تسجيل الدخول
Pintu klinik kayu yang sudah agak miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Menampilkan sosok Silvi yang berdiri dengan napas tersenggal-senggal di ambang pintu.
Tresna yang sedang melamun memikirkan nasib dompetnya yang makin menipis di usia dua puluh delapan tahun, hampir saja terjungkal dari kursi kayunya karena kaget bukan main.
Dia mengusap wajahnya yang kusam. Menatap janda kembang itu dengan pandangan bingung sambil berusaha merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.
Pikirannya yang tadi penuh dengan bayangan ancaman Pak Kades Aditama tentang penutupan klinik ilegalnya langsung buyar seketika, digantikan oleh pemandangan di depan matanya.
"Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu toh, ini klinik pengobatan bukan gerbang tol yang main terobos saja," jawab Tresna dengan nada yang diusahakan tetap tenang meskipun jantungnya sudah mulai berdegup kencang melihat keringat yang mengalir di leher Silvi.
"Aduh, nggak sempat ketok-ketok lagi, ini sudah darurat banget, Mas Mantri, rasanya kayak masuk angin duduk sampai ke pinggang, panas banget rasanya."
Silvi langsung merangsek masuk dan menutup pintu klinik dengan tumit kakinya. Sebuah gerakan yang membuat Tresna sadar kalau pasiennya yang satu ini sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun dari luar.
Tresna mendesah pelan sambil mengambil botol minyak zaitun campur jahe merah dan sebuah koin logam yang sudah halus pinggirannya dari dalam laci meja praktiknya yang sederhana.
Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan warga desa yang selalu mengandalkannya. Tapi tetap saja mengejeknya sebagai perjaka tidak laku hanya karena dia terlalu pilih-pilih soal pasangan hidup.
Di luar sana, orang-orang seperti Pak Karyo atau Didin mungkin sedang asyik membicarakan keburukannya di pos ronda. Menyebutnya mantri cabul yang cuma modal tampang manis tanpa punya surat izin resmi.
"Ya sudah, sini naik ke ranjang periksa, saya lihat dulu seberapa parah masuk anginnya itu sampai Mbak Silvi panik begini."
Silvi tidak banyak bicara lagi. Dia langsung membelakangi Tresna. Dengan gerakan yang sangat berani menyingkap kebaya kutubaru motif bunga yang dikenakannya ke arah atas tanpa ragu.
Tresna sampai harus menahan napas sejenak saat melihat kulit punggung Silvi yang putih mulus. Sangat kontras dengan pemandangan klinik yang kumuh dan plafonnya yang sudah mulai berjamur.
Yang lebih mengejutkan lagi, kaitan bra warna merah menyala yang dikenakan Silvi ternyata sudah dalam kondisi terbuka. Memperlihatkan lengkungan punggung yang sempurna tanpa ada satu pun penghalang.
"Mbak, ini kok branya sudah lepas kaitannya, nanti kalau saya lagi ngerok terus melorot bagaimana, saya nggak mau tanggung jawab lho ya."
"Halah, Mas Tresna ini kok malah protes, kan biar Mas Mantri gampang ngeroknya sampai ke bawah, biar anginnya nggak ada yang nyelip di balik tali bra."
"Ya tapi ya jangan langsung begini, kalau ada yang ngintip dari ventilasi atas bisa geger satu desa Sukamaju ini, Mbak."
"Biarin saja mereka mau ngintip sampai matanya bintitan, yang penting aku sembuh dulu, sudah ayo cepat dikerok Mas, jangan cuma dilihatin saja."
Silvi langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang periksa dengan posisi tengkurap. Tapi dia sengaja mengangkat sedikit pinggulnya sehingga posisi bokongnya nampak lebih menonjol di depan mata Tresna.
Tresna berusaha menjaga profesionalitasnya sebagai mantri. Meskipun tangannya sedikit gemetar saat mulai mengoleskan minyak hangat ke permukaan kulit Silvi yang terasa sangat lembut dan kenyal.
Saat koin logam itu mulai menyentuh kulit dan ditarik perlahan menciptakan garis merah, Silvi justru mengeluarkan suara yang sama sekali tidak terdengar seperti orang yang sedang menahan sakit.
"Aaaah... hmmm... enak banget Mas Tresna... ya di situ, agak ditekan lagi sedikit biar mantap rasanya."
"Mbak Silvi, suaranya tolong dikontrol sedikit, ini saya lagi ngerok bukan lagi ngapa-ngapain, nanti kalau orang lewat dengar bisa salah paham."
"Lho, kan aku memang lagi keenakan karena tangan Mas Mantri itu ajaib banget, nggak usah dengerin omongan orang luar yang sirik sama kita."
Tresna hanya bisa menggelengkan kepala sambil terus menggerakkan tangannya. Namun fokusnya makin lama makin terganggu karena Silvi mulai menggeliat seperti kucing yang sedang mencari perhatian.
Setiap kali Tresna mengarahkan koin ke area pinggang bawah, Silvi dengan sengaja menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Mengikuti irama tangan sang mantri desa dengan sangat gemulai.
Karena jarak antara ranjang periksa dan posisi berdiri Tresna sangat sempit, bokong padat milik Silvi berulang kali menyenggol area selangkangan Tresna dengan tekanan yang tidak main-main.
Tresna yang selama ini dikenal sebagai perjaka gendeng sebenarnya adalah pria normal dengan hormon yang sangat sehat. Apalagi dia jarang mendapatkan sentuhan sedekat ini dari seorang wanita secantik Silvi.
Si Gatot, pusaka kebanggaan Tresna yang selama ini dia sembunyikan dengan rapat, langsung bereaksi keras menerima stimulasi dari gerakan-gerakan nakal janda kembang di depannya itu.
Celana kain tipis yang dipakai Tresna tidak mampu menyembunyikan ketegangan yang terjadi. Hingga nampak sebuah tonjolan besar yang sangat jelas terpampang tepat di samping lengan Silvi.
Silvi yang merasakan ada sesuatu yang keras dan panas menyundul lengannya saat dia sedang asyik menggoyangkan pinggul, bukannya menjauh, dia malah menghentikan gerakannya sejenak. Dia melirik ke belakang dengan sudut mata yang berkilat penuh kemenangan.
Melihat wajah Tresna yang sudah memerah padam dan keringat sebesar biji jagung mulai membasahi dahi sang mantri. Silvi sedikit mengangkat tubuhnya, menyandarkan dagu di atas kedua tangannya sambil menatap langsung ke arah harta karun Tresna yang nampak ingin menembus kain celananya.
"Mas Mantri kok diam saja, itu tangannya berhenti kenapa, apa minyaknya sudah habis atau tangannya sudah pegal?"
"Ini... anu Mbak... saya cuma mau ambil napas sebentar, udaranya panas sekali ya di dalam sini."
"Panas karena cuaca atau panas karena lihat yang merah-merah di depan mata nih, jangan-jangan Mas Mantri lagi mikir yang macem-macem ya?"
Tresna hanya bisa mematung dengan koin yang masih menempel di punggung Silvi. Dia merasa benar-benar terpojok oleh situasi yang dia buat sendiri karena terlalu lama menjomblo.
Silvi terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat menggoda dan penuh dengan nada provokasi, membuat nyali Tresna yang biasanya tinggi saat menghadapi preman pasar langsung menciut seketika.
Dia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Tresna, membiarkan aroma parfum melati yang bercampur dengan aroma keringatnya yang khas merasuki indra penciuman Tresna hingga kepalanya terasa berputar. Bibirnya yang merah merona itu bergerak pelan, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduk Tresna berdiri tegak karena sensasi yang sangat luar biasa dahsyat.
"Pak Mantri kok bawa pentungan, Pak Mantri mau mukul saya pakai pentungan itu, nanti kalau saya keenakan dipukul gimana?"
Linda menelan ludah dengan susah payah saat menyadari bahwa mantri itu ternyata memiliki ukuran yang sangat tidak masuk akal bagi ukuran laki-laki desa pada umumnya. Dia segera membuang muka dan keluar dari klinik dengan langkah seribu, menyisakan Tresna yang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku Linda yang nampak sangat ketakutan.Tresna merasa sangat senang bukan main karena sekarang dia punya modal yang cukup untuk membeli kopi hitam kesukaannya. Dia segera mengunci klinik sejenak dan melangkah menuju warung kopi milik Mbak Yul yang letaknya berada tepat di sebelah bangunannya.Tresna memesan kopi hitam panas, teh hangat untuk tantenya, serta dua bungkus indomie goreng untuk mereka makan siang nanti di rumah."Tumben amat Mas Mantri borong makanan, habis dapet pasien kaya ya tadi di tempat praktek?" tanya Mbak Yul sambil membungkus belanjaan Tresna."Iya Mbak, baru saja ada pasien yang bayarnya pakai uang kertas baru, rezeki anak sholeh memang nggak bakal tertukar."Tresna
Linda masih terbaring pasrah di atas ranjang periksa yang reot. Saat ini dia napasnya sudah memburu seperti orang habis lari keliling lapangan desa.Tresna tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan cengkeramannya yang mantap pada betis Linda yang putih mulus dan terasa sangat hangat di bawah telapak tangannya. Matanya menatap lekat ke arah pergelangan kaki Linda yang mulai mengempis bengkaknya, namun pikirannya sudah melayang jauh ke arah lain yang lebih menggoda."Mas Tresna, ini sudah cukup belum pijatnya, rasanya kaki aku sudah mulai enteng dan nggak senut-senut lagi kayak tadi pas baru jatuh.""Belum Linda, ini baru luarnya saja yang sembuh, urat bagian dalamnya masih banyak yang mlintir dan butuh saya luruskan biar nggak permanen sakitnya."Dengan alasan medis untuk meluruskan urat yang terjepit. Jemari kasar Tresna mulai menekan satu titik sensitif yang berada tepat di lekukan balik lutut Linda.Tekanan itu seketika membuat Linda tersentak kaget. Tubuhnya melengkung ke atas
Keadaan di atas lantai semen klinik yang dingin itu mendadak jadi sangat kacau balau buat Tresna yang posisinya berada tepat di bawah tubuh molek Linda.Rok pendek milik anak Pak Kades itu tersingkap total ke atas akibat benturan keras saat mereka berdua jatuh tadi. Sehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi imajinasi liar.Tresna hanya bisa melotot saat melihat paha Linda yang putih mulus dan celana dalam renda warna merah jambu terpampang nyata tepat di depan batang hidungnya sendiri.Aroma khas dari area kewanitaan Linda yang sangat wangi karena perawatan mahal bercampur dengan parfum branded langsung menampar indra penciuman Tresna dengan sangat keras sekali. Tresna merasa otaknya mendadak macet total, sementara Si Gatot di balik celana kainnya yang tadi sudah mulai tenang sekarang malah makin mengeras dan menegang hebat.Linda yang tersadar dengan posisinya yang sangat memalukan itu langsung berteriak kencang sambil mencoba memukul pundak Tresna dengan sisa tenaga yang ada.
Tresna hanya bisa mematung seperti patung selamat datang di pinggir desa Sukamaju yang kusam. Napasnya memburu tidak keruan karena ucapan Silvi yang benar-benar di luar nalar sehatnya sebagai seorang mantri.Janda kembang itu malah makin menjadi-jadi dalam melancarkan aksi godaannya yang maut di siang bolong itu. Dia memutar badannya sedikit hingga posisi duduknya sekarang benar-benar berhadapan langsung dengan wajah Tresna yang pucat.Tresna masih memegang koin logam untuk kerokan dengan ujung jari yang gemetar hebat karena menahan gejolak batin.Mata Silvi yang sayu namun penuh gairah itu menatap tepat ke arah tonjolan di balik celana kain Tresna. Tangan Silvi yang halus perlahan mulai merayap naik ke paha sang mantri dengan gerakan yang sangat berani.Tresna merasa seluruh saraf di tubuhnya seperti baru saja kesetrum aliran listrik tegangan tinggi dari kabel yang terkelupas. Otaknya sudah berteriak sangat keras supaya dia segera lari, tapi kakinya seolah sudah tertanam kuat di lant
"Mas Tresna, tolongin, ini punggungku rasanya mau copot, kayak ada beban berat yang nempel nggak mau lepas dari tadi pagi!"Pintu klinik kayu yang sudah agak miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Menampilkan sosok Silvi yang berdiri dengan napas tersenggal-senggal di ambang pintu.Tresna yang sedang melamun memikirkan nasib dompetnya yang makin menipis di usia dua puluh delapan tahun, hampir saja terjungkal dari kursi kayunya karena kaget bukan main.Dia mengusap wajahnya yang kusam. Menatap janda kembang itu dengan pandangan bingung sambil berusaha merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.Pikirannya yang tadi penuh dengan bayangan ancaman Pak Kades Aditama tentang penutupan klinik ilegalnya langsung buyar seketika, digantikan oleh pemandangan di depan matanya."Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu toh, ini klinik pengobatan bukan gerbang tol yang main terobos saja," jawab Tresna dengan nada yang diusahakan tetap tenang meskipun jantungnya su







