Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

Share

Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-03-20 06:52:11

Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.

Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja.

"Madun, sebelum kita mulai, saya mau tanya. Kamu nggak pernah ke Klinik Bidan Sarah di desa sebelah, kan?" tanya Siska yang kini tampil dengan pakaian lebih gila dari sebelumnya.

Bisa dibilang, kali ini Siska memakai baju yang hampir seperti gaun malam tipis. Bahkan, pakaian dalamnya yang berwarna merah terang itu terlihat cukup jelas, membuat Madun bingung dan sedikit panik karena dia adalah pria normal.

​"Bidan Sarah? Yang mana itu, Bu? Saya nggak kenal," jawab Madun sedikit gugup.

​"Bagus! Jangan pernah ke sana! Dia itu rival saya. Orangnya lebih sombong dari saya, dan dia selalu iri kalau saya dapat pasien 'potensial' seperti kamu. Kalau dia sampai tahu kamu punya pusaka begini, dia pasti bakal merebutmu dari saya!" Siska menggigit bibir bawahnya, matanya berkilat posesif.

​"N--nggak kok, Bu. Saya periksa di sini aja biar gak jauh-jauh."

​"Bagus, sekarang kamu tidur di ranjang itu ya."

Madun baru saja membaringkan tubuhnya di ranjang. Ketika Siska bersiap melepas celana Madun, tiba-tiba--

DOR! DOR! DOR!

​"SISKA! BUKA PINTUNYA! SAYA TAHU KAMU DI DALAM!"

​Lagi-lagi terapi mereka terganggu. Tapi kali ini bukan suara Ibunya Siska, melainkan suara perempuan muda yang sangat nyaring dan terdengar penuh emosi.

​"Sial! Itu Sarah! Bidan Sarah desa sebelah!" bisik Siska panik. Posisinya masih menunduk tepat di hadapan pangkal paha Madun. "Kenapa si lampir itu ke sini?!"

​"Siska! Jangan pura-pura tidur! Saya cium bau 'jantan' yang sangat kuat dari luar sini! Kamu pasti lagi nyembunyiin kuli pasar yang punya linggis 30 senti itu, kan?!" teriak Sarah dari balik pintu kamar.

​Madun melongo. "Loh, Bu Bidan... kok dia tahu ukuran saya?"

​"Dia pasti pasang mata-mata di pasar! Kurang ajar!" Siska buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh Madun. "Sarah! Pergi kamu! Saya lagi ada pasien gawat darurat! Jangan ganggu prosedur medis!"

​"Prosedur medis apanya?! Prosedur 'ena-ena' kali!" Sarah berteriak lebih kencang. "Buka pintunya, atau saya dobrak pakai kunci cadangan yang saya curi dari puskesmas!"

​"Madun, cepat sembunyi di bawah ranjang!" bisik Siska panik.

​"Nggak muat Bu! Badan saya kan gede!" keluh Madun.

​"Aduh, ya sudah! Kamu masuk ke dalam lemari baju saya! Cepat!" Siska menarik Madun dari atas ranjang, lalu mendorongnya ke arah lemari pakaian kayu. Sementara itu, Siska merapikan pakaiannya, mengancingkan jas bidannya agar menutupi pakaian seksinya.

​Madun hanya sempat menaikkan celananya tanpa dikancing sempurna, lalu melompat ke dalam lemari yang penuh dengan koleksi daster dan pakaian dalam Siska.

"Wangi banget di sini, Bu," bisik Madun dari dalam.

​"Diam! Jangan bersuara!" Siska buru-buru memakai daster panjang dan membuka pintu kamar dengan wajah yang diatur agar tampak mengantuk.

​Cklek.

​Berdiri di depan pintu seorang wanita cantik dengan rambut sebahu, mengenakan rok pendek ketat yang memperlihatkan kakinya yang jenjang dan kemeja putih yang kancing atasnya sengaja dibuka. Itulah Bidan Sarah.

​"Mana dia, Siska? Mana kuli panggul berpusaka linggis itu?" Sarah langsung masuk dan mengendus-endus udara seperti kucing. "Bau keringat laki-laki, bau jamu telur bebek... hmm, aromanya sangat jantan. Dia di sini, kan?"

​"Apa sih kamu, Sar? Datang-datang kayak penggerebekan narkoba. Nggak ada siapa-siapa di sini!" Siska mencoba menghalangi jalan Sarah.

​Sarah mendekati ranjang dan memegang spreinya yang masih basah karena keringat Madun.

"Basah begini kamu bilang nggak ada siapa-siapa? Kamu lagi main sendiri atau sama hantu, hah?" Sarah tertawa mengejek, matanya melirik ke arah lemari kayu.

​"Itu... itu tumpahan air minum! Tadi saya haus!" dalih Siska.

​Sarah berjalan pelan ke arah lemari. "Oh ya? Terus kenapa lemarimu goyang-goyang sendiri, Siska? Apa lemarimu juga lagi senam malam?"

​Di dalam lemari, Madun gemetar hebat. Masalahnya, daster-daster Siska yang lembut terus menggesek pusakanya, membuat batangnya yang 30 cm itu makin menegang dan menendang pintu lemari dari dalam.

Dug! Dug!

​"Siska, jujur saja. Bagi dua lah. Saya juga butuh 'pasien' seperti dia. Saya dengar barangnya legam dan berurat, ya?" Sarah menyeringai, tangannya mulai memegang gagang pintu lemari.

​"Jangan, Sarah! Itu lemari privat saya!" Siska mencoba menarik tangan Sarah.

​"Minggir!" Sarah menyentak tangan Siska dan membuka pintu lemari dengan lebar.

SREEEET!

​Madun terjepit di antara tumpukan baju, menatap kedua bidan cantik itu dengan muka pasrah. Celananya melorot karena kancingnya belum terpasang sempurna, memperlihatkan gundukan raksasanya yang sedang "marah".

​Sarah terdiam. Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan di depan matanya. "Ya... Tuhan... itu... itu beneran 30 senti? Hitam banget... legam... uratnya... ohhh..."

Sarah hampir jatuh pingsan, tangannya menutup mulutnya sendiri.

​Siska langsung menengahi. "Sudah liat kan? Sekarang pergi! Dia pasien saya!"

​Sarah mendadak berubah pikiran. Ia tidak jadi marah, malah mendekati Madun dan memegang lengan berotot Madun. "Siska, pelit banget kamu. Kuli sehebat ini mana cukup kalau cuma diurus satu bidan? Madun, kamu mau nggak ke klinik saya besok? Saya punya peralatan yang lebih... canggih dari Siska."

​"Eh... anu, Bu Sarah..." Madun bingung.

​Siska langsung menarik Madun keluar dari lemari. "Nggak bisa! Madun sudah terikat kontrak medis sama saya! Sarah, kamu cari kuli lain sana!"

​"Kuli lain nggak ada yang punya 'linggis' kayak gini, Siska! Madun, ayo ikut saya sekarang. Saya kasih jamu yang lebih paten dari buatan Siska!" Sarah mulai menarik tangan Madun yang sebelah kiri.

​"Lepasin! Madun punya saya!" Siska menarik tangan Madun yang sebelah kanan.

​Madun yang berada di tengah hanya bisa pasrah. "Aduh... aduh... jangan ditarik-tarik, Bu Bidan. Burung saya makin tegang ini kalau kalian berdua rebutan gini."

​Kedua bidan itu saling pandang, lalu menatap ke arah pusaka Madun yang memang tampak semakin mengerikan ukurannya karena distimulasi oleh kehadiran dua wanita cantik sekaligus.

​"Gimana kalau... kita kerja sama saja, Siska?" bisik Sarah dengan nada menggoda. "Satu pasien, dua bidan. Biar racun semutnya benar-benar habis total sampai ke akar-akarnya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 18: Pesta Linggis di Klinik Tengah Malam

    ​"Aduh, Mas Madun! Pelan-pelan dong, ini paha aku sudah gemetar semua!" keluh Rini sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal. ​Rini saat ini sedang dalam posisi yang sangat menantang. Kaos putihnya sudah tersingkap hingga ke leher, memamerkan sepasang asetnya yang putih bersih dan kencang. Kulit perutnya yang rata tampak berkeringat, berkilau di bawah lampu operasi klinik yang terang benderang. Madun, dengan punggungnya yang lebar dan berotot cokelat gelap, tampak seperti raksasa yang sedang menguasai dua wanita cantik sekaligus. ​"Sabar, Rin! Ini Bidan Siska juga belum mau lepas!" jawab Madun serak. ​Bidan Siska memang tidak mau kalah. Ia sedang berlutut di depan Madun, seragam bidannya sudah melorot hingga ke pinggang, memperlihatkan punggungnya yang mulus tanpa noda. Rambutnya yang hitam terurai menutupi sebagian wajahnya yang merah padam karena gairah. Ia sedang fokus memberikan "terapi" pada bagian kepala linggis Madun yang masif. ​"Enak saja lepas! Ini urusan medis, M

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 17: Perebutan Napsu

    Duel Maut Bidan vs Administrasi: Perebutan Linggis Pasar Malam​"Mas Madun! Turunin aku di depan gang aja, jangan sampai depan rumah, nanti Bapak liat!" bisik Rini sambil meremas pinggang Madun yang keras berotot.​Madun ngerem mendadak. Motor bututnya batuk-batuk. Rini turun, benerin crop top putihnya yang masih lembap kena keringat pergulatan tadi. Di bawah lampu jalan yang remang, kulit perut Rini yang putih mulus kelihatan berkilau, bikin Madun susah kedip. Celana jins pendeknya makin memperjelas lekukan pinggulnya yang sintal.​"Makasih ya Mas buat 'hadiah' di balik tendanya. Jangan lupa, besok linggisnya harus lebih keras lagi!" Rini ngedipin mata nakal, terus lari masuk gang sambil goyangin pinggulnya yang bulat.​Madun baru mau narik gas, tiba-tiba motor matic merah menghadang jalannya. Bidan Siska berdiri di sana, masih pakai seragam putih ketat yang saking ketatnya sampai kancing bagian dadanya kelihatan tertekan hebat. Mukanya merah padam, napasnya memburu.​"Madun! Jadi in

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 16: Goyang Panas di Bilik Komidi Putar

    Tapi semua rencana pulang itu buyar Rini punya ide yg lebih gila. ​"Mas Madun, sini cepetan! Di belakang tenda komidi putar ini sepi banget, gelap lagi!" bisik Rini sambil menarik paksa tangan besar Madun. ​"Rin, gila kamu ya? Ini pasar malam, banyak orang! Kalau ketahuan Pak Bos atau Bidan Siska, bisa habis saya digebukin!" Madun protes, tapi kakinya tetap melangkah mengikuti tarikan Rini. ​"Ssttt! Berisik! Justru yang begini ini yang bikin deg-degan, Mas. Kamu nggak ngerasa linggis kamu sudah nendang-nendang sarung dari tadi?" goda Rini. Begitu sampai di balik tumpukan terpal dan mesin mesin tua yang gelap, Rini langsung membalikkan badan dan memojokkan Madun ke dinding kayu. ​ "Mas?" Rini menarik tangan Madun dan meletakkannya di pinggangnya yang ramping dan hangat. ​Madun langsung mengangkat daster hitam yang tadi sempat dipakai Rini sebagai luaran (outer), lalu tangannya yang kasar merayap ke paha Rini yang montok dan licindan pelorotin cd-nya ​"Gusti... Rin, kamu yakin d

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 15 :Gulali Manis di Dada Rini

    ​"Mas Madun, liat itu! jajanan favoriku," seru Rini sambil menunjuk tukang gulali yang sedang memutar mesin pembuat gula kapas. ​"Iya, Rin," jawab Madun. ​"Bang, beli satu ya! Yang paling gede, biar puas makannya!" Rini memesan dengan suara manja. ​Setelah gulali besar itu jadi, Rini langsung mencubit sedikit dan menyuapkannya ke mulut Madun. "Gimana Mas? Manis nggak?" Madun mengunyah pelan. Tiba-tiba tatapan matanya kosong. Dia melihat gulali di tangan Rini, lalu melihat ke arah kerumunan anak kecil yang digandeng bapaknya. Setitik air mata jatuh di pipinya yang kasar. ​"Lho, Mas Madun? Kok malah nangis? Giginya sakit kena gula?" tanya Rini panik. ​"Bukan, Rin... saya cuma teringat almarhum bapak," suara Madun parau. "Dulu waktu saya masih kecil, bapak sering manggul saya di pundaknya cuma buat beli gulali begini. Bapak orang kecil, kuli juga kayak saya, tapi kalau soal nyenengin anaknya, dia paling nomor satu." ​Rini terdiam. Wajahnya yang cantik berubah jadi sendu. Dia me

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 14: Rebutan Kuli di Parkiran Rumah Sakit

    ​"Aduh, Dokter Tasya! Suster Indah! Ampun! Ini paha saya masih perih, jangan ditarik-tarik begitu!" teriak Madun sambil berusaha menahan sarungnya yang hampir melorot karena ditarik Suster Indah. ​"Sabar, Madun! Ini demi sterilisasi kuman ular! Kamu harus masuk ke ruang observasi khusus saya!" Dokter Tasya makin kencang menarik lengan kekar Madun. Jas dokternya tersingkap, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping dan baju dalamnya yang ketat. ​"Enggak bisa, Dok! Mas Madun mending sama saya, saya kasih kompres air anget di ruang perawat!" sahut Suster Indah. Wajahnya yang cantik sudah kemerahan karena nafsu dan emosi, keringatnya menetes di antara belahan dadanya yang montok di balik seragam putih itu. ​Madun melihat celah saat Dokter Tasya dan Suster Indah malah sibuk berdebat mulut. Dengan tenaga kuli yang biasa manggul beras, Madun melompat dari bed IGD. "Maaf semuanya! Saya mau kabur saja! Nyawa saya lebih terancam sama kalian daripada sama ular!" ​Madun lari terbirit-bir

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 13: Bencana Sambal Setan dan Ular Kali

    ​"Aduh, Rah... berhenti dulu ya! Aduh, perut saya rasanya kayak dikocok semen!" teriak Madun sambil memegangi perutnya. ​Bidan Sarah langsung turun dari mobil yang di rem mendadadan berdiri di samping Madun, tangannya yang halus memegang dahi Madun. "Kamu keringat dingin begini, Dun. Gara-gara sambal setan Mbok Darmi ya?" ​"Bukan lagi panas, Rah! Ini mulesnya sudah di ujung tanduk! Aduh... brott... brott..." Madun memegangi bokongnya yang keras, berusaha menahan serangan fajar dari dalam perutnya. ​"Ya ampun, Madun! Jangan di sini, ini pinggir jalan raya! Malu liat orang!" Sarah tertawa geli melihat kuli perkasa itu sekarang melungset kayak kerupuk kena air. ​"Nggak tahan lagi, Rah! Itu ada kali di bawah sana! Saya ke sana dulu ya!" Madun langsung lari terbirit-birit menuju semak-semak di pinggir kali. Sarungnya diangkat tinggi-tinggi, memperlihatkan betisnya yang berurat dan kokoh. ​"Hati-hati, Dun! Kalinya kotor!" teriak Sarah sambil menutup hidung. Dia bersandar di moto

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status