Share

Bab 136

Penulis: Lalacolla
last update Tanggal publikasi: 2026-10-01 14:57:03

Cahya tersenyum kecil dari kursi yang berada tidak jauh dari tempat Chandani dan Noval duduk. Sejak tadi, dia tidak banyak bicara. Dia hanya menjadi pendengar dalam percakapan keduanya.

Ada sesuatu yang membuat Cahya merasa hangat melihat mereka. Noval duduk di sisi ranjang rumah sakit, tubuh tingginya sedikit membungkuk agar sejajar dengan Chandani. Wajah laki-laki itu tampak tenang meskipun sesekali ada kekhawatiran yang jelas terlihat di matanya.

“Maaf, aku terus bikin kamu cemburu.” kata Ch
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 151

    “Terima kasih,” ucap Chandani datar ketika pegawai kafe mengkonfirmasi pesanan mereka. Duna memasukkan kembali kartu kreditnya ke dalam dompet. Dia semakin mendekat kearah tubuh Chandani. “Kamu menghindariku?” Chandani menatapnya sekilas. “Enggak.” “Kalau nggak menghindariku, kenapa tadi kamu langsung berbelok begitu setelah melihatku?” “Emang dari awal aku mau ke kafe.” ucapnya berbohong. “Padahal kamu tadi udah berjalan ke arah kanan. Lift ada di sebelah kanan. Kafe ke sebelah kiri.” Duna tidak ingin mengalah. “Duna, aku nggak punya kewajiban menjelaskan setiap arah langkahku ke kamu!” Kalimat itu membuat Duna terdiam sejenak. Duna memperhatikan wajah Chandani, mencari sedikit saja kelembutan yang dahulu selalu diberikan perempuan itu kepadanya. Namun, yang didapatkannya hanya tatapan tenang dengan jarak yang terasa semakin nyata. “Padahal kita masih bisa jadi teman, Chan,” katanya akhirnya. Seorang karyawan kafe memberikan dua pesanan kepada Chandan. Chandani

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 150

    Sore itu, setelah menghabiskan es krim di sebuah kedai kecil, Noval mengantarkan Chandani kembali ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, Noval sibuk mengemudikan mobil dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya sibuk mengusap sisa es krim di ujung bibir Chandani. Sesekali, laki-laki itu melirik Chandani dan tersenyum kecil.“Kenyang?” tanya Noval.Chandani mengangguk. “Kenyang. Padahal tadi aku cuma mau makan es krim, tetapi mas Noval malah beliin roti juga.”“Nggak papa dong sayang. Kalau kamu kenyang, istirahat nya juga nyaman.”Chandani terkekeh. “Padahal tadi aku sudah makan siang.”“Tapi itu kan beberapa jam yang lalu. Udah jadi tenaga. Saatnya mengisi ulang tenaga lagi.”“Kalau mas Noval keseringan belikan aku makanan. Terus aku jadi mengandalkan mas Noval gimana? .”“Lho, aku siap diandalkan dalam segala situasi. Diandalkan dalam kehidupanmu sehari-hari juga aku siap, sayang.”“Maksudnya?” tanya Chandani sedikit bingung. “Jadi suami kamu.”Chandani menoleh, mendapati Nov

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 149

    Pagi itu, klinik Griya Physio milik Chandani sudah dipenuhi pasien bahkan sebelum jam pelayanan menunjukkan pukul setengah sembilan.Suara percakapan terdengar bersahutan dari ruang tunggu. Beberapa pasien duduk di kursi yang disediakan, sementara yang lainnya menunggu giliran dengan didampingi anggota keluarga. Seorang pria paruh baya duduk di kursi roda, ditemani istrinya yang sesekali mengusap bahunya. Tidak jauh dari sana, seorang perempuan muda terlihat memegangi pinggangnya sambil menahan rasa tidak nyaman.Chandani baru saja selesai membantu seorang pasien stroke menjalani latihan berjalan ketika Rika menghampiri sambil membawa berkas pemeriksaan."Mbak, pasien HNP bed berapa?"“Bed satu aja. “Hari ini benar-benar berbeda dari biasanya. Jumlah pasien yang datang meningkat tajam. Beberapa pasien membutuhkan terapi pasca stroke untuk melatih kembali kekuatan otot dan keseimbangan tubuh. Ada pula pasien dengan hernia nukleus pulposus (HNP) yang memerlukan penanganan untuk membant

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 148

    Pukul tujuh pagi, Chandani sudah berdiri di depan cermin kamarnya. Perempuan itu merapikan seragam kerja yang dikenakannya. Rambut pendeknya diikat menjadi ekor kuda sederhana, sementara beberapa helai rambut jatuh di sisi wajahnya.Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, Chandani mengambil tas yang tergeletak di atas tempat tidur.Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Noval muncul di layar.Mas Noval ❤ : [Aku sudah di jalan. Sepuluh menit lagi sampai.]Chandani tersenyum kecil. Sejak malam sebelumnya, laki-laki itu sudah memberitahunya bahwa mereka akan sarapan bersama sebelum dirinya mulai bekerja. Noval bahkan bersikeras menjemputnya meskipun Chandani sempat menawarkan diri untuk berangkat sendiri.Chandani tidak keberatan. Justru, ada perasaan hangat yang diam-diam tumbuh setiap kali Noval menunjukkan perhatian-perhatian kecil semacam itu. Chandani segera turun ke lobi apartemen. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan lobi. Noval duduk dibalik kemudi, mengenakan kemej

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 147

    Setelah makanan mereka hampir habis, Noval tiba-tiba meraih tas selempangnya."Aku punya sesuatu buat kamu."Chandani yang sedang meminum es jeruk langsung menoleh. "Buat aku?"Noval mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna krem dengan pita putih yang melilitnya. Kotak itu diletakkan di hadapan Chandani dengan hati-hati.Mata perempuan itu membesar. "Mas Noval, apa ini?""Buka saja."Chandani menyentuh kotak tersebut, kemudian memandang Noval dengan rasa penasaran."Aku pesan dari pengrajin di Bali.""Wah…”Chandani membuka pita putih itu perlahan. Dia mengangkat tutup kotaknya, lalu terdiam ketika melihat sebuah gelang cantik yang tersusun dari butiran mutiara air tawar.Mutiara-mutiara itu memiliki warna putih lembut dengan kilau alami yang indah. Bentuknya tidak sepenuhnya seragam, justru membuat gelang tersebut terlihat unik dan elegan. Di antara rangkaian mutiara itu terdapat sebuah detail kecil berwarna keemasan dengan ukiran nama yang begitu dikenalnya.Chandani

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 146

    Bandara Internasional Yogyakarta sore itu dipenuhi kesibukan yang seolah tidak pernah berhenti. Suara pengumuman dari pengeras suara terdengar bersahutan dengan percakapan para penumpang, derap langkah orang-orang yang menyeret koper, serta suara roda bagasi yang bergesekan dengan lantai mengkilap. Di balik dinding kaca yang membentang luas, langit Yogyakarta perlahan berubah lebih gelap. Cahaya matahari sore menyusup di antara awan, menciptakan pemandangan yang indah di ujung landasan pacu. Beberapa pesawat tampak bergerak di kejauhan, sementara kendaraan penjemput silih berganti memasuki area kedatangan. Chandani berdiri tidak jauh dari pintu keluar kedatangan domestik. Perempuan itu mengenakan blus putih sederhana yang dipadukan dengan celana jeans biru. Tadi setelah selesai Home Care Nadel, Chandani cepat-cepat pulang dan mandi, Rambut pendeknya dibiarkan tergerai, sesekali bergerak tertiup angin ketika pintu otomatis terbuka dan membiarkan udara dari luar masuk. Sejak lima b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status