Share

Bab 6. Mengulang

Penulis: Faiz bellzz
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-15 12:00:00

“Kenapa reaksimu berlebihan seperti itu?”

Satu alis Jaden terangkat saat melihat reaksi Letha yang berlebihan. 

“I-itu karena ….” Letha tak sanggup melanjutkan ucapannya, sebab takut jika Jaden tersinggung.

Jaden tersenyum miring. “Kau tak percaya karena saya memiliki wajah yang tampan?” 

Dengan wajahnya yang lugu, Letha mengangguk. “Iya.” 

“Artinya kau mengakui jika saya memang tampan!” Jaden begitu percaya diri, sebab wajahnya memang tampan. 

Letha langsung menunduk malu, menyembunyikan rona merah di pipinya.

“Seorang Jaden Hazard memang tampan. Dan hanya kau yang mengetahui ketampananku, sebab seperti yang kau tahu jika orang-orang mengatakan jika aku memiliki wajah yang buruk!” 

Perlahan Letha menegakkan kepala, lalu mendongak agar bisa melihat wajah Jaden dengan jelas. 

“Jadi, Anda benar-benar Jaden Hazard?” tanya Letha memastikan. 

“Ck! Kau memang gadis keras kepala.” Jaden berdecak sambil menyentil kening Letha. 

“Ssstthhh ….” Letha meringis sambil mengusap dahinya. “Kenapa Anda menyentilku?”

“Karena kau tidak percaya kepada saya,” dengkus Jaden. “Apa saya harus memperlihatkan kartu identitasku padamu?” 

“Jika Anda tidak keberatan, saya ingin memastikannya.” 

Jaden kembali mendengus, tapi tetap mengeluarkan kartu identitasnya dari dompet. “Kau bisa melihatnya sendiri!” 

Letha ragu, tapi perempuan itu tetap melihatnya, sebab penasaran. 

“Jadi Anda benar-benar Jaden Hazard?” Letha menutup mulutnya dengan kedua bola mata yang hampir keluar. “Oh astaga ….”  

“Jadi aku berhubungan dengan Jaden Hazard?” Letha masih tak menyangka. Sebab bukan hanya terkenal dengan wajah yang buruk, tapi juga memiliki perangai yang sama buruknya!

“Yeah, kau dengan berani menggodaku. Jadi saya harus membuat perhitungan denganmu!” 

Letha langsung menunduk. Kali ini bukan rona merah yang ia sembunyikan, tapi ketakutan. 

“Mohon maafkan saya. Sungguh, saya tidak bermaksud.” Dari suaranya yang terdengar bergetar, menandakan jika Letha benar-benar takut. 

“Saya akan menerima maafmu, asal kau bersedia menjadi wanitaku.”

Perlahan Letha mendongak, menatap Jaden serius. “Andai saya menolak, apa bisa?” 

“Tentu saja tidak!” jawab Jaden cepat. 

“Lalu untuk apa Anda bertanya? Saya bahkan tidak diberi pilihan!” Letha tersenyum miris.

“Saya hanya basa-basi.” Jaden mengapit dagu Letha, lalu sedikit ditarik sebelum ia mengecup bibirnya. “Kau sendiri yang menggodaku malam itu, jadi tanggung sendiri akibatnya!” 

Kembali Jaden mencium Letha, pelan, tapi menuntut. 

“Bibirmu manis, saya menyukainya,” ucap Jaden menjeda ciumannya sambil mengusap bibir Letha yang basah karena ulahnya.

Hampir saja Letha terlena oleh perlakuan Jaden, andai ia tidak ingat jika tujuan Jaden hanya tubuhnya. 

Perempuan itu tersenyum miris, lalu menunduk dalam. 

“Kenapa senang sekali menunduk?” tanya Jaden sambil menarik dagu Letha agar kembali mengangkat kepala. “Angkat kepalamu. Wanitaku tidak boleh lemah.” 

“Jangan biarkan orang lain menindasmu. Kau tak pantas diperlakukan seperti itu,” sambung Jaden penuh tekanan.

Tapi bagi Letha, itu hal yang mustahil. “Itu tidak bisa.” 

“Tidak bisa karena kau belum mencobanya.” 

Letha menggeleng. “Aku pernah mencoba, tapi mereka tidak percaya.” 

“Kau tidak butuh mereka. Yang kau butuhkan hanya saya,” ujar Jaden dengan tegas. Tangan pria itu bergerak menarik pinggang Letha hingga tubuh mereka menjadi rapat, kemudian kembali mendaratkan ciuman yang kali ini mendapatkan sambutan baik dari Letha.

***

“Oh, astaga, seharusnya aku tidak melakukan itu.” Letha bergumam–menyesali kelakuannya yang terlena oleh perlakuan lembut, hingga membuatnya kembali berakhir tidur di ranjang yang sama dengan pria itu.

Ia kemudian menoleh ke samping, melihat Jaden yang tertidur pulas sambil memeluknya. 

Kali ini, Letha tak berusaha berpikir keras untuk  mengingat apa yang terjadi tadi malam. Sebab dengan sadar ia melakukannya dengan Jaden.  

“Aku tidak bisa terus seperti ini,” gumam Letha seraya menyingkirkan tangan Jaden yang membelit pinggangnya. “Aku harus segera pergi.” Perempuan itu berniat turun, tapi baru saja akan berusaha bangkit, tangan besar Jaden yang kokoh sudah lebih dulu menahan dan menarik pinggangnya.

“Mau pergi ke mana kau?” Suara Jaden terdengar berat dan serak. Sementara embusan napasnya langsung menerpa pundak Letha. Sehingga membuat bulu roma Letha langsung berdiri.

Perlahan Letha menoleh, dan mendapati Jaden yang masih memejamkan mata. “Tuan … tolong lepaskan saya.”  “

Jaden langsung membuka mata, hingga sorot tajam itu menyoroti wajah Letha. “Apa kau bilang?”

“Tolong, lepaskan saya.”  Letha berbicara dengan pelan dan ragu.

Senyum miring langsung tersungging di wajah Jaden yang tampan. “Sekali lagi kau mengatakan itu … kuhabisi kau!”

Glek! 

Letha menelan ludahnya susah payah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Putri Terbuang Dimanja Pangeran Tampan   Bab 119. Tamat

    "Selamat datang, Baby!"Jaden merentangkan kedua tangannya, lalu menatap Letha yang baru saja pulang ke rumah setelah beberapa hari menginap di rumah sakit. "Aku berharap ini menjadi awal yang baik untuk kita merajut kisah indah," tambah Jaden lalu mengajak Letha ke kamar. "Beberapa bulan terakhir ini, aku jarang sekali tidur di sini. Hari-hariku aku habiskan dengan bekerja dan mencari keberadaanmu. Tapi sepertinya mulai hari ini, aku akan lebih sering menghabiskan waktu di sini. Bersamamu dan anak kita," terang Jaden tak dapat menyembunyikan bagaimana bahagianya ia setelah Letha kembali.Letha yang semula diam mendengarkan pun tersenyum. Sepertinya ia semakin yakin jika perasaan Jaden kepadanya tulus, dan kejadian di beberapa bulan yang lalu adalah kesalahpahaman."Hubby, maafkan aku," ucap Letha dengan perasaan bersalah yang menelusup masuk. "Seharusnya aku mendengarkan ucapanmu sejak awal," tambahnya menatap Jaden dengan sendu.Jaden menggeleng, lalu menarik Letha ke dalam peluk

  • Putri Terbuang Dimanja Pangeran Tampan   Bab 118. Rakus

    "Letha, syukurlah kau telah sadarkan diri."Berita mengenai Letha yang sudah sadarkan diri telah sampai pada Hazard dan keluarganya. Lalu tanpa pikir panjang mereka langsung ke rumah sakit untuk memastikan secara langsung.Letha hanya membalas ucapan Jasper dengan senyuman canggung. Perempuan itu masih teringat betul bagaimana perlakuan baik Jasper padanya. Bahkan sampai membuat Jasper ikut membantunya dalam proses melarikan diri.Sayang, Letha malah memilih pergi kembali tanpa memberitahu Jasper. Sehingga membuat Letha merasa tak enak hati."Oh, ini sungguh menakjubkan!" cetus Esme menatap bayi yang sedang berada dalam gendongannya. "Bukankah sudah saatnya memberikan nama untuk bayi mungil ini?" tambahnya membuat atensi semua orang teralih.Mereka menatap ke arah Esme, lalu kepada bayi mungkil yang hobi tidur."Kau benar!" sahut Hazard, lantas menatap Jaden dan Letha secara bergantian. "Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk cucuku?" tanyanya antusias. Refleks Letha menoleh ke arah

  • Putri Terbuang Dimanja Pangeran Tampan   Bab 117. Kesempatan

    "Ayo!" Max yang melihat interaksi Jaden dan Letha pun lekas menarik tangan Risha untuk pergi dari ruang perawatan, dan membiarkan mereka berbicara berdua. Tak punya pilihan, Risha ikut. Sehingga kini, di ruangan hanya ada Letha yang menatap Jaden dengan penuh tuntutan penjelasan. "Baby," ucap Jaden menjeda ucapannya sejenak untuk menahan napas, lalu membuangnya dengan kasar. Setelahnya pria itu menatap Letha dengan serius. "Baby, dengarkan aku," pinta Jaden sambil merengkuh kedua pundak rapuh Letha. Tubuhnya yang tinggi harus dicondongkan untuk menyejajarkan wajah dengan Letha yang kini duduk bersandar.Letha diam, tak menyahut apalagi menyela. Ia hanya akan mendengarkan penjelasan dari Jaden. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikir untuk kabur saat itu. Tapi yang harus kau tahu, tidak ada yang perlu kau khawatirkan, sekalipun itu soal Serly." "Tapi saat itu ... aku mendengar jika kau telah berjanji kepada mantan kekasihmu untuk menikahinya dan mengambil anakku," ujar Letha

  • Putri Terbuang Dimanja Pangeran Tampan   Bab 116. Sadarkan diri

    "Baby, bangunlah ...." Jaden menatap wajah pucat Letha dengan sendu. Sudah tiga hari dari Letha melahirkan, tapi perempuan itu belum juga bangun. Tiga hari juga Jaden tak beranjak dari rumah sakit. Pria itu dengan setia menjaga Letha, hingga membuat Risha kadang merasa cemburu--sebab Letha menjadi perempuan beruntung yang dicintai sedemikian rupa oleh Jaden. "Letha, sebenarnya apa yang membuatmu kabur dari Tuan Jaden? Aku bahkan melihat dia begitu mencintaimu," gumam Risha pelan, tapi cukup bisa didengar oleh Max yang baru saja tiba dan berdiri di sampingnya. "Tuan Jaden memang sangat mencintai Nyonya Letha. Dia bahkan hampir gila setelah Nyonya menghilang," ujar Max membuat Risha terperanjat. Refleks perempuan itu menoleh, lalu menatap Max dengan mata yang membesar. "Maaf, sepertinya aku membuatmu terkejut," ucap Max hanya dibalas dengkusan pelan oleh Risha. Setelahnya perempuan itu memilih menjauh dari pintu ruang perawatan yang sedikit terbuka, dan duduk di kursi tunggu.

  • Putri Terbuang Dimanja Pangeran Tampan   Bab 115. Pusat kota

    "Oh, ini yang ayah tunggu-tunggu ...."Hazard menatap bayi mungil yang sedang berada dalam gendongannya dengan mata yang berbinar.Pria paruh baya itu langsung meluncur menuju rumah sakit begitu mendapatkan laporan jika Letha tengah ditemukan dan sudah melahirkan--sekalipun harus menghabiskan banyak waktu. Berikut juga dengan Esme dan Jasper."Jaden, selamat karena kau telah menjadi seorang daddy," ucap Esme hanya dibalas dengan tatapan sekilas. Perbuatan Esme yang menutupi kebenaran semakin membuat Jaden menjaga jarak dengan Esme. Bahkan kepada Jasper.Pria itu benar-benar tidak ingin lagi berurusan dengan mereka yang malah mendukung perpisahannya dengan Letha. Padahal tahu betul bagaimana gilanya Jaden tanpa Letha."Kakak, dia mirip sepertimu." Kali ini Jasper yang bersuara. Tapi lagi-lagi hanya mendapatkan tatapan sekilas dari Jaden. Sehingga membuat Jasper mendesah pelan.Sudah sering ia berusaha mencairkan hubungannya dengan Jaden yang semakin membeku. Bahkan untuk meminta maa

  • Putri Terbuang Dimanja Pangeran Tampan   Bab 114. Berjanji

    "Bukankah ini perhiasan yang Anda cari?"Jaden meneliti perhiasan yang baru saja pemiliki toko itu berikan. Memastikan jika perhiasan itu benar-benar milik mendiang ibu Letha."Ini asli," ucap Jaden setelah meyakini jika perhiasan tersebut bukanlah imitasi. Setelahnya Jaden langsung menatap pemilik toko dengan serius. "Jika boleh tahu. Siapa yang menjual perhiasan ini?" tanyanya. "Untuk hal itu saya tidak menanyakan identitasnya---" "Seharusnya kau lebih teliti!" cerca Jaden hampir frustasi. Pemilik toko bahkan sampai gemetar ketakutan saat mendapatkan cercaan dari Jaden. Sehingga Max yang melihat hal itu lekas mengambil alih agar kondisi lebih kondusif."Bukankah di sini terpasang CCTV?" tanya Max seraya mengedarkan pandangannya."Benar, Tuan.""Kalau begitu boleh kami melihatnya? Sejujurnya kami memiliki urusan penting dengan orang yang menjual perhiasan ini," terang Max lebih tenang."Tentu, Tuan." Pemilik toko kemudian mengajak Jaden dan Max untuk memeriksa CCTV di ruangan k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status