Share

Bab 3

Penulis: Prince Molina
last update Tanggal publikasi: 2026-01-29 12:29:44

Keadaan di atas lantai semen klinik yang dingin itu mendadak jadi sangat kacau balau buat Tresna yang posisinya berada tepat di bawah tubuh molek Linda.

Rok pendek milik anak Pak Kades itu tersingkap total ke atas akibat benturan keras saat mereka berdua jatuh tadi. Sehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi imajinasi liar.

Tresna hanya bisa melotot saat melihat paha Linda yang putih mulus dan celana dalam renda warna merah jambu terpampang nyata tepat di depan batang hidungnya sendiri.

Aroma khas dari area kewanitaan Linda yang sangat wangi karena perawatan mahal bercampur dengan parfum branded langsung menampar indra penciuman Tresna dengan sangat keras sekali. Tresna merasa otaknya mendadak macet total, sementara Si Gatot di balik celana kainnya yang tadi sudah mulai tenang sekarang malah makin mengeras dan menegang hebat.

Linda yang tersadar dengan posisinya yang sangat memalukan itu langsung berteriak kencang sambil mencoba memukul pundak Tresna dengan sisa tenaga yang ada.

"Lepasin nggak! Dasar mantri kurang ajar, berani-beraninya kamu pegang-pegang saya kayak gini, lepasin sekarang juga atau saya laporin ke Bapak!"

"Sabar dulu toh Linda, jangan teriak-teriak begitu, ini saya juga mau bangun tapi badan kamu nindih saya berat banget kayak bawa karung beras."

"Apa kamu bilang? Berat? Kamu itu yang sengaja narik aku sampai jatuh begini biar bisa liat yang nggak-nggak kan, dasar mesum!"

"Lho, kok malah saya yang disalahin, kalau saya nggak tangkap tadi itu kepala kamu sudah pecah kena lantai semen, harusnya terima kasih!"

Linda mencoba menggerakkan kakinya untuk berdiri dan menjauh dari tubuh Tresna. Namun baru saja dia menggerakkan pergelangan kaki kanannya, dia langsung menjerit histeris.

Wajahnya yang tadi merah karena malu sekarang berubah menjadi pucat pasi karena rasa nyeri yang sangat menusuk di bagian sendi pergelangan kaki kanannya itu. Rupanya saat terjatuh tadi, kaki Linda yang memakai sepatu hak tinggi itu terkilir dengan posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi urat-urat kakinya yang halus.

"Aduh! Sakit banget! Mas Tresna, kaki aku kenapa ini, kok rasanya kayak ada yang mau putus di bagian mata kaki aku!"

"Nah kan, saya bilang juga apa, jangan banyak tingkah dulu kalau baru saja jatuh, coba saya lihat dulu kakinya."

"Jangan sentuh-sentuh! Aku bisa bangun sendiri, minggir kamu!"

Linda mencoba memaksakan diri untuk berdiri. Tapi baru setengah jalan, tubuhnya kembali ambruk karena pergelangan kakinya tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri.

Dia meringis sambil memegangi mata kakinya yang mulai nampak membiru dan membengkak dengan sangat cepat dalam hitungan detik saja di depan mata Tresna.

Tresna segera bangkit dengan perlahan sambil menahan rasa sakit di punggungnya. Lalu dia menatap Linda dengan pandangan yang lebih serius dari biasanya.

"Sudah, jangan keras kepala, itu kakinya sudah bengkak segede bakpao, kalau dibiarin bisa makin parah."

"Terus aku harus gimana? Aku nggak mau pincang pas balik ke kampus nanti, Mas!"

Tanpa banyak bicara lagi, Tresna langsung membopong tubuh Linda yang ringan itu dengan kedua tangannya yang kekar. Membawanya menuju ke arah ranjang periksa pasien di pojok ruangan.

Ranjang periksa itu sebenarnya masih menyisakan sedikit aroma parfum melati milik Silvi yang tadi sempat rebahan di sana. Namun Linda sudah tidak peduli.

Linda hanya bisa pasrah saat tubuhnya dibaringkan di atas ranjang kayu. Sementara Tresna mulai menyiapkan minyak urut khusus ramuannya yang sudah sangat melegenda.

"Ini kaki kamu keseleo parah ini Linda, kalau nggak segera saya tangani sekarang, bisa-besok kamu nggak bisa jalan sama sekali selamanya."

"Jangan nakut-nakutin aku dong, ini beneran bisa sembuh kan kalau cuma dipijat sedikit saja sama kamu?"

"Ya makanya diam dulu, jangan banyak protes atau menghina saya lagi kalau mau kaki mulusmu ini balik normal."

"Iya, iya, maaf. Cepetan obatin, tapi jangan macam-macam ya tangan kamu itu!"

Tresna mulai menuangkan minyak urutnya yang hangat ke telapak tangan. Dia mulai memegang pergelangan kaki Linda dengan gerakan yang sangat mantap.

Linda sempat memekik pelan saat jemari kasar Tresna menyentuh bagian yang bengkak. Namun perlahan-lahan ekspresi wajahnya mulai berubah karena rasa hangat.

Tresna tidak hanya berhenti di pergelangan kaki saja. Dia mulai menggerakkan tangannya naik ke atas menuju bagian betis Linda yang sangat mulus tanpa bulu.

"Lho, kok pijatnya sampai ke betis segala sih Mas Tresna, kan yang sakit itu pergelangan kaki aku?"

"Ini namanya melancarkan aliran darah yang tersumbat Linda, kalau cuma di mata kaki saja nanti darahnya numpuk di atas."

"Tapi rasanya aneh, tangan kamu kasar banget, tapi kok... kok enak ya?"

"Ya jelas enak, ini jamu rahasia turun-temurun, jangan disamain sama tukang pijat di pinggir jalan sana."

Linda hanya bisa terdiam meskipun hatinya merasa ada yang sangat aneh dengan cara pengobatan mantri desa yang menurutnya sangat menyebalkan tapi juga ahli ini.

Dia mulai menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan yang hampir saja lolos dari tenggorokannya karena pijatan tangan Tresna terasa sangat nikmat dan rileks.

Tangan Tresna yang kasar namun sangat hangat terus menyusuri kulit kaki Linda. Naik perlahan-lahan dari betis menuju ke bagian paha yang sangat kencang.

"Mas, sudah cukup, jangan ke atas lagi, itu sudah sampai paha lho!"

"Ssst, diam dulu, ini otot pahanya juga ketarik pas kamu jatuh tadi, kalau nggak dikendorin nanti kamu jalannya miring."

"Kamu nggak bohong kan? Jangan-jangan ini cuma akal-akalan kamu saja biar bisa pegang-pegang paha aku!"

"Ngapain saya bohong, kalau kamu mau cacat ya sudah, saya berhenti sekarang juga, silakan pulang sambil ngesot."

"Ih, kok gitu sih! Ya sudah, lanjutin, tapi pelan-pelan saja jangan ditekan terlalu keras!"

Linda meremas seprai ranjang periksa dengan sangat kencang sampai jari-jarinya memutih karena menahan sensasi aneh yang mulai menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Wajah Linda nampak merah padam, ada perpaduan antara rasa marah karena harga dirinya diinjak-injak, namun ada juga rasa terangsang yang mulai muncul tiba-tiba.

Tresna yang melihat perubahan ekspresi di wajah anak kades itu hanya bisa menyeringai tipis sambil terus menaikkan jemarinya makin tinggi mendekati pangkal paha.

"Duh Mas... rasanya geli-geli gimana gitu, tangan kamu jangan terlalu ke dalam dong."

"Ini teknik medis Linda, jangan dipikirin yang aneh-aneh, fokus saja biar cepat sembuh kakinya."

"Tapi tangan kamu itu... ahhh... pelan-pelan Mas Tresna..."

"Nah gitu, lemesin saja badannya, jangan dilawan biar minyaknya meresap sampai ke tulang kamu."

Tresna merasa sekarang dia yang memegang kendali penuh atas situasi yang sedang terjadi di dalam klinik kecilnya yang mulai terasa sangat panas dan sesak. Dia sengaja memperlambat gerakannya saat tangannya hanya berjarak beberapa milimeter saja dari area terlarang yang ditutupi oleh renda merah jambu yang menggoda itu.

Linda sudah tidak bisa lagi membantah atau menghina Tresna seperti tadi, dia hanya bisa pasrah mengikuti setiap gerak tangan yang sedang menjajah kakinya.

"Mas Tresna, kok kamu pinter banget sih mijatnya, belajar dari mana kamu?"

"Saya ini anak tabib paling hebat, kamu saja yang dari dulu kerjanya cuma bisa menghina saya terus."

"Ya habisnya kamu itu nyebelin, tiap hari cuma pakai kaos oblong dan jarang mandi, mana ada cewek yang suka."

"Sekarang buktinya kamu malah keenakan saya pegang-pegang begini kan? Jadi siapa yang sebenarnya suka?"

"Ih, pede banget sih kamu! Aku kan terpaksa karena kaki aku lagi sakit, jangan GR dulu ya!"

Linda memejamkan matanya, merasakan setiap gesekan kulit telapak tangan Tresna yang kasar namun memberikan kehangatan yang sangat luar biasa ke dalam tubuhnya. Dia merasa seperti kehilangan tenaga untuk sekadar berdebat lagi.

Sedangkan Tresna terus memainkan jarinya dengan sangat ahli di area paha bagian dalam. Suasana di dalam klinik benar-benar hanya diisi oleh suara napas Linda yang makin lama makin berat dan tidak beraturan seperti orang sedang lari.

"Sudah enakan belum kakinya?"

"Iya, sudah agak mendingan, tapi jangan berhenti dulu Mas, masih agak kaku di bagian atas itu."

"Bagian mana? Sini?"

"Ahhh! Iya di situ... pelan-pelan Mas... aduh, jangan ditekan terlalu dalam!"

Tresna makin bersemangat, dia tahu betul bahwa benteng pertahanan Linda yang sombong itu sudah mulai runtuh perlahan-lahan akibat sentuhan tangan "pusakanya" yang ajaib.

Dia menatap wajah Linda yang nampak sangat pasrah. Membuat Tresna merasa harga dirinya yang tadi diinjak-injak kini telah kembali dengan cara yang sangat nikmat.

Linda meremas bantal dengan kencang, menahan sekuat tenaga agar tidak berteriak karena sensasi dari tangan Tresna makin lama makin berani mendekati pusat sarafnya.

"Gimana Linda, masih mau nutup klinik saya?"

"Jangan bahas itu dulu... ahhh... Mas Tresna... fokus saja dulu sama kaki aku!"

"Makanya, jadi orang jangan sombong-sombong banget, kalau sudah begini kan larinya ke saya juga akhirnya."

"Iya, iya, aku minta maaf. Jangan berhenti dulu Mas, enak banget rasanya... terusin Mas..."

"Tahan ya Nona, kalau nggak dipijat sampai pangkal paha, nanti kakinya cacat permanen."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 316

    "Mas Tresna! Dokter! Gawat, Mas!"Pintu kayu itu mendadak terbuka lebar karena didorong kasar dari luar. Di ambang pintu, seorang pemuda karang taruna berdiri sambil memegangi kusen, napasnya putus-putus dan badannya gemetar hebat. Bajunya sudah tidak keruan, basah kuyup dan penuh noda lumpur parit yang kotor.Tresna yang sigap menggeser tubuh kekarnya, berdiri pas di depan Clara untuk melindungi dokter itu. Sorot matanya seketika berubah dingin beneran."Ada apa, Jok?! Masuk nggak pakai aturan, main dobrak saja!" gertak Tresna, suaranya berat memicu wibawa yang bikin merinding."M-maaf, Mas Tresna... tapi ini darurat!" tangis pemuda bernama Joko itu dengan wajah ketakutan setengah mati.Tresna tidak membentak lagi. Dia maju satu langkah, menatap Joko dari atas ke bawah dengan pandangan taktisnya yang tajam. "Tenangkan dirimu, Jok. Bicara yang jelas, ada apa di luar?""Perbatasan, Mas! Perbatasan desa kita jebol!" seru Joko dengan suara serak, napasnya masih putus-putus. "Ratusan warg

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 315

    "Astaga... lukanya langsung mengering, Mas! Ini… ini nggak masuk akal!" seru Clara takjub, matanya melotot nggak percaya menatap hasil kerja Tresna."Sambiloto itu rajanya obat antiseptik alami, ditambah temulawak buat netralisir racun di kulit. Nenek moyang kita sudah pakai ini sebelum manusia jaman sekarang bikin obat dalam bentuk pil," sahut Tresna santai, menaruh kembali spatula kayu ke meja.Ketegangan yang sangat menguras pikiran dan tenaga selama proses pengobatan darurat tadi membuat atmosfer di dalam ruangan tertutup itu terasa sangat pekat. Napas Clara terdengar memburu sangat kencang, dadanya yang padat di balik jas dokter putihnya tampak naik-turun dengan kontras.Clara menatap tubuh kekar Tresna yang gagah, berdiri tegak tanpa ada rasa takut sedikit pun di tengah ancaman wabah mematikan. Gairah dan rasa kagumnya sebagai seorang wanita itu langsung memuncak, mengalahkan rasa takutnya pada penyakit.Dokter muda itu mendadak melangkah maju, lalu menarik lengan kekar Tresna d

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 314

    "Aku harus tahu ini jenis patogen apa, Mas. Tanpa data akurat, kita nggak bakal bisa bikin penawarnya," sahut Clara serius.Clara mengambil sebuah spuit dari dalam lemari kaca. Tanpa membuang waktu, dia mencari area kulit di lengan pemuda itu yang masih bersih dari luka melepuh, lalu dengan jeli menusukkan jarum suntik tersebut tepat di atas pembuluh darahnya.Perlahan, Clara menarik tuas spuit hingga tabung bening itu terisi beberapa mililiter sampel darah yang berwarna agak kehitaman dan kental."Warnanya nggak wajar banget, Mas. Darah manusia nggak sepekat ini kalau cuma infeksi biasa," bisik Clara, wajahnya tegang.Clara membawa tabung sampel darah itu ke sudut meja laboratorium. Dia memasukkannya ke dalam sebuah mesin analisis portabel miliknya, alat khusus yang sengaja dia bawa dari rumah sakit pusat kota karena bisa membaca struktur DNA bakteri dalam hitungan menit.Bzzzzt... bzzzzt...Mesin laboratorium kecil berbentuk kotak hitam itu mulai bekerja, lampu indikator birunya ber

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 313

    Dari arah kegelapan jalan raya, sorot lampu jauh dari tiga unit truk tronton berukuran raksasa tampak membelah kabut malam.Namun, di barisan paling depan, sebuah truk bak terbuka yang dipenuhi oleh puluhan orang sakit dari desa seberang melaju kencang, menderu liar menerobos portal bambu pembatas wilayah hingga patah menjadi dua.BRAKKK!"Mas! Mereka ndak mau berhenti! Portalnya ditabrak!" jerit Clara dari teras, tangannya gemetar menunjuk ke arah jalan raya.Melihat armada itu nekat merangsek masuk, Linda ndak membuang waktu lagi. Jiwa kepemimpinannya sebagai kepala desa baru mendidih. Tanpa rasa takut sedikit pun, Linda langsung melesat lurus ke tengah jalan tanah yang berdebu. Dia berdiri tegak tepat di jalur roda, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk mengadang laju kendaraan berat tersebut."Mbak Linda! Jangan, Mbak! Bahaya!" teriak beberapa pemuda karang taruna yang baru berdatangan dari arah pos ronda.Sopir truk seberang itu terkejut melihat sosok kepala desa pe

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 312

    "Mas... hangat banget," bisik Silvi yang memperhatikan dari balik pintu dengan mata berbinar kagum. Karisma mistis Tresna selalu sukses membuat para wanitanya tunduk dan terpesona."Clara, pantau nadinya sekarang," perintah Tresna rendah, keringat jantannya mulai tampak berkilau di pelipis.Clara dengan cekatan menempelkan alat pemantau portabel ke pergelangan kaki si pemuda yang bebas dari luka melepuh. Matanya melekat pada layar kecil di tangannya."Astaga... naik, Mas! Detak jantungnya mulai stabil! Pernapasannya juga nggak seengap-engap tadi!" seru Clara nggak bisa menyembunyikan rasa takjubnya pada kemampuan pria pelindung desa itu."Hebat kamu, Mas. Energi panasmu bisa menekan penyebaran racun biologis di dalam darahnya buat sementara waktu.""Ini cuma buat bertahan beberapa jam. Sisa urusannya tetap ada di tangan medismu," sahut Tresna, menurunkan tangannya kembali sambil mengembuskan napas panjang.Linda yang berdiri di belakang mereka berdua sejak tadi hanya bisa terdiam deng

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 311

    "Iya, Mas. Ini menular lewat cairan tubuh dan kontak kulit. Makanya aku larang kalian pegang! Sekali tertular, dalam waktu dua puluh empat jam kulit kita bakal melepuh seperti ini!" jelas Clara, peluh dingin mulai membasahi dahinya sendiri di balik sarung tangan karet.Mendengar penjelasan Clara, pemuda yang terkapar di lantai itu mendadak menggerakkan tangannya yang penuh luka melepuh. Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, dia memegang ujung celana panjang Tresna."M-Mas... Tresna..." rintihnya dengan mata yang mulai memutih, berada di ambang maut.Tresna tidak mundur sedikit pun. Dia tetap berdiri kokoh bak batu karang meski ujung celananya dikotori oleh tangan penuh luka itu. Matanya menatap ke bawah dengan pandangan tajam."Iya, aku di sini. Ada apa? Siapa yang bikin kamu jadi begini?" tanya Tresna, suaranya berat dan dalam."J-Juragan... Juragan Karso..." bisik pemuda itu, napasnya putus-putus seperti ikan yang kekurangan air."Kenapa dengan Juragan Karso? Bicara yang jelas!" tunt

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status