LOGIN
"Mas Tresna, tolongin! Punggungku rasanya mau copot, kayak ada beban berat yang nempel nggak mau lepas dari tadi pagi!"
Pintu klinik kayu yang sudah miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Di ambang pintu, Silvi berdiri dengan napas yang masih tersengal.
Guncangan itu nyaris membuat Tresna terjungkal dari kursi. Padahal, pria dua puluh delapan tahun itu baru saja asyik melamunkan nasib dompetnya yang makin tipis.
Sambil mengusap wajah kusam, Tresna menatap sang janda kembang dengan bingung. Ia refleks merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.
Seketika, bayangan ancaman Pak Kades Aditama soal penutupan klinik ilegalnya buyar. Pemandangan di depannya jauh lebih menyita perhatian.
"Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu, toh. Ini klinik pengobatan, bukan gerbang tol yang main terobos aja," keluh Tresna.
Ia berusaha mengatur nada bicara agar tetap tenang. Meski begitu, jantungnya tidak bisa bohong. Detaknya makin kencang saat melihat bulir keringat yang mengalir pelan di leher Silvi.
"Aduh, nggak sempet ketok-ketok lagi! Ini udah darurat banget, Mas Tresna. Rasanya kayak masuk angin duduk sampe ke pinggang, panas banget!"
Silvi merangsek masuk, lalu menendang pintu klinik dengan tumitnya sampai tertutup rapat. Gerakan itu cukup jadi kode bagi Tresna, pasiennya yang satu ini tidak mau diganggu siapa pun dari luar.
Tresna mendesah pelan. Dari dalam laci meja praktik, ia mengambil botol minyak zaitun campuran jahe merah dan sekeping koin logam yang pinggirannya sudah halus.
Ia sudah hafal di luar kepala kelakuan warga desa. Mereka selalu mengandalkannya saat butuh, tapi tetap saja rajin mengejeknya sebagai perjaka yang tidak laku hanya karena Tresna terlalu pilih-pilih soal pasangan.
Di luar sana, orang-orang seperti Pak Karyo atau Didin mungkin sedang asyik bergosip di pos ronda. Menyebutnya sebagai mantri cabul yang hanya modal tampang manis tanpa surat izin resmi.
"Ya udah, sini naik ke ranjang periksa. Saya liat dulu seberapa parah masuk anginnya, sampe Mbak Silvi sepanik ini."
Silvi tidak banyak bicara lagi. Dia langsung membelakangi Tresna, lalu dengan gerakan berani menyingkap kebaya kutubaru motif bunganya ke atas. Tanpa ragu sama sekali.
Tresna spontan menahan napas. Punggung Silvi yang putih mulus itu kelihatan kontras banget sama plafon klinik yang jamuran dan dinding kusam di sekitarnya.
Pemandangan berikutnya makin bikin Tresna melongo di mana kaitan bra merah menyala yang dipakai Silvi ternyata sudah lepas. Garis punggung itu terpampang nyata tanpa penghalang apa pun.
"Mbak, ini kok... branya udah lepas kaitannya? Nanti kalau pas lagi dikerok terus melorot gimana? Saya nggak mau tanggung jawab, lho, ya!"
"Halah, Mas Tresna ini kok malah protes. Kan, biar Mas Tresna gampang ngeroknya sampe bawah. Biar anginnya nggak ada yang nyelip di balik tali bra."
"Ya tapi jangan langsung begini juga. Kalau ada yang ngintip dari ventilasi atas, bisa geger satu Desa Sukamaju ini, Mbak!"
"Biarin aja mereka mau ngintip sampe matanya bintitan! Yang penting aku sembuh dulu. Udah, ayo cepet dikerok, Mas. Jangan cuma diliatin aja!"
Tanpa aba-aba, Silvi langsung tengkurap di atas ranjang periksa. Dia sengaja sedikit mengangkat pinggul, membuat lekuk tubuhnya terpampang jelas tepat di depan mata Tresna.
Sambil berusaha menjaga profesionalitas, Tresna mulai bergerak. Tangannya sedikit gemetar saat mengoleskan minyak hangat ke punggung Silvi yang terasa lembut.
Begitu koin logam menyentuh kulit dan ditarik perlahan hingga menciptakan garis merah, Silvi justru mengeluarkan suara yang sama sekali tidak terdengar seperti orang sakit.
"Aaaah... hmmm... enak banget, Mas Tresna... ya, di situ. Agak ditekan lagi dikit biar mantap!"
"Mbak Silvi, suaranya tolong dikontrol! Ini saya lagi ngerok, bukan lagi ngapa-ngapain. Kalau orang lewat denger, bisa salah paham!"
"Lho, kan aku emang lagi keenakan. Tangan Mas Tresna ini ajaib banget, nggak usah dengerin omongan orang luar yang sirik sama kita."
Tresna cuma bisa geleng-geleng kepala. Namun, fokusnya makin buyar karena Silvi mulai menggeliat, persis kucing yang lagi cari perhatian.
Tiap kali koin itu mengarah ke pinggang bawah, Silvi sengaja menggerakkan pinggulnya ke kanan dan kiri, mengikuti irama tangan sang mantri dengan gemulai. Karena jarak ranjang dan posisi berdirinya sangat sempit, mau tidak mau bokong padat itu berulang kali menyenggol area sensitif Tresna. Tekanannya pun tidak main-main.
Sebenarnya, meskipun dijuluki perjaka gendeng, Tresna tetaplah pria normal dengan hormon sehat. Apalagi, dia jarang dapet sentuhan sedekat ini dari wanita secantik Silvi.
Seketika, Si Gatot atau pusaka kebanggaan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat, langsung bereaksi keras. Stimulasi dari gerakan nakal si janda kembang benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
Celana kain tipis yang dipakai Tresna gagal menyembunyikan ketegangan itu. Sebuah tonjolan besar terpampang nyata, tepat di samping lengan Silvi.
Silvi yang merasakan ada sesuatu yang keras dan panas menyundul lengannya, bukannya menjauh, malah sengaja menghentikan gerakan. Ia melirik ke belakang dengan sudut mata yang berkilat penuh kemenangan.
Melihat wajah Tresna yang merah padam dengan keringat sebesar biji jagung di dahi, Silvi sedikit mengangkat tubuh. Ia menyandarkan dagu di atas kedua tangan, sambil menatap langsung ke arah harta karun yang tampak ingin menembus celana sang mantri.
"Mas Tresna kok diem aja? Itu tangannya berhenti kenapa? Apa minyaknya udah habis, atau tangannya udah pegel?"
"Ini... anu, Mbak... saya cuma mau ambil napas sebentar. Udaranya panas banget ya di dalam sini," jawab Tresna gugup.
"Panas karena cuaca, atau panas karena liat yang merah-merah di depan mata? Jangan-jangan Mas Tresna lagi mikir yang macem-macem, ya?"
Tresna mematung. Koin logam itu masih menempel di punggung Silvi, tapi pikirannya sudah lari ke mana-mana. Ia merasa terpojok oleh situasi yang ia buat sendiri, efek samping terlalu lama menjomblo.
Silvi terkekeh. Suara tawanya terdengar menggoda sekaligus memprovokasi, membuat nyali Tresna yang biasanya tinggi saat menghadapi preman pasar langsung menciut.
Si janda kembang itu mendekatkan wajah ke telinga Tresna. Aroma parfum melati yang bercampur keringat khas merasuki indra penciuman hingga kepala Tresna terasa berputar. Bibir merah merona itu bergerak pelan, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduk Tresna berdiri tegak.
"Mas Tresna kok bawa pentungan? Mas Tresna mau mukul aku pakai pentungan itu? Nanti kalau aku keenakan dipukul... gimana?"
Tante Arum tak menjawab. Langkah kakinya yang tenang terus mendekati tempat Clara dan Wira berada. Mengikuti arah napas dan isakan kecil balita itu, Tante Arum meraba pelan rumput pekarangan lalu berlutut tepat di depan Wira."Sini, Nak," bisik Tante Arum lembut.Dari saku kebayanya, Tante Arum mengeluarkan batu hitam kecil yang tadi sempat dia gunakan. Batu itu kini tak lagi panas, melainkan memancarkan hawa sejuk yang aneh. Jemari Tante Arum meraba perlahan, menemukan dahi Wira yang basah oleh keringat dingin, lalu menempelkan batu hitam itu tepat di tengahnya."Tante... Itu buat apa?" tanya Clara panik, menahan napas seraya memegang bahu anaknya."Tahan sebentar, Clara. Demamnya bukan hanya karena demam biasa," sahut Tante Arum tenang. "Hawa panas sudah menyumbat dadanya."Wira yang tadinya terengah-engah mendadak tenang. Napas bocah empat tahun itu pelan-pelan makin teratur. Rasa hangat dan sesak di dadanya mendadak hilang begitu dahi kecilnya tersentuh batu sejuk itu."Ibu..." bi
"Tolong! Maling! Cegat mereka!" jerit Silvi dari samping amben, meringis menahan sakit di kakinya yang terkilir saat mencoba berdiri.Namun tiga penyusup itu tak memedulikan teriakan Silvi. Mereka melompati pagar besi pekarangan dan menghilang di balik pekatnya malam desa.Fwooosh!Lidah api yang tadi menyambar jerami kering kini kian tak terkendali. Kobaran api menyambar dinding kayu bagian samping rumah joglo dengan cepat dan memancarkan asap hitam tebal ke udara. Suara kayu jati tua yang mulai terbakar berderak nyaring, membawa hawa panas yang menyengat hingga ke teras."Gusti! Apinya membesar! Linda, apinya nyamber!" teriak Silvi panik, matanya membelalak menatap kobaran merah di samping rumah."Ambil air!" seru Linda dari pintu depan. Sambil menahan bahunya yang terkilir, Linda berlari pincang menuju gentong tanah liat di sudut teras. Dia mengambil air menggunakan ember plastik tua.Tanpa memedulikan rasa nyeri di kakinya, Silvi ikut menyeret tubuhnya ke dekat gentong. Tangannya
"Lepasin! Jangan sentuh anakku!" teriak Clara dari lantai dengan suara parau.Sambil merangkak cepat di atas lantai berdebu, Clara langsung memeluk erat kaki kanan penyusup itu. Dia menahan kaki si penyusup sekuat tenaga agar tidak bisa melangkah mendekati kasur."Lepas, Bangsat!" bentak si penyusup gusar.Pria itu mengibaskan kakinya kasar, tapi Clara makin meremas pergelangan kakinya. Langkah pria itu tertahan, jarinya batal menyambar baju Wira."Lepas nggak?!" teriak pria itu seraya menghentakkan kakinya."Nggak bakal!" seru Clara histeris, terus mengunci kaki pria itu.Wira yang melihat ibunya diseret di lantai mendadak berhenti menangis. Matanya yang sembap menatap Clara yang sedang ditahan pria itu. Meski badannya masih lemas dan sempoyongan bekas demam, anak balita itu memaksakan diri bangun."Lepasin Ibu! Jangan nakal!" teriak Wira dengan suara serak.Dengan kaki gemetaran, Wira berdiri di atas kasur sambil memegangi pinggiran dipan. Tangan mungilnya mengepal, lalu memukul-muk
Suasana pekarangan rumah joglo terasa makin mencekam saat hari berganti gelap. Suara hentakan sepatu lars yang berat di atas pecahkan ubin teras terdengar jelas, mendekat dengan cepat ke arah mereka."Linda! Mereka makin dekat! Gimana ini?!" bisik Silvi panik dengan napas terengah-engah."Kalian di dalam aja! Amankan berkasnya!" potong Linda cepat, langsung melangkah keluar kamar menuju teras."Tapi mereka bertiga!" seru Silvi menyusul dari belakang."Aku tahu. Tapi kita nggak boleh biarin mereka masuk!" jawab Linda tegas, matanya tertuju pada tiga pria berbadan tegap di pekarangan.Silvi tak mau tinggal diam. Ia berlari ke teras depan sambil menengok kanan-kiri, mencari apa saja yang bisa dipakai melipat lawan. Tangannya refleks menyambar tampah bambu bekas jemuran kerupuk di samping amben."Pergi kalian! Nggak usah macam-macam di sini!" teriak Silvi sambil mengangkat tampah tinggi-tinggi."Silvi, awas!" seru Linda dari tangga teras.Tanpa pikir panjang, Silvi melempar tampah itu sek
Keheningan seketika menyelimuti kamar tengah rumah joglo saat deru tangis Wira perlahan mereda. Tangan mungilnya yang memar terkulai lemas di atas kasur, matanya yang bening menatap lurus ke arah celah di balik lemari kayu jati yang telah bergeser."Clara, coba kamu lihat ke balik lemari itu," seru Linda menahan napasnya. Kedua tangannya masih menempel ketat di daun pintu kamar demi menahan sisa getaran dari arah teras. "Sesuatu yang diomongin Wira pasti ada di sana!"Clara tidak membuang waktu. Dengan langkah bergetar, dokter itu melangkah mendekati sudut kamar. Debu semen putih berterbangan menutupi lantai kayu di sekitar celah tersebut."Hati-hati! Siapa tahu ada pecahan bata atau hewan berbisa di dalamnya!" peringat Silvi setengah berbisik, matanya ikut melirik waspada ke sudut ruangan."Iya, Sil," jawab Clara pelan.Clara berlutut di atas lantai kayu yang kotor oleh serpihan semen. Dia menyipitkan mata, mengamati rongga rahasia berukuran satu jengkal yang tersembunyi di balik sus
Suara gemuruh nyaring mendadak muncul dari dalam bumi, persis di bawah pijakan kaki mereka. Meja teras bergetar hebat hingga cangkir teh yang tersisa bergoyang keras dan jatuh berdenting ke ubin."Awas!" teriak Linda refleks merangkul bahu Silvi dan Tante Arum.Ubin teras berwarna abu-abu yang berada tepat di bawah amben bambu mendadak terbelah. Retakan panjang merambat cepat sepanjang satu meter, memperlihatkan celah hitam di balik ubin yang pecah.Dari balik retakan tanah tersebut, kepulan asap tipis berwarna keabu-abuan keluar perlahan. Aroma sengatan belerang yang sangat tajam dan hawa panas mendadak menyeruak memenuhi teras rumah joglo, membuat mereka semua terbatuk-batuk."Asap apa ini?!" jerit Silvi sambil menutupi hidung dan mulutnya pakai keliman baju. "Baunya aneh banget! Panas!""Asap belerang..." bisik Linda dengan mata terbelalak menatap ubin yang terbelah.Clara memeluk erat tubuh Wira yang makin kejang di dalam dekapannya. "Linda! Silvi! Asapnya makin tebal!""Jangan di







