MasukCela fait bientôt six ans que Hugo Fontaine et moi sommes ensemble. « Hugo, je vais me marier. » Lui disais-je. Il a eu un sursaut, comme réveillé de ses rêveries, affichant un air gêné, « Tu sais, Iris, dans notre entreprise, on vit un moment crucial de financement. C'est pour ça que je n'ai vraiment pas le cœur pour ce genre de chose… » Je souriais calmement. Il n'a pas compris le sens de ma phrase – je vais me marier, mais pas avec lui…
Lihat lebih banyak“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …Je saisissais l'essentiel, « Quand était cette réunion d'anciens élèves ? »« C'était au début de ce mois, je crois que c'était le 6. »« … »Mon grand-père avait proposé le mariage arrangé le 8. La coïncidence des dates était trop parfaite.Voyant que j'étais perdue dans mes pensées, Valérie me secouait doucement le bras. « Qu'y a-t-il ? À quoi penses-tu ? »« Valérie, tu veux dire… ». Je n'en croyais pas mes oreilles. « Simon m'aimait depuis longtemps, c'est pour ça qu'il te demandait de mes nouvelles ? »« Sinon, pourquoi ferait-il ça ? Il est fou ? »« … »Toute la journée, mon cœur battait la chamade ; je repensais à ce que Simon avait admis dans la voiture quelques jours plus tôt : il avait quelqu'un qu'il aimait.Mes émotions étaient en ébullition : surprise, confusion, incertitude, et une pointe de joie. Je me réjouissais que mon futur mari m'aimât autant.Le soir même, je me tournais et me retournais dans mon lit, incapable de dormir. Et il était déjà minuit passé.S
Si c'était quelqu'un d'autre, il aurait peut-être continué à dénigrer Iris, mais pas Yveline.Elle connaissait trop bien Hugo.Elle voulait lui rappeler constamment Iris, enfoncer cette épine encore plus profondément. Pour qu'il vive toute sa vie avec des regrets ; seulement ainsi, Hugo n'aurait plus l'énergie de passer d'une femme à l'autre, comme tous les hommes.Et elle pourrait obtenir tout ce qu'elle désirait.Deux jours avant le mariage d'Iris, Marie a posé un jour de congé pour se rendre à Paris.Hugo avait approuvé sa demande. Et il a regardé longuement la raison de la demande de Marie.— Assister au mariage d'une amie dans une autre ville.Normalement, ce congé aurait dû être utilisé pour son mariage avec Iris. Mais maintenant ce n'est plus le cas.Demain, la femme avec qui il avait partagé six ans de sa vie allait se marier avec un autre homme.Hugo s'est levé lentement de son bureau et s'est dirigé vers le département de design.Un nouveau directeur avait été nommé,
Yveline n'en croyait pas ses oreilles.« Elle va épouser quelqu'un d'autre, et tu lui offres quelque chose d'aussi cher ? Cet appartement vaut une fortune sur le marché… »« Elle le mérite. » Hugo a lâché juste ces trois mots avant de sortir.Yveline le suivait. « Où vas-tu ? »« J'ai un rendez-vous tout de suite. Rentre toute seule. »« … » Yveline a été laissée en plan. De plus, avec son corps endolori, elle ne pouvait pas le rattraper. Elle a fini par prendre un taxi pour rentrer chez elle.Mais contrairement à Iris, elle n'était pas aussi patiente. Il n'était que 21 heures, elle a commencé déjà appeler Hugo sans relâche.Hugo ne répondait pas.Elle continuait hystériquement d'appeler et d'envoyer des messages sur WhatsApp.Iris était peut-être facile à berner, mais pas elle.Les hommes, si on ne les surveillait pas, pouvaient facilement se retrouver dans les bras d'une autre femme.Elle ne comprenait pas ce qu'Iris avait de si spécial. Auparavant, il ne semblait pas si at
Hugo, attrapant le dernier vol, retournait précipitamment à Toulouse au milieu de la nuit, presque en fuite.Les captures d'écran l'avaient humilié au point qu'il ne pouvait plus regarder Iris en face. Dès sa descente de l'avion, il fonçait chez Yveline.Yveline, encore ensommeillée, sortait de sa chambre en entendant du bruit. Voyant Hugo, elle était ravie.Hugo la choisissait plutôt qu'Iris, et elle était sûre.Elle voulait se jeter dans ses bras, mais Hugo l'attrapait par le cou et la plaquait sur le canapé. La sensation de suffocation était tellement douloureuse, la réveillant complètement.Elle regardait Hugo, terrifiée, se débattant de toutes ses forces, « Hugo, tu es fou ? Tu veux me tuer ?! »« Qui t'a permis d'envoyer ces captures d'écran à Iris ?! » Hugo hurlait, sans relâcher sa prise ferme, les yeux exorbités. « Maintenant, elle croit qu'on est ensemble. Tu es contente ? »« Non, ce n'est pas moi… »Yveline cherchait désespérément une excuse. « Je te jure, ce n'est p












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
Ulasan-ulasan