Share

Bab 290

Penulis: Prince Molina
last update Tanggal publikasi: 2026-06-06 23:32:56

"Lho? Itu bukannya Pak Slamet?" tanya Linda, menyipitkan matanya menunjuk seorang pria paruh baya yang berlari dengan pakaian kotor di jalur tanah.

Seorang pedagang kelontong desa bernama Pak Slamet tiba-tiba berlari dari arah kecamatan tetangga menyongsong rombongan Tresna dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya tampak pucat pasi, dipenuhi peluh yang membasahi seluruh pakaiannya.

"Mas... Mas Tresna! Tolong, Mas!" teriak Pak Slamet dari kejauhan, suaranya parau dan putus-putus.

"Pak Slamet? Ada
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 303

    "Gimana ini? Kita maju?" bisik preman berambut gondrong yang tadi membentak warga, kini suaranya nggak segarang tadi."Jangan gila kamu! Cari mati? Juragan Karso cuma bayar kita buat nakut-nakutin warga desa, bukan buat baku hantam sama monster kayak dia!" balas temannya, pelan-pelan malah memundurkan langkahnya satu tapak ke belakang.Tresna yang melihat pergerakan mundur itu hanya mendengus sinis. Dia maju selangkah ke depan, membuat barisan preman di depannya langsung tersentak mundur secara serentak sejauh dua meter karena kaget."Siapa yang mau kembali duluan ke pelabuhan dalam keadaan patah tulang? Silakan maju," ucap Tresna rendah, suaranya berat dan beneran berwibawa, menggema di antara keheningan lapangan.Tidak ada satu pun preman yang berani menjawab. Mereka semua saling pandang, lalu pelan-pelan bergeser ke samping, mundur perlahan memberikan jalan yang sangat luas di tengah-tengah barikade mereka.Melihat gerombolan preman itu mendadak ciut, barisan warga desa asli yang t

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 302

    Pintu-pintu bus terbuka serentak. Dari balik monitor komputer jinjing milik Clara, Tresna dan sang dokter bisa melihat pemandangan yang membuat darah mendidih.Ratusan pria berwajah sangar, berkulit gelap, dengan otot-otot lengan penuh tato mulai melompat turun satu per satu dari pintu bus yang terbuka lebar."Mas... mereka kok nggak pakai baju hitam atau seragam preman?" tanya Clara, suaranya sedikit bergetar sembari menunjuk layar monitor nomor dua belas."Mereka sengaja," sahut Tresna, matanya menyipit tajam memperhatikan pakaian yang dikenakan orang-orang itu."Mereka cuma pakai kemeja biasa, kaos oblong, sama celana jin lecek. Bajingan-bajingan itu mau menyamar jadi warga pemilih biasa biar nggak kelihatan mencolok dari jauh.""Luar biasa licik," desis Linda yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka setelah mengunci Anton di ruang sebelah."Kalau mereka menyamar jadi warga biasa, panitia nggak akan punya alasan buat mengusir mereka sebelum keributan pecah!"Di layar monitor

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 301

    "Pasang satu di tiang penyangga tenda bagian depan, Mas. Cari posisi yang agak tinggi dan tersembunyi di sela lipatan kain terpal," jawab Clara pelan. Matanya sibuk memeriksa layar ponsel yang menampilkan indikator sinyal kamera.Tresna melirik tiang besi yang licin dan tinggi itu, lalu beralih menatap pohon beringin yang dahan lebatnya menjuntai tepat di atas tenda, tak jauh dari tiang bendera balai desa."Nggak usah pakai tangga. Kelamaan. Biar aku panjat pohon sama tiangnya," bisik Tresna.Clara terbelalak lalu menahan lengan Tresna. "Eh, Mas, beneran? Itu tinggi lho, mana licin kena air embun. Jangan nyari penyakit deh!""Cuma segini mah gampang. Kamu pantau aja layarnya, udah pas belum posisinya," sahut Tresna dengan seringai tipis.Pria itu langsung bergerak lincah. Tanpa alat bantu sama sekali, Tresna mengandalkan kekuatan otot lengan dan kakinya untuk merayap naik ke tiang besi, menyelinap di antara sambungan terpal dengan gerakan ringan."Mas, awas!" desis Clara tertahan, me

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 300

    Anton cuma bisa menelan ludah mendengar gertakan Tresna.Tanpa buang waktu, Tresna langsung menyambar tali tambang sisa bangunan di dekat pos ronda. Dengan gerakan cepat, dia mengikat kedua tangan Anton ke belakang sampai pemuda itu ndak bisa berkutik lagi."Mas, sakit, Mas... jangan kencang-kencang," keluh Anton meringis, menundukkan kepalanya dalam-dalam meratapi nasib apesnya malam ini."Diam kamu! Ini masih mending daripada parangku yang bicara," gertak Tresna dingin.Mendengar situasi di luar sudah aman, pintu belakang balai desa terbuka pelan. Clara keluar diikuti oleh Linda. Wanita itu melangkah tergesa-gesa menghampiri mereka di area berumput."Jadi ini kelakuanmu, Ton? Kurang ajar banget ya kamu! Tega-teganga mau membakar sembako buat warga!" semprot Linda dengan mata melotot marah begitu melihat Anton sudah terikat."Maaf, Mbak Linda... ampun. Saya cuma butuh uang," ratap Anton tanpa berani mendongak.Clara mendekat ke arah Tresna, merapatkan kemeja hitam besar milik sang ma

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 299

    "Ampun, Mas Tresna! Ampun! Sumpah, jangan bunuh saya, Mas!" ratap Anton seketika. Pemuda pengangguran itu langsung menangis ketakutan begitu melihat kilatan tajam mata Tresna dan bilah parang yang dingin di lehernya."Jawab jujur, untuk apa kamu bawa minyak tanah jam segini ke gudang? Siapa yang nyuruh kamu, Ton?""Aku... aku cuma disuruh, Mas! Bukan kemauanku, demi Tuhan!" Anton mengatupkan kedua tangannya, tubuhnya gemetar hebat di atas tanah yang basah."Siapa?!" bentak Tresna rendah, menekankan parangnya satu milimeter lebih dekat."Juragan Karso, Mas! Tim suksesnya Juragan Karso yang bayar aku!" Aku Anton setengah berteriak namun tertahan, air matanya bercucuran. "Aku disuruh bakar seluruh isi gudang sembako ini supaya besok warga panik dan nyalahin kepala desa yang sekarang!"Tresna mengeraskan rahangnya. "Hanya ini? Hanya membakar gudang?""Nggak, Mas! Ada lagi, ada yang lebih besar!" seru Anton cepat-cepat karena takut parang Tresna benar-benar menyayat lehernya."Katakan, ata

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 298

    Sebagai pria desa yang terbiasa dengan kerja fisik berat, stamina Tresna memang luar biasa. Pinggulnya terus bergerak memompa dengan kekuatan penuh, menikmati jepitan bagian intim Clara yang terasa semakin ketat karena sang dokter sudah mulai mendekati puncak untuk kedua kalinya."Aku lepas tanganku, tapi kamu nggak boleh teriak. Paham?" bisik Tresna lagi, napasnya yang memburu mulai memanasi tengkuk Clara.Clara mengangguk cepat. Begitu telapak tangan Tresna bergeser dari mulutnya, wanita itu langsung menggigit bibir bawahnya sendiri dengan kuat demi menahan suara."Mas... Mas Tresna... ahh, ini terlalu dalam... aku pusing karena keenakan," rintih Clara dengan suara gemetar.Matanya menatap sayu ke arah tumpukan berkas di depannya yang ikut bergetar akibat guncangan tubuh mereka."Tahan, Clar. Ini belum seberapa," sahut Tresna sembari tersenyum lebar.Kedua tangannya kini beralih mencengkeram penuh sepasang dada Clara dari belakang, meremasnya dengan gemas seiring tempo hantamannya y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status