Dinikahi CEO Pilihan Ayah, Kini Mantanku Menyesal

Dinikahi CEO Pilihan Ayah, Kini Mantanku Menyesal

Von:  Ananta SariGerade aktualisiert
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Nicht genügend Bewertungen
50Kapitel
15Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

POV 3

Drama

Bos / CEO

Mandiri

Cinta Setelah Menikah

Cinta Sejati

Seraphine Lorianto menemani Vesper Radian merintis usaha dari nol selama tiga tahun. Tepat ketika mereka akan melangkah ke jenjang pernikahan, dia tidak sengaja mengetahui bahwa Vesper sudah berselingkuh di belakangnya selama dua tahun. Pria yang selalu mengaku mencintainya itu, bahkan berkata seenaknya, "Dia sudah tua. Bunga secantik apa pun kalau dilihat terus-terusan pasti akan membosankan." "Selain aku, memangnya siapa lagi yang mau sama dia?" "Aku masih mau membujukmu dan menikahimu, jadi kamu harus menurut dan tahu berterima kasih padaku." Baru diberi sedikit kelonggaran, sudah berani kurang ajar? Pria yang sudah kotor hanya pantas dibuang ke tempat sampah. Tanpa sedikit pun rasa berat hati, Seraphine berbalik dan pergi. Dia pulang untuk mewarisi bisnis keluarganya dan menikah dengan penguasa keluarga konglomerat papan atas. Setelah kehilangan segalanya, si bajingan akhirnya sadar. Dia berlutut di depan rumah Seraphine dan memohon agar mereka kembali bersama. "Seraphine, aku mencintaimu. Ayo kita menikah." Sebelum Seraphine sempat menjawab, Evander sudah merangkul pinggang rampingnya. Dengan tatapan merendahkan dan sikap posesif, dia mengingatkan dengan nada masam, "Sayang, menikah dengan dua orang sekaligus itu melanggar hukum!"

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1

Menjelang hari pernikahan, Vesper tiba-tiba menghilang. Seraphine sudah mencarinya ke seluruh kota, tetapi tetap tidak berhasil menemukannya. Saat tubuh dan pikirannya sudah kelelahan, dia menerima sebuah pesan anonim.

[ Vesper ada di Kota Southa. ]

Di bawahnya terlampir lokasi yang sangat rinci.

Malam itu juga, Seraphine langsung terbang ke sana. Dia akhirnya menemukan Vesper di sebuah kelab bisnis di Kota Southa.

Pintunya tidak tertutup rapat. Pria berjas rapi itu duduk di tengah sofa dengan dikelilingi beberapa orang. Kedua kakinya bersilang, tubuhnya bersandar santai di sofa sambil mengisap dan mengembuskan asap rokok dengan lihai.

Seorang temannya mengangkat gelas untuk bersulang.

"Vesper, tiga hari lagi kamu dan Seraphine menikah. Selamat ya, akhirnya dapat juga wanita cantik!"

Seraphine pernah mendengar bahwa sebagian pria akan merasa takut dan cemas menjelang pernikahan. Mereka membutuhkan waktu dan ruang untuk menenangkan serta menata perasaan mereka.

Mungkin Vesper juga seperti itu.

Baru saja rasa iba muncul di hatinya, suara tak acuh pria itu terdengar dari dalam.

"Waktu itu aku menerima lamarannya cuma karena terdesak dan nggak punya pilihan. Tapi setelah kupikirkan baik-baik, dia sama sekali nggak bisa membantu karierku. Memang dia cukup cantik, tapi bunga secantik apa pun pasti akan membosankan kalau dipandangi terlalu lama."

Seraphine sudah berusia 23 tahun. Beberapa tahun lagi kecantikannya akan memudar, tentu tidak bisa dibandingkan dengan gadis berusia 18 tahun yang masih muda, segar, dan menggairahkan.

"Jangan-jangan kamu mau batalin pernikahan?"

"Wanita nggak boleh terlalu dimanjakan! Dia berani memaksaku menikah, jadi aku harus ngasih dia sedikit pelajaran. Kalau nggak, mana mungkin aku masih punya kebebasan setelah menikah nanti?"

"Kamu memang pintar mengendalikan wanita. Dia cuma wanita biasa yang sudah menemanimu selama tiga tahun. Mana mungkin dia rela meninggalkanmu sekarang setelah kamu sukses?"

Temannya kemudian memandang wanita yang duduk di samping Vesper dan menggoda, "Kalau aku ditemani wanita secantik dan seandal Amaris, yang begitu dekat dan memahami diriku luar dalam, aku juga pasti nggak akan rela melepaskannya."

Vesper menoleh dan mengecup pipi Amaris yang lembut. Gayanya tampak begitu genit.

"Kalau iri, cari saja satu untuk dirimu sendiri."

Amaris langsung bersandar manja dalam pelukan Vesper, lalu memukul dadanya dengan malu-malu. "Ih, nyebelin! Kamu bisanya cuma godain aku!"

Keduanya terang-terangan bermesraan seolah tidak ada orang lain di sana. Teman-temannya pun sudah terbiasa melihatnya, yang berarti ini jelas bukan pertama kalinya mereka bersikap seperti itu.

"Amaris, kamu sudah lama sama Vesper. Nggak pernah kepikiran untuk mengambil posisi sebagai istrinya?"

Amaris menatap Vesper dengan penuh kasih dan kekaguman. "Asalkan bisa bersama Vesper, aku nggak peduli soal status."

Dibandingkan dengan Seraphine yang memaksa Vesper menikah, Amaris terlihat jauh lebih penurut dan pengertian. Vesper sangat menikmati tatapan penuh kekaguman dari gadis muda itu.

Saat melihat sosok di depan pintu yang tampak nyaris limbung, bibir Amaris sedikit terangkat. Lengan rampingnya semakin erat melingkari leher Vesper, sementara suaranya terdengar manja dan lembut.

"Vesper, kamu benar-benar nggak mau datang ke pernikahanmu? Memangnya nggak masalah? Gimana kalau Kak Seraphine marah lalu memutuskan hubungan denganmu ...."

"Dia nggak berani! Selain aku, memangnya siapa lagi yang mau sama dia?" jawab Vesper penuh keyakinan.

Asap putih mengepul di sekelilingnya, membuat wajah tampannya terlihat samar.

Ujung jari Seraphine mencengkeram telapak tangannya. Darah di seluruh tubuhnya seakan membeku dan hawa dingin merambat hingga ke tulang.

Dulu, ayah Seraphine ingin menjodohkannya dengan Keluarga Danuarta. Seraphine tidak mau hidupnya diatur begitu saja. Dia juga tidak ingin menjalani pernikahan hambar dengan seorang suami yang hanya saling menghormati, sementara tidak ada cinta di antara mereka. Karena itulah, dia mengemasi barang-barangnya dan kabur dari rumah malam itu juga demi mencari cinta sejati.

Siapa sangka, baru saja dia selesai menyewa tempat tinggal, beberapa pemuda berandalan sudah mengincarnya dan berniat merampas uang sekaligus menodainya.

Pada saat genting, Vesper muncul dan menyelamatkannya.

Pemuda kurus yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam itu menghadapi tiga orang sekaligus dan berhasil mengusir mereka. Meski tubuhnya sendiri penuh luka, dia tetap menenangkan Seraphine yang ketakutan dengan suara lembut.

Sambil menangis, Seraphine mengobati luka-lukanya. Setelah mengetahui Vesper sedang mencari tempat tinggal di sekitar sana, dia pun menyewakan salah satu kamar kepadanya dengan harga murah.

Vesper lembut dan perhatian, rajin bekerja, pandai memasak, dan selalu memperlakukannya dengan sangat baik.

Seiring berjalannya waktu, keduanya pun resmi berpacaran.

Seraphine tidak tega melihat Vesper bekerja terlalu keras. Namun, dia juga tidak ingin melukai harga diri pria itu. Jadi, diam-diam dia meminta seseorang menginvestasikan sejumlah modal untuk usaha Vesper agar pria itu bisa mewujudkan ambisinya.

Vesper pun tidak mengecewakannya. Hanya dalam tiga tahun, dia berhasil membawa Grup Hurricane melantai di bursa saham.

Pada hari perusahaan itu resmi melantai di bursa, Seraphine diam-diam menyewa seluruh restoran dan membeli cincin berlian, lalu melamar Vesper di depan banyak orang.

Selama ini, dia mengira Vesper sama bahagia dan bersemangatnya dengan dirinya. Namun, ketika mengingat kembali detail-detail kecil yang dahulu dia abaikan ....

Ternyata Vesper sama sekali tidak ingin menikahinya. Sebaliknya, pria itu menganggap Seraphine sedang memaksanya menikah.

Seraphine mendorong pintu dan masuk. Setelah sosoknya terlihat jelas, ruang privat yang semula ramai mendadak senyap. Senyum santai di wajah Vesper seketika menghilang. Dengan panik, dia mendorong Amaris dari pelukannya.

"Seraphine, kok kamu ada di sini?"

Dia melangkah maju dan hendak meraih tangan Seraphine, tetapi Seraphine mundur untuk menghindarinya.

"Kalau aku nggak ke sini, mana mungkin aku bisa mendengar isi hatimu yang sebenarnya?"

Seraphine menahan perih di hatinya. Dengan mata memerah, dia menatap lurus ke arah Vesper. "Kalau memang nggak mau menikah, kamu bisa bilang ke aku. Aku nggak akan memaksamu."

Vesper buru-buru menjelaskan, "Ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Kamu salah paham."

Dia memberi isyarat kepada teman-temannya dengan tatapan mata. Mereka pun satu per satu meninggalkan ruangan.

Amaris berjalan paling belakang. Ketika melewati Seraphine, bibirnya melengkung membentuk senyum provokatif.

"Hubungan Kak Seraphine dan Pak Vesper benar-benar mesra ya. Ke mana pun Pak Vesper pergi, Kak Seraphine selalu mengikuti ...."

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Seraphine sudah mengangkat tangan dan menamparnya. "Kamu pikir kamu siapa? Memangnya kamu punya hak untuk ikut bicara soal masalah aku dan dia?"

Amaris memegangi pipinya sambil menatap Vesper dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya yang memelas membuat siapa pun mudah merasa iba.

"Pak Vesper ...."

"Seraphine, kalau kamu marah, lampiaskan saja ke aku. Jangan menyeret orang yang nggak bersalah." Wajah tampan Vesper menegang. Tanpa sadar, dia berdiri di depan Amaris untuk melindunginya.

Adegan itu terasa begitu menusuk di mata Seraphine. Dia mengepalkan jemarinya yang gemetar dan berpura-pura tenang.

"Sejak kapan?"

Vesper menarik dasinya sedikit, suaranya terdengar menyiratkan emosi yang tertahan.

"Kita sudah melewati suka duka bersama selama tiga tahun. Apa kamu bahkan nggak punya sedikit kepercayaan padaku?"

Justru karena terlalu percaya, Seraphine tidak pernah mencurigainya sedikit pun.

Tatapan mengejek muncul di matanya dan dia tersenyum tipis. "Kamu berani membuktikannya?"

"Kamu mau aku buktiin gimana?"

"Pecat dia."

"Nggak bisa. Dia nggak melakukan kesalahan serius apa pun. Kalau aku memecatnya begitu saja, apa kata orang nanti?"

Vesper langsung menjawab tanpa berpikir. Dia mencengkeram bahu Seraphine, lalu berkata dengan suara berat, "Seraphine, kehidupan kita baru saja mulai membaik. Bisa nggak kamu berhenti curiga tanpa alasan? Aku bekerja sekeras ini juga demi masa depan kita yang lebih baik. Aku dan Amaris nggak punya hubungan apa-apa. Kenapa kamu sembarangan mencemarkan nama baik seorang gadis?"

Nada bicaranya sengaja ditinggikan, tetapi justru semakin memperlihatkan rasa bersalah yang berusaha dia sembunyikan. Semakin keras dia berdalih, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang ingin ditutupinya.

Seraphine menatapnya dengan linglung. Mendengar Vesper malah menyalahkannya, dia justru merasa semua ini sangat menggelikan.

Pria yang berbohong ibaratnya tembok penuh retakan. Sehebat apa pun dia mencoba menambalnya, celah-celah itu tetap tidak bisa disembunyikan.

Pemuda yang dulu hanya memandang dirinya ini, sudah lama kehilangan jati diri di tengah gemerlap dunia bisnis. Dia sudah mengkhianatinya dan tenggelam dalam segala hasrat duniawi.

Tatapan Seraphine sempat kehilangan fokus. Dia menahan rasa perih di hatinya.

"Terserah kamu mau mikir apa. Pilih salah satu."

Bagaimanapun, mereka sudah bersama selama bertahun-tahun. Seraphine masih ingin memberinya satu kesempatan terakhir. Namun pada akhirnya, Vesper tetap mengecewakannya.

"Aku nggak mau ikut-ikutan kegilaanmu dan menyeret orang yang nggak bersalah. Ris sangat kompeten dan sudah banyak membantuku. Perusahaan nggak bisa jalan tanpa dia."

Ris ....

Akrab sekali panggilannya.

Yang sebenarnya tidak bisa jalan tanpa Amaris itu perusahaannya atau malah Vesper sendiri?

Tiba-tiba Seraphine tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Rasanya sudah tidak ada gunanya.

Saat melihat Seraphine hendak pergi, Vesper langsung mencengkeram lengannya. Kemarahan terlihat jelas di matanya. "Kalau kamu nggak minta maaf hari ini, pernikahan kita minggu depan dibatalkan."

Seraphine bertanya pelan, "Menurutmu pernikahan itu masih perlu dilangsungkan?"

Tanpa memedulikan ekspresi Vesper, Seraphine berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.

Setelah masuk ke dalam mobil, seluruh kekuatannya seakan terkuras. Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya mengalir. Dia merasa semua ketulusan dan pengorbanannya selama tiga tahun ini benar-benar sia-sia.

Persetan dengan cinta sejati.

Dalam perjalanan menuju bandara, Seraphine menatap gemerlap lampu neon yang melintas cepat di balik jendela. Dia menghubungi nomor yang sudah lama tidak pernah diteleponnya.

Ketika panggilan tersambung, dia berkata pelan, "Ayah, aku menyesal. Aku bersedia pulang dan menerima perjodohan itu. Beri aku waktu seminggu untuk mengakhiri semuanya!"

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
50 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status