LOGINPengakuan sang dokter membuat Devan terdiam,dunianya seakan berhenti. Kakinya lemas, dadanya terasa sesak. Dalam satu malam, ia hampir kehilangan segalanya, istri yang entah sejak kapan menempati hatinya, dan putri kecil yang bahkan belum sempat ia peluk.Langkah sepatu terdengar tergesa di lorong rumah sakit. Bu Dania muncul, wajahnya justru tampak berseri.“Syukurlah cucu mama lahir,” ucapnya lega, nyaris tanpa empati. “Soal bayinya, pakai fasilitas terbaik. Apa pun biayanya. Tapi perempuan itu…," Ia mendengus. “Sudah tak perlu diurus lagi. Anak sudah lahir, Devan. Fokus saja ke darah dagingmu.”Kepala Devan terangkat perlahan. Sorot matanya gelap, rahangnya mengeras.“Diam, Ma,” ucapnya bergetar, menahan amarah yang mendidih. “Perempuan yang Mama sebut itu adalah istriku. Ibu dari anakku.”Bu Dania terdiam, namun belum sempat bicara lagi.“Pergi. Aku minta mama pergi dari sini." Ucapnya menekan marah yang berkobar dalam dadanya. Bu Dania bergeming, ia ingin melihat wajah cantik cu
Hari berlalu, setelah pertemuan hari itu tidak ada tanda-tanda wanita itu akan datang lagi. Entah apa yang di katakan atau bahkan apa yang di lakukan Devan padanya, sita tidak peduli. Sita menghela nafasnya, waktu begitu cepat dan kini ia hanya bisa menikmati kehamilannya gerakan janinnya yang tidak hentinya di sana. "Kisah Hana dan Tuan Arsa akan terulang lagi denganku," gumam sita. Sita mengusap perutnya yang semakin membesar, merasakan tendangan kecil yang datang silih berganti. Ada senyum tipis di bibirnya, namun matanya justru berkaca-kaca. Semakin dekat hari persalinan, semakin kuat rasa tidak adil itu menghimpit dadanya.Ia tahu, setelah bayi itu lahir, Devan akan mengambil alih segalanya. Anak itu akan menjadi milik keluarga mereka, sementara dirinya perlahan disingkirkan seperti kisah Hana dan Tuan Arsa yang kini seolah menjadi bayang-bayang masa depannya.Ponsel di sampingnya bergetar. Pesan singkat dari Bu Dania. [Jangan terlalu berharap. Setelah melahirkan, kamu tahu tem
"Untuk apa kamu datang ke sini?" Bu Dania, menetralkan detak jantungnya. Wanita paruh baya itu memilih duduk di sofa, tanpa mempersilahkan tamunya duduk."Apa kabar Tante? Masih ingat aku kan?" "Angel? Lama tidak bertemu. Oh, ya. Kabar tente sangat baik." Ujarnya sinis. "Katakan ada apa?" tanyanya tanpa mempedulikan wanita di depannya. "Tante benar, sudah lama kita tidak bertemu. Sebenarnya aku ke sini ingin mengajak kerjasama, pastinya akan menguntungkan kita berdua tan. Bagaimana kalau kesepakatan itu kita sahkan sekarang?" Ujar Angel.Bu Dania terdiam cukup lama, jemarinya mengetuk-ngetuk meja tanpa sadar.Kerja sama itu menggiurkan terlalu menggiurkan untuk dilewatkan. Lagi pula, Angel bukan orang asing baginya.Ambisius, licik, dan bebas tapi, justru itu yang membuat Angel berbahaya.Jika ia setuju, Angel akan “mengurus” semuanya.Sita akan tersingkir dari kehidupan putranya.Devan akan kembali pada jalur yang ia harapkan tanpa menunggu anak itu lahir. Keuntungan bisnis pun men
Bara yang sama sekali tidak curiga berjalan santai menuju ruang olahraga yang tampak kosong. Ia pikir Arsa ingin membicarakan sesuatu tentang pekerjaan keluarga, bukan sesuatu yang mencurigakan.Begitu pintu tertutup, Arsa langsung menghampirinya dengan wajah gelap.“Sa?” Bara mengernyit, tak sempat melanjutkan kalimatnya karena tinju pertama Arsa sudah mendarat tepat di rahangnya.Bara terhuyung. “Gila! Kamu kenapa—”Pukulan kedua dan ketiga menyusul, lebih keras, penuh amarah yang selama ini ditahan.“Berani kamu sentuh Hana?” desis Arsa, napasnya memburu.Wajah Bara memucat. “Aku, itu, itu sudah lama, dan—”“Diam!” Arsa menarik kerah sepupunya itu. “Aku tahu semua. Kamu coba melecehkan dia saat dia masih jadi istri kedua ku. Dan setelah perceraian, kamu berani tawarkan uang supaya dia ikut kamu?” Suaranya menggema di ruangan, getir dan menyala.Bara mencoba melepaskan diri, tapi tak ada tenaga untuk melawan. “Sa, maafkan aku. Aku, waktu itu hanya..,"Pukulan demi pukulan Arsa laya
Rumah sederhana Bu Ira mulai sepi. Para tamu undangan dan sahabat serta tetangga mulai meninggalkan pesta kecil nan sederhana itu, kini hanya pihak WO yang mulai merapihkan tenda.Devan menatap Sita yang masih duduk di ruang tamu, memegang buket sederhana pemberian tetangganya.“Boleh kita bicara sebentar?” tanyanya pelan.Sita mengangguk. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dibahas hari ini, di antara semua kekacauan dan kebahagiaan, ia tahu Devan masih menyimpan nama sahabatnya Hana. Itu membuat dadanya sedikit mengencang.Namun ketika Devan duduk di depannya, ekspresinya serius.“Aku tahu kamu ragu sama aku. Aku sadar selama ini aku banyak bikin kamu terluka,” ucapnya, suaranya rendah tapi mantap. “Tapi mulai hari ini, aku cuma mau mikirin kamu, rumah tangga kita, dan bayi kita. Nggak ada lagi yang lain.”Sita menunduk, jemarinya meremas buket.“Terserah kamu. Aku tidak memiliki hak untuk melarang kamu berhenti memikirkan orang lain. Pernikahan ini hanya untuk memberikan status pad
Devan ingin buru-buru mendekat, tapi langkahnya tertahan oleh suara ibunya Sita.“Jangan membuatnya terluka lebih dari ini. Jika itu terjadi, aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita seumur hidup. Kamu tahu kan sumpah wanita teraniaya tidak akan pernah melesat?"Devan menahan napas. Matanya hanya fokus pada Sita yang memalingkan wajah, enggan untuk menatapnya.“Sita, maafkan aku. Maaf sudah membuatmu seperti ini. Aku tahu aku salah, izinkan aku..,Dan saat itu, wajah Sita semakin pucat dan keringat dingin membasahi pelipis dan tubuhnya.Perawat yang lewat spontan masuk ke dalam ruang perawatan begitu Devan keluar dari ruang perawatan.“Tolong keluar dulu! Kondisi ibu dan janinnya turun naik! Cepat panggil dokter Erna!" Devan membeku, melihat keadaan Sita yang semakin memperihatinkan. Pintu ditutup tepat di depan wajah Devan oleh perawat.Ia berdiri di koridor, napas tersengal, seluruh jiwanya remuk. Begitu jahat dirinya yang meminta Sita minum obat pencegah kehamilan, bahkan tid







