LOGINDavina tersenyum manis, tapi di balik senyum itu, dia menyembunyikan sakit hati yang mendalam. Sakit hati? Tentu, siapa yang rela suaminya memiliki wanita lain. Tetapi semua demi masa depan, Davina rela dimadu. Dia tahu bahwa pernikahan Arsa dengan Hana adalah keputusan ibunya, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Vin, aku denger keluarga suamimu mengadakan acara? Tidak biasanya acara di rumah, secara keluarga suamimu orang terkaya di sini. Kenapa kamu di sini?" Anggel mengambil minuman soda dari lemari pendingin. "Tidak ada acara, hanya makan siang, kebetulan sepupu suamiku berkunjung dari luar negeri. Kenapa aku ada di sini, kamu tahu alasannya kan?" kata Davina, dia mencoba untuk terlihat santai. Angel, sahabatnya, memberikan minuman dingin padanya, dan Davina menerima dengan seulas senyum. Angel menatap Davina dengan mata yang tajam, dia tahu bahwa Davina menyembunyikan sesuatu. "Bagaimana ibu mertuamu? Apa mereka tahu jika kamu..." Angel menjeda ucapannya, menelisik sahabatnya yang terlihat santai. Davina tersenyum lagi, dia tahu bahwa Angel mengkhawatirkannya. "Kamu tidak perlu khawatir, Angel," kata Davina, suaranya penuh dengan keyakinan. "Rahasia akan tetap menjadi rahasia. Aku akan menyimpannya sampai mati." Angel menghela napas, dia tidak yakin dengan kata-kata Davina. "Vin, aku mengkhawatirkan kamu," kata Angel, suaranya penuh dengan kekhawatiran. "Apa yang akan terjadi jika Arsa tahu tentang rahasia terbesarmu?" Davina tersenyum manis lagi, dia tahu bahwa Angel tidak akan mengerti. "Aku sudah siap untuk menghadapi apa pun yang terjadi," kata Davina, suaranya penuh dengan keyakinan. "Aku hanya perlu waktu untuk menyusun rencana. Lagi pula Arsa begitu mencintaiku, aku akan tetap bersama dengannya dan hanya ada aku sebagai nyonya Prasaja." Tegas Davina. Angel menatap Davina dengan mata yang penuh kekhawatiran, dia tahu bahwa sahabatnya itu tidak seperti biasanya. "Vin, kamu harus berhati-hati," kata Angel, suaranya penuh dengan peringatan. "Arsa tidak seperti yang kamu pikirkan, dia bisa berubah menjadi orang yang sangat berbahaya jika dia tahu tentang rahasia terbesarmu." Davina tersenyum manis lagi, dia tahu bahwa Angel hanya ingin melindunginya. "Aku tahu, Angel," kata Davina, suaranya penuh dengan keyakinan. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya perlu sedikit bermain maka semua akan berjalan sesuai putaran dan Arsa tidak bisa meninggalkanku." Angel menghela napas, dia tidak yakin dengan kata-kata Davina. "Vin, kamu harus ingat bahwa kamu tidak sendirian," kata Angel, suaranya penuh dengan dukungan, meski ada ragu di sudut terdalam hatinya. "Aku ada di sini untuk mendukungmu, apa pun yang terjadi." Davina tersenyum manis lagi, dia tahu bahwa Angel adalah sahabat yang setia. "Terima kasih, Angel," kata Davina, suaranya penuh dengan rasa syukur. "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kamu." Kembali, Davina dan Angel pun melanjutkan percakapan mereka, membahas rencana dan strategi untuk menghadapi situasi yang sedang terjadi. Davina tahu bahwa dia harus berhati-hati dan tidak bisa lengah, karena dia tahu bahwa Ibu mertuanya tidak akan diam begitu saja. _ Pria tampan terlihat gusar, sejak pagi saat acara pernikahan belum selesai istrinya memilih pergi. Satu baris pesan untuk tidak mencarinya dan permintaan agar dirinya segera melakukan kewajibannya. [Aku tidak akan melakukannya, jika kamu tidak di rumah. Mungkin ini terdengar egois tapi aku sangat mencintaimu, aku tidak akan melakukan apapun padanya tanpa kamu di kamar kita sayang.] Arsa meremas kasar rambutnya. Davina wanita yang ia cintai memilih untuk pergi sebelum acara pernikahan selesai. Alasan yang sebenarnya di pahami Arsa, namun ia tidak ingin membuat wanita yang bersamanya lebih dari tujuh tahun itu tersakiti. Satu tahun pacaran dan memutuskan untuk menikah hingga detik ini. Meski tanpa kehadiran buah cinta mereka akan tetapi cinta Arda pada Davina tak pernah lekang oleh waktu. Suara pintu terbuka, Arsa menoleh. "Sayang, kamu dari mana? Aku mengkhawatirkan mu," Arsa memeluk tubuh Davina erat. "Mas, aku tidak ingin menganggu waktu kamu. Semakin cepat kamu melakukannya maka semakin cepat kamu menceraikannya, pergilah aku tunggu di sini. Cepatlah kembali mas," kata Davina, memindai baju yang di pakai Arsa masih yang sama sejak pagi. "Baiklah, demi kamu. Aku akan melakukan dengan cepat, ingat hanya ada kamu. Hanya namamu yang aku agungkan sayang," "Aku percaya padamu sayang. Lakukan secepatnya," Arsa mengangguk, sebelum pergi mengecup kening Davina. Di kamar yang berbeda Hana terlihat gelisah, bukan karena menjadi istri tetapi ia belum siap untuk melakukan dengan Arsa. Pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Brakk Pintu di buka secara kasar, Arsa menatap dingin Hana yang berdiri menjauh darinya. "Kenapa? Cepat lakukan tugas mu!" Tekan Arsa. Membaringkan di atas tempat tidur. "T–tugas? Tugas apa tuan?" tanya Hana terbata. "CK! Jangan pura-pura, cepat lakukan. Ingat tanpa mengunakan hati." Sinis Arsa. "Berhenti menjadi wanita polos, cepat!" Sentak Arsa, menarik pergelangan tangan Hana. Hana tersentak, ia memekik tertahan. "T-tuan .." Isak Hana. Sesaat wanita cantik itu pasrah menerima kenyataan pahit hidupnya. Pernikahan tanpa cinta, takdir menjadikan dirinya wanita kedua dan mengandung seorang penerus keluarga konglomerat. Satu jam berlalu, Hana terdiam di balik dinding kamar yang dingin. Hampa mendapatkan kenyataan dalam takdir hidupnya. "Memangnya apa yang aku harapkan? Bukankah mereka sudah memberikan hak padaku, sebelumnya?" Gumam Hana. Terjaga hingga jam dua dini hari, Hana terbangun kesiangan. Ingat jika tinggal di kediaman nyonya Fadya. Langkahnya terhenti, di ruang makan sudah lengkap termasuk Arsa dan Davina. "Hana, kemari!" Fadya menarik sudut bibirnya, melihat langkah Hana yang terlihat berbeda. Tanda di leher gadis cantik itu, sebagai tanda bahwa sesuatu telah terjadi tadi malam. "Selamat pagi nyonya, maaf aku kesiangan," sapa Hana, tanpa sengaja tatapannya berseloroh dengan manik tegas Arsa. Tatapan yang dingin dan acuh. "Mulai hari ini panggil saya mama. Sampai anakmu lahir dan kamu pergi dari rumah ini." Ucap Fadya tidak terbantahkan. "Makan yang bergizi, agar kamu cepat hamil." Sambungnya, Hana mengangguk pelan. Menikmati sarapan pagi yang tidak pernah terbayangkan oleh Hana. Bersama keluarga tersohor membuatnya sungkan terlebih Davina istri pertama Arsa bersikap anggun, namun manja dan Arsa begitu perhatian padanya. "Hana, biarkan piring kotor itu di sana. Ada pelayanan yang merapikan, kamu pergilah ke kamar." Perintah Fadya, dan kembali berucap. "Kalau kau bosan, pergilah ke samping ada taman bisa kamu lihat. Jaga sikapmu, nanti malam aku minta untuk tidak keluar kamar." Lanjutnya sebelum pergi. "Baik, mam." Hana menghela napas panjang. Sudut hatinya terasa nyeri, sama-sama menantu tapi berbeda perlakuan. "Hai, maduku. Bersikap lah seperti itu, kamu tidak lupa kan? Kamu cuma istri persinggahan suamiku!"Pengakuan sang dokter membuat Devan terdiam,dunianya seakan berhenti. Kakinya lemas, dadanya terasa sesak. Dalam satu malam, ia hampir kehilangan segalanya, istri yang entah sejak kapan menempati hatinya, dan putri kecil yang bahkan belum sempat ia peluk.Langkah sepatu terdengar tergesa di lorong rumah sakit. Bu Dania muncul, wajahnya justru tampak berseri.“Syukurlah cucu mama lahir,” ucapnya lega, nyaris tanpa empati. “Soal bayinya, pakai fasilitas terbaik. Apa pun biayanya. Tapi perempuan itu…," Ia mendengus. “Sudah tak perlu diurus lagi. Anak sudah lahir, Devan. Fokus saja ke darah dagingmu.”Kepala Devan terangkat perlahan. Sorot matanya gelap, rahangnya mengeras.“Diam, Ma,” ucapnya bergetar, menahan amarah yang mendidih. “Perempuan yang Mama sebut itu adalah istriku. Ibu dari anakku.”Bu Dania terdiam, namun belum sempat bicara lagi.“Pergi. Aku minta mama pergi dari sini." Ucapnya menekan marah yang berkobar dalam dadanya. Bu Dania bergeming, ia ingin melihat wajah cantik cu
Hari berlalu, setelah pertemuan hari itu tidak ada tanda-tanda wanita itu akan datang lagi. Entah apa yang di katakan atau bahkan apa yang di lakukan Devan padanya, sita tidak peduli. Sita menghela nafasnya, waktu begitu cepat dan kini ia hanya bisa menikmati kehamilannya gerakan janinnya yang tidak hentinya di sana. "Kisah Hana dan Tuan Arsa akan terulang lagi denganku," gumam sita. Sita mengusap perutnya yang semakin membesar, merasakan tendangan kecil yang datang silih berganti. Ada senyum tipis di bibirnya, namun matanya justru berkaca-kaca. Semakin dekat hari persalinan, semakin kuat rasa tidak adil itu menghimpit dadanya.Ia tahu, setelah bayi itu lahir, Devan akan mengambil alih segalanya. Anak itu akan menjadi milik keluarga mereka, sementara dirinya perlahan disingkirkan seperti kisah Hana dan Tuan Arsa yang kini seolah menjadi bayang-bayang masa depannya.Ponsel di sampingnya bergetar. Pesan singkat dari Bu Dania. [Jangan terlalu berharap. Setelah melahirkan, kamu tahu tem
"Untuk apa kamu datang ke sini?" Bu Dania, menetralkan detak jantungnya. Wanita paruh baya itu memilih duduk di sofa, tanpa mempersilahkan tamunya duduk."Apa kabar Tante? Masih ingat aku kan?" "Angel? Lama tidak bertemu. Oh, ya. Kabar tente sangat baik." Ujarnya sinis. "Katakan ada apa?" tanyanya tanpa mempedulikan wanita di depannya. "Tante benar, sudah lama kita tidak bertemu. Sebenarnya aku ke sini ingin mengajak kerjasama, pastinya akan menguntungkan kita berdua tan. Bagaimana kalau kesepakatan itu kita sahkan sekarang?" Ujar Angel.Bu Dania terdiam cukup lama, jemarinya mengetuk-ngetuk meja tanpa sadar.Kerja sama itu menggiurkan terlalu menggiurkan untuk dilewatkan. Lagi pula, Angel bukan orang asing baginya.Ambisius, licik, dan bebas tapi, justru itu yang membuat Angel berbahaya.Jika ia setuju, Angel akan “mengurus” semuanya.Sita akan tersingkir dari kehidupan putranya.Devan akan kembali pada jalur yang ia harapkan tanpa menunggu anak itu lahir. Keuntungan bisnis pun men
Bara yang sama sekali tidak curiga berjalan santai menuju ruang olahraga yang tampak kosong. Ia pikir Arsa ingin membicarakan sesuatu tentang pekerjaan keluarga, bukan sesuatu yang mencurigakan.Begitu pintu tertutup, Arsa langsung menghampirinya dengan wajah gelap.“Sa?” Bara mengernyit, tak sempat melanjutkan kalimatnya karena tinju pertama Arsa sudah mendarat tepat di rahangnya.Bara terhuyung. “Gila! Kamu kenapa—”Pukulan kedua dan ketiga menyusul, lebih keras, penuh amarah yang selama ini ditahan.“Berani kamu sentuh Hana?” desis Arsa, napasnya memburu.Wajah Bara memucat. “Aku, itu, itu sudah lama, dan—”“Diam!” Arsa menarik kerah sepupunya itu. “Aku tahu semua. Kamu coba melecehkan dia saat dia masih jadi istri kedua ku. Dan setelah perceraian, kamu berani tawarkan uang supaya dia ikut kamu?” Suaranya menggema di ruangan, getir dan menyala.Bara mencoba melepaskan diri, tapi tak ada tenaga untuk melawan. “Sa, maafkan aku. Aku, waktu itu hanya..,"Pukulan demi pukulan Arsa laya
Rumah sederhana Bu Ira mulai sepi. Para tamu undangan dan sahabat serta tetangga mulai meninggalkan pesta kecil nan sederhana itu, kini hanya pihak WO yang mulai merapihkan tenda.Devan menatap Sita yang masih duduk di ruang tamu, memegang buket sederhana pemberian tetangganya.“Boleh kita bicara sebentar?” tanyanya pelan.Sita mengangguk. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dibahas hari ini, di antara semua kekacauan dan kebahagiaan, ia tahu Devan masih menyimpan nama sahabatnya Hana. Itu membuat dadanya sedikit mengencang.Namun ketika Devan duduk di depannya, ekspresinya serius.“Aku tahu kamu ragu sama aku. Aku sadar selama ini aku banyak bikin kamu terluka,” ucapnya, suaranya rendah tapi mantap. “Tapi mulai hari ini, aku cuma mau mikirin kamu, rumah tangga kita, dan bayi kita. Nggak ada lagi yang lain.”Sita menunduk, jemarinya meremas buket.“Terserah kamu. Aku tidak memiliki hak untuk melarang kamu berhenti memikirkan orang lain. Pernikahan ini hanya untuk memberikan status pad
Devan ingin buru-buru mendekat, tapi langkahnya tertahan oleh suara ibunya Sita.“Jangan membuatnya terluka lebih dari ini. Jika itu terjadi, aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita seumur hidup. Kamu tahu kan sumpah wanita teraniaya tidak akan pernah melesat?"Devan menahan napas. Matanya hanya fokus pada Sita yang memalingkan wajah, enggan untuk menatapnya.“Sita, maafkan aku. Maaf sudah membuatmu seperti ini. Aku tahu aku salah, izinkan aku..,Dan saat itu, wajah Sita semakin pucat dan keringat dingin membasahi pelipis dan tubuhnya.Perawat yang lewat spontan masuk ke dalam ruang perawatan begitu Devan keluar dari ruang perawatan.“Tolong keluar dulu! Kondisi ibu dan janinnya turun naik! Cepat panggil dokter Erna!" Devan membeku, melihat keadaan Sita yang semakin memperihatinkan. Pintu ditutup tepat di depan wajah Devan oleh perawat.Ia berdiri di koridor, napas tersengal, seluruh jiwanya remuk. Begitu jahat dirinya yang meminta Sita minum obat pencegah kehamilan, bahkan tid







