Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 364: Denyutan Tanpa Henti

Share

Bab 364: Denyutan Tanpa Henti

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-10-02 10:33:03

​Pukul 17.30 sore. Mentari perlahan tergelincir ke peraduannya di ufuk barat kawasan Menteng, menyisakan bias senja jingga kemerahan yang menyelusup masuk melalui celah-celah jendela istana RM Jagoan Rasa. Meskipun hari telah beranjak petang, atmosfer di dalam kamar utama berlantai kayu jati tua itu sama sekali tidak mendingin. Suhu di dalam ruangan tersebut justru kian membara, terjebak dalam pusaran candu yang tak berujung.

​Vanesha terbaring setengah sadar di atas seprai satin hitam yang sud
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 364: Denyutan Tanpa Henti

    ​Pukul 17.30 sore. Mentari perlahan tergelincir ke peraduannya di ufuk barat kawasan Menteng, menyisakan bias senja jingga kemerahan yang menyelusup masuk melalui celah-celah jendela istana RM Jagoan Rasa. Meskipun hari telah beranjak petang, atmosfer di dalam kamar utama berlantai kayu jati tua itu sama sekali tidak mendingin. Suhu di dalam ruangan tersebut justru kian membara, terjebak dalam pusaran candu yang tak berujung.​Vanesha terbaring setengah sadar di atas seprai satin hitam yang sudah basah kuyup oleh peluh, sisa cairan kenikmatan, dan lelehan mahakarya rawa lele. Seluruh persendian di tubuhnya terasa lemas, seolah tak lagi menyisakan tenaga setelah dilebur dalam singgasana nungging beberapa saat lalu. Ia mengira siksaan nikmat yang bertubi-tubi itu akhirnya sampai di garis akhir.​Namun, di dalam tubuh Madun, suplai Jamu Perangsang Rawa Lele Generasi Ketiga masih menyala dengan kekuatan penuh. Sang penguasa Menteng menatap istrinya dengan seringai maut preman pasar malam

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 363: Posisi Nungging Paling Liar

    ​Pukul 16.45 sore. Sinar matahari di luar jendela istana RM Jagoan Rasa kian meredup, menyisakan bias jingga kemerahan yang perlahan-lahan menyelimuti kawasan Menteng. Meskipun hari sudah semakin sore, suhu panas di dalam kamar utama berlantai kayu jati tua itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menurun, bahkan semakin membara setelah badai klimaks posisi tiarap beberapa saat lalu.​Vanesha terbaring lemas dengan napas tersengal-sengal di atas seprai satin hitam. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat dan lelehan cairan intim, sementara otot-otot di sekujur kakinya terasa kaku akibat rentetan gempuran panjang tanpa henti. Ia mengira posisi tiarap tadi adalah batas akhir dari siksaan nikmat yang disiapkan oleh suaminya.​Namun, bagi sang penguasa Menteng—Madun—suplai Jamu Perangsang Rawa Lele Generasi Ketiga yang mengalir deras di dalam aliran darah kakek sakti itu masih menyala dengan intensitas maksimal. Ia sama sekali belum berniat mengakhiri hari ini sebelum seluruh potensi ke

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 362: Benteng Terakhir

    ​Pukul 16.15 sore. Sinar matahari di luar jendela istana RM Jagoan Rasa kian meredup, meninggalkan bias jingga kemerahan yang perlahan-lahan menyelimuti kawasan Menteng. Meskipun hari sudah semakin sore, suhu panas di dalam kamar utama berlantai kayu jati tua itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menurun.​Setelah drama kecil perdebatan tentang niat Vanesha yang ingin kabur karena tak tahan dengan kedutan beruntun, sang penguasa Menteng—Madun—memutuskan untuk menaikkan tingkat kesulitan pertempuran ke level yang jauh lebih ekstrem. Suplai Jamu Perangsang Rawa Lele yang mengalir tanpa henti di dalam darah sang kakek sakti terus membakar energinya, menolak segala bentuk kompromi untuk beristirahat.​Madun menatap istrinya dengan seringai maut preman pasar malam yang sarat akan dominasi mutlak. Meskipun mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter miliknya masih tertanam sangat rapat di dalam tubuh Vanesha, ia merasa posisi mereka harus diubah agar sudut hantaman d

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 361: Kedutan Berulang

    ​Pukul 15.00 sore. Sinar matahari di luar jendela istana RM Jagoan Rasa mulai bergeser ke arah barat, memancarkan bias jingga yang hangat ke dalam ruangan kamar utama yang tertutup rapat. Suasana di dalam bilik berlantai kayu jati tua itu masih diselimuti oleh hawa panas dan aroma candu jamu rawa lele yang pekat.​Hingga detik ini, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter milik Madun masih tertanam sangat rapat di dalam liang intim Vanesha. Sama sekali tidak ada niat sedikit pun dari sang penguasa Menteng untuk menarik senjatanya keluar. Batang masif berurat kekar itu terus bersemayam di tempatnya, mengisi penuh ruang terdalam organ kewanitaan istrinya tanpa menyisakan celah sekecil apa pun.​Vanesha, yang berbaring lemas dengan napas tersengal-sengal di atas seprai satin hitam, merasa sekujur tubuhnya benar-benar mati rasa karena kenikmatan yang terlampau intens. Ia mengerjap-kerjap pelan, menatap suaminya yang masih setia menindih tubuhnya dengan posisi intim yang

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 360: Burung Raksasa yang Menolak Lepas

    ​Pukul 14.00 siang. Terik matahari di langit kawasan Menteng kian menyengat, membakar atap-atap bangunan di sekitar kawasan RM Jagoan Rasa dengan panas yang luar biasa. Namun, di dalam keheningan kamar utama yang tertutup rapat, hawa panas tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan suhu ekstrem yang masih mengepul pekat di atas seprai satin hitam.​Badai klimaks penutup dari sesi desahan BB asoy baru saja mereda beberapa menit lalu. Vanesha terbaring telentang dengan tubuh lemas tak berdaya, napasnya tersengal-sengal, dan sekujur kulit eksotisnya basah kuyup oleh lelehan keringat serta gelontoran cairan putih kental yang tumpah ruah memenuhi pangkal pahanya. Seluruh energinya terkuras habis setelah berjam-jam digempur tanpa ampun dalam lingkaran candu Jamu Perangsang Rawa Lele.​Meskipun begitu, sang penguasa Menteng—Madun—sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyudahi pertempuran. Suplai jamu legendaris yang mengalir tanpa henti di dalam pembuluh darah kakek sakti i

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 359: Desahan Membakar

    ​Pukul 13.00 siang. Terik matahari di kawasan Menteng membakar udara luar dengan suhu yang cukup menyengat, namun atmosfer di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa justru jauh lebih panas dan mendidih. Setelah rentetan insiden kepleset jleb nancep yang menguras tenaga beberapa waktu lalu, Vanesha dan Madun sempat terbaring beberapa menit untuk memulihkan napas di atas seprai satin hitam yang basah kuyup oleh peluh dan sisa cairan.​Namun, di dalam tubuh Madun, suplai Jamu Perangsang Rawa Lele Generasi Ketiga masih menyala terang, memompa energi tanpa batas ke seluruh aliran darahnya. Sang penguasa Menteng kembali membuka matanya, menatap sang istri sah yang terbaring lemas dengan rambut berantakan di sampingnya.​Madun menyeringai maut, seringai preman pasar malam yang sarat akan dominasi mutlak. Ia mengulurkan tangan besarnya, meraba pinggul Vanesha lalu menarik tubuh istrinya agar kembali merapat ke dalam dekapan tubuh bidangnya.​"Belum cukup rupanya dengan kejadian kepleset tadi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status