MasukChandani menghentikan mobilnya di pos satpam. Dia membuka kaca mobil lalu seorang satpam yang usianya sudah tidak muda lagi menghampirinya. Wajah satpam itu terlihat ceria. Chandani memperkenalkan diri dan mengatakan dirinya menuju rumah C7.
Chandani dan Rika takjub dengan kompleks perumahan elit yang tidak jauh dari bandara ini. Pepohonan yang rindang, dan taman-taman yang cantik memanjakan mata. Rumah-rumah di sini juga tampak luas dengan konsep modern. Sudah bisa Chandani duga jika rumah disini harganya sangat mahal. Rumah dua lantai dengan halaman yang ditanami kaktus dan dua buah kursi santai berjejer rapi membuat Chandani tertarik. Dari rumahnya, terlihat pemiliknya adalah orang yang rapi. Seorang wanita paruh baya memakai daster bunga-bunga membukakan pintu lalu menghampiri Chandani dan menyuruh mereka untuk duduk di dalam. “Sebentar ya mbak, Saya panggilkan pak Noval dulu.” Chandani dan Rika duduk bersebelahan di kursi ruang tamu. Mata Chandani melihat ke sekeliling rumah. Tak banyak hiasan di ruang tamu. Chandani tertarik dengan lukisan abstrak besar yang berada di depannya. “Selamat sore.” seorang laki-laki bertubuh tinggi memakai kemeja warna cream dan celana hitam menghampiri mereka. Laki-laki itu tampak tampan dan rapi. "Selamat sore.” jawab Chandani dan Rika bersamaan. “Yang namanya mbak Rika yang mana ya?” Rika menjawab dengan mengangkat tangannya. “Saya pak. Kalau ini senior saya. Namanya mbak Chandani.” " Salam kenal ya mbak Chandani dan mbak Rika. Nama saya Noval, saya papanya Nadel.” Noval mengajak dua gadis itu berjabat tangan. “Saya harus ke kantor sebentar. Nanti sama mama saya ya?” Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Chandani dan Rika. Setelah Noval berpamitan, Chandani dan Rika menuju ruang terapi. Noval - papa Nadel, membuat satu kamar khusus ruang terapi. Di sana ada matras dan cermin besar. Serta beberapa alat terapi yang lengkap. Selain itu, ada banyak mainan dan buku milik Nadel. Remita - nenek Nadel, duduk sambil memangku cucu kesayangannya itu. “Saya neneknya Nadel. Nama saya Remita.” Chandani dan Rika berjabat tangan dan tersenyum ramah. Nenek Nadel masih terlihat sangat cantik. “Nadel ini, lahir prematur 30 minggu. Masuk NICU selama dua bulan. Mama Nadel meninggal setelah melahirkan. Satu minggu di ICU dan tidak terselamatkan.” “Maaf tante, riwayat kehamilannya mendiang mama Nadel bagaimana ya?” Chandani bertanya, karena ini adalah bagian dari anamnesis pasien. “Waktu trimester pertama, mual muntah parah. Jadinya malah kurang nutrisi. Trimester kedua membaik. Terus trimester ketiga, mamanya Nadel terkena infeksi virus rubella. Waktu melahirkan terkena eklamsia. Tiba-tiba kejang, jadi harus operasi CITO. Nadel lahir tidak langsung menangis. Terus kejang, akhirnya masuk NICU.” Mata Chandani tertuju pada anak kecil yang terlihat sangat cantik meskipun selang NGT terpasang di hidungnya. Sepertinya, Nadel sangat mirip dengan mendiang mamanya. “Tante, selain fisioterapi, Nadel juga terapi wicara ya?” tanya Chandani sambil mengajak Nadel bermain. “Iya mbak. Nadel terapi wicara seminggu tiga kali. Soalnya ada gangguan menelan juga. Kasihan mbak ayahnya Nadel.” “Kenapa tante?” kini giliran Rika yang bertanya. “Ayahnya Nadel harus jadi duda di usia muda. Waktu istrinya meninggal dan Nadel masuk NICU, Noval jadi kayak hidup tapi tidak hidup.” Chandani paham maksud tante Remita. Manusia mana yang tidak akan terpukul jiwanya ketika kehilangan istri tercinta dan harus menghadapi kenyataan buruk bahwa anaknya pun sedang berjuang hidup di NICU. Dengan banyaknya peralatan yang Noval sediakan, Chandani bisa menilai jika Noval sangat mencintai anaknya. Chandani mulai memeriksa refleks primitif Nadel. Lalu mencatat di buku pasien. Chandani juga memeriksa skala ashworth untuk memeriksa spastisitas Nadel. Nadel hari ini cukup kooperatif. Anak itu terlihat tenang dan terus tertawa. Mungkin karena Chandani pintar mengambil hati Nadel. Nadel sedang berdiri di standing frame, kaki anak itu terpasang AFO. Chandani dan Rika terus mengajak Nadel bermain dengan boneka agar tidak bosan. “Rika, aku ke kamar mandi dulu ya. Kebelet ini.” Mata Chandani tertuju pada kamar mandi di sudut ruangan. Tanpa pikir panjang dia langsung memasuki kamar mandi. Betapa terkejutnya dia ketika ingin keluar, pintu kamar mandi yang berbentuk bulat itu tidak bisa dibuka. Chandani menggedor pintu dengan kuat. Berharap ada seseorang yang mendengarkannya. "Halo, siapapun di luar saya terkunci di dalam kamar mandi." Sepertinya tidak ada orang di luar. Chandani lagi-lagi menggedor pintu dengan keras. “Tolong siapapun yang di luar, saya kekunci di kamar mandi.” Usaha Chandani tidak sia-sia. Pintu kamar mandi terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tinggi berdiri di depan kamar mandi dengan tangan kotor karena tanah. "Terima kasih ya pak Noval.” “Mbak Chandani lama kekunci di kamar mandi?” “Tidak kok pak.” “Mbak Chandani tidak baca tulisan di pintu ya?” Chandani baru sadar jika ada tulisan di pintu kamar mandi. “Tadi saya tidak baca pak. Saya sudah kebelet soalnya.” Noval memperhatikan wajah Chandani yang tampak manis dengan lesung pipinya. “Saya permisi sebentar pak, Nadel masih di standing frame sama Rika.” Chandani segera berjalan menuju ruang terapi. Dia mengeluarkan Nadel dari standing frame. Noval segera menggendong Nadel dan menciumnya. "Kok lama mbak?” tanya Rika. " Kekunci di kamar mandi.” Rika tertawa pelan, dan Chandani segera menyenggol lengan Rika. “Hus.” "Saya sudah transfer ya mbak untuk biaya fisioterapinya." Rika melihat notifikasi m-banking di layar handphone nya. "Ini kebanyakan pak Noval. Seperti perjanjian awal saja." "Kalian kan dua orang?" "Pembayaran tetap satu orang saja pak. Tadi saya cuma nemenin Rika saja kok." giliran Chandani yang menjawab. "Saya transfer uangnya pak?" "Tidak usah. Buat kedatangan besok lagi saja." "Terima kasih pak Noval." jawab Rika dan Chandani bersamaan. "Hati-hati ya pulangnya. Terima kasih untuk hari ini. Oh iya, mbak Chandani. Jangan kekunci di kamar mandi lagi ya.” tidak tahu kenapa, Noval ingin menggoda Chandani. Mendengar hal itu membuat wajah Chandani merah karena malu. Dia tersenyum dan segera mengajak Rika pergi.Mengingat bagaimana ekspresi Noval saat cemburu tadi, membuat Chandani ingin tertawa. Laki-laki itu berubah menjadi pendiam, tidak peduli kepadanya, dan tentu saja sedikit cemberut. Gerakan kakinya yang cepat ke sana ke sini, mata yang enggan menatapnya. Membuat Chandani, merasa sedikit gemas, dengan Noval.Ternyata laki-laki itu kalau cemburu, lucu ya? Batin Chandani.Chadani segera memeluk Noval dengan erat. “Tidak apa-apa kok mas Noval. Kalau mas Noval tadi cemburu. Berarti mas Noval memang suka sama aku.” Chandani lalu melepaskan pelukannya.Sepuluh jemari Noval mencengkram kedua bahu Chandani, dengan pelan. “Tentu saja aku suka sama kamu. Kalau nggak suka, ya aku nggak akan kayak gini.”“Kayak gini gimana?” Chandani penasaran.“Ya, kayak begini. Setiap hari mikirin kamu. Pengen selalu ketemu kamu. Rasanya aku selalu ingin di dekat kamu. Baru beberapa menit nggak ketemu kamu, rasanya rindu sekali.”“Contohnya kayak sekarang. Aku baru saja ketemu kamu, tapi kalau sampai rumah. Aku
Siang ini, niat awal Noval adalah pergi ke apartemen Chandani. Karena jamur dan usus krispi di Laguna tadi sangat lezat. Noval ingin mengantarkan jamur dan usus krispi untuk camilan Chandani. Lalu kembali ke kantor. Tapi, dia malah melihat adegan yang membuat hatinya mendidih. Duna - laki-laki menyebalkan itu memeluk Chandani. Dan yang lebih membuatnya cemburu adalah, Chandani diam tidak memberontak. Padahal beberapa hari yang lalu, saat Duna memegang tangannya, Chandani langsung berontak . Kenapa kali ini tidak? Noval seperti merasa satu langkah kehilangan Chandani.Noval meninggalkan apartemen Chandani dengan perasaan campur aduk. Noval berpikir, lebih baik dia kembali ke kantor sekarang. Saat dia mulai berjalan menjauh, suara seorang wanita membuatnya berhenti.“Mas Noval.” Chandani memanggil namanya, lalu berlari.Dahulu, Noval merasa sedikit geli. Saat melihat sebuah adegan di drama, saat seorang pemeran utama wanita berlari ke arah pemeran utama laki-laki. Tapi kali ini, saat m
Dengan penuh tenaga, Chandani akhirnya mendorong tubuh Duna. Sedikit hentakan, membuat kakinya terasa sakit. Napas Chandani memburu karena menahan rasa sakit di kakinya dan juga menahan emosinya.“Udah gila kamu ya!” Chandani menahan diri untuk tidak mengumpat Duna. laki-laki, sialan! Umpat Chandani dari dalam hati.Saat akan memasuki apartemen. Duna menghalangi Chandani. Dia kembali mencoba memeluk Chandani dengan paksa.“Iya, aku sudah gila. Aku gila karena kamu Chan!”“Duna!” Chandani mencoba melepaskan pelukan Duna, tapi gagal. Laki-laki itu memeluknya dengan sekuat tenaga. Chandani seperti kehabisan tenaga karena memberontak.“Aku nggak akan lepasin kamu lagi Chan. Aku akan berusaha dapatkan hati kamu lagi!”Chandani akhirnya menyerah. Semakin dia memberontak. Semakin kuat Duna memeluknya. Dia membiarkan Duna memeluknya. Setelah dua menit Duna melepaskan pelukannya.Plak…Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Duna.“Dasar orang gila!” rahang Chandani mengeras, matanya ter
“Selamat pagi cantiknya papa.”Noval menyapa, lalu mencium Nadel yang baru bangun tidur. Noval menggelitik perut Nadel hingga membuat gadis kecilnya itu tertawa. Nadel menyapa kehadiran Noval dengan senyum ceria, khasnya.“Maaf ya. Papa tinggal-tinggal terus.” Noval mencium kedua pipi Nadel. “Nadel mau mandi? Mandi sama bude Ita ya?”Wanita paruh baya memasuki kamar bercat pink itu sambil membawa handuk. Bude Ita lalu menyiapkan baju ganti untuk Nadel. Lalu minyak telon dan skincare yang biasa Nadel gunakan.“Bude, nanti mbak Rahma ke sini agak sore katanya. Sekitar jam setengah lima. Kalau saya belum pulang, tolong temani Nadel terapi wicara ya?”“Siap pak Noval.”“Nanti, saya kasih banyak bonus, bude.”“Haduh, pak Noval sudah banyak kasih bonus. Tenang saja, ini kan sudah tugas saya.” jawab bude Ita sambil menggendong Nadel. “Sudah waktunya mandi, anak cantik.”Bude Ita adalah sosok yang telaten mengurus Nadel. Karena kondisi Nadel spesial, Noval sangat selektif mencari pengasuh unt
Pagi ini, saat Chandani terbangun. Noval tengah sibuk berada di depan kompor. Laki-laki itu sepertinya sedang membuat sarapan. Tadi malam, saat Chandani terbangun ke kamar mandi. Noval tengah tidur meringkuk di sofa. Sofa itu tidak cukup panjang untuk tinggi badan Noval.Chandani ingin menawari Noval untuk tidur di kasur, tapi dia merasa ragu. Apakah terkesan tidak sopan? Karena mereka baru saja berkenalan.Selama satu minggu mereka saling berkenalan, Noval memperlakukan Chandani dengan sangat baik. Noval juga bisa menghilangkan sedikit demi sedikit keraguan di hati Chandani. Cekrek…Dari jauh Chandani mengambil foto Noval dari belakang. Bahkan, di lihat dari belakang. Punggung bidang laki-laki itu tampak tampan. Dengan tertatih, Chandani menghampiri Noval. Memeluk laki-laki itu dari belakang.“Selamat pagi.” sapa Chandani.Sebuah sapaan dan pelukan yang membuat jantung Noval seakan-akan berhenti saat itu juga.“Selamat pagi.” jawab Noval dengan suara sedikit bergetar karena gugup.C
Setelah saling beradu tatapan selama dua menit. Akhirnya Chandani menyerah dan memalingkan wajahnya. Melihat wajah tampan Noval dengan jarak sedekat itu benar-benar tidak baik untuk jantungnya. Saat ini, jika Chandani sedang melakukan pemeriksaan elektrokardiogram, akan didapatkan hasil takikardia.Senyum Noval semakin membuat Chandani salah tingkah. Chandani akhirnya memilih untuk fokus menghabiskan kiwi smoothiesnya.Matanya melirik Noval yang kembali sibuk dengan tabletnya. Ada banyak sisi Noval yang Chandani ketahui. Noval yang dewasa dan selalu bisa menenangkannya. Noval yang bersikap dingin dengan orang lain. Noval yang sangat tampan ketika fokus bekerja. “Kenapa lihat-lihat?” tanya Noval yang masih fokus dengan tabletnya.“Siapa yang lihat-lihat?” Chandani menjadi salah tingkah.“Keliatan kok.”“Mas Noval punya mata di telinga ya?”Noval mendekatkan telinganya kepada Chandani. “Coba lihat ada matanya apa nggak?”Chandani sedikit menjauhkan tubuhnya. Berada dengan jarak sedekat







