공유

Bab 92

작가: Lalacolla
last update 게시일: 2026-08-24 22:48:55

“Ah …” Chandani tampak kebingungan.

Cahya dan Rika saling bertatapan. Mereka memilih pelan-pelan pergi meninggalkan Chandani dan Auriga. Mereka terlalu tidak tega jika harus bekerja sama membohongi Auriga.

“Mas Noval itu….” Chandani tampak berpikir. “Tukang galon langganan klinik.” lagi-lagi Chandani berbohong kepada Auriga.

Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita tentang Noval kepada Auriga. Auriga sudah cukup marah dengan orang yang menyerempetnya.

“Kok kamu nggak cerita k
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 92

    “Ah …” Chandani tampak kebingungan.Cahya dan Rika saling bertatapan. Mereka memilih pelan-pelan pergi meninggalkan Chandani dan Auriga. Mereka terlalu tidak tega jika harus bekerja sama membohongi Auriga. “Mas Noval itu….” Chandani tampak berpikir. “Tukang galon langganan klinik.” lagi-lagi Chandani berbohong kepada Auriga.Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita tentang Noval kepada Auriga. Auriga sudah cukup marah dengan orang yang menyerempetnya.“Kok kamu nggak cerita ke mas kalau kamu luka?” wajah Auriga tampak sedih. Membayangkan betapa adiknya itu kesakitan. Auriga selalu khawatir dengan kondisi Chandani. Chandani memiliki penyakit, dan jauh dari keluarga. Dahulu, saat Chandani di Australia, hampir setiap jam Auriga menghubunginya. Dan akhirnya membuat Chandani kesal. Hal itu Auriga lakukan karena dia khawatir dengan adik kesayangannya itu.Auriga selalu mengirim uang saku untuk Chandani. Membelikan tiket pulang dan pergi, agar Chandani lebih sering pulang

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 91

    Mas Noval : [Chan, mau makan apa?]Chandani : [Ini Cahya sudah online makanan kok mas.]Mas Noval : [Dawet mau? Ini anak kantor minta dawet Prambanan. Biar pak Rahmat antar ke klinik kamu sekalian.]Chandani : [Boleh mas, terima kasih banyak ya.]Mas Noval : [Sama-sama, cantik.]Chandani tersenyum. Noval selalu memberikan perhatian-perhatian kecil untuk Chandani. Memastikan Chandani sudah makan, adalah hal yang selalu Noval lakukan.Siang ini Chandani berbohong. Cahya belum membeli makanan karena sibuk dengan pasien. Rasanya, Chandani sungkan dengan Noval, jika Noval setiap hari memberinya makanan.Chandani tengah sibuk memilih menu makanan di aplikasi ojek online. Hingga seorang laki-laki muda mengetuk pintu kliniknya.“Selamat siang, dengan mbak Chandani?”“Iya pak.” Chandani berdiri dari kursi.“Dawet empat, nasi ayam penyet tiga ya mbak?”“Dawet aja pak. Tidak pakai nasi.”“Tadi pak Noval pesannya sama nasi ayam penyet mbak. Ini benar kok alamatnya.” Laki-laki muda itu menaruh pe

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 90

    Chandani tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Sekarang, semua pertanyaan-pertanyaan di otaknya sudah terjawab dengan jelas. Bertanya memang lebih baik, daripada hanya mengira-ngira bukan?Merek sudah sampai di parkiran klinik Chandani. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Dia juga menemani Chandani membuka klinik.Noval masih punya waktu tiga puluh menit sebelum memulai meeting dengan klien barunya.“Cahya sama Rika belum datang?” tanya Noval sambil membantu Chandani menyalakan lampu klinik.“Sebentar lagi biasanya Rika datang. Kalau Cahya memang agak lama, soalnya rumah dia agak jauh.”Noval melihat sekitarnya. Ini pertama kalinya dia memasuki klinik milik Chandani. “Kamu nyewa ruko ini?”Chandani menggelengkan kepalanya. “Bapak yang belikan. Katanya buat kado.”Noval tampak terkejut. Memberikan kado berupa ruko, bisa Noval tebak jika orang tua Chandani sangat mampu.Noval duduk di sebelah Chandani. “Boleh kamu ceritakan tentang keluargamu? Jika kamu tidak keberatan.”“Bapak

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 89

    Pagi hari, saat terbangun dari tidurnya, Chandani melihat satu bungkus kertas nasi di meja makan. Chandani membaca tulisan yang ada di sana.Tadi, habis jogging. Aku beli nasi uduk buat kamu. Tapi kamu lagi tidur. Aku nggak mau ganggu kamu tidur.“Tulisan tangannya bagus.” Chandani memuji tulisan tangan Noval yang tampak rapi.Chandani segera mengambil handphonenya. Jarinya sibuk mengetik pesan untuk Noval.Chandani : [Terima kasih sarapannya mas Noval.]Mas Noval : [Sama-sama. Kamu berangkat kerja sama siapa?]Chandani : [Naik ojek online mas.]Mas Noval : [Bareng aku aja ya? Nanti kabarin kalau sudah siap berangkat kerja.]Chandani : [Iya mas.]Nasi uduk yang Noval belikan terasa sangat nikmat. Chandani tersenyum, Noval dan perhatiannya mampu perlahan-lahan meluluhkan hati Chandani yang mengeras.Setelah berbicara banyak hal dengan Duna semalam, tidur Chandani terasa sangat nyenyak. Rasanya ada beban yang terangkat dari hatinya. Apalagi, ucapan selamat tidur cantik, dari Noval. Memb

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 88

    “Ternyata, sembilan tahun pacaran sama kamu. Aku tidak banyak tahu tentang kamu ya Chan?” Duna membelai rambut Chandani. Tapi gadis itu malah memundurkan badannya.“Aku minta maaf karena bukan pacar yang baik.”“Mantan pacar.” Chandani membenarkan kata-kata Duna.Mereka memang sudah putus tiga tahun, jadi yang benar adalah mantan pacar.Duna tertawa kecil. “Iya, mantan pacar.” Tangan Duna mencubit pelan pipi Chandani. “Kamu, kurusan ya?”“Semenjak putus sama kamu aku kurusan.” “Kamu mau masuk dulu? Kita ngobrol di dalam?”Belum sempat Chandani menjawab, Duna sudah menarik lengan Chandani. Gadis itu akhirnya memasuki unit apartemen Duna.Unit apartemen berukuran tiga puluh satu meter itu tampak kosong. Tidak ada hiasan dinding apapun. Dahulu, saat di Australia, Chandani lah yang menata unit apartemen Duna.Menghiasi dinding dengan makrame rajut benang, rak ambalan minimalis yang Chandani isi dengan pajangan lucu. Kini, apartemen Duna tampak kosong. Hanya ada televisi, satu set meja m

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 87

    Setelah berbicara tentang perasaan satu sama lain, Chandani mengantarkan Noval pulang sampai parkiran basement. Malam ini, Chandani masih belum bisa menerima perasaan Noval. Tapi, jawaban Noval sudah cukup membuatnya bahagia. Noval akan menunggunya, hingga hatinya siap.Pintu lift terbuka di lantai empat. Seorang laki-laki tengah tersenyum dan berdiri di depan pintu unit apartemen. Duna, sedang menunggunya.“Hai.” sapa Duna sambil tersenyum.“Aku belikan martabak buat kamu.” Duna memberikan kantong plastik putih berisi martabak telur.“Aku tadi ketemu teman-teman kuliah dulu. Kamu ingat Arjuna? Dia sekarang kelihatan berbeda banget setelah pengobatan kanker nasofaring.”Arjuna adalah teman baik Duna waktu kuliah. Mereka sangat akrab. Dahulu, Chandani sering kumpul bersama teman-teman Duna.“Tadi, kamu dapat salam dari Arumi. Katanya, dia pengen ketemu kamu. Arumi sudah punya anak satu sekarang.”Ketika Chandani pergi ke fakultas ekonomi bisnis, Arumi menyambutnya dengan sangat baik. A

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status