Share

Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan
Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan
Author: Lalacolla

Bab 1

Author: Lalacolla
last update publish date: 2026-07-09 17:33:02

Ting.. 

Chandani tersenyum melihat layar ponsel berisi notifikasi masuk ke rekening bank miliknya. Setelah itu ada sebuah pesan masuk dari kakaknya. 

Mas Auriga : [Buat beli novel]

Meskipun Chandani sudah berusia tiga puluh tahun, dan memiliki penghasilan sendiri. Setiap bulan kakaknya selalu saja mengirim uang jajan. Nominalnya memang tidak banyak, tapi Chandani sangat bersyukur. Sekalipun ada banyak manusia di dunia ini yang menyebalkan, dia masih memiliki kakak yang begitu menyayanginya. 

“Kerja, kerja, kerja. Semangat bekerja.” Chandani menyemangati dirinya sendiri. 

Lima menit kemudian Rika datang sambil membawa tiga bungkus nasi liwet. “Mbak Cahya suruh bawain nasi liwet. Tapi yang biasanya tutup.” Rika meletakkan nasi liwet di meja dapur. “Mbak Chandani sudah sarapan belum?”

Chandani menyalakan parafin dan mengatur suhunya. “Sudah sarapan roti.”

“Sarapan nasi liwet dulu mbak. Manusia Indonesia sarapan tanpa nasi mana kuat.”

“Iya, nanti aku makan.”

Rika membantu Chandani menyiapkan alat-alat fisioterapi. “Mbak, tappingnya habis ya?”

“Ada di tas. Aku sudah beli. Nanti aku ambilin.” Chandani masih sibuk memeriksa infrared. 

“Mbak, nanti mau nolongin aku nggak?”

“Nolongin apa?”

“Ikut aku homecare yuk mbak.” Rika mendekati Chandani. Dia menarik ujung seragam Chandani seperti anak kecil. “Ini pasiennya temenku. Temenku sudah masuk profesi di Solo. Jadi dia nggak bisa homecare lagi.”

Chandani masih belum menjawab. Dia terlihat sibuk menata tapping.

“Mbak, tolongin dong. Please…” Rika memohon. Dan terus memohon. 

Chandani mendesah pelan. Ada kalanya Rika memang seperti bocah yang sedikit menyebalkan. “Iya deh, iya.”

“Terima kasih mbak Chandani.” Rika memeluk Chandani erat. “I love You mbak Chan.”

“Idih.” Chandani menyentil dahi Rika dengan pelan. 

Hari ini pasien cukup ramai. Langit Jogja tampak sedikit mendung. Akhir-akhir ini, Jogja hampir setiap hari diguyur hujan deras. Chandani melakukan peregangan ringan sebelum memegang pasien.

Pasien terakhir Chandani adalah pemain futsal dengan post operasi rekonstruksi ACL. Pasien itu tampak bersemangat menjalani fisioterapi. Chandani memasang alat dan melakukan terapi latihan. Dan dalam waktu satu jam, sesi fisioterapi selesai. 

Pasien Rika dan Cahya juga sudah selesai. Mereka bertiga tampak sedikit kelelahan. Chandani mengambil es teh jumbo dari dalam kulkas. Dia juga mengambil pisang goreng yang tadi dibawa Cahya. 

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Wanita dengan tubuh kecil terlihat sedang terlentang di matras setelah menutup klinik. Angkasa Chandani Soetomo, berusia 30 tahun. Dia adalah pemilik Griya Physio. 2 tahun yang lalu, Chandani membuka klinik bersama sahabatnya - Cahya. Chandani menyelesaikan pendidikan Master Of Physiotherapy di University of Canberra, Australia.

Saat ini Chandani memilih untuk menetap di Jogja. Chandani berasal dari Salatiga. Ayah, mama serta kakak laki-lakinya berada di sana. Pertanyaan kapan menikah, membuat Chandani merasa Salatiga adalah tempat yang menyeramkan. 

"Mbak Chandani cantik." Rika mendekati Chandani yang tengah sibuk menikmati es teh jumbo

“Ada apa lagi ini?” Chandani tampak curiga. 

"Jadi berangkat kan ya?" tanyanya dengan sedikit ragu.

“Jangan mau Chan.” kini Cahya yang menjawab

"Kamu sendirian aja ua?" Chandani menggoda Rika. 

“Ah… Jangan dong mbak.” Rika menggandeng tangan Chandani. Dan meletakkan kepalanya di bahu Chandani. “Masa nggak kasihan sama adekmu yang cantik ini.”

“Sejak kapan kamu jadi adeknya Chandani. Ngaku-ngaku. Chandani nggak mau lah punya adek berisik kayak kamu.” Cahya tambah menggoda Chandani. 

“Ayo dong mbak, please.” Rika tampak memohon. “Ini kasus pasiennya cerebral palsy spastik quadriplegi dengan congenital heart disease. Aku nggak berani kalau pegang sendirian.”

"Haa." Chandani terkejut. Ini kasus yang lumayan berat. 

"Tolong lah mbak. Kalau sendiri aku kurang berani. Ayolah mbak bantu aku, please." Rika terus memohon. 

Masih belum ada jawaban. Chandani masih sibuk menghabiskan es teh jumbonya. Sedangkan Cahya sibuk memperbaiki bedaknya karena sebentar lagi akan pergi dengan pacarnya.

“Emang kamu sendiri nggak berani?” Cahya mengambil pisang goreng dari tangan Rika. 

“Nggak PD mbak kalau sendiri. Makanya minta tolong mbak Chandani nemenin.”

Chandani masih belum menjawab.

"Mau nggak mbak?" Rika masih mencoba memohon. "Mau ya mbak. Please." Rika terus merengek seperti anak kecil. 

Chandani mendesah pelan. "Ya udah deh."

"Horeeee." suara Rika melengking hingga membuat orang satu ruangan protes. “Ayo mbak berangkat sekarang. Kata temenku, ayahnya pasien ini dutam.”

“Apa itu dutam?” Chandani tampak penasaran. 

“Duda tampan.”

Chandani dan Cahya terkekeh pelan. Memang Rika ini adalah tipe orang yang konyol dan suka asal bicara. 

“Ayahnya pasien baik kok mbak.”

“Emang kamu udah ketemu?”

“Kata temenku.” Rika tampak yakin

“Kalau ternyata nggak baik gimana?”

Rika menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri, sambil menggelengkan kepala. “Baik kok, pasti baik. Kita harus positif thinking. Nanti aku traktir makan deh mbak.”

“Di Element ya?”

“Haduh, nggak nyampai mbak uang ku. Level ku masih warteg.”

“Jangan mau Chan. Rika aslinya banyak duit.”Cahya malah semakin menggoda Rika.

Ting..

Sebuah email masuk. Mata Chandani membulat melihat nama pengirim email itu. Jantungnya berdetak kencang. 

adunaorel@g***l.com : [Hai Ichan]

Chandani segera menghapus email itu. Wajahnya terlihat kesal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 92

    “Ah …” Chandani tampak kebingungan.Cahya dan Rika saling bertatapan. Mereka memilih pelan-pelan pergi meninggalkan Chandani dan Auriga. Mereka terlalu tidak tega jika harus bekerja sama membohongi Auriga. “Mas Noval itu….” Chandani tampak berpikir. “Tukang galon langganan klinik.” lagi-lagi Chandani berbohong kepada Auriga.Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita tentang Noval kepada Auriga. Auriga sudah cukup marah dengan orang yang menyerempetnya.“Kok kamu nggak cerita ke mas kalau kamu luka?” wajah Auriga tampak sedih. Membayangkan betapa adiknya itu kesakitan. Auriga selalu khawatir dengan kondisi Chandani. Chandani memiliki penyakit, dan jauh dari keluarga. Dahulu, saat Chandani di Australia, hampir setiap jam Auriga menghubunginya. Dan akhirnya membuat Chandani kesal. Hal itu Auriga lakukan karena dia khawatir dengan adik kesayangannya itu.Auriga selalu mengirim uang saku untuk Chandani. Membelikan tiket pulang dan pergi, agar Chandani lebih sering pulang

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 91

    Mas Noval : [Chan, mau makan apa?]Chandani : [Ini Cahya sudah online makanan kok mas.]Mas Noval : [Dawet mau? Ini anak kantor minta dawet Prambanan. Biar pak Rahmat antar ke klinik kamu sekalian.]Chandani : [Boleh mas, terima kasih banyak ya.]Mas Noval : [Sama-sama, cantik.]Chandani tersenyum. Noval selalu memberikan perhatian-perhatian kecil untuk Chandani. Memastikan Chandani sudah makan, adalah hal yang selalu Noval lakukan.Siang ini Chandani berbohong. Cahya belum membeli makanan karena sibuk dengan pasien. Rasanya, Chandani sungkan dengan Noval, jika Noval setiap hari memberinya makanan.Chandani tengah sibuk memilih menu makanan di aplikasi ojek online. Hingga seorang laki-laki muda mengetuk pintu kliniknya.“Selamat siang, dengan mbak Chandani?”“Iya pak.” Chandani berdiri dari kursi.“Dawet empat, nasi ayam penyet tiga ya mbak?”“Dawet aja pak. Tidak pakai nasi.”“Tadi pak Noval pesannya sama nasi ayam penyet mbak. Ini benar kok alamatnya.” Laki-laki muda itu menaruh pe

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 90

    Chandani tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Sekarang, semua pertanyaan-pertanyaan di otaknya sudah terjawab dengan jelas. Bertanya memang lebih baik, daripada hanya mengira-ngira bukan?Merek sudah sampai di parkiran klinik Chandani. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Dia juga menemani Chandani membuka klinik.Noval masih punya waktu tiga puluh menit sebelum memulai meeting dengan klien barunya.“Cahya sama Rika belum datang?” tanya Noval sambil membantu Chandani menyalakan lampu klinik.“Sebentar lagi biasanya Rika datang. Kalau Cahya memang agak lama, soalnya rumah dia agak jauh.”Noval melihat sekitarnya. Ini pertama kalinya dia memasuki klinik milik Chandani. “Kamu nyewa ruko ini?”Chandani menggelengkan kepalanya. “Bapak yang belikan. Katanya buat kado.”Noval tampak terkejut. Memberikan kado berupa ruko, bisa Noval tebak jika orang tua Chandani sangat mampu.Noval duduk di sebelah Chandani. “Boleh kamu ceritakan tentang keluargamu? Jika kamu tidak keberatan.”“Bapak

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 89

    Pagi hari, saat terbangun dari tidurnya, Chandani melihat satu bungkus kertas nasi di meja makan. Chandani membaca tulisan yang ada di sana.Tadi, habis jogging. Aku beli nasi uduk buat kamu. Tapi kamu lagi tidur. Aku nggak mau ganggu kamu tidur.“Tulisan tangannya bagus.” Chandani memuji tulisan tangan Noval yang tampak rapi.Chandani segera mengambil handphonenya. Jarinya sibuk mengetik pesan untuk Noval.Chandani : [Terima kasih sarapannya mas Noval.]Mas Noval : [Sama-sama. Kamu berangkat kerja sama siapa?]Chandani : [Naik ojek online mas.]Mas Noval : [Bareng aku aja ya? Nanti kabarin kalau sudah siap berangkat kerja.]Chandani : [Iya mas.]Nasi uduk yang Noval belikan terasa sangat nikmat. Chandani tersenyum, Noval dan perhatiannya mampu perlahan-lahan meluluhkan hati Chandani yang mengeras.Setelah berbicara banyak hal dengan Duna semalam, tidur Chandani terasa sangat nyenyak. Rasanya ada beban yang terangkat dari hatinya. Apalagi, ucapan selamat tidur cantik, dari Noval. Memb

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 88

    “Ternyata, sembilan tahun pacaran sama kamu. Aku tidak banyak tahu tentang kamu ya Chan?” Duna membelai rambut Chandani. Tapi gadis itu malah memundurkan badannya.“Aku minta maaf karena bukan pacar yang baik.”“Mantan pacar.” Chandani membenarkan kata-kata Duna.Mereka memang sudah putus tiga tahun, jadi yang benar adalah mantan pacar.Duna tertawa kecil. “Iya, mantan pacar.” Tangan Duna mencubit pelan pipi Chandani. “Kamu, kurusan ya?”“Semenjak putus sama kamu aku kurusan.” “Kamu mau masuk dulu? Kita ngobrol di dalam?”Belum sempat Chandani menjawab, Duna sudah menarik lengan Chandani. Gadis itu akhirnya memasuki unit apartemen Duna.Unit apartemen berukuran tiga puluh satu meter itu tampak kosong. Tidak ada hiasan dinding apapun. Dahulu, saat di Australia, Chandani lah yang menata unit apartemen Duna.Menghiasi dinding dengan makrame rajut benang, rak ambalan minimalis yang Chandani isi dengan pajangan lucu. Kini, apartemen Duna tampak kosong. Hanya ada televisi, satu set meja m

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 87

    Setelah berbicara tentang perasaan satu sama lain, Chandani mengantarkan Noval pulang sampai parkiran basement. Malam ini, Chandani masih belum bisa menerima perasaan Noval. Tapi, jawaban Noval sudah cukup membuatnya bahagia. Noval akan menunggunya, hingga hatinya siap.Pintu lift terbuka di lantai empat. Seorang laki-laki tengah tersenyum dan berdiri di depan pintu unit apartemen. Duna, sedang menunggunya.“Hai.” sapa Duna sambil tersenyum.“Aku belikan martabak buat kamu.” Duna memberikan kantong plastik putih berisi martabak telur.“Aku tadi ketemu teman-teman kuliah dulu. Kamu ingat Arjuna? Dia sekarang kelihatan berbeda banget setelah pengobatan kanker nasofaring.”Arjuna adalah teman baik Duna waktu kuliah. Mereka sangat akrab. Dahulu, Chandani sering kumpul bersama teman-teman Duna.“Tadi, kamu dapat salam dari Arumi. Katanya, dia pengen ketemu kamu. Arumi sudah punya anak satu sekarang.”Ketika Chandani pergi ke fakultas ekonomi bisnis, Arumi menyambutnya dengan sangat baik. A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status