LOGINSalah satu pria seraphine itu menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju lurus pada Seira. Untuk sepersekian detik, matanya berkilat—cahaya tipis yang muncul lalu tenggelam, seolah data telah dikunci. Sudut bibirnya bergerak nyaris tak terlihat. Ia mulai melangkah mendekat.Namun sebelum jarak itu benar-benar terpangkas—“Lucan?”Suara Seira terdengar kaget.Tangannya tiba-tiba ditarik kuat. Tubuhnya terhuyung sedikit sebelum menyadari siapa yang menggenggamnya. Lucan. Tanpa penjelasan, pria itu menyeretnya menjauh dari kerumunan, langkahnya cepat dan tegas, seolah waktu tidak memberinya pilihan lain.Mia yang ikut tertarik refleks ikut melangkah. Alisnya berkerut, jelas tidak mengerti apa yang sedang terjadi.“Lucan, sejak kapan kau ada di sini?” tanya Seira bingung.Tangannya masih digenggam erat, terlalu erat, sampai ia bisa merasakan ketegangan di jemari Lucan.Lucan tidak langsung menjawab. Ia terus melangkah, membawa mereka menjauh dari gedung, dari taman, dari titik-titik yang
Lucan hendak bangkit, berniat menjauh sebelum ciuman singkat itu berubah menjadi sesuatu yang tak ia pahami. Namun sebelum tubuhnya benar-benar terangkat, tangan Seira justru melingkar di tengkuknya, menahannya.Lucan terdiam.Bibir mereka kembali bersentuhan.Kali ini bukan sekadar sentuhan tak sengaja. Ada tekanan. Ada keberanian. Seira menekan bibir Lucan lebih dalam, seolah seluruh kecemasan dan kecemburuan yang ia pendam sejak kemarin dilepaskan di sana.Lucan terkejut.Dadanya bergetar. Detak jantungnya berdegup tidak teratur—asing, kacau, dan terlalu cepat. Selama hidupnya sebagai seraphine, ia tak pernah mengenal irama seperti ini. Tubuhnya bereaksi tanpa perintah, tanpa logika. Ada yang sesuatu dalam tubuhnya yang tiba tiba menegang. Naluri yang murni, naluri seorang lelaki yang hidup sebagai manusia.Seira mendominasi, matanya terpejam, larut dalam perasaan yang bahkan ia sendiri tak sempat pahami. Lucan tak bergerak—bukan karena menolak, tapi karena ia tak tahu bagaimana ha
Malam itu, langit Seoul tampak gelap tanpa satu pun bintang. Udara terasa berat, sunyi yang aneh menyelimuti kota—berbeda dari malam-malam sebelumnya. Seolah dunia manusia sendiri menyadari bahwa seorang putra surgawi sedang diburu, dan takdir tengah bergeser perlahan.“Aaaarrrgghhh—!!!”Teriakan Elyon memecah kesunyian.Matanya terbuka lebar, memancarkan cahaya perak keemasan yang menyala liar, mengerikan. Kilau itu merambat hingga ke dadanya, berdenyut seperti jantung kedua yang memberontak dari dalam tubuhnya. Kedua lengannya terbuka, tubuhnya menegang, seolah menahan sesuatu yang hendak merobeknya dari dalam.“Aaarrghh…!”Erangannya pecah, sarat rasa sakit.Napasnya terengah-engah, kasar, seperti manusia yang sedang sekarat—namun rasa sakit itu jauh melampaui batas fana.“T-Tuan Elyon…” suara seorang pria muda berkemeja biru terdengar gemetar.Ia mencoba mendekat, namun ragu, takut tersambar amarah maupun cahaya yang mengelilingi Elyon.Tangan kanan Elyon menekan dadanya kuat-kuat
Lucan berbalik dan membuka pintu kulkas. Udara dingin menyembur keluar saat ia menuangkan air ke dalam gelas.Di belakangnya, Mia tersenyum kecil—senyum yang terlalu tenang untuk sesuatu yang begitu disengaja.Punggung Lucan yang bidang membentang di hadapannya.Perlahan, Mia melangkah mendekat.Satu langkah.Dua langkah.Hingga jarak di antara mereka nyaris tak ada.“Lucan…” panggilnya lirih.Seketika Lucan berbalik.DEG!Mia sudah berdiri begitu dekat. Terlalu dekat.Lucan refleks melangkah mundur, namun punggungnya membentur ujung meja wastafel. Kedua tangannya spontan mencengkeram pinggir meja, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak kehilangan keseimbangan.“Bagaimana kalau kita pergi sekarang?” bisik Mia di depan wajahnya.“Lebih cepat lebih baik, bukan?”Senyum itu—senyum penuh maksud—menggantung di bibir Mia.“Ah… baiklah,” jawab Lucan canggung.“Tapi aku harus meminta izin dulu pada Seira.”Mia mengangguk kecil. Namun kakinya tak bergerak sedikit pun.Tiba-tiba tangan ka
“Tunggu, Lucan!”Seira menghentak. Tangannya menghempas genggaman Lucan dengan kasar hingga terlepas.Lucan berhenti. Tubuhnya berputar perlahan, matanya menatap Seira. Tatapan itu bukan dingin—melainkan waspada, seolah ia masih berada dalam situasi berbahaya.“Kau ini kenapa?” suara Seira bergetar, menahan kesal.“Kau bilang akan menungguku. Tapi kau menghilang tanpa kabar. Aku mencarimu, aku tidak tahu kau ke mana. Dan sekarang kau datang begitu saja lalu menarikku seperti ini?”Lucan terdiam. Pandangannya bergerak cepat—ke kanan, ke kiri, menyapu jalanan, wajah-wajah asing, bayangan yang berlalu.Hanya setelah yakin, ia kembali menatap Seira.
Mia masih menatap Lucan, seolah jarak di antara mereka tak pernah ada. Tatapannya terlalu lama, terlalu bebas, seperti ia sudah mengenalnya sejak dulu.“Lucan,” ucapnya akhirnya.“Kita belum berkenalan secara resmi.”Ia menyodorkan tangannya dengan senyum percaya diri.“Namaku Mia. Aku dan Seira sudah bersahabat sejak lama.”Lucan melirik tangan itu sejenak. Wajahnya tetap tenang—terlalu tenang untuk pria yang baru saja menjadi pusat perhatian. Lalu ia mengulurkan tangannya.“Lucan,” jawabnya singkat. Tidak lebih.Sentuhan singkat itu membuat Mia sedikit tertegun. Ada sesuatu dari cara Lucan memandang—dingin, jauh, namun memikat.Lucan menarik tangannya lebih dulu. Ia menoleh pada Seira.“Seira, kau bisa masuk sekarang. Aku akan berjalan-jalan sambil menunggumu pulang.”Seira tersenyum kecil, lalu mengangguk.“Baiklah.”Lucan berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.“Lucan…” Mia memanggil pelan, matanya mengikuti punggung tinggi itu hingga menjauh.“Dia pacarmu?”Seira menggel







