ログインSylvie Bouchra, à l'insu de Louis Vincent, a envoyé la jeune fille qu'il gardait chez lui dans un top conservatoire à l'étranger. Louis, que tout le monde décrivait comme un homme froid et détaché, est instantanément devenu fou. Il a envoyé Francis, son fils avec Sylvie, sur un bateau de croisière à destination de l'Arctique. Il a forcé Sylvie à lui livrer Flora Richard. Sylvie regardait son fils de cinq ans pleurer pitoyablement sur le bateau, qui naviguait progressivement vers les eaux internationales. L'assistant de Louis tenait l'enfant suspendu au-dessus de l'eau, tout le petit corps de l'enfant exposé au vide. La voix sinistre et étouffée de Louis a résonné : « Sylvie, il ne te reste que cinq minutes pour réfléchir. Si tu refuses toujours, ton fils tombera dans la mer ! »
もっと見る-Married With MANTAN-
******
Sagara Alditama, pria keturunan jerman-indonesia yang baru saja memasuki usia 28 tahun ini tengah dipusingkan dengan perjodohan yang dilakukan oleh sang ibu. Tentu saja Saga sangat menentang hal itu, dia merasa seperti pria yang tidak laku saja ketika mendengar kata PERJODOHAN.
Sagara merasa dia belum siap untuk menjadi suami sekaligus ayah, jika nanti ia dan istrinya memiliki anak. Dia ingin menikah saat dia sudah siap namun di umurnya yang semakin matang ini Saga hanya ingin menikmati masa-masa dimana dia bebas berganti pasangan tanpa takut ketahuan oleh siapapun. Namun karena ini adalah permintaan sang ibu Sagara terpaksa harus mengikuti kemauannya.
Dan puncaknya malam ini dia dan keluarga besar akan bertemu dengan calon istrinya, dan langsung melaksanakan pertunangan. Ingin rasanya Sagara berteriak bahwa keluarganya sangat cepat mengambil keputusan, bahkan dia tidak tau siapa perempuan yang akan menjadi istrinya itu.
"Woy jangan ngelamun, dirasuk setan baru tau rasa!"
"Sialan, kau pergi dari sini aku sedang tidak ingin di ganggu." Usir Saga kepada sang adik yang baru saja mengejutkannya.
"Idih, mamah manggil kamu buat siap-siap kita akan ketemu sama calon abang." Saga menatap sang adik, dia merasa jika adiknya ini sangat senang jika Saga mendapatkan masalah seperti ini. Tanpa menjawab sang adik Saga langsung memasuki kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul lima sore, jadi masih sisa dua jam lagi untuk Saga bersiap-siap.
Sagara duduk di samping ibu nya di ruang tamu, mereka tinggal menunggu adik perempuan Saga. Tentu saja remaja seperti adik Saga akan lama mempersiapkan diri dan hal itu membuat Saga emosi.
"Mamah harap kamu tidak mempermalukan mamah, dan jaga sikap kamu di depan calon besan mamah!" Peringat Tamara kepada sang anak, Saga hanya berdehem saja yang membuat Tamara ingin mencekik sang anak.
"Aku sudah siap!" Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya selesai juga dengan alat make up nya.
"Tetap sama dan tidak ada yang berubah!" Kata Saga dengan nada dingin yang membuat sang adik meraju dan mengadu kepada sang Mamah.
"Mah, liat Bang Saga. Masa ngomong sama Rika kaya gitu."
"Saga gak boleh gitu, kamu harus menghargai usaha adik kamu dong." Kata Tamara, Jelas saja Tamara membela Rika karena dia adalah anak kesayangan Tamara.
"Ya ya ya....Saga tunggu di mobil." Saga langsung berjalan keluar dari dalam rumahnya dia akan menunggu mereka di dalam mobil saja karena dia tidak suka di salahi terus menerus seperti tadi.
........
Keluarga Alditama sampai di sebuah restoran mewah yang sudah di booking oleh mereka, tidak beberapa lama sebuah rombongan juga baru saja memasuki restoran tersebut.
Tamara dan suami nya langsung menyambut mereka dengan bahagia, karena itu adalah calon besan mereka."Gita, apa kabar, sudah lama kita tidak mengobrol bareng." Sambut Tamara kepada perempuan yang bernama Gita tersebut.
"Aku baik, gimana sama kamu dan keluarga?"
"Baik juga, ayo ayo silahkan duduk." Ajak Tamara mereka bersalaman dan saling menyapa.
"Ini kenalin, Sagara Alditama dia anak sulung aku loh Git." Tamara mengkode Saga agar menyalami Gita.
"Gak nyangka ya Ra, rasanya Saga baru saja pulang dari rumah aku tapi kok udah sebesar ini." Saga hanya bisa tersenyum saja mendengar perkataan Gita, dia sudah bisa menebak jika wanita yang ada di sebelah mamah nya ini adalah calon mertuanya.
"Nah ini, anak kedua aku namanya Reksa Alditama, dan yang ini anak perempuan satu-satunya di keluarga Alditama, namanya Rika Alditama." Gita sangat kagum dengan anak-anak dari sahabatnya yang sudah beranjak dewasa semua. Suami Gita juga berkenalan dengan mereka yang ada di sana.
"Maaf ya Ra, anak aku agak telat datangnya. Dia ada klien yang ingin memakai jasa wedding organizer miliknya."
"Iya gak papa, hebat dong anak kamu sudah bisa mandiri dan cari uang sendiri." Puji Tamara.
"Ya hebat sih, tapi kadang bisa lupa pulang ke rumah aku kadang merasa seperti tidak memiliki anak saja." Mereka yang ada di sana tertawa mendengar kalimat Gita.
"Jangan heran Git, Saga juga seperti itu kadang 1 bulan sekali dia pulang kerumah. Makanya aku mau dia punya istri supaya bisa pulang dan gak kerja terus." Kata Tamara dan hal itu membuat Saga ingin pergi saja rasanya dia sangat malu sungguh.
Obrolan keluarga terus berlanjut, Para pria membahas soal bisnis sedangkan wanita malah bergosip ria. Namun obrolan mereka terhenti saat seorang perempuan menegur mereka.
"Maaf saya terlambat." Bahasa formal sangat kentara yang terlontar dari wanita yang baru saja tiba disana.
"Astaga kamu ini, Mamah kan sudah bilang jangan lama-lama coba lihat jam berapa sekarang." Gita mengomeli anaknya yang baru saja sampai. Bagaimana tidak di omeli anak perempuannya terlambat setengah jam lebih dan itu membuat Gita dan juga suaminya tidak enak terhadap keluarga Alditama.
"Jangan di marahi Git, ayo nak silahkan duduk." Kata Tamara,wanita tadi langsung duduk di hadapan Saga tanpa menatap ke arah pria itu. Sedangkan Saga terkejut dengan wanita yang baru saja tiba di meja mereka. Apa ini calon istrinya? Saga terus bertanya sampai suara sang calon Ayah mertua mengintrupsi dirinya.
"Saga kenalin ini anak Om, namanya Meysa Bramasta dan Mey itu Sagara Alditama calon kamu." Saga menjulurkan tangannya dengan gemeteran mereka yang ada di sana menunggu reaksi Meysa.
Sedangkan Meysa terkejut dengan pria yang akan menjadi tunangannya malam ini. Namun dia harus bisa menguasai diri agar tidak terlihat bahwa dirinya terkejut atas keberadaan pria tersebut.
"Saya Meysa, senang bertemu dengan anda." Saga hanya mengangguk masih belum bisa berkata dia terkejut dengan wanita yang ada di hadapannya sekarang. Meysa melepaskan tautan tangan mereka yang membuat Saga kembali sadar dari keterkejutannya.
"Abang terpesona ya hahah....dia cantik kan Bang." Goda Raksa yang membuat Saga menatap sang adik dengan mata melotot. Yang langsung membuat Raksa menyatukan kedua tangannya seperti memohon ampun dari Saga.
"Mey, jangan formal ini acara keluarga sayang jadi santai saja." Kata sang ayah. Meysa hanya mengangguk saja mendengar perkataan orang tuanya.
"Jadi kita langsung saja ya, tukaran cincin dulu untuk tanggal berlangsungnya acara pernikahan nanti kita bicara kan setelah pertukaran cincin." Semua keluarga mengangguk setuju dengan perkataan Satya ayah Saga.
Tamara memberikan cincin untuk Saga agar bisa memasangkannya ke jari Meysa. Tidak ingin memperlama proses nya Saga langsung melingkarkan cincin tersebut sedangkan Meysa mengepalkan tangan kirinya di balik gaun yang ia kenakan.
Semua keluarga bertepuk tangan saat cincin itu sudah melingkar sempurna di jari manis Meysa."Sekarang giliran kamu sayang." Kata Tamara dan memberikan cincin itu kepada Meysa.
Meysa tidak sengaja menjatuhkan cincin yang dia pegang, membuat semua keluarga terkejut."Meysa jaga sikap!" Kata Endy yang melihat jika anak nya tidak menginginkan pertunangan tersebut.
"Tidak apa, mungkin nak Meysa hanya gugup." Bela Tamara, lalu dia kembali memberikan cincin tadi kepada Meysa. Dengan tangan gemetar Meysa memasukkan cincin tersebut ke jari Saga dan membuat keluarga senang saat cincin itu sudah berada di tempat yang tepat.
Semua keluarga berpelukan dan memberikan selamat kepada Meysa dan Saga. Meysa sama sekali tidak senang dengan pertunangan itu namun dia tidak bisa menolak karena dia tidak ingin mengecewakan orang tuannya lagi.
......
Sekian!
Ses traits ressemblaient énormément à ceux de Sylvie. Louis a crié : « Francis ! » Francis a dit : « Maman et l'oncle Théo se sont mariés à l'intérieur. Papa, retourne à la ville N. » Les yeux de Louis étaient pleins de souffrance. Il a frappé la vitre épaisse avec ses mains. « Non, c'est impossible ! Ta maman m'aime. Francis, je te supplie, ouvre la porte. Je dois voir ta maman. Je dois la voir ! » Mais Francis a secoué la tête : « Papa, tu ne peux pas entrer ici. Ouvrir la porte d'acier est tout ce que je peux faire. Je ne m'attendais pas à ce que tu cherches maman pendant sept ans sans abandonner. »Pour convaincre Louis, Francis a pris sa tablette. À l'écran, on voyait Sylvie dans les bras de Théo. Sylvie baissait la tête, et Théo l'embrassait. Cette scène a transpercé le cœur de Louis. Il a toussé du sang. Il était si douloureux de voir la personne qu'on aimait rester avec une autre, sans parler de ces images intimes.Il avait imaginé que Sylvie pourrait être av
Dans le laboratoire. Sylvie a vu Théo arriver. « Pourquoi veux-tu venir ici toi aussi ? » Francis, ravi, a tapé dans ses mains. « Je sais, je sais ! Parce que l'oncle Théo pense à maman, alors il est venu. » Théo a esquissé un sourire. « Petit malin. Est-ce que tu as bien veillé à ce que ta maman mange correctement ? » « Bien sûr que oui ! »Théo a levé les yeux vers Sylvie. « Louis est venu. » Sylvie est restée calme. « Théo, j'ai divorcé de lui. Il n'y a plus aucun lien entre nous. Maintenant que tu es entré ici, tu ne pourras pas sortir. » Théo a hoché la tête : « Oui. Les personnes les plus importantes pour moi sont ici. Je n'irai nulle part ailleurs. » Sylvie était un peu surprise, son cœur serré.Sylvie a écouté ces mots d'amour, mais elle ne savait comment accepter Théo. Toutes ces années, elle n'avait regardé que Louis, sans réaliser que Théo, qui avait grandi avec elle, l'avait toujours aimée en silence. Sylvie s'est blottie contre la poitrine de Théo.
« Ses parents étaient tous deux des travailleurs de la mer. Ils sont morts là-bas lors de leurs recherches. Leur seul souhait était qu'elle mène une vie paisible, qu'elle se marie et vive heureuse. En te rencontrant, elle a réalisé le vœu de ses parents : elle t'a épousé et t'a donné un enfant. Mais pendant ces dix années, elle n'a jamais abandonné ses recherches sur la mer. Il y a une étude qu'elle ne t'a jamais laissé toucher : un remède pour soigner la vie marine. Sa détermination, sa froideur, son calme et sa force sont à une hauteur que tu n'atteindras jamais. Tu as de la chance qu'elle ait accepté de vivre avec toi dans cette ville. Mais tu ne l'as pas chérie. »Louis a pleuré avec tristesse. Il avait la gorge serrée. « Grand-père, peux-tu m'aider ? Je ne veux pas que Sylvie aille dans cet endroit. Trente ans, c'est trop long. » Son grand-père a dit : « Je ne peux pas. Moi non plus, je ne sais pas où est cet endroit. » Louis l'a supplié : « Grand-père, je t'en prie, je sa
Boum ! Le téléphone de Flora a été violemment jeté au sol par Louis. Louis a fixé Flora avec un regard glacial. Il semblait vouloir bien la tuer. « Flora ! » Louis s'est levé et s'est approché, serrant le cou de Flora. « C'est toi qui as dit vouloir être ma maîtresse. C'est toi qui as dit que Sylvie ne le saurait jamais. C'est toi qui as dit ne pas vouloir briser ma famille. » Flora était très douloureuse. Ses larmes se mêlaient à un rire hystérique. « Louis, je te veux. Pourquoi serais-je ta maîtresse ? Je veux être ta femme. » Louis tremblait de rage. Il a immédiatement appelé son assistant. « Trouve toutes les conversations entre Flora et Sylvie, les vidéos de surveillance, tout. » Flora a paniqué. « Louis, je n'ai rien fait, vraiment, rien du tout. » Mais dans toutes les vidéos et tous les enregistrements que Louis a obtenus, il a vu Flora gifler Francis à la maison, ainsi Sylvie avait donné deux gifles à Flora. Quand Flora était seule avec Sylvie, elle
Sylvie a cliqué sur la vidéo. La vidéo montrait intégralement la scène où Louis lui avait arraché la robe. On pouvait voir clairement sa réaction et la cruauté de Louis. Et voici les commentaires des internautes : « Madame Vincent, toujours si conservatrice avec ses tailleurs noirs, est en r
En voyant la trahison de Louis de ses propres yeux, le cœur de Sylvie s'est serré. Sylvie a porté Francis dans sa chambre et l'a déposé sur son petit lit. Elle l'a réconforté de son mieux. « Francis, trois jours au maximum, et nous partirons. Francis, range tes affaires dans ta chambre. » Fr
Pour se rendre dans un endroit au-delà des frontières, Sylvie devait emporter avec elle les résultats de ses recherches personnelles. Mais toutes les données et échantillons de ces recherches se trouvaient dans le laboratoire. Pour ouvrir le laboratoire, il fallait absolument son empreinte digit
La première minute, Sylvie a repensé à ses cinq années d'amour secret pour Louis, comment elle était silencieusement devenue son amour cachée. Lui, issu d'une grande famille pharmaceutique, et elle, une fille au milieu modeste et à l'apparence ordinaire, avaient choisi une relation sans titre offici












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.