MasukLucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k
Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap
“Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.
Tubuh Lucan terasa seperti sedang dilelehkan dari dalam. Sisa-sisa Ritual Cahaya garapan Dea Lira masih berkecamuk di dalam nadinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Setiap inci kulitnya terasa panas membara, seolah-olah cahaya itu ingin merobek dagingnya untuk keluar."Lucan...!! Akulah penawarmu! Jangan pernah berharap Seira akan datang ke sini!" Mia berbisik tajam, napasnya yang memburu terasa kontras di kulit Lucan yang mulai demam."Hanya aku yang bisa memadamkan api ini. HANYA AKU, LUCAN!"Tanpa peringatan, Mia menyambar bibir Lucan untuk kesekian kalinya, melumatnya dengan rakus seolah ingin menyerap paksa sisa nyawa pria itu. Lucan mengerang tertahan; setiap sentuhan Mia justru memicu rasa perih yang luar biasa pada sarafnya yang sedang meradang."Mia... tolong... hen... tikan..." rintih Lucan parau.Kelopak matanya bergetar hebat, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur menahan sakit.Mia menarik diri sejenak, namun bukan untuk memberi ru
“Bagaimana, Elyon?” suara Dea Lira menggema lembut namun berkuasa, memantul di dinding ruangan yang masih dipenuhi sisa cahaya ritual.Elyon tersenyum lebar. Napasnya stabil. Tubuhnya terasa penuh, kuat, seolah baru saja menyerap matahari ke dalam dadanya sendiri. Ia meraih kembali kemejanya dengan santai.“Selalu menarik, Ibu. Tubuhku selalu jauh lebih kuat dari sebelumnya.”Sementara itu—Lucan masih bersimpuh di lantai.Kedua lututnya menekan marmer dingin. Kedua tangannya gemetar, berusaha menopang tubuhnya sendiri. Napasnya tersengal, tidak beraturan.DUG. DUG. DUG.Langkah kaki Elyon mendekat.Seorang Seraphine maju dan menarik kedua lengan Lucan ke belakang dengan kasar.“Aghh—” erang Lucan tertahan.Sendi bahunya terasa seperti ditarik keluar dari tempatnya. Rasa sakit belum selesai dari ritual tadi—dan kini ditambah tekanan baru.Tubuhnya terasa hampa. Seperti sumur yang baru saja dikuras sampai dasar.Elyon berjongkok, menyamakan tinggi wajahnya dengan Lucan. Tangannya terang
Mia tersenyum memandang Lucan. Senyum yang tampak manis, namun di baliknya ada kepuasan yang perlahan mengembang. Tangannya terangkat, jari telunjuknya menyentuh pipi Lucan, menyusuri rahangnya, lalu berhenti di bibirnya. Gerakannya lambat. Seolah ia sedang mengukir sesuatu yang indah—atau menandai sesuatu yang sudah menjadi miliknya.“Aku benar-benar bahagia, Lucan,” bisiknya.“Aku suka kau berada di sini. Bersamaku.”Lucan tidak bergerak.Ia berdiri tegak, tetapi tubuhnya terasa kaku. Setiap sentuhan Mia bukanlah kelembutan baginya—melainkan pengingat bahwa ia berada di bawah kendali seseorang yang memegang kelemahannya.Dengan dorongan kecil di dada, Mia mendorongnya.Lucan terjatuh duduk di ujung ranjang. Refleks, kedua tangannya bertumpu ke belakang agar tubuhnya tidak sepenuhnya rebah. Posisi itu membuatnya tampak seperti seseorang yang dipaksa bertahan, bukan menikmati.Tatapan mereka bertemu.Mia membungkuk sedikit, menyamakan tinggi wajah mereka. Lalu perlahan, tanpa ragu, ia
Bus melaju kencang membelah jalanan menuju Seoul. Getaran mesin dan dengung roda berpadu dengan suara angin yang menampar kaca jendela. Lucan duduk diam, punggungnya tegak, telapak tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengatur napas—pelan, terukur—seperti manusia.Tenang. Jangan mencolok. Janga
Langit pagi itu cerah — terlalu cerah untuk sebuah hari yang akan mengubah segalanya.Udara lembap masih terasa dari sisa embun di dedaunan, sementara suara ayam dan sepeda motor warga desa bersahut-sahutan.“Sudah siap semua?” suara ibu Seira terdengar dari teras, menatap tiga sosok yang berdiri d
Angin malam di luar berhembus lembut, Elyon yang malam itu sudah memulai pencarian merasakan beratnya udara itu.Bau asin laut, lembab tanah, dan aroma kehidupan manusia bercampur menjadi sesuatu yang asing baginya. Kini tubuhnya telah kembali menggunakan tubuh Seraphine nya.Sudah semalam penuh se
“Lucan…”Langkah Elyon terdengar pelan di dalam kuil cahaya.“Aku tahu kau akan bertahan,” lanjutnya, suaranya tenang.“Jadi lakukan ini untukku.”Di atas altar suci Lumeris, tubuh Lucan terikat rantai ilahi. Sigil di dadanya berdenyut keras, memancarkan cahaya biru yang terasa panas hingga ke tula







