تسجيل الدخولTresna hanya bisa mematung seperti patung selamat datang di pinggir desa Sukamaju yang kusam. Napasnya memburu tidak keruan karena ucapan Silvi yang benar-benar di luar nalar sehatnya sebagai seorang mantri.
Janda kembang itu malah makin menjadi-jadi dalam melancarkan aksi godaannya yang maut di siang bolong itu. Dia memutar badannya sedikit hingga posisi duduknya sekarang benar-benar berhadapan langsung dengan wajah Tresna yang pucat.
Tresna masih memegang koin logam untuk kerokan dengan ujung jari yang gemetar hebat karena menahan gejolak batin.
Mata Silvi yang sayu namun penuh gairah itu menatap tepat ke arah tonjolan di balik celana kain Tresna. Tangan Silvi yang halus perlahan mulai merayap naik ke paha sang mantri dengan gerakan yang sangat berani.
Tresna merasa seluruh saraf di tubuhnya seperti baru saja kesetrum aliran listrik tegangan tinggi dari kabel yang terkelupas. Otaknya sudah berteriak sangat keras supaya dia segera lari, tapi kakinya seolah sudah tertanam kuat di lantai semen.
"Duh Mas Tresna, jangan tegang-tegang banget toh, ini pentungannya kalau dibiarin begini terus apa nggak sakit rasanya?"
"Mbak Silvi, tolong jangan begini, nanti kalau ada yang masuk saya bisa dipukuli warga satu kecamatan karena dikira macam-macam."
"Lha siapa yang mau masuk, pintunya kan sudah aku kunci pakai perasaan tadi, sudah sini jangan jauh-jauh berdiri di situ."
Silvi menarik pinggang Tresna agar lebih mendekat ke arah ranjang periksa dengan tenaga yang lumayan kuat untuk ukuran wanita. Gerakan itu membuat pentungan yang sejak tadi menegang hebat itu kini benar-benar menempel di perut Silvi yang rata. Tangan Silvi mulai meraba karet pinggang celana Tresna, mencari celah untuk menurunkan kain tipis yang menghalangi hasrat mereka berdua.
Tresna sudah pasrah sepenuhnya, matanya terpejam rapat sambil menikmati setiap inci sensasi sentuhan jemari lentik yang sangat lincah itu. Namun, tepat saat kancing celana Tresna hampir saja terlepas dari lubangnya karena tarikan paksa dari Silvi, suara keras mendadak muncul.
Tiiiit! Tiiiit!
Tiiit-tiiiiiit!
Suara klakson mobil yang sangat nyaring dan berisik terdengar dari arah depan klinik yang biasanya sangat tenang dan sepi.
Tresna dan Silvi melonjak kaget sampai-sampai kepala mereka hampir berbenturan karena kaget mendengar suara klakson yang sangat tidak sopan itu. Silvi buru-buru menarik tangannya dari pinggang Tresna, wajahnya nampak sangat kesal karena momen indahnya terganggu oleh suara klakson mobil.
Tresna sendiri langsung berusaha mengatur napasnya yang kacau balau, buru-buru merapikan celananya yang hampir saja melorot jatuh ke bawah. Dia segera membelakangi pintu agar tonjolan di balik celananya tidak langsung terlihat oleh siapa pun yang berani masuk tanpa permisi.
"Sialan bener, siapa sih yang ganggu siang-siang begini pakai klakson mobil kayak orang mau hajatan saja di depan klinik!"
"Mbak, cepat rapikan bajunya, itu kaitan bra jangan lupa dipasang lagi nanti malah copot di jalanan dan bikin geger."
Silvi dengan gerakan sangat cepat menarik kembali kebaya kutubarunya, tapi dia sengaja membiarkan satu kancing bagian paling atas tetap terbuka. Dia memberikan satu lirikan tajam yang penuh dengan janji kepada Tresna, seolah-olah mengatakan bahwa urusan mereka berdua ini belum selesai.
Baru saja Silvi melangkah keluar pintu, sesosok gadis dengan gaya angkuh dan aroma parfum mahal yang sangat menyengat langsung masuk.
Dia adalah Linda, anak tunggal Pak Kades Aditama yang baru saja pulang libur semester dari kota besar dengan gaya sombong.
Linda menatap Silvi dengan pandangan sangat meremehkan. Seolah-olah Silvi hanyalah sampah masyarakat yang kebetulan lewat di depan matanya yang tajam.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah Tresna dengan tatapan yang jauh lebih menjijikkan lagi daripada saat dia melihat kondisi klinik kumuh.
"Oh, jadi beneran ya kabar kalau tempat ini isinya cuma janda-janda kesepian yang minta diservis sama mantri nggak laku?"
"Linda, jaga bicaramu ya, saya di sini sedang mengobati orang sakit bukan sedang mengadakan acara arisan janda-janda desa Sukamaju."
"Mengobati atau sedang berbagi keringat? Lihat tuh muka kamu, merah semua kayak habis lari maraton di atas kasur sempit itu."
Linda berjalan mendekat ke arah meja praktik Tresna dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan ke atas lantai kayu yang sudah tua. Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tas mewahnya dan melemparkannya tepat ke depan wajah Tresna dengan gaya sangat angkuh.
Amplop itu jatuh ke lantai dengan suara berdebum pelan, menandakan isinya cukup banyak tapi pasti isinya bukan merupakan sebuah berita bagus.
"Itu surat pemberitahuan dari Bapak, mulai bulan depan sewa tempat ini naik tiga kali lipat karena klinik ini tidak resmi."
"Tiga kali lipat? Kamu gila ya? Uang dari mana saya bisa bayar sebanyak itu, lagian bangunan ini juga sudah mulai rusak."
"Ya itu urusan kamu, kalau nggak mampu bayar ya tutup saja terus pergi dari desa ini, dasar mantri miskin pembohong."
Linda menyilangkan tangannya di depan dada, matanya tidak sengaja turun ke bawah dan melihat bagian celana Tresna yang masih sangat gembung. Dia mendengus kasar, wajah cantiknya langsung berubah menjadi sangat penuh dengan rasa jijik yang luar biasa melihat pemandangan di depan matanya.
Linda melangkah mundur satu langkah, menunjuk-nunjuk ke arah selangkangan Tresna dengan jari telunjuknya yang dipasangi kuku palsu berwarna merah muda.
"Gila ya, beneran mesum banget kamu ini, baru ditinggal pasien satu saja itu pentungannya masih nongol kayak gitu bentuknya!"
"Linda, ini bukan seperti yang kamu pikirkan, ini reaksi alami karena tadi saya baru saja selesai ngerok punggung orang sakit."
"Alasan saja kamu, dasar Mantri mesum, pantesan miskin sampai lumutan begini, otaknya cuma selangkangan terus dari pagi sampai malam hari."
"Cukup Linda, kalau kamu cuma datang ke sini mau menghina saya sebaiknya kamu keluar sekarang juga sebelum saya benar-benar menjadi marah."
"Halah, mau marah kayak gimana juga kamu tetap nggak ada cewek berkelas yang mau sama cowok kayak kamu, mending sadar diri."
Linda membalikkan badannya dengan sangat angkuh, bersiap untuk pergi dari klinik itu dengan gaya berjalan yang sangat dibuat-buat seperti model.
Namun, nampaknya lantai klinik yang baru saja terkena ceceran minyak zaitun dari tangan Tresna tadi ternyata menjadi sangat licin seperti es. Saat Linda melangkah dengan penuh tenaga menggunakan sepatu hak tingginya, tiba-tiba saja salah satu hak sepatunya yang runcing itu patah seketika.
"Aaaaaakh! Tolooong!"
Linda menjerit sangat histeris saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan dia mulai terhuyung-huyung ke arah belakang dengan tangan yang menggapai-gapai udara.
Tresna yang melihat kejadian itu secara refleks langsung melompat dari balik mejanya. Mencoba menangkap tubuh Linda agar kepalanya tidak membentur lantai.
Karena gerakan yang terlalu mendadak dan lantai yang memang licin, Tresna justru ikut terpeleset saat tangannya berhasil menangkap pinggang ramping Linda.
Mereka berdua jatuh bersamaan ke atas lantai dengan suara yang cukup keras. Membuat beberapa botol obat di atas rak bergoyang hebat.
Tresna mendarat dengan posisi telentang di bawah. Tepat pada saat itu Linda jatuh di atas tubuhnya dengan posisi yang benar-benar sangat tidak terduga.
Kaki Linda terbuka lebar alias ngangkang, menindih perut dan paha Tresna. Sementara wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa sentimeter saja sekarang.
Kedua tangan Linda mencengkeram erat bahu Tresna, sedangkan Tresna sendiri tanpa sadar masih memegang pinggul Linda yang terasa sangat hangat dan lembut.
Mata mereka berdua saling bertatapan dengan rasa terkejut yang luar biasa. Membuat suasana yang tadinya panas karena makian mendadak menjadi hening.
Linda yang biasanya selalu menghina Tresna kini hanya bisa terdiam mematung dengan jantung yang berdegup sangat kencang karena posisi mereka intim.
Linda menelan ludah dengan susah payah saat menyadari bahwa mantri itu ternyata memiliki ukuran yang sangat tidak masuk akal bagi ukuran laki-laki desa pada umumnya. Dia segera membuang muka dan keluar dari klinik dengan langkah seribu, menyisakan Tresna yang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku Linda yang nampak sangat ketakutan.Tresna merasa sangat senang bukan main karena sekarang dia punya modal yang cukup untuk membeli kopi hitam kesukaannya. Dia segera mengunci klinik sejenak dan melangkah menuju warung kopi milik Mbak Yul yang letaknya berada tepat di sebelah bangunannya.Tresna memesan kopi hitam panas, teh hangat untuk tantenya, serta dua bungkus indomie goreng untuk mereka makan siang nanti di rumah."Tumben amat Mas Mantri borong makanan, habis dapet pasien kaya ya tadi di tempat praktek?" tanya Mbak Yul sambil membungkus belanjaan Tresna."Iya Mbak, baru saja ada pasien yang bayarnya pakai uang kertas baru, rezeki anak sholeh memang nggak bakal tertukar."Tresna
Linda masih terbaring pasrah di atas ranjang periksa yang reot. Saat ini dia napasnya sudah memburu seperti orang habis lari keliling lapangan desa.Tresna tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan cengkeramannya yang mantap pada betis Linda yang putih mulus dan terasa sangat hangat di bawah telapak tangannya. Matanya menatap lekat ke arah pergelangan kaki Linda yang mulai mengempis bengkaknya, namun pikirannya sudah melayang jauh ke arah lain yang lebih menggoda."Mas Tresna, ini sudah cukup belum pijatnya, rasanya kaki aku sudah mulai enteng dan nggak senut-senut lagi kayak tadi pas baru jatuh.""Belum Linda, ini baru luarnya saja yang sembuh, urat bagian dalamnya masih banyak yang mlintir dan butuh saya luruskan biar nggak permanen sakitnya."Dengan alasan medis untuk meluruskan urat yang terjepit. Jemari kasar Tresna mulai menekan satu titik sensitif yang berada tepat di lekukan balik lutut Linda.Tekanan itu seketika membuat Linda tersentak kaget. Tubuhnya melengkung ke atas
Keadaan di atas lantai semen klinik yang dingin itu mendadak jadi sangat kacau balau buat Tresna yang posisinya berada tepat di bawah tubuh molek Linda.Rok pendek milik anak Pak Kades itu tersingkap total ke atas akibat benturan keras saat mereka berdua jatuh tadi. Sehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi imajinasi liar.Tresna hanya bisa melotot saat melihat paha Linda yang putih mulus dan celana dalam renda warna merah jambu terpampang nyata tepat di depan batang hidungnya sendiri.Aroma khas dari area kewanitaan Linda yang sangat wangi karena perawatan mahal bercampur dengan parfum branded langsung menampar indra penciuman Tresna dengan sangat keras sekali. Tresna merasa otaknya mendadak macet total, sementara Si Gatot di balik celana kainnya yang tadi sudah mulai tenang sekarang malah makin mengeras dan menegang hebat.Linda yang tersadar dengan posisinya yang sangat memalukan itu langsung berteriak kencang sambil mencoba memukul pundak Tresna dengan sisa tenaga yang ada.
Tresna hanya bisa mematung seperti patung selamat datang di pinggir desa Sukamaju yang kusam. Napasnya memburu tidak keruan karena ucapan Silvi yang benar-benar di luar nalar sehatnya sebagai seorang mantri.Janda kembang itu malah makin menjadi-jadi dalam melancarkan aksi godaannya yang maut di siang bolong itu. Dia memutar badannya sedikit hingga posisi duduknya sekarang benar-benar berhadapan langsung dengan wajah Tresna yang pucat.Tresna masih memegang koin logam untuk kerokan dengan ujung jari yang gemetar hebat karena menahan gejolak batin.Mata Silvi yang sayu namun penuh gairah itu menatap tepat ke arah tonjolan di balik celana kain Tresna. Tangan Silvi yang halus perlahan mulai merayap naik ke paha sang mantri dengan gerakan yang sangat berani.Tresna merasa seluruh saraf di tubuhnya seperti baru saja kesetrum aliran listrik tegangan tinggi dari kabel yang terkelupas. Otaknya sudah berteriak sangat keras supaya dia segera lari, tapi kakinya seolah sudah tertanam kuat di lant
"Mas Tresna, tolongin, ini punggungku rasanya mau copot, kayak ada beban berat yang nempel nggak mau lepas dari tadi pagi!"Pintu klinik kayu yang sudah agak miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Menampilkan sosok Silvi yang berdiri dengan napas tersenggal-senggal di ambang pintu.Tresna yang sedang melamun memikirkan nasib dompetnya yang makin menipis di usia dua puluh delapan tahun, hampir saja terjungkal dari kursi kayunya karena kaget bukan main.Dia mengusap wajahnya yang kusam. Menatap janda kembang itu dengan pandangan bingung sambil berusaha merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.Pikirannya yang tadi penuh dengan bayangan ancaman Pak Kades Aditama tentang penutupan klinik ilegalnya langsung buyar seketika, digantikan oleh pemandangan di depan matanya."Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu toh, ini klinik pengobatan bukan gerbang tol yang main terobos saja," jawab Tresna dengan nada yang diusahakan tetap tenang meskipun jantungnya su







