ホーム / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 41: Pusaka Kuli Pasar

共有

Bab 41: Pusaka Kuli Pasar

作者: Ibrahiman
last update 公開日: 2026-05-08 09:14:48

​"Aduh, Mas Madun... ini beneran isinya daging semua? Kok rasanya kayak megang batang pohon jati yang baru ditebang?" bisik Dara dengan suara yang gemetar hebat. Tangannya yang mungil dan halus kini sedang menggenggam erat gundukan besar di balik sarung Madun.

​Madun hanya terkekeh, ia sengaja membusungkan dada bidangnya yang kecokelatan dan penuh peluh, membuat otot-otot perutnya yang kotak-kotak terlihat makin jelas di bawah lampu gudang yang temaram. "Itu namanya pusaka kuli, Dara. Kalau ngg
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 179:: Hembusan Angin di Sela Tirai

    ​"Aduh, lupakan saja banyolan konyol soal gantungan lampu hias yang bergetar and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener gak masuk akal and bikin pusing kepala itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau merapikan lilitan tirai bambu jendela ini biar hembusan angin fajar bisa masuk dengan sejuk tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah menuju ke sudut jendela kamar, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa khayalan gangguan dari pemilik warung remang-remang lintas kecamatan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengikat tali pengait jendela, membiarkan tubuh sawo matangnya yan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 178: Langkah Tegap Menuju Kamar

    ​"Aduh, abaikan saja urusan kepulan kabut asap merah muda dari lubang pot kamboja and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener mengada-ada and merusak suasana santai fajar ini, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau menuntun kamu masuk ke dalam kamar biar bisa istirahat pulas tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka lebar daun pintu kamar bungalow, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kaki kokohnya sukses memastikan pelataran taman bersih dari sisa-sisa gangguan preman ruko kelurahan subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton jembatan desa demi menjaga kenyamanan bersama.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk membimbing Catherine melewati ambang pintu, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 177: Tendangan Pamungkas di Pelataran

    ​"Aduh, abaikan saja urusan bola besi hitam kecil yang menggelinding dari kantong penjahat pingsan and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener mengada-ada itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau memastikan para bajingan ruko kelurahan ini tidak bangun lagi fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil menggeser kaki kanannya yang kokoh, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah meloloskan diri dari kepungan sisa-sisa anak buah dukun lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung mengikat kencang tali celana pendeknya untuk memastikan posisinya tetap stabil di atas rumput taman yang basah.​Madun yang memiliki postur tubuh sawo matang yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah memamerkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang sela

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 176: Baku Hantam di Pelataran Taman

    Tiga bajingan bertopeng besi ini sudah mengayunkan goloknya fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas berat sambil memiringkan tubuh tegapnya ke kiri, meresapi kembali getaran adrenalin jantannya yang murni, tegang, and siaga setelah sepasang mata tajamnya sukses menghindari sabetan senjata tajam dari anggota perserikatan pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi merubuhkan lawan.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk melepaskan satu pukulan hook kanan yang sangat telak ke rahang musuh pertama, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua ta

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 175: Ketegangan di Balik Rumpun Bambu

    ​Sekarang situasi jantan kita bener-bener sedang terancam bahaya nyata setelah saya melihat ada kepulan pergerakan asing di balik rumpun bambu pagar luar fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas berat sambil melompat turun dari ayunan, meresapi kembali getaran adrenalin jantannya yang murni, tegang, and siaga setelah sepasang mata tajamnya menangkap siluet beberapa orang mencurigakan bersenjata tajam yang mengepung halaman bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang ruko demi melindungi sang kekasih.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk menarik Catherine ke posisi aman di belakang punggung tegapnya, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap bertarung hidup mat

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 174: Guncangan Manis di Ayunan Bambu

    Guncangan Manis di Ayunan BambuMadun bener-bener cuma mau membersihkan sisa cipratan air ini sambil mengajak kamu duduk santai di atas ayunan bambu teras biar kaki kita bisa istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil menuntun lengan halus Catherine menuju sudut halaman, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa gangguan gaib kiriman dari pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk menduduki bilah bambu panjang, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan p

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 70: Gudang Kelontong Bergoyang

    ​"Mas Madun... buruan tutup pintu gudangnya! Lala udah gak tahan lihat linggis beton Mas yang menonjol gede banget di balik celana itu!" rengek Lala sambil bersandar di tumpukan karung beras.​Visual Lala di dalam gudang remang-remang itu benar-benar bikin mata pria normal langsung melotot. Tank to

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 69: Gerebekan Dua Jagoan

    ​"Madun! Ke mana aja kamu jam segini baru kelihatan batang hidungnya?!" semprot Budi begitu Madun melangkah masuk lewat pintu belakang toko kelontong.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung mengusap dahi. Kaos singlet hitamnya nampak lecek, memperlihatkan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 62: Kesurupan Kuli Pasar

    ​"Neng Lala, kok perut Mas rasanya kayak penuh sama beling? Terus linggis Mas kenapa ya, kok rasanya dingin sekali seperti habis direndam es batu?" tanya Madun sesampainya di kamar kos Lala. Wajah Madun nampak pucat, keringat dingin bercucuran dari dahi hingga ke dada bidangnya yang berotot. Ia ter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 61: Gempuran Batu Angker

    ​"Mas Madun! Tunggu, jangan jalan cepat-cepat!" teriak Lala dari balik semak-semak. Lala sore itu memakai baju kaos ketat warna merah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat padat. Celana gemesnya yang super pendek menonjolkan paha mulusnya yang putih bening dan sangat kencang. Visual paha La

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status