Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 2: Lastri sang Penggoda

Share

Bab 2: Lastri sang Penggoda

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-03-18 07:48:42

​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah.

​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senjata 'pasiennya' ternyata punya linggis beton."

​"Hahaha! Pasti Siska melotot kan? Liat punya kamu yang 30 senti pasti mentalnya kena!" Pak Bos tertawa sampai batuk-batuk.

​"Bukan melotot lagi, Pak Bos. Mukanya merah kayak kepiting rebus. Katanya ini kelainan medis paling indah. Malah saya disuruh balik lagi nanti malam jam delapan buat 'observasi' lanjutan," jawab Madun sambil benerin posisi duduknya karena asetnya masih terasa sesak di balik celana kain.

​"Observasi atau mau dikoleksi itu, Dun? Kamu hati-hati, burungmu itu sekarang aset desa!" Pak Bos nepuk bahu Madun yang lebar. "Visual kamu itu beneran jantan, badan kotak-kotak, item manis, ditambah senjata raksasa. Cewek mana yang nggak betah?"

​Tiba-tiba, suara dentingan botol jamu terdengar. Sesosok wanita cantik muncul dari balik gerbang. Itu Lastri, penjual jamu gendong paling hits. Lastri memakai kebaya ketat warna kuning yang hampir tidak kuat menahan guncangan dadanya yang montok setiap dia melangkah. Kain batiknya dililit sangat ketat di pinggul, menonjolkan bentuk pantatnya yang bulat sempurna.

​"Eh, Mas Madun ganteng lagi ngapain di sini?" tanya Lastri dengan suara manja yang bikin jakun Madun turun naik.

​"Eh, Mbak Lastri. Ini baru mau lanjut kerja jadi kulinya Pak Bos," jawab Madun.

​Lastri naruh bakul jamunya. Dia nunduk sedikit buat ngambil gelas, sengaja banget bikin Madun bisa liat belahan dadanya yang putih bersih karena keringat. "Aduh, kasihan Mas Madun capek ya? Sini, Mbak kasih jamu 'Sakti Mandraguna' gratis khusus buat Mas Madun."

​"Wah, beneran gratis, Mbak?"

​"Iya, Mas. Khusus buat pria perkasa mah Mbak nggak pelit. Nih, minum sekali habis ya," Lastri nyodorin gelas. Pas Madun nerima gelas, jari-jari lentik Lastri sengaja ngelus tangan Madun.

​"Glek... glek... panas, Mbak!" seru Madun setelah minum.

​"Panasnya jamu mah cuma di tenggorokan, Mas. Nanti sore ada yang lebih panas lagi," bisik Lastri sambil ngedipin mata. "Anu, Mas Madun... kran di dapur Mbak bocor parah. Mas bisa nggak benerin jam tiga sore nanti?"

​"Kran dapur atau 'kran' yang lain nih, Las?" goda Pak Bos sambil ketawa.

​"Ah Pak Bos mah tau aja rahasia lelaki," sahut Lastri sambil benerin letak bakulnya yang bikin pinggulnya makin kelihatan menonjol. "Ditunggu ya Mas Madun jam tiga sore. Jangan telat, Mbak udah siapin yang anget-anget."

​"Waduh, Mbak Lastri kalau nawarin kran bocor begitu, besi beton saja bisa melengkung, apalagi Mas Madun," Pak Bos menyeringai, matanya nggak lepas dari pinggul Lastri yang meliuk-liuk.

​"Mas Madun kan emang ahlinya benerin yang 'bocor-bocor', iya kan Mas?" Lastri malah makin berani. Dia berdiri di depan Madun, sengaja membusungkan dadanya yang padat sampai kancing kebayanya kelihatan tegang banget mau lepas.

​Madun yang lagi duduk di lantai langsung dapet pemandangan 'surga' dari bawah. "Anu, Mbak... saya sih siap saja. Tapi kalau peralatannya kurang, saya takut nggak maksimal."

​"Peralatan Mas Madun kan sudah 'lengkap'. Mbak sudah liat sendiri tadi pas Mas jalan, ada yang menonjol-nonjol minta dilepasin," Lastri ketawa renyah. Dia ngambil lap dari pundaknya, lalu sengaja ngelap keringat di leher Madun yang berotot.

​"Las, Las... jangan godain Madun terus. Liat tuh, sarung Madun sudah kayak ada tenda pramukanya!" Pak Bos nunjuk ke arah selangkangan Madun sambil ketawa ngakak.

​Lastri malah makin mendekat, dia jongkok di depan Madun. Visualnya beneran bikin pusing; kulit pahanya yang putih mulus nyembul dari balik kain batik yang tersingkap. Bau wangi melati bercampur aroma jamu segar dari tubuh Lastri bikin hidung Madun kembang kempis.

​"Sakit ya Mas kalau tegang begitu? Sini, Mbak elus dikit biar tenang," tangan Lastri hampir nyentuh, tapi Madun langsung menghindar.

​"Jangan Mbak! Di sini ada Pak Bos!"

​"Hahaha! Sudah, lanjutin saja kalau mau dapet pemanasan!" Pak Bos makin kompor.

​Lastri berdiri lagi, benerin kain batiknya yang ketat banget di bagian pantat. "Mas Madun ini beda. Badannya item manis, dadanya bidang, lengannya berurat... Mbak bayangin kalau Mas Madun lagi manggul Mbak, pasti rasanya mantap banget."

​"Ditunggu ya Mas Sayang. Mbak pakai daster yang paling tipis deh, biar Mas gampang benerin 'krannya'. Mas nggak perlu bawa kunci inggris, cukup bawa 'linggis' Mas yang tersohor itu saja," Lastri ketawa manja sambil benerin selendangnya.

​"Siap Mbak! Saya usahain asal Mbak kuat nahan bebannya saja."

​"Mbak mah kuat, Mas. Asal Mas Madun yang di atas," Lastri ngedipin mata sekali lagi lalu pergi dengan pinggul megal-megol.

​"Dun, inget! Jam delapan malam harus ke klinik Siska! Jangan sampai keasikan di tempat Lastri terus lupa janji sama Bu Bidan!" Pak Bos mengingatkan.

​Pukul 15.00, Madun ngetuk pintu rumah Lastri. Lastri langsung buka pakai daster tipis transparan tanpa bra. Putingnya nyetak jelas di balik kain. Visualnya beneran surga; perut rata, paha mulus, dan kulit kuning langsat yang menggoda.

​"Mas Madun... masuk, Mas. Mbak sudah gerah banget nungguin," Lastri narik Madun ke kamar.

​"Loh, Mbak? Krannya di dapur kan?"

​"Dapurnya pindah ke kasur, Mas," Lastri langsung meluk Madun. Mereka mulai berciuman ganas. Sesi ini berlangsung lama karena Madun lagi 'on' gara-gara jamu.

​Jam menunjukkan pukul 18.00. Madun mulai ngeremes dada Lastri yang montok itu. Teksturnya kenyal kayak duren. Lastri mendesah kencang banget. Madun dan Lastri sudah telanjang bulat. Madun memamerkan pusaka 30 senti yang berurat dan tegang maksimal.

​"Mas... linggis kamu... ya Tuhan... ini beneran aslimu?" Lastri melotot kagum.

​Madun mulai nempel di liang Lastri. Ujung linggisnya sudah nyentuh 'pintu' yang sudah banjir itu. Lastri sudah ngangkang lebar, tangannya nyengkeram sprei.

​"Ayo Mas! Masukin! Hantam Mbak, Mas!" jerit Lastri.

​Waktu menunjukkan pukul 19.50. Madun sudah mau dorong sekuat tenaga. Kepalanya sudah masuk sedikit. Tiba-tiba Madun inget pada Bidan Siska.

​"Waduh! Jam delapan!" seru Madun.

​"Kenapa, Mas?!"

​"Mbak! Saya ada janji sama Bu Bidan Siska jam delapan tepat! Kalau saya telat, bisa gawat!" Madun langsung nyamber celananya, nggak pakai kolor, langsung lari keluar nggak peduli. Dia harus sampai ke klinik Siska tepat waktu sebelum 'meledak'!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 152: Pelukan Hangat yang Menentramkan Jiwa

    ​"Aduh, puji syukur ke hadirat alam semesta... lupakan saja seluruh bayangan awan hitam berbentuk wajah raksasa separuh dewa purba kelurahan yang sangat mengada-ada dan merusak pemandangan fajar ini, sekarang suasana di depan warung bebek betutu ini bener-bener sudah bersih total dari kepungan preman akamsi murahan tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas lega sedalam-dalamnya sambil menyeka sisa peluh jantan di pelipisnya, mencoba meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalan tangan kasarnya sukses menyapu bersih puluhan pengganggu asmara mereka pagi hari ini. ​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap sekuat beton proyek desa kelurahan. Kaos singlet hitam ketatnya yang membungkus dada bidang berotot kotak-kotak penuh urat jantan nampak bergoyang halus mengikuti hembusan angin laut Bali, memancarkan peson

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 151: Badai Hantaman di Depan Warung

    ​"Aduh, lupakan saja urusan mobil mewah anti-peluru lambang naga emas yang terlalu dibuat-buat dan fiktif mirip sinetron kelurahan itu, sekarang masalah yang bener-bener nyata di depan mata jantan saya adalah kepungan puluhan teman preman akamsi anak kampung sini yang mendadak muncul bawa balok kayu ruko, cyiiinnn!" pekik Madun langsung memasang kuda-kuda jantan kuli pasar tiga ton di depan warung bebek betutu pagi ini. Bukannya ciut nyali, Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung justru sengaja meregangkan seluruh urat leher jantannya yang kekar berotot sekuat beton proyek desa demi menghadapi gempuran massal yang menantang maut fajar hari ini.​Catherine yang melihat kepungan puluhan preman akamsi berwajah beringas itu bukannya lari bersembunyi, malah sengaja maju selangkah secara interaktif di samping Madun sambil berkacak pinggang menantang maut, membiarkan tanktop rajut mini merah mudanya yang super ketat melorot beringas terekspos angin laut Bali.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 150: Menghajar Preman Murahan

    ​"Heh, berani-beraninya lu bertiga mengganggu kenyamanan makan bebek betutu gua, apalagi mata kotor lu sengaja melotot napsu melihat gundukan harta karun kesayangan milik Madun, dasar preman ruko murahan tahu gak!" pekik Catherine melengking manja dengan mata biru yang melotot seksi penuh kobaran amarah beringas. Bukannya takut terhadap balok kayu dan rantai besi berkarat di depan mukanya, bule seksi itu justru semakin sengaja membusungkan sepasang buah dadanya yang luar biasa besar, padat, kencang, dan sangat montok menantang maut tepat di hadapan wajah sang pimpinan preman yang langsung menelan ludah beringas kelaparan siang ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung berdiri tegap dari bangku kayu warung setelah menghabiskan energi nasi empat piring penuh urat jantan sejati. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar sekuat beton proyek kelurahan nampak memancarkan pesona juragan kelontong pasar tiga ton yang siap meledakkan amukan maut demi m

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 149: Balas Dendam Kelaparan di Warung Bebek Betutu

    ​"Aduh, hancur sudah seluruh wibawa kuli pasar saya akibat urusan perut... lupakan saja drama sihir ruko remang-remang kelurahan yang membosankan itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau mengamuk beringas menghabiskan seluruh isi bakul nasi di warung makan pinggir jalan ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas lega sedalam-dalamnya sambil mengelap meja kayu dengan sapu tangan handuknya, mencoba meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kaki kekarnya sukses menapak selamat di dataran rendah fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya di atas bangku panjang. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah meskipun keroncongan, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap mengunyah apa saja demi memulihkan tenaga jantan sejati. "Nah,

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 148: Pengorbanan Cinta di Atas Altar Alam

    ​"Aduh, perut kuli pasar saya sudah menyanyikan lagu keroncongan kelurahan... setelah jebakan lubang hitam mekanis ruko remang-remang pagi tadi mendadak ambyar pecah jadi remahan biskuit akibat terhantam hawa dingin, sekarang kita malah kehabisan perbekalan makanan di puncak Gunung Agung yang ganas ini. ​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya untuk mengais semak-semak. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah meskipun sedang lemas menahan lapar, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap mengorbankan nyawa demi kelangsungan hidup sang bidadari barat. "Nah, untung saja Gusti Yang Maha Agung masih sayang sama ketulusan iman jantan Mas Madun, lihat nih kita mendadak Nemu ubi alam yang besar dan tebal di balik batu cadas ini, pas banget buat mengganjal modal ruko kelontong di dalam perut kita yang menantang maut siang ini!" ​Tanp

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 147: Hangatnya Pelukan di Puncak Tertinggi

    ​"Aduh, dinginnya kelewatan batas normal... untung saja lubang hitam mekanis ruko remang-remang yang baru meluncur tadi langsung beku ambyar jadi es batu serutan es campur kelurahan akibat hawa dingin ekstrem, sekarang kita bisa benar-benar fokus mendirikan tenda darurat di puncak Gunung Agung ini untuk tidur berpelukan demi menghangatkan diri tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas panjang hingga mengembun putih tebal di udara malam, mencoba menata debaran jantung kuli pasarnya yang kini murni dipenuhi rasa sayang yang tulus, bersih tanpa dikotori oleh napsu selangkangan liar fajar ini. ​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung merapatkan posisi matras di dalam tenda kecil. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak nampak sangat gagah dibalut kaos singlet hitam ketat yang memancarkan panas tubuh setelan pabrik kuli panggul tiga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status