Accueil / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

Share

Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

Auteur: Ibrahiman
last update Date de publication: 2026-03-20 06:37:26

​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.

​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan terurai, menutupi sebagian bahu mulusnya yang tampak berkilau. Lekukan tubuhnya yang sintal benar-benar tercetak jelas di balik kain tipis itu, membuat Madun yang baru datang langsung menelan ludah berkali-kali.

​"Waduh, Bu Bidan... bajunya tipis benar. Apa nggak kedinginan?" tanya Madun sambil menyelinap masuk. Matanya tak lepas dari bayangan hitam di balik daster Siska yang bergoyang setiap kali ia melangkah. Visual Siska yang seperti itu membuat imajinasi Madun liar.

​"Dingin? Justru saya kepanasan nunggu kamu dari tadi! Ayo masuk, sebelum tetangga liat!" Siska menarik tangan Madun, membimbingnya masuk ke dalam kamar utama yang beraroma terapi mawar. Siska mengunci pintu. Klik. Ia berbalik dan menatap Madun dengan tatapan haus. Ia sengaja berdiri di depan lampu, membuat siluet tubuhnya yang berbentuk jam pasir itu terlihat sangat menggoda.

​"Harum karena saya sudah mandi kembang, Madun. Khusus buat menyambut 'linggis' kamu yang sakti itu." Siska mendekat, tangannya yang halus mulai merayap di dada Madun yang bidang. Ia bisa merasakan otot-otot Madun yang mengeras karena kerja berat di pasar, memberikan sensasi jantan yang sangat ia sukai.

​"Aduh, Bu... jangan digoda terus. Ini dari tadi di jalan udah berdenyut-denyut minta ampun," keluh Madun sambil menunjuk gundukan masif di celananya yang menonjol keras.

​Madun melorotkan celananya. Srat! Pusaka hitam legam sepanjang 30 cm itu mencuat dengan gagahnya, urat-uratnya menegang seperti akar pohon yang siap menghujam bumi. Kulit Madun yang cokelat gelap tampak sangat perkasa di bawah lampu kamar.

​"Ya Tuhan... makin malam makin mengerikan ya ukurannya," desah Siska. Ia langsung berlutut di depan Madun. "Madun, ini sepertinya ada penyumbatan di bagian ujung. Saya harus pakai teknik 'sedot racun' manual."

​"Sedot racun pakai apa Bu? Pakai alat suntik lagi?" tanya Madun polos.

​"Pakai ini..." Siska menunjuk bibirnya yang merah merona. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melahap ujung pusaka Madun. "AGHHH! BU BIDAN! ITU... ITU ENAK BANGET!" Madun memegangi kepala Siska, jari-jarinya tenggelam di rambut Siska yang lembut.

​"Glek... mmm... Madun... ini... ini terlalu besar buat mulut saya," ucap Siska sambil mendongak, wajahnya yang cantik kini basah dan matanya sayu penuh gairah. "Kita harus langsung ke terapi utama. Saya sudah tidak kuat lagi."

​Siska berdiri dan langsung melepaskan dasternya. Zlap! Daster itu jatuh ke lantai, menyisakan tubuh Siska yang polos tanpa sehelai benang pun. Kulitnya yang putih bersih kontras dengan sprei hitam di ranjang itu. Dadanya yang montok berdiri tegak dengan ujung yang merah muda, pinggulnya yang lebar dan berisi menjanjikan jepitan yang mematikan bagi laki-laki mana pun.

​"Gila... Bu Bidan... Ibu cantik banget. Ternyata di balik seragam ketat itu, isinya begini," Madun melongo, matanya liar menjelajahi setiap inci tubuh mulus Siska.

​"Jangan cuma dilihat! Ayo, hancurkan saya malam ini!" Siska menarik Madun ke atas ranjang, ia berbaring telentang dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. "Masukkan, Madun! Masukkan linggis hitammu itu sampai ke dasar rahimku!"

​Madun memposisikan dirinya. Begitu ujung pusakanya menyentuh liang Siska yang sudah becek, tiba-tiba...

TOK TOK TOK!

​"Siska? Kamu di dalam? Kok suaranya berisik banget?" Suara perempuan tua dari balik pintu mengejutkan mereka. Itu Ibunya Siska.

​Siska dan Madun membeku. Posisinya masih tertancap dalam dengan Madun di atasnya. Siska menutup mulut Madun, lalu berteriak dengan suara yang diusahakan stabil meski napasnya tersengal. "Anu... Bu! Ini Siska lagi... lagi senam malam! Pakai video instruktur dari luar negeri, suaranya emang kencang!"

​"Senam kok malam-malam, Nduk? Nanti malah nggak bisa tidur. Lagian itu suara ranjangnya kok kriet-kriet gitu?" tanya Ibunya heran.

​"Ini senam lantai, Bu! Harus di atas kasur biar nggak cidera otot! Sudah, Ibu tidur saja, Siska hampir selesai!" jawab Siska sambil menahan kesal.

​"Oh, ya sudah. Jangan capek-capek. Ibu ke dapur dulu mau minum," suara langkah kaki Ibunya menjauh.

​Siska menghembuskan napas lega, tapi wajahnya masih merah padam. "Madun! Hampir saja jantungan!"

​"Tapi terapi senamnya lanjut kan, Bu Bidan? Sayang ini kalau ditarik keluar, sudah telanjur tegang ini," goda Madun sambil tersenyum nakal.

​Siska menarik napas panjang, menatap tubuh kekar Madun di atasnya. " Jangan Madun! ada ibuku aku takut kedengaran ke dapur! Kalau Ibuku balik lagi, saya bilang kamu itu instruktur senam gadungan!"

​Madun tertawa kecil dan mulai tegang lagi. Kali ini lebih tegang burungnya karena harus menahan napsu.Siska mencengkeram bahu Madun yang keras, menggigit bibirnya agar tidak berteriak saat linggis hitam itu menggesek titik sensitifnya berkali-kali.

​"Aduh Madun... biar cuma digesek... ahh... luar biasa enak..." bisik Siska serak. Tubuh Siska yang putih bersih kini dipenuhi keringat, membuatnya tampak semakin seksi di mata Madun. Madun terus mencumbu menikmati setiap jepitan dari bidan cantik yang tadinya sangat angkuh ini.

​"Ini baru pemanasan, Bu Bidan. Belum masuk ke gerakan inti," jawab Madun sambil terus memacu linggisnya.

​Siska memejamkan mata, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri menikmati sensasi masif yang yang dilakukan Madun. Malam itu, di bawah ancaman suara langkah kaki Ibunya, Siska benar-benar merasakan terapi paling dahsyat dalam hidupnya. Keringat mereka bercampur, aroma mawar dan aroma maskulin kuli pasar memenuhi ruangan. Siska sadar, keputusannya memanggil Madun adalah keputusan terbaik dalam hidupnya sebagai bidan.

​"Madun... pergilah cepat sebelum kita ga tahan lagi dan ketahuan ibu." desah Siska pasrah, membayangkan dirinya harus gagal lagi menikmati burung Madun yang super gede dan berurat. Ah dua gemes banget sebenarnya nyesel nyuruh Madun Pergi tapi gimana lagi ada aja gangguannya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 18: Pesta Linggis di Klinik Tengah Malam

    ​"Aduh, Mas Madun! Pelan-pelan dong, ini paha aku sudah gemetar semua!" keluh Rini sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal. ​Rini saat ini sedang dalam posisi yang sangat menantang. Kaos putihnya sudah tersingkap hingga ke leher, memamerkan sepasang asetnya yang putih bersih dan kencang. Kulit perutnya yang rata tampak berkeringat, berkilau di bawah lampu operasi klinik yang terang benderang. Madun, dengan punggungnya yang lebar dan berotot cokelat gelap, tampak seperti raksasa yang sedang menguasai dua wanita cantik sekaligus. ​"Sabar, Rin! Ini Bidan Siska juga belum mau lepas!" jawab Madun serak. ​Bidan Siska memang tidak mau kalah. Ia sedang berlutut di depan Madun, seragam bidannya sudah melorot hingga ke pinggang, memperlihatkan punggungnya yang mulus tanpa noda. Rambutnya yang hitam terurai menutupi sebagian wajahnya yang merah padam karena gairah. Ia sedang fokus memberikan "terapi" pada bagian kepala linggis Madun yang masif. ​"Enak saja lepas! Ini urusan medis, M

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 17: Perebutan Napsu

    Duel Maut Bidan vs Administrasi: Perebutan Linggis Pasar Malam​"Mas Madun! Turunin aku di depan gang aja, jangan sampai depan rumah, nanti Bapak liat!" bisik Rini sambil meremas pinggang Madun yang keras berotot.​Madun ngerem mendadak. Motor bututnya batuk-batuk. Rini turun, benerin crop top putihnya yang masih lembap kena keringat pergulatan tadi. Di bawah lampu jalan yang remang, kulit perut Rini yang putih mulus kelihatan berkilau, bikin Madun susah kedip. Celana jins pendeknya makin memperjelas lekukan pinggulnya yang sintal.​"Makasih ya Mas buat 'hadiah' di balik tendanya. Jangan lupa, besok linggisnya harus lebih keras lagi!" Rini ngedipin mata nakal, terus lari masuk gang sambil goyangin pinggulnya yang bulat.​Madun baru mau narik gas, tiba-tiba motor matic merah menghadang jalannya. Bidan Siska berdiri di sana, masih pakai seragam putih ketat yang saking ketatnya sampai kancing bagian dadanya kelihatan tertekan hebat. Mukanya merah padam, napasnya memburu.​"Madun! Jadi in

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 16: Goyang Panas di Bilik Komidi Putar

    Tapi semua rencana pulang itu buyar Rini punya ide yg lebih gila. ​"Mas Madun, sini cepetan! Di belakang tenda komidi putar ini sepi banget, gelap lagi!" bisik Rini sambil menarik paksa tangan besar Madun. ​"Rin, gila kamu ya? Ini pasar malam, banyak orang! Kalau ketahuan Pak Bos atau Bidan Siska, bisa habis saya digebukin!" Madun protes, tapi kakinya tetap melangkah mengikuti tarikan Rini. ​"Ssttt! Berisik! Justru yang begini ini yang bikin deg-degan, Mas. Kamu nggak ngerasa linggis kamu sudah nendang-nendang sarung dari tadi?" goda Rini. Begitu sampai di balik tumpukan terpal dan mesin mesin tua yang gelap, Rini langsung membalikkan badan dan memojokkan Madun ke dinding kayu. ​ "Mas?" Rini menarik tangan Madun dan meletakkannya di pinggangnya yang ramping dan hangat. ​Madun langsung mengangkat daster hitam yang tadi sempat dipakai Rini sebagai luaran (outer), lalu tangannya yang kasar merayap ke paha Rini yang montok dan licindan pelorotin cd-nya ​"Gusti... Rin, kamu yakin d

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 15 :Gulali Manis di Dada Rini

    ​"Mas Madun, liat itu! jajanan favoriku," seru Rini sambil menunjuk tukang gulali yang sedang memutar mesin pembuat gula kapas. ​"Iya, Rin," jawab Madun. ​"Bang, beli satu ya! Yang paling gede, biar puas makannya!" Rini memesan dengan suara manja. ​Setelah gulali besar itu jadi, Rini langsung mencubit sedikit dan menyuapkannya ke mulut Madun. "Gimana Mas? Manis nggak?" Madun mengunyah pelan. Tiba-tiba tatapan matanya kosong. Dia melihat gulali di tangan Rini, lalu melihat ke arah kerumunan anak kecil yang digandeng bapaknya. Setitik air mata jatuh di pipinya yang kasar. ​"Lho, Mas Madun? Kok malah nangis? Giginya sakit kena gula?" tanya Rini panik. ​"Bukan, Rin... saya cuma teringat almarhum bapak," suara Madun parau. "Dulu waktu saya masih kecil, bapak sering manggul saya di pundaknya cuma buat beli gulali begini. Bapak orang kecil, kuli juga kayak saya, tapi kalau soal nyenengin anaknya, dia paling nomor satu." ​Rini terdiam. Wajahnya yang cantik berubah jadi sendu. Dia me

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 14: Rebutan Kuli di Parkiran Rumah Sakit

    ​"Aduh, Dokter Tasya! Suster Indah! Ampun! Ini paha saya masih perih, jangan ditarik-tarik begitu!" teriak Madun sambil berusaha menahan sarungnya yang hampir melorot karena ditarik Suster Indah. ​"Sabar, Madun! Ini demi sterilisasi kuman ular! Kamu harus masuk ke ruang observasi khusus saya!" Dokter Tasya makin kencang menarik lengan kekar Madun. Jas dokternya tersingkap, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping dan baju dalamnya yang ketat. ​"Enggak bisa, Dok! Mas Madun mending sama saya, saya kasih kompres air anget di ruang perawat!" sahut Suster Indah. Wajahnya yang cantik sudah kemerahan karena nafsu dan emosi, keringatnya menetes di antara belahan dadanya yang montok di balik seragam putih itu. ​Madun melihat celah saat Dokter Tasya dan Suster Indah malah sibuk berdebat mulut. Dengan tenaga kuli yang biasa manggul beras, Madun melompat dari bed IGD. "Maaf semuanya! Saya mau kabur saja! Nyawa saya lebih terancam sama kalian daripada sama ular!" ​Madun lari terbirit-bir

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 13: Bencana Sambal Setan dan Ular Kali

    ​"Aduh, Rah... berhenti dulu ya! Aduh, perut saya rasanya kayak dikocok semen!" teriak Madun sambil memegangi perutnya. ​Bidan Sarah langsung turun dari mobil yang di rem mendadadan berdiri di samping Madun, tangannya yang halus memegang dahi Madun. "Kamu keringat dingin begini, Dun. Gara-gara sambal setan Mbok Darmi ya?" ​"Bukan lagi panas, Rah! Ini mulesnya sudah di ujung tanduk! Aduh... brott... brott..." Madun memegangi bokongnya yang keras, berusaha menahan serangan fajar dari dalam perutnya. ​"Ya ampun, Madun! Jangan di sini, ini pinggir jalan raya! Malu liat orang!" Sarah tertawa geli melihat kuli perkasa itu sekarang melungset kayak kerupuk kena air. ​"Nggak tahan lagi, Rah! Itu ada kali di bawah sana! Saya ke sana dulu ya!" Madun langsung lari terbirit-birit menuju semak-semak di pinggir kali. Sarungnya diangkat tinggi-tinggi, memperlihatkan betisnya yang berurat dan kokoh. ​"Hati-hati, Dun! Kalinya kotor!" teriak Sarah sambil menutup hidung. Dia bersandar di moto

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status