LOGIN["Perusahaan Citra Group membatalkan kerjasama."]["Maaf, tuan Bagas. Saya dan semua dewan direksi tidak bisa menyepakati kerjasama tersebut."]Pagi hari saat Bagas membuka mata seperti ada perasaan ganjil dan sesuatu yang membuatnya ingin membuka ponselnya.Dia meraih ponselnya di meja samping ranjang dan seketika segalanya satu per satu pesan membuatnya tertampar kenyataan pahit. Puluhan notifikasi memenuhi layar.Bagas bangkit dari tempat tidur dengan napasnya memburu. Jarinya gemetar saat membuka satu per satu pesan itu. Vendor bahan baku utama memutus kontrak secara sepihak. Rekanan distribusi menolak mengirim barang. Investor kecil yang selama ini dia yakinkan dengan janji keuntungan mendadak menarik dana."Apa-apaan ini?" tanyanya dengan tangan yang gemetar."Kenapa mereka mendadak memutuskan hubungan dengan perusahaanku?"Bagas langsung menelepon salah satu vendor lama, orang yang dulu menjilatnya dan memanggilnya dengan penuh hormat. Sayangnya sambungan telepon diputus secara
Sore kian beranjak menjadi malam ketika Vero memasuki pagar rumah Dayu. Akhirnya dengan hati berat, Vero pun kemari.Vero berniat bicara baik-baik tentang Dinara dan kegelisahan yang sejak tadi menggerogoti dadanya. Namun baru beberapa langkah memasuki halaman, suara dari dalam rumah membuat langkahnya terhenti.Vero geram mendengar Bagas palsu telah memperdayai putrinya sendiri demi kepuasaan dan egoisme. Tangannya terkepal penuh amarah."Hentikan pertengkaran kalian!" Dayu dan Bagas menoleh cepat saat ada suara di depan pintu masuk.Suaranya tajam, menggema di ruang tamu. Bagas dan Dayu serentak menoleh.Wajah Vero pucat, tapi matanya menyala oleh amarah yang tak pernah dia lepaskan sebelumnya."Mbak Vero ...""Vero, apa yang kau lakukan di sini?" “Jangan pernah panggil namaku!” teriak Vero. Dadanya naik turun cepat. “Kau sudah menghancurkan hidupku, membohongiku puluhan tahun. Sekarang kau ingin membunuh Danastri? Dan memanfaatkan Dinara—anak yang aku besarkan dengan tanganku sen
"Aku sudah menduga dia pelakunya!"Tepat ketika Widipa berkata, langkah kaki tergesa terdengar dari ujung lorong. Dinara muncul dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Di sampingnya ada Julius."Sedang apa kau di sini?" Widipa dipenuhi emosi. Ingin rasanya dia menarik kerah pakaian Dinara lalu menamparnya, tetapi dia harus bisa menahannya."Apa dia baik-baik saja? Apa pelakunya sudah ditangkap?" tanya Dinara terburu-buru."Kenapa kalian memandang kami seperti itu?" Julius mengernyitkan dahi kala dia melihat ekspresi Widipa dan Sagara."Kenapa kau bisa tahu Danastri dirawat di sini?" Sagara pun menaruh kecurigaannya. Dia tak bisa mempercayai ucapan Dinara."Kalian datang tepat waktu ya," sindir Widipa sinis."Tolong katakan yang sebenarnya, Nona. Anda tahu dari mana jika nona Danastri ada di sini?" Arif mewakili Widipa menanyakan keberadaan Dinara."Apa maksud kalian ini? Kalian menuduh Dinara?" Julius mulai paham tatapan tajam mereka.Widipa mengeluarkan
Malam telah beranjak sedari tadi. Lorong rumah sakit terasa sepinya karena jam pengunjung sudah berakhir dan menyisakan para pasien yang masih terjaga, beberapa tertidur.Para perawat telah memeriksa satu persatu pasien yang ada di setiap bangsal untuk memastikan keadaan mereka terutama kondisi Danastri paska operasi.Di dalam ruang perawatan VIP, Danastri terbaring tak sadarkan diri. Perban putih melingkari kepalanya, dadanya naik turun pelan mengikuti irama napas. Efek obat bius masih menahannya di antara sadar dan mimpi.Namun satu hal yang tak mereka sadari, ada seseorang menyamar menjadi perawat dengan pakaian yang sama persis. Tak ada penjagaan di depan kamar membuat dia mudah memasuki rawat inap tersebut."Penjaganya tidak ada. Aku bisa masuk tanpa dicurigai," gumamnya.Seseorang melangkah masuk—berseragam suster, topi menutup rambut dan masker menutupi separuh wajah. Jalannya begitu hati-hati, nyaris tak menimbulkan bunyi. Matanya menyapu ruangan, memastikan tak ada siapa pun.
Ruang tunggu di rumah sakit tampak hening dan sunyi. Ketiga orang menunjukkan ekspresi tegang. Antara rasa takut dan cemas.Sailendra, Arumi dan Widipa saat ini menunggu jalannya operasi Danastri. Sesekali Widipa berdiri lalu melihat pintu ruang operasi tertutup dan lampu merah belum berubah.Sudah dua jam lamanya mereka menunggu dalam ketidakpastian. Tak ada perawat atau dokter yang memberi mereka kabar."Tunggulah beberapa saat lagi, Dipa. Ayah yakin Sagara berhasil mengoperasi Danastr," kata Sailendra menenangkan sang putra."Tuhan akan melindunginya, Nak," ucap Arumi turut memberi ketenangan.Arumi pun merasakan ketakutan meski dia sudah berusaha sembunyikan, tetapi Sailendra mengetahui ekspresi Arumi dan mengenggam jemarinya agar ketakutan itu berkurang."Sudah aku katakan lebih baik dioperasi di Belanda saja, tapi Danastri tak mau," ujar Widipa menyesal menuruti permintaan Danastri."Kau ragu dengan penanganan dari Sagara?" tanya Sailendra tak suka dengan pernyataan Widipa."Per
Dinara Kinanti bukan lagi sang primadona yang menjadi idola di sosial medianya. Kontrak kerjasama sebagai model atau endorse sudah memutuskan hubungan dengannya.Hidup Dinara hanya bergantung pada sisa tabungan dan Julius yang masih peduli padanya. Dinara tak melakukan apapun hanya makan tidur dan melamun.Semua kejadian yang menimpanya membuat dia enggan mengurus dirinya dan dia tak peduli lagi dengan Danastri yang masuk berita televisi karena acara pernikahan.Tak ada lagi iri hati atau cemburu. Hidupnya sudah tak seperti dulu, dia kecewa pada sang ayah yang menipunya selama ini."Jika begini kejadiannya, aku tak akan mengikuti semua perkataan ayah.""Ayahlah yang mengajariku menaruh kebencian pada Danastri. Ayah juga yang mengatur semua hidupku. Ayah tak menyayangiku, dia hanya menjadikan aku alat untuk melancarkan semua aksinya."Dinara menyadari jika dirinya hanya alat bagi Bagas palsu. Pria itu tak benar-benar menyayanginya sebagai anak. Dipisahkan dengan ibu kandung, ditaruh di







