaan Pak Joko dengan suara lantang, dia menoleh ke arah Silvi yang sejak tadi terus menempel di lengan kirinya dengan manja."Sil, ikut aku sebentar yuk ke belakang. Rame banget di sini, aku mau cari angin segar," bisik Tresna tepat di dekat daun telinga Silvi.Silvi langsung mendongak, matanya berbinar nakal mendengar ajakan tersebut. "Mau ke mana sih, Mas? Kok mukanya misterius gitu? Mau minta pijat ya?""Udah, ikut aja. Clara, Linda, aku ke belakang rumah sebentar ya. Tolong pantau warga dulu," ucap Tresna sambil memberikan kode mata kepada dua wanita lainnya."Iya, Mas. Jangan lama-lama ya, nanti dicari sesepuh desa," jawab Clara sambil tersenyum maklum, tahu benar kalau pria pujaannya itu butuh waktu istirahat sejenak dari formalitas warga."Jangan macam-macam ya, Sil! Awas kalau Mas Tresna balik-balik bajunya kusut lagi!" goda Linda sambil tertawa kecil mena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status