Share

Bab 2

Author: Prince Molina
last update Last Updated: 2026-01-29 12:29:14

Tresna hanya bisa mematung seperti patung selamat datang di pinggir desa Sukamaju yang kusam. Napasnya memburu tidak keruan karena ucapan Silvi yang benar-benar di luar nalar sehatnya sebagai seorang mantri.

Janda kembang itu malah makin menjadi-jadi dalam melancarkan aksi godaannya yang maut di siang bolong itu. Dia memutar badannya sedikit hingga posisi duduknya sekarang benar-benar berhadapan langsung dengan wajah Tresna yang pucat.

Tresna masih memegang koin logam untuk kerokan dengan ujung jari yang gemetar hebat karena menahan gejolak batin.

Mata Silvi yang sayu namun penuh gairah itu menatap tepat ke arah tonjolan di balik celana kain Tresna. Tangan Silvi yang halus perlahan mulai merayap naik ke paha sang mantri dengan gerakan yang sangat berani.

Tresna merasa seluruh saraf di tubuhnya seperti baru saja kesetrum aliran listrik tegangan tinggi dari kabel yang terkelupas. Otaknya sudah berteriak sangat keras supaya dia segera lari, tapi kakinya seolah sudah tertanam kuat di lantai semen.

"Duh Mas Tresna, jangan tegang-tegang banget toh, ini pentungannya kalau dibiarin begini terus apa nggak sakit rasanya?"

"Mbak Silvi, tolong jangan begini, nanti kalau ada yang masuk saya bisa dipukuli warga satu kecamatan karena dikira macam-macam."

"Lha siapa yang mau masuk, pintunya kan sudah aku kunci pakai perasaan tadi, sudah sini jangan jauh-jauh berdiri di situ."

Silvi menarik pinggang Tresna agar lebih mendekat ke arah ranjang periksa dengan tenaga yang lumayan kuat untuk ukuran wanita. Gerakan itu membuat pentungan yang sejak tadi menegang hebat itu kini benar-benar menempel di perut Silvi yang rata. Tangan Silvi mulai meraba karet pinggang celana Tresna, mencari celah untuk menurunkan kain tipis yang menghalangi hasrat mereka berdua.

Tresna sudah pasrah sepenuhnya, matanya terpejam rapat sambil menikmati setiap inci sensasi sentuhan jemari lentik yang sangat lincah itu. Namun, tepat saat kancing celana Tresna hampir saja terlepas dari lubangnya karena tarikan paksa dari Silvi, suara keras mendadak muncul.

Tiiiit! Tiiiit! 

Tiiit-tiiiiiit!

Suara klakson mobil yang sangat nyaring dan berisik terdengar dari arah depan klinik yang biasanya sangat tenang dan sepi.

Tresna dan Silvi melonjak kaget sampai-sampai kepala mereka hampir berbenturan karena kaget mendengar suara klakson yang sangat tidak sopan itu. Silvi buru-buru menarik tangannya dari pinggang Tresna, wajahnya nampak sangat kesal karena momen indahnya terganggu oleh suara klakson mobil.

Tresna sendiri langsung berusaha mengatur napasnya yang kacau balau, buru-buru merapikan celananya yang hampir saja melorot jatuh ke bawah. Dia segera membelakangi pintu agar tonjolan di balik celananya tidak langsung terlihat oleh siapa pun yang berani masuk tanpa permisi.

"Sialan bener, siapa sih yang ganggu siang-siang begini pakai klakson mobil kayak orang mau hajatan saja di depan klinik!"

"Mbak, cepat rapikan bajunya, itu kaitan bra jangan lupa dipasang lagi nanti malah copot di jalanan dan bikin geger."

Silvi dengan gerakan sangat cepat menarik kembali kebaya kutubarunya, tapi dia sengaja membiarkan satu kancing bagian paling atas tetap terbuka. Dia memberikan satu lirikan tajam yang penuh dengan janji kepada Tresna, seolah-olah mengatakan bahwa urusan mereka berdua ini belum selesai.

Baru saja Silvi melangkah keluar pintu, sesosok gadis dengan gaya angkuh dan aroma parfum mahal yang sangat menyengat langsung masuk.

Dia adalah Linda, anak tunggal Pak Kades Aditama yang baru saja pulang libur semester dari kota besar dengan gaya sombong.

Linda menatap Silvi dengan pandangan sangat meremehkan. Seolah-olah Silvi hanyalah sampah masyarakat yang kebetulan lewat di depan matanya yang tajam.

Dia mengalihkan pandangannya ke arah Tresna dengan tatapan yang jauh lebih menjijikkan lagi daripada saat dia melihat kondisi klinik kumuh.

"Oh, jadi beneran ya kabar kalau tempat ini isinya cuma janda-janda kesepian yang minta diservis sama mantri nggak laku?"

"Linda, jaga bicaramu ya, saya di sini sedang mengobati orang sakit bukan sedang mengadakan acara arisan janda-janda desa Sukamaju."

"Mengobati atau sedang berbagi keringat? Lihat tuh muka kamu, merah semua kayak habis lari maraton di atas kasur sempit itu."

Linda berjalan mendekat ke arah meja praktik Tresna dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan ke atas lantai kayu yang sudah tua. Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tas mewahnya dan melemparkannya tepat ke depan wajah Tresna dengan gaya sangat angkuh.

Amplop itu jatuh ke lantai dengan suara berdebum pelan, menandakan isinya cukup banyak tapi pasti isinya bukan merupakan sebuah berita bagus.

"Itu surat pemberitahuan dari Bapak, mulai bulan depan sewa tempat ini naik tiga kali lipat karena klinik ini tidak resmi."

"Tiga kali lipat? Kamu gila ya? Uang dari mana saya bisa bayar sebanyak itu, lagian bangunan ini juga sudah mulai rusak."

"Ya itu urusan kamu, kalau nggak mampu bayar ya tutup saja terus pergi dari desa ini, dasar mantri miskin pembohong."

Linda menyilangkan tangannya di depan dada, matanya tidak sengaja turun ke bawah dan melihat bagian celana Tresna yang masih sangat gembung. Dia mendengus kasar, wajah cantiknya langsung berubah menjadi sangat penuh dengan rasa jijik yang luar biasa melihat pemandangan di depan matanya.

Linda melangkah mundur satu langkah, menunjuk-nunjuk ke arah selangkangan Tresna dengan jari telunjuknya yang dipasangi kuku palsu berwarna merah muda.

"Gila ya, beneran mesum banget kamu ini, baru ditinggal pasien satu saja itu pentungannya masih nongol kayak gitu bentuknya!"

"Linda, ini bukan seperti yang kamu pikirkan, ini reaksi alami karena tadi saya baru saja selesai ngerok punggung orang sakit."

"Alasan saja kamu, dasar Mantri mesum, pantesan miskin sampai lumutan begini, otaknya cuma selangkangan terus dari pagi sampai malam hari."

"Cukup Linda, kalau kamu cuma datang ke sini mau menghina saya sebaiknya kamu keluar sekarang juga sebelum saya benar-benar menjadi marah."

"Halah, mau marah kayak gimana juga kamu tetap nggak ada cewek berkelas yang mau sama cowok kayak kamu, mending sadar diri."

Linda membalikkan badannya dengan sangat angkuh, bersiap untuk pergi dari klinik itu dengan gaya berjalan yang sangat dibuat-buat seperti model.

Namun, nampaknya lantai klinik yang baru saja terkena ceceran minyak zaitun dari tangan Tresna tadi ternyata menjadi sangat licin seperti es. Saat Linda melangkah dengan penuh tenaga menggunakan sepatu hak tingginya, tiba-tiba saja salah satu hak sepatunya yang runcing itu patah seketika.

"Aaaaaakh! Tolooong!"

Linda menjerit sangat histeris saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan dia mulai terhuyung-huyung ke arah belakang dengan tangan yang menggapai-gapai udara.

Tresna yang melihat kejadian itu secara refleks langsung melompat dari balik mejanya. Mencoba menangkap tubuh Linda agar kepalanya tidak membentur lantai.

Karena gerakan yang terlalu mendadak dan lantai yang memang licin, Tresna justru ikut terpeleset saat tangannya berhasil menangkap pinggang ramping Linda.

Mereka berdua jatuh bersamaan ke atas lantai dengan suara yang cukup keras. Membuat beberapa botol obat di atas rak bergoyang hebat.

Tresna mendarat dengan posisi telentang di bawah. Tepat pada saat itu Linda jatuh di atas tubuhnya dengan posisi yang benar-benar sangat tidak terduga.

Kaki Linda terbuka lebar alias ngangkang, menindih perut dan paha Tresna. Sementara wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa sentimeter saja sekarang.

Kedua tangan Linda mencengkeram erat bahu Tresna, sedangkan Tresna sendiri tanpa sadar masih memegang pinggul Linda yang terasa sangat hangat dan lembut.

Mata mereka berdua saling bertatapan dengan rasa terkejut yang luar biasa. Membuat suasana yang tadinya panas karena makian mendadak menjadi hening.

Linda yang biasanya selalu menghina Tresna kini hanya bisa terdiam mematung dengan jantung yang berdegup sangat kencang karena posisi mereka intim.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 89

    Suasana tenang di dalam kamar mendadak pecah oleh suara langkah kaki terburu-buru dari arah lorong luar lantai dua rumah dinas itu. Suara sepatu pantofel yang menghantam lantai kayu jati terdengar sangat berat dan penuh dengan nada amarah.Tresna langsung terduduk tegak di atas kasur dengan sorot mata yang kembali tajam menatap ke arah pintu kamar. "Linda! Buka pintunya sekarang! Ayah tahu kamu ada di dalam sama mantri brengsek itu!" teriak sebuah suara bariton.Itu adalah suara Kepala Desa, ayah kandung Linda sendiri yang terdengar sedang sangat emosi. Seseorang menggedor pintu kamar Linda dengan sangat kasar menggunakan kepalan tangan yang besar dan kuat.Gedoran itu menimbulkan bunyi dentuman keras yang sangat memuakkan telinga dan menggetarkan bingkai pintu yang masih terkunci rapat. "Linda! Jangan sampai ayah d

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 88

    Tresna terus memompa pinggulnya dengan kecepatan yang semakin meningkat di atas tubuh Linda yang sudah pasrah sepenuhnya. Seluruh sisa tenaga herbal purwaceng yang mendidih di dalam darahnya seolah harus ditumpahkan dalam satu sesi pergulatan binal ini.Setiap dorongan jantannya menghujam sangat dalam hingga menyentuh dasar rahim Linda yang sempit. Gerakan itu menciptakan sensasi gesekan kulit yang panas dan basah di antara pertemuan selangkangan mereka yang sudah dipenuhi cairan."Ahhh... terus, Mas! Ahhh... masukin terus jangan kasih lepasin!" teriak Linda dengan suara yang melengking tinggi.Kepala Linda mendongak ke belakang dengan posisi mata yang hampir memutih karena menahan kenikmatan yang terlalu besar. Ranjang kayu jati berukuran besar itu berderit sangat kencang merespons setiap benturan fisik yang mereka

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 87

    Linda menatap wajah Tresna dengan pandangan mata yang sangat lapar seolah ingin segera melahap seluruh tubuh sang mantri. Ia mengarahkan pusaka itu tepat ke depan pintu masuk area sensitifnya yang sudah sangat basah oleh cairan bening.Cairan itu melimpah keluar akibat rangsangan bibir dan lidah Tresna pada bagian dadanya selama beberapa menit tadi. Tresna menahan berat tubuhnya menggunakan kedua siku di sisi tubuh Linda agar tidak terlalu menekan fisik wanita itu.Ia menatap mata putri Kepala Desa itu dengan tatapan yang penuh dengan api gairah yang siap meledak kapan saja. "Siap-siap, Linda... ini bakal terasa sangat penuh di dalem sana," ancam Tresna dengan nada suara yang binal."Jangan salahin aku kalau kamu sampai nggak bisa jalan besok pagi karena ini," sambung Tresna sambil mengatur napas. Ancaman itu justru

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 86

    Sentuhan itu memberikan sensasi hangat yang meresap kuat ke dalam jaringan otot punggung putri penguasa desa tersebut. Linda mendesah pelan merasakan kenyamanan dari sentuhan ahli pengobatan tradisional yang sedang memijatnya dengan penuh tenaga."Ahhh... terus di situ, Mas... tekan lebih kuat lagi, jangan ragu buat pakai tenaga jantanmu itu," igau Linda dengan mata terpejam.Tresna semakin meningkatkan tekanan tangannya karena merasakan kulit Linda yang licin akibat minyak mulai bergesekan dengan telapak tangannya. Ia merasakan energi stamina herbal di dalam darahnya mulai mengalir ke ujung-ujung jari tangannya yang hangat.Setiap kali jari Tresna menyentuh bagian pinggang bawah, Linda akan menggeliat kecil seperti seekor kucing yang sedang merasa sangat nyaman. "Kamu memang punya bakat luar biasa, Mas... pantesan

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 85

    Mobil sedan mewah itu akhirnya tiba di halaman rumah dinas kepala desa yang ukurannya sangat luas dan dipagari besi tempa menjulang tinggi. Ban mobil yang mahal itu berderit halus saat melindas hamparan kerikil putih di sepanjang jalan masuk rumah tersebut.Suara gesekan ban dan kerikil itu terdengar sangat kontras dengan kesunyian malam di pusat desa Sukamaju. "Ayo turun, jangan cuma diam saja kayak orang bodoh begitu, Mas," perintah Linda dengan nada yang tegas.Linda membuka pintu mobil dengan gerakan yang sangat anggun namun tetap memberikan penekanan pada setiap kata-katanya. Ia langsung menarik tangan Tresna buat masuk ke dalam bangunan rumah besar yang nampak sangat megah itu.Linda sama sekali nggak memedulikan tatapan para pembantu rumah tangga yang berdiri berjajar di dekat ruang tamu. Para pembantu itu menatap mereka dengan wajah penuh tanya melihat sang mantri desa masuk dengan kondisi kemeja robek."Linda, pelan-pelan... tubuhku masih sakit semua karena dihajar preman tad

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 84

    Kepala desa terpaksa menuruti keinginan putri tunggalnya itu dan menyuruh para pemuda melepaskan cengkeraman tangan mereka. Ia tidak ingin berdebat lebih lama lagi di depan umum karena bisa merusak reputasi kepemimpinannya di desa Sukamaju.Ia tahu betul kalau Linda sudah bicara, maka tidak ada satu orang pun yang berani membantahnya di rumah maupun di kantor desa. Kepala desa sendiri sebenarnya sangat bergantung pada kecerdasan putrinya dalam mengelola semua administrasi gelap desa."Lepaskan dia! Tapi ingat Tresna, urusan kita belum selesai malam ini!" gumam Kepala Desa dengan nada yang sangat penuh dendam."Jangan kira kamu bisa lolos begitu saja dari genggamanku setelah ini!" sambungnya sambil menunjuk ke arah wajah Tresna. Ketiga pemuda gempal itu akhirnya melepaskan pegangan mereka dari lengan kekar Tresna secara perlahan karena takut pada Linda.Linda tersenyum puas sambil mendekati posisi Tresna yang masih terengah-engah dengan kondisi kemeja compang-camping. Wajah Tresna namp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status