LOGINJam di ponsel Seira menunjukkan pukul enam sore.
Langit di atas kota perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang mendominasi kini tergeser oleh jingga lembut, seolah matahari enggan pergi sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.
“Seira, hati-hati di jalan!” seru Mia ketika Seira sudah berdiri di tepi trotoar.
Mereka baru saja berpisah di depan kampus.
“Hei, Seira,” lanjut Mia, membuka jendela mobilnya.
“Kau benar-benar tidak mau kuantar pulang?”Untuk kesekian kalinya.
Seira menoleh sambil tersenyum kecil. Tanpa menjawab, ia justru berlari menyeberang jalan, lalu melambaikan tangan tinggi-tinggi, member
Seira tampak semakin gugup. Gerakannya kikuk, langkahnya tanpa sadar mundur menjauh dari tubuh Lucan, seolah jarak adalah satu-satunya cara untuk menenangkan jantungnya yang belum juga mau berhenti berdebar.TING TONG!Bunyi bel rumah memecah suasana.Seira tersentak kecil. Dengan cepat ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum yang terasa kaku.“Ah, itu pasti Kak Leo sudah pulang,” katanya tergesa.“Biar aku yang membukanya.”Lucan hanya diam, menatap punggung Seira yang melangkah cepat menuju pintu. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu tiba-tiba berubah canggung. Namun ia bisa merasakannya—sesuatu di udar
Jam di ponsel Seira menunjukkan pukul enam sore.Langit di atas kota perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang mendominasi kini tergeser oleh jingga lembut, seolah matahari enggan pergi sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.“Seira, hati-hati di jalan!” seru Mia ketika Seira sudah berdiri di tepi trotoar.Mereka baru saja berpisah di depan kampus.“Hei, Seira,” lanjut Mia, membuka jendela mobilnya.“Kau benar-benar tidak mau kuantar pulang?”Untuk kesekian kalinya.Seira menoleh sambil tersenyum kecil. Tanpa menjawab, ia justru berlari menyeberang jalan, lalu melambaikan tangan tinggi-tinggi, member
“Ahhh… aku ini kenapa, sih?” gumam Seira kesal sambil berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.“Tiap kali matanya menatapku, aku selalu terlihat bodoh.”Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa panas yang masih tersisa di wajahnya.Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya berhenti di tepi jalan. Dengan langkah tergesa, Seira naik dan duduk di bangku tengah. Bus kembali melaju, meninggalkan deretan rumah kontrakan di belakang.Seira menoleh ke jendela yang terbuka. Angin siang itu menerpa wajahnya, mengibarkan rambut panjangnya yang sudah dikuncir satu. Udara kota terasa lebih padat dibanding desa—ramai, bergerak, dan tak pernah benar-benar diam.Namun justru di situlah bayangan itu muncul.Lucan.Pagi tadi. Cara pria itu membuka jendela bus di sampingnya. Rambut pendeknya yang tertiup angin. Garis wajahnya yang terlalu sempurna untuk disebut biasa.Seira mengernyit, lalu cepat-cepat menggelengkan kepala.“Tidak. Jangan dipikirkan,” gumamnya, menoleh lurus ke depan.“Dia cuma
Bus melaju kencang membelah jalanan menuju Seoul. Getaran mesin dan dengung roda berpadu dengan suara angin yang menampar kaca jendela. Lucan duduk diam, punggungnya tegak, telapak tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengatur napas—pelan, terukur—seperti manusia.Tenang. Jangan mencolok. Jangan berbeda.Ia tahu, selama berada di antara Seira dan Leo, ia aman. Untuk sementara. Dunia manusia menuntut hal-hal sederhana yang tak pernah ia butuhkan di Lumeris: tempat tinggal, makanan, pakaian, identitas. Ia akan mempelajarinya. Ia harus melakukannya.Seira yang duduk di sampingnya menoleh. Tatapannya berhenti di wajah Lucan yang memandang lurus ke depan.“Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi, suaranya sedikit menurun, khawatir.Lucan mengangguk.“Ya. Aku baik baik saja.”Ia lalu menoleh dan membuka jendela bus lebih lebar. Angin menerobos masuk, mengibaskan rambut pendeknya. Udara kota yang asing mengisi paru-parunya—hangat, berdebu, dan terasa lebih hidup. Ia menutup mata sejenak, memb
Langit pagi itu cerah — terlalu cerah untuk sebuah hari yang akan mengubah segalanya.Udara lembap masih terasa dari sisa embun di dedaunan, sementara suara ayam dan sepeda motor warga desa bersahut-sahutan.“Sudah siap semua?” suara ibu Seira terdengar dari teras, menatap tiga sosok yang berdiri di depan rumah.Leo memanggul tas hitam besar, wajahnya datar seperti biasa.Seira mengenakan kemeja putih dan rok panjang, membawa tote bag berisi buku dan bekal.Sedangkan Lucan berdiri di antara mereka — masih memakai pakaian pinjaman Leo, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.“Terima kasih atas sarapannya, Bibi,” ucap Lucan sopan.Ibu Seira tersenyum hangat, menepuk bahu pemuda itu. “Hati-hati di jalan, Nak.”Mereka pun melangkah. Jalan setapak dari tanah menuju halte kecil di pinggir desa tampak lengang. Di kejauhan, langit kota sudah terlihat — gedung-gedung menjulang samar, tertutup kabut pagi.Seira berjalan di depan, Leo di belakangnya, dan Lucan di tengah.Suasana awalnya ten
Angin malam di luar berhembus lembut, Elyon yang malam itu sudah memulai pencarian merasakan beratnya udara itu.Bau asin laut, lembab tanah, dan aroma kehidupan manusia bercampur menjadi sesuatu yang asing baginya. Kini tubuhnya telah kembali menggunakan tubuh Seraphine nya.Sudah semalam penuh sejak ia dan pasukan Seraphine-nya menembus batas langit dan turun ke dunia fana ini.Namun hingga kini, jejak Lucan belum juga mereka temukan.Cahaya Lumeris di tubuh mereka telah meredup — berganti menjadi bentuk manusia yang sepenuhnya tampak nyata di mata manusia lain.Tidak ada sayap. Tidak ada kilau di kulit.Namun di tengkuk mereka, tersisa satu tanda halus berbentuk sigil yang kadang memancarkan cahaya redup saat energi ilahi mereka terusik.Elyon berdiri di atas tebing yang menghadap laut.Ombak pecah di bawah kakinya, sementara beberapa Seraphine berdiri tak jauh di belakang, masing-masing menatap cakrawala dengan mata tajam.“Lucan turun di sekitar wilayah ini,” ucap salah satu Sera







