LOGINKeadaan di atas lantai semen klinik yang dingin itu mendadak jadi sangat kacau balau buat Tresna yang posisinya berada tepat di bawah tubuh molek Linda.
Rok pendek milik anak Pak Kades itu tersingkap total ke atas akibat benturan keras saat mereka berdua jatuh tadi. Sehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi imajinasi liar.
Tresna hanya bisa melotot saat melihat paha Linda yang putih mulus dan celana dalam renda warna merah jambu terpampang nyata tepat di depan batang hidungnya sendiri.
Aroma khas dari area kewanitaan Linda yang sangat wangi karena perawatan mahal bercampur dengan parfum branded langsung menampar indra penciuman Tresna dengan sangat keras sekali. Tresna merasa otaknya mendadak macet total, sementara Si Gatot di balik celana kainnya yang tadi sudah mulai tenang sekarang malah makin mengeras dan menegang hebat.
Linda yang tersadar dengan posisinya yang sangat memalukan itu langsung berteriak kencang sambil mencoba memukul pundak Tresna dengan sisa tenaga yang ada.
"Lepasin nggak! Dasar mantri kurang ajar, berani-beraninya kamu pegang-pegang saya kayak gini, lepasin sekarang juga atau saya laporin ke Bapak!"
"Sabar dulu toh Linda, jangan teriak-teriak begitu, ini saya juga mau bangun tapi badan kamu nindih saya berat banget kayak bawa karung beras."
"Apa kamu bilang? Berat? Kamu itu yang sengaja narik aku sampai jatuh begini biar bisa liat yang nggak-nggak kan, dasar mesum!"
"Lho, kok malah saya yang disalahin, kalau saya nggak tangkap tadi itu kepala kamu sudah pecah kena lantai semen, harusnya terima kasih!"
Linda mencoba menggerakkan kakinya untuk berdiri dan menjauh dari tubuh Tresna. Namun baru saja dia menggerakkan pergelangan kaki kanannya, dia langsung menjerit histeris.
Wajahnya yang tadi merah karena malu sekarang berubah menjadi pucat pasi karena rasa nyeri yang sangat menusuk di bagian sendi pergelangan kaki kanannya itu. Rupanya saat terjatuh tadi, kaki Linda yang memakai sepatu hak tinggi itu terkilir dengan posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi urat-urat kakinya yang halus.
"Aduh! Sakit banget! Mas Tresna, kaki aku kenapa ini, kok rasanya kayak ada yang mau putus di bagian mata kaki aku!"
"Nah kan, saya bilang juga apa, jangan banyak tingkah dulu kalau baru saja jatuh, coba saya lihat dulu kakinya."
"Jangan sentuh-sentuh! Aku bisa bangun sendiri, minggir kamu!"
Linda mencoba memaksakan diri untuk berdiri. Tapi baru setengah jalan, tubuhnya kembali ambruk karena pergelangan kakinya tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri.
Dia meringis sambil memegangi mata kakinya yang mulai nampak membiru dan membengkak dengan sangat cepat dalam hitungan detik saja di depan mata Tresna.
Tresna segera bangkit dengan perlahan sambil menahan rasa sakit di punggungnya. Lalu dia menatap Linda dengan pandangan yang lebih serius dari biasanya.
"Sudah, jangan keras kepala, itu kakinya sudah bengkak segede bakpao, kalau dibiarin bisa makin parah."
"Terus aku harus gimana? Aku nggak mau pincang pas balik ke kampus nanti, Mas!"
Tanpa banyak bicara lagi, Tresna langsung membopong tubuh Linda yang ringan itu dengan kedua tangannya yang kekar. Membawanya menuju ke arah ranjang periksa pasien di pojok ruangan.
Ranjang periksa itu sebenarnya masih menyisakan sedikit aroma parfum melati milik Silvi yang tadi sempat rebahan di sana. Namun Linda sudah tidak peduli.
Linda hanya bisa pasrah saat tubuhnya dibaringkan di atas ranjang kayu. Sementara Tresna mulai menyiapkan minyak urut khusus ramuannya yang sudah sangat melegenda.
"Ini kaki kamu keseleo parah ini Linda, kalau nggak segera saya tangani sekarang, bisa-besok kamu nggak bisa jalan sama sekali selamanya."
"Jangan nakut-nakutin aku dong, ini beneran bisa sembuh kan kalau cuma dipijat sedikit saja sama kamu?"
"Ya makanya diam dulu, jangan banyak protes atau menghina saya lagi kalau mau kaki mulusmu ini balik normal."
"Iya, iya, maaf. Cepetan obatin, tapi jangan macam-macam ya tangan kamu itu!"
Tresna mulai menuangkan minyak urutnya yang hangat ke telapak tangan. Dia mulai memegang pergelangan kaki Linda dengan gerakan yang sangat mantap.
Linda sempat memekik pelan saat jemari kasar Tresna menyentuh bagian yang bengkak. Namun perlahan-lahan ekspresi wajahnya mulai berubah karena rasa hangat.
Tresna tidak hanya berhenti di pergelangan kaki saja. Dia mulai menggerakkan tangannya naik ke atas menuju bagian betis Linda yang sangat mulus tanpa bulu.
"Lho, kok pijatnya sampai ke betis segala sih Mas Tresna, kan yang sakit itu pergelangan kaki aku?"
"Ini namanya melancarkan aliran darah yang tersumbat Linda, kalau cuma di mata kaki saja nanti darahnya numpuk di atas."
"Tapi rasanya aneh, tangan kamu kasar banget, tapi kok... kok enak ya?"
"Ya jelas enak, ini jamu rahasia turun-temurun, jangan disamain sama tukang pijat di pinggir jalan sana."
Linda hanya bisa terdiam meskipun hatinya merasa ada yang sangat aneh dengan cara pengobatan mantri desa yang menurutnya sangat menyebalkan tapi juga ahli ini.
Dia mulai menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan yang hampir saja lolos dari tenggorokannya karena pijatan tangan Tresna terasa sangat nikmat dan rileks.
Tangan Tresna yang kasar namun sangat hangat terus menyusuri kulit kaki Linda. Naik perlahan-lahan dari betis menuju ke bagian paha yang sangat kencang.
"Mas, sudah cukup, jangan ke atas lagi, itu sudah sampai paha lho!"
"Ssst, diam dulu, ini otot pahanya juga ketarik pas kamu jatuh tadi, kalau nggak dikendorin nanti kamu jalannya miring."
"Kamu nggak bohong kan? Jangan-jangan ini cuma akal-akalan kamu saja biar bisa pegang-pegang paha aku!"
"Ngapain saya bohong, kalau kamu mau cacat ya sudah, saya berhenti sekarang juga, silakan pulang sambil ngesot."
"Ih, kok gitu sih! Ya sudah, lanjutin, tapi pelan-pelan saja jangan ditekan terlalu keras!"
Linda meremas seprai ranjang periksa dengan sangat kencang sampai jari-jarinya memutih karena menahan sensasi aneh yang mulai menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Wajah Linda nampak merah padam, ada perpaduan antara rasa marah karena harga dirinya diinjak-injak, namun ada juga rasa terangsang yang mulai muncul tiba-tiba.
Tresna yang melihat perubahan ekspresi di wajah anak kades itu hanya bisa menyeringai tipis sambil terus menaikkan jemarinya makin tinggi mendekati pangkal paha.
"Duh Mas... rasanya geli-geli gimana gitu, tangan kamu jangan terlalu ke dalam dong."
"Ini teknik medis Linda, jangan dipikirin yang aneh-aneh, fokus saja biar cepat sembuh kakinya."
"Tapi tangan kamu itu... ahhh... pelan-pelan Mas Tresna..."
"Nah gitu, lemesin saja badannya, jangan dilawan biar minyaknya meresap sampai ke tulang kamu."
Tresna merasa sekarang dia yang memegang kendali penuh atas situasi yang sedang terjadi di dalam klinik kecilnya yang mulai terasa sangat panas dan sesak. Dia sengaja memperlambat gerakannya saat tangannya hanya berjarak beberapa milimeter saja dari area terlarang yang ditutupi oleh renda merah jambu yang menggoda itu.
Linda sudah tidak bisa lagi membantah atau menghina Tresna seperti tadi, dia hanya bisa pasrah mengikuti setiap gerak tangan yang sedang menjajah kakinya.
"Mas Tresna, kok kamu pinter banget sih mijatnya, belajar dari mana kamu?"
"Saya ini anak tabib paling hebat, kamu saja yang dari dulu kerjanya cuma bisa menghina saya terus."
"Ya habisnya kamu itu nyebelin, tiap hari cuma pakai kaos oblong dan jarang mandi, mana ada cewek yang suka."
"Sekarang buktinya kamu malah keenakan saya pegang-pegang begini kan? Jadi siapa yang sebenarnya suka?"
"Ih, pede banget sih kamu! Aku kan terpaksa karena kaki aku lagi sakit, jangan GR dulu ya!"
Linda memejamkan matanya, merasakan setiap gesekan kulit telapak tangan Tresna yang kasar namun memberikan kehangatan yang sangat luar biasa ke dalam tubuhnya. Dia merasa seperti kehilangan tenaga untuk sekadar berdebat lagi.
Sedangkan Tresna terus memainkan jarinya dengan sangat ahli di area paha bagian dalam. Suasana di dalam klinik benar-benar hanya diisi oleh suara napas Linda yang makin lama makin berat dan tidak beraturan seperti orang sedang lari.
"Sudah enakan belum kakinya?"
"Iya, sudah agak mendingan, tapi jangan berhenti dulu Mas, masih agak kaku di bagian atas itu."
"Bagian mana? Sini?"
"Ahhh! Iya di situ... pelan-pelan Mas... aduh, jangan ditekan terlalu dalam!"
Tresna makin bersemangat, dia tahu betul bahwa benteng pertahanan Linda yang sombong itu sudah mulai runtuh perlahan-lahan akibat sentuhan tangan "pusakanya" yang ajaib.
Dia menatap wajah Linda yang nampak sangat pasrah. Membuat Tresna merasa harga dirinya yang tadi diinjak-injak kini telah kembali dengan cara yang sangat nikmat.
Linda meremas bantal dengan kencang, menahan sekuat tenaga agar tidak berteriak karena sensasi dari tangan Tresna makin lama makin berani mendekati pusat sarafnya.
"Gimana Linda, masih mau nutup klinik saya?"
"Jangan bahas itu dulu... ahhh... Mas Tresna... fokus saja dulu sama kaki aku!"
"Makanya, jadi orang jangan sombong-sombong banget, kalau sudah begini kan larinya ke saya juga akhirnya."
"Iya, iya, aku minta maaf. Jangan berhenti dulu Mas, enak banget rasanya... terusin Mas..."
"Tahan ya Nona, kalau nggak dipijat sampai pangkal paha, nanti kakinya cacat permanen."
Tresna merangkak perlahan di atas lantai jaring besi untuk mencari posisi tembak yang paling strategis. Dia menyadari bahwa melakukan serangan frontal adalah tindakan bunuh diri, namun dia harus segera menghentikan rencana gila ini sekarang juga.Setiap jengkal pergerakannya di atas jaring besi dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang. Dia memastikan tidak ada bunyi logam yang beradu agar keberadaannya tidak terdeteksi oleh lampu sorot yang menyapu aula.Lantai jaring besi itu bergetar halus seiring dengan langkah kakinya yang sangat ringan. Tresna melihat beberapa drum berisi bahan kimia yang mudah terbakar tersusun rapi di dekat panggung tempat Richard berdiri.Sebuah rencana sabotase mulai terbentuk di kepalanya dengan sangat cepat. Jika dia bisa meledakkan drum-drum tersebut, kekacauan yang tercipta akan memberinya kesempatan untuk menghabisi Richard secara pribadi.Dia menyesuaikan posisi bidikannya, mengincar katup pengaman pada salah satu tangki gas di belakang barisan p
Tresna segera menarik tubuhnya, bergerak secepat kilat menyelinap ke balik rak besi tinggi yang dipenuhi deretan botol kaca. Aroma alkohol dan antiseptik yang tajam menyeruak di antara celah-celah rak, namun dia tidak membiarkan indra penciumannya terganggu.Dia merapatkan punggung pada tiang besi yang dingin. Lelaki itu menahan napas sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak demi menjaga kesunyian mutlak agar keberadaannya tidak terbongkar.Hanya berselang beberapa detik, pintu ganda abu-abu di depannya terbuka lebar dengan suara derit engsel yang terasa menyakitkan di telinga. Seorang penjaga bertubuh tegap dengan seragam hitam taktis melangkah masuk, memegang senter yang sinarnya membelah kegelapan ruangan penyimpanan tersebut.Penjaga itu berjalan dengan langkah yang berat dan penuh selidik. Sesekali dia menendang tumpukan kardus kosong di lantai untuk memastikan tidak ada orang yang bersembunyi di balik kekacauan tersebut."Sue, bau apaan ini? Nggak enak banget," gerutu penjaga i
"Hmpff—!"Joko hanya sempat mengeluarkan suara tercekik sebelum tangan Tresna membekap mulutnya dengan sangat kuat dan mematikan.Tresna menekan titik saraf di pangkal leher Joko, membuat pria gempal itu lemas seketika dan kehilangan kesadarannya tanpa perlawanan. Dia perlahan merebahkan tubuh Joko di atas lantai semen agar tidak menimbulkan suara debuman keras yang memicu kecurigaan."Jok? Kok diem aja? Ketiduran lo ya?" panggil suara di pintu lorong, kali ini terdengar langkah kaki yang mulai masuk.Tresna segera berdiri di balik pintu, jantungnya berpacu stabil namun matanya berkilat tajam menatap bayangan yang mendekat. Penjaga kedua itu muncul di ambang pintu, wajahnya tampak bingung saat melihat temannya terkapar di lantai dekat rak besi.
Kedua tangan Tresna mencengkeram pinggiran besi bergelombang peti kemas dengan urat-urat lengan yang menonjol tegang. Dia segera memanjat dinding logam itu, bergerak secepat kilat sebelum cahaya senter sempat menyinari tubuhnya. Lelaki itu menahan napas di ketinggian, membiarkan dadanya menempel pada permukaan besi dingin yang berbau karat.Di bawah sana, dua penjaga itu berjalan menjauh meninggalkan area tersebut dengan langkah kaki yang terdengar santai. Mereka tampak yakin tidak menemukan hal mencurigakan di sekitar tumpukan besi berkarat yang menjadi persembunyian sang mantri. Tresna tetap bergeming selama beberapa detik, memastikan suara langkah sepatu bot itu benar-benar menghilang.Setelah merasa aman, Tresna melompat turun tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia merangkak cepat memanfaatkan bayangan mesin-mesin tua terbengkalai, mendekati sebuah lubang ventilasi udara di dinding samping gudang. Posisi ventilasi itu cukup tersembunyi di balik pipa-pipa uap raksasa yang sudah t
Deru mesin SUV hitam rampasan itu meraung keras, membelah kesunyian aspal perkotaan yang melompong di bawah temaram lampu jalan. Tresna menginjak pedal gas sedalam mungkin, memacu jarum speedometer hingga menyentuh angka yang nyaris membuat ban mobil kehilangan traksi sepenuhnya.Fokusnya terkunci pada jalanan yang membentang lurus menuju arah utara kota. Kawasan industri tua itu kini mulai ditinggalkan oleh para penghuninya, menyisakan reruntuhan beton yang membisu.Sesekali mata tajamnya melirik spion tengah dan samping dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Dia harus memastikan tidak ada sorot lampu kendaraan musuh yang membuntuti atau menyadari pergerakannya menuju jantung pertahanan sindikat.Amarah yang sedari tadi mendidih membuat genggamannya pada kemudi terasa begitu kencang. Seolah-olah dia ingin meremukkan kulit setir yang terasa dingin di bawah jemarinya yang menegang.Setiap tikungan tajam diterjangnya dengan teknik mengemudi yang kasar namun penuh perhitungan. Ra
"Mas... aku pikir kamu... makasih sudah selamat!" isak Clara di dada bidang Tresna."Udah, nggak usah nangis. Kita belum benar-benar aman. Sekarang kamu turun, ajak Silvi, Linda, sama Tante Arum!" perintah Tresna dengan tegas.Tresna menggandeng tangan Clara, membimbingnya menuruni tangga menuju lantai bawah dengan sangat waspada. Di sana, Silvi dan Linda sudah menunggu dengan wajah yang sama pucatnya, sementara Tante Arum tampak sangat lemas di kursi ruang makan. Tanpa banyak penjelasan, Tresna mengarahkan mereka menuju ke sebuah pintu tersembunyi di balik rak buku ruang perpustakaan."Mas... kita mau ke mana? Ini pintu apa?" tanya Linda dengan suara gemetar."Ini ruang bawah tanah rahasia, Mbak. Mas Tresna benar, kalian harus masuk ke sana," sela Clara sambil membuka p







