Share

INGATAN LUCAN

Penulis: KEZHIA ZHOU
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-17 11:54:45

Lucan terdiam. Nafasnya pelan, tapi sorot matanya tajam dan gelap.

Kilatan biru di iris matanya perlahan meredup, kembali menjadi biru keabu-abuan.

Lucan masih bersandar di dinding, perlahan menunduk. Matanya perlahan kembali normal.

“A–apa yang terjadi di sini!?” suara Seira terdengar dari arah dapur.

Seira berlari keluar bersama ibunya. Wajah mereka panik melihat Leo, kakak Seira yang terjatuh di lantai.

“Kak! Kau kenapa!?”

“Apa yang terjadi?” tanya ibunya cemas.

Leo menunjuk Lucan dengan tangan bergetar.

“Siapa… siapa dia sebenarnya?”

“Namanya Lucan,” jawab ibunya lembut tapi tegas. 

“Dia tersesat. Jadi Ibu menyuruhnya tinggal di sini malam ini. Tadi bajunya basah, jadi Ibu meminjamkan bajumu padanya.”

Leo menatap ibunya tidak percaya. 

“Aku sudah bilang, Bu… jangan asal bawa orang asing masuk rumah.”

“Ibu hanya kasihan,” jawab ibunya dengan nada pelan.

Seira ikut bersuara, masih kesal. 

“Aku sudah bilang ke Ibu, Kak. Tapi Ibu tetap ingin menolong dia.”

Leo mendengus pelan. Wajahnya menegang, tapi sorot matanya menyimpan keraguan.

Ia mengingat kilatan cahaya aneh di mata Lucan tadi — sesuatu yang tidak manusiawi.

“Mungkin… aku salah lihat,” gumamnya lirih, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

Seira menatap kakaknya curiga. 

“Kau kenapa, Kak?”

Leo menggeleng cepat. 

“Tidak apa-apa.”

Namun pandangannya kembali tertuju pada Lucan — yang kini berdiri diam, wajahnya tenang tapi dingin, matanya kini kembali menatap Leo dalam-dalam seolah tahu apa yang sedang ia pikirkan.

Udara di ruangan itu seolah menegang.

Tak ada yang berbicara untuk beberapa detik — hanya suara jam dinding dan desiran angin malam dari jendela yang sedikit terbuka.

Mereka saling memandang dalam diam.

Lucan tersenyum tipis, senyum yang anehnya membuat jantung Seira berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.

Sedangkan Leo, diam-diam merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tamu malam itu. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar orang tersesat.

**

Malam semakin larut.

Hujan turun pelan di luar rumah, menetes lembut di atap seng dan dedaunan. Rumah kecil itu tenggelam dalam sunyi — hanya ada suara jam dinding berdetak pelan, 

tik… tak… tik… tak…

Leo berbaring di kamarnya, tapi matanya terbuka lebar.

Ia tidak bisa tidur. Bayangan cahaya biru di mata Lucan terus berputar di kepalanya.

“Cahaya itu… bukan pantulan lampu, kan?” gumamnya pelan.

Tangannya mengepal di dada. Ada rasa tak nyaman yang tak bisa dijelaskan.

Ia bangkit perlahan, membuka pintu kamar tanpa suara. Langkahnya berhati-hati menapaki lantai kayu.

Dari ruang tamu, ia melihatnya — Lucan, duduk sendirian di dekat jendela yang terbuka, menatap langit malam.

Hujan kecil menetes ke rambut hitam Lucan, membuat sebagian wajahnya tampak berkilau di bawah cahaya lampu.

Leo menahan napas, bersembunyi di balik tembok. Ia memperhatikan dalam diam.

Lucan tampak berbeda.

Mata biru kelamnya menatap jauh ke langit, seolah bisa menembus awan dan melihat sesuatu di luar dunia manusia.

“Apa kau bisa merasakannya, Elyon…?” gumam Lucan lirih, nyaris seperti doa.

“Aku tahu kalian sudah turun ke sini.”

Leo menatap tajam — ia tidak mengenali nama itu, tapi nada suara Lucan membuat bulu kuduknya berdiri.

Dan kemudian — ZZTTT!

Sebuah percikan cahaya biru muncul sekejap di tengkuk Lucan, menyala seperti simbol bercahaya sebelum padam kembali.

Mata Leo membulat.

“Apa itu barusan?” bisiknya nyaris tanpa suara.

Lucan menunduk, memejamkan mata, lalu menutup kerah bajunya lebih rapat.

Ia tahu tanda itu tidak bisa hilang, tapi harus disembunyikan.

Dari kamar sebelah, Seira melangkah keluar. Rambutnya terurai, wajahnya setengah mengantuk.

“Lucan?” suaranya lembut tapi membuat Lucan menoleh cepat.

“Oh, maaf… apakah aku membangunkanmu?” ucap Lucan dengan nada tenang.

Seira menggeleng. 

“Tidak. Aku hanya haus.”

Dia melangkah melewati Leo tanpa sadar kakaknya sedang mengintip dari balik tembok.

Saat berjalan ke dapur, Seira sempat menoleh sekilas, menatap Lucan.

Ada sesuatu di sorot mata pria itu — lelah, dingin, tapi… juga kesepian.

Seira berhenti sejenak. 

“Lucan… kau tidak tidur?”

Lucan tersenyum kecil, samar. 

“Aku hanya… tidak terbiasa dengan keheningan seperti ini.”

Seira mengernyitkan keningnya. 

“Kau aneh,” katanya jujur, tapi dengan nada lembut.

Lucan hanya membalas dengan senyum tipis, lalu kembali menatap langit.

Di atas sana, awan bergolak perlahan. Sesuatu bergetar di udara, samar tapi terasa — energi ilahi yang menembus batas dimensi.

Lucan bisa merasakannya.

“Mereka sudah semakin dekat,” gumamnya dalam hati.

Dari balik tembok, Leo memandangi pria asing itu lama sekali.

Ia tidak tahu siapa sebenarnya Lucan… tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia yakin: orang itu bukan manusia biasa.

Menyadari ada yang sedang mengawasinya, Lucan akhirnya masuk ke kamar kecil yang disediakan untuknya.

Ia duduk di tepi ranjang, lalu merebahkan tubuhnya. Mata terpejam.

Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.

Ingatan itu kembali. Ingatan beberapa waktu lalu sebelum dia jatuh ke dunia manusia.

“AAARGHH—!!”

Suara teriakan mengguncang kuil cahaya.

Tubuh Lucan terhempas ke lantai kristal. Rantai ilahi menahan kedua lengannya di atas kepala, berkilau dingin.

ZRRRTTT—!!

Segel di dadanya menyala, membakar kulitnya dengan pola kuno berbentuk lingkaran cahaya.

Darahnya menetes.

Bukan merah—

melainkan cahaya biru yang menggeliat seperti api hidup.

“Hentikan… Ibu…” suaranya bergetar.

“Tolong… hentikan…”

Dari samping altar, Dea Lira menatapnya tanpa emosi. Mata biru mudanya bersinar dingin. Sayap putih raksasa menjulur di punggungnya, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.

“Kau adalah Seraphine,” katanya tenang.

“Darahku sendiri.”

“Kau seharusnya bersyukur. Dengan sigil itu, kau menyelamatkan Lumeris. Menyalamatkan kakakmu, Elyon. Sang pewaris.”

ZINGGG!

Gelombang energi menghantam tubuh Lucan. Ia berteriak, tubuhnya menegang. Sayapnya—yang dulu putih bersih—mulai menghitam di bagian tepi.

“Menyelamatkan…?” Lucan memaksa membuka mata.

“Kau menyebut menyelamatkan—dengan mencuri hidupku?!”

Namun Dea Lira tidak bergeming.

Wajahnya tetap dingin. Suci. Tak tersentuh.

DEG! DEG!

“Hahh…! Hahh..!”

Lucan membuka mata.

Napasnya tercekat.

Langit-langit kamar manusia menggantikan cahaya kuil.

Ia menatap kosong, lalu berbisik pelan.

“Aku tidak akan kembali.”

Di luar, hujan terus turun.

Dan di langit yang jauh, sesuatu mulai bergerak.

Hari itu langit Lumeris tidak pernah gelap.

Negeri para Seraphine — makhluk bersayap dari cahaya, keturunan langsung para dewa. Mereka hidup di atas pilar-pilar cahaya, menatap dunia fana dari kejauhan, menganggap diri suci dan abadi.

Namun di dunia yang terang abadi itu, tidak ada kasih yang murni.

Semua cahaya menuntut bayangan untuk tetap bersinar.

Dan Lucan… adalah bayangan itu.

Matanya kembali terpejam. Suara erangannya kala itu masih bisa dia dengar, suara permohonan supaya sang ibu melepaskannya masih terngiang jelas.

  

“Ibu…” suaranya hampir hilang. 

“Berapa lama lagi aku harus menderita agar Elyon tetap hidup?”

Di sisi ruangan, Elyon berdiri diam. Wajahnya tidak setampan Lucan, wajahnya pucat. Sayapnya bergetar kecil, cahaya dari tubuhnya tampak lebih kuat dari sebelumnya — tanda sigil Lucan sedang mentransfer energi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PAGI YANG TEGANG

    ZZZTTT…!!!Elyon tersentak bangun.Napasnya terputus sesaat, seolah udara di sekelilingnya mendadak menolak masuk ke paru-parunya. Matanya terbuka lebar—dan kilau itu kembali muncul. Silver kebiruan, dingin, tajam, bukan milik manusia.“Lucan…” gumamnya lirih.Denyut itu masih terasa. Halus, tapi nyata. Seperti benang cahaya yang ditarik paksa dari jarak jauh, bergetar tepat di pusat dadanya.“Kau mengaktifkan sigil seraphine mu…” ucap Elyon pelan, senyumnya perlahan terbentuk.Ia kini sepenuhnya berada dalam tubuh manusia—kulit fana, napas fana, denyut jantung yang seharusnya rapuh. Namun kesadarannya tetap sama. Seraphine yang kehilangan separuh hidupnya.Ketika Lucan mengaktifkan lambang di tengkuknya—meski hanya sesaat—resonansi itu menyebar. Tidak h

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RAMYEON

    Seira menuangkan mi ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih. Uap panas langsung mengepul, mengembun di udara dapur yang sempit.DUG. DUG. DUG.Langkah kaki terdengar dari arah tangga.“Kau sedang membuat apa?” suara Leo muncul bersamaan dengan sosoknya yang terlihat dari balik anak tangga.Posturnya tidak setinggi Lucan.“Ramyeon, Kak,” jawab Seira tanpa menoleh.“Aku buatkan satu untukmu juga.”Leo mengangguk singkat, lalu berjalan ke kursi dekat dapur dan duduk dengan malas. Tak lama, Lucan ikut duduk di seberangnya. Tubuh tinggi itu tampak sedikit kaku, seperti seseorang yang masih belum sepenuhnya terbiasa berada di ruang kecil bersama orang lain.Seira sesekali menoleh, matanya tanpa sadar memandangi punggung lebar Lucan. Cara ia duduk, cara bahunya bergerak pelan saat bernapas—semuanya terasa asing tapi entah kenapa menarik.Leo menangkap tatapan itu.Sorot matanya berpindah dari adiknya ke Lucan. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya—bukan lagi rasa tidak suka yang tajam,

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   APAKAH BEKERJA ITU MELELAHKAN?

    Seira tampak semakin gugup. Gerakannya kikuk, langkahnya tanpa sadar mundur menjauh dari tubuh Lucan, seolah jarak adalah satu-satunya cara untuk menenangkan jantungnya yang belum juga mau berhenti berdebar.TING TONG!Bunyi bel rumah memecah suasana.Seira tersentak kecil. Dengan cepat ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum yang terasa kaku.“Ah, itu pasti Kak Leo sudah pulang,” katanya tergesa.“Biar aku yang membukanya.”Lucan hanya diam, menatap punggung Seira yang melangkah cepat menuju pintu. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu tiba-tiba berubah canggung. Namun ia bisa merasakannya—sesuatu di udar

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   CANGGUNG

    Jam di ponsel Seira menunjukkan pukul enam sore.Langit di atas kota perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang mendominasi kini tergeser oleh jingga lembut, seolah matahari enggan pergi sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.“Seira, hati-hati di jalan!” seru Mia ketika Seira sudah berdiri di tepi trotoar.Mereka baru saja berpisah di depan kampus.“Hei, Seira,” lanjut Mia, membuka jendela mobilnya.“Kau benar-benar tidak mau kuantar pulang?”Untuk kesekian kalinya.Seira menoleh sambil tersenyum kecil. Tanpa menjawab, ia justru berlari menyeberang jalan, lalu melambaikan tangan tinggi-tinggi, member

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PERASAAN ASING

    “Ahhh… aku ini kenapa, sih?” gumam Seira kesal sambil berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.“Tiap kali matanya menatapku, aku selalu terlihat bodoh.”Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa panas yang masih tersisa di wajahnya.Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya berhenti di tepi jalan. Dengan langkah tergesa, Seira naik dan duduk di bangku tengah. Bus kembali melaju, meninggalkan deretan rumah kontrakan di belakang.Seira menoleh ke jendela yang terbuka. Angin siang itu menerpa wajahnya, mengibarkan rambut panjangnya yang sudah dikuncir satu. Udara kota terasa lebih padat dibanding desa—ramai, bergerak, dan tak pernah benar-benar diam.Namun justru di situlah bayangan itu muncul.Lucan.Pagi tadi. Cara pria itu membuka jendela bus di sampingnya. Rambut pendeknya yang tertiup angin. Garis wajahnya yang terlalu sempurna untuk disebut biasa.Seira mengernyit, lalu cepat-cepat menggelengkan kepala.“Tidak. Jangan dipikirkan,” gumamnya, menoleh lurus ke depan.“Dia cuma

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEOUL

    Bus melaju kencang membelah jalanan menuju Seoul. Getaran mesin dan dengung roda berpadu dengan suara angin yang menampar kaca jendela. Lucan duduk diam, punggungnya tegak, telapak tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengatur napas—pelan, terukur—seperti manusia.Tenang. Jangan mencolok. Jangan berbeda.Ia tahu, selama berada di antara Seira dan Leo, ia aman. Untuk sementara. Dunia manusia menuntut hal-hal sederhana yang tak pernah ia butuhkan di Lumeris: tempat tinggal, makanan, pakaian, identitas. Ia akan mempelajarinya. Ia harus melakukannya.Seira yang duduk di sampingnya menoleh. Tatapannya berhenti di wajah Lucan yang memandang lurus ke depan.“Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi, suaranya sedikit menurun, khawatir.Lucan mengangguk.“Ya. Aku baik baik saja.”Ia lalu menoleh dan membuka jendela bus lebih lebar. Angin menerobos masuk, mengibaskan rambut pendeknya. Udara kota yang asing mengisi paru-parunya—hangat, berdebu, dan terasa lebih hidup. Ia menutup mata sejenak, memb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status