LOGINLucan terdiam. Nafasnya pelan, tapi sorot matanya tajam dan gelap.
Kilatan biru di iris matanya perlahan meredup, kembali menjadi biru keabu-abuan.
Lucan masih bersandar di dinding, perlahan menunduk. Matanya perlahan kembali normal.
“A–apa yang terjadi di sini!?” suara Seira terdengar dari arah dapur.
Seira berlari keluar bersama ibunya. Wajah mereka panik melihat Leo, kakak Seira yang terjatuh di lantai.
“Kak! Kau kenapa!?”
“Apa yang terjadi?” tanya ibunya cemas.
Leo menunjuk Lucan dengan tangan bergetar.
“Siapa… siapa dia sebenarnya?”
“Namanya Lucan,” jawab ibunya lembut tapi tegas.
“Dia tersesat. Jadi Ibu menyuruhnya tinggal di sini malam ini. Tadi bajunya basah, jadi Ibu meminjamkan bajumu padanya.”
Leo menatap ibunya tidak percaya.
“Aku sudah bilang, Bu… jangan asal bawa orang asing masuk rumah.”
“Ibu hanya kasihan,” jawab ibunya dengan nada pelan.
Seira ikut bersuara, masih kesal.
“Aku sudah bilang ke Ibu, Kak. Tapi Ibu tetap ingin menolong dia.”
Leo mendengus pelan. Wajahnya menegang, tapi sorot matanya menyimpan keraguan.
Ia mengingat kilatan cahaya aneh di mata Lucan tadi — sesuatu yang tidak manusiawi.
“Mungkin… aku salah lihat,” gumamnya lirih, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Seira menatap kakaknya curiga.
“Kau kenapa, Kak?”
Leo menggeleng cepat.
“Tidak apa-apa.”
Namun pandangannya kembali tertuju pada Lucan — yang kini berdiri diam, wajahnya tenang tapi dingin, matanya kini kembali menatap Leo dalam-dalam seolah tahu apa yang sedang ia pikirkan.
Udara di ruangan itu seolah menegang.
Tak ada yang berbicara untuk beberapa detik — hanya suara jam dinding dan desiran angin malam dari jendela yang sedikit terbuka.
Mereka saling memandang dalam diam.
Lucan tersenyum tipis, senyum yang anehnya membuat jantung Seira berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.
Sedangkan Leo, diam-diam merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tamu malam itu. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar orang tersesat.
**
Malam semakin larut.
Hujan turun pelan di luar rumah, menetes lembut di atap seng dan dedaunan. Rumah kecil itu tenggelam dalam sunyi — hanya ada suara jam dinding berdetak pelan,
tik… tak… tik… tak…
Leo berbaring di kamarnya, tapi matanya terbuka lebar.
Ia tidak bisa tidur. Bayangan cahaya biru di mata Lucan terus berputar di kepalanya.
“Cahaya itu… bukan pantulan lampu, kan?” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal di dada. Ada rasa tak nyaman yang tak bisa dijelaskan.
Ia bangkit perlahan, membuka pintu kamar tanpa suara. Langkahnya berhati-hati menapaki lantai kayu.
Dari ruang tamu, ia melihatnya — Lucan, duduk sendirian di dekat jendela yang terbuka, menatap langit malam.
Hujan kecil menetes ke rambut hitam Lucan, membuat sebagian wajahnya tampak berkilau di bawah cahaya lampu.
Leo menahan napas, bersembunyi di balik tembok. Ia memperhatikan dalam diam.
Lucan tampak berbeda.
Mata biru kelamnya menatap jauh ke langit, seolah bisa menembus awan dan melihat sesuatu di luar dunia manusia.
“Apa kau bisa merasakannya, Elyon…?” gumam Lucan lirih, nyaris seperti doa.
“Aku tahu kalian sudah turun ke sini.”
Leo menatap tajam — ia tidak mengenali nama itu, tapi nada suara Lucan membuat bulu kuduknya berdiri.
Dan kemudian — ZZTTT!
Sebuah percikan cahaya biru muncul sekejap di tengkuk Lucan, menyala seperti simbol bercahaya sebelum padam kembali.
Mata Leo membulat.
“Apa itu barusan?” bisiknya nyaris tanpa suara.
Lucan menunduk, memejamkan mata, lalu menutup kerah bajunya lebih rapat.
Ia tahu tanda itu tidak bisa hilang, tapi harus disembunyikan.
Dari kamar sebelah, Seira melangkah keluar. Rambutnya terurai, wajahnya setengah mengantuk.
“Lucan?” suaranya lembut tapi membuat Lucan menoleh cepat.
“Oh, maaf… apakah aku membangunkanmu?” ucap Lucan dengan nada tenang.
Seira menggeleng.
“Tidak. Aku hanya haus.”
Dia melangkah melewati Leo tanpa sadar kakaknya sedang mengintip dari balik tembok.
Saat berjalan ke dapur, Seira sempat menoleh sekilas, menatap Lucan.
Ada sesuatu di sorot mata pria itu — lelah, dingin, tapi… juga kesepian.
Seira berhenti sejenak.
“Lucan… kau tidak tidur?”
Lucan tersenyum kecil, samar.
“Aku hanya… tidak terbiasa dengan keheningan seperti ini.”
Seira mengernyitkan keningnya.
“Kau aneh,” katanya jujur, tapi dengan nada lembut.
Lucan hanya membalas dengan senyum tipis, lalu kembali menatap langit.
Di atas sana, awan bergolak perlahan. Sesuatu bergetar di udara, samar tapi terasa — energi ilahi yang menembus batas dimensi.
Lucan bisa merasakannya.
“Mereka sudah semakin dekat,” gumamnya dalam hati.
Dari balik tembok, Leo memandangi pria asing itu lama sekali.
Ia tidak tahu siapa sebenarnya Lucan… tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia yakin: orang itu bukan manusia biasa.
Menyadari ada yang sedang mengawasinya, Lucan akhirnya masuk ke kamar kecil yang disediakan untuknya.
Ia duduk di tepi ranjang, lalu merebahkan tubuhnya. Mata terpejam.
Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.
Ingatan itu kembali. Ingatan beberapa waktu lalu sebelum dia jatuh ke dunia manusia.
“AAARGHH—!!”
Suara teriakan mengguncang kuil cahaya.
Tubuh Lucan terhempas ke lantai kristal. Rantai ilahi menahan kedua lengannya di atas kepala, berkilau dingin.
ZRRRTTT—!!
Segel di dadanya menyala, membakar kulitnya dengan pola kuno berbentuk lingkaran cahaya.
Darahnya menetes.
Bukan merah—
melainkan cahaya biru yang menggeliat seperti api hidup.“Hentikan… Ibu…” suaranya bergetar.
“Tolong… hentikan…”Dari samping altar, Dea Lira menatapnya tanpa emosi. Mata biru mudanya bersinar dingin. Sayap putih raksasa menjulur di punggungnya, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.
“Kau adalah Seraphine,” katanya tenang.
“Darahku sendiri.”“Kau seharusnya bersyukur. Dengan sigil itu, kau menyelamatkan Lumeris. Menyalamatkan kakakmu, Elyon. Sang pewaris.”
ZINGGG!
Gelombang energi menghantam tubuh Lucan. Ia berteriak, tubuhnya menegang. Sayapnya—yang dulu putih bersih—mulai menghitam di bagian tepi.
“Menyelamatkan…?” Lucan memaksa membuka mata.
“Kau menyebut menyelamatkan—dengan mencuri hidupku?!”Namun Dea Lira tidak bergeming.
Wajahnya tetap dingin. Suci. Tak tersentuh.
DEG! DEG!
“Hahh…! Hahh..!”
Lucan membuka mata.
Napasnya tercekat.
Langit-langit kamar manusia menggantikan cahaya kuil.
Ia menatap kosong, lalu berbisik pelan.
“Aku tidak akan kembali.”
Di luar, hujan terus turun.
Dan di langit yang jauh, sesuatu mulai bergerak.
Hari itu langit Lumeris tidak pernah gelap.
Negeri para Seraphine — makhluk bersayap dari cahaya, keturunan langsung para dewa. Mereka hidup di atas pilar-pilar cahaya, menatap dunia fana dari kejauhan, menganggap diri suci dan abadi.
Namun di dunia yang terang abadi itu, tidak ada kasih yang murni.
Semua cahaya menuntut bayangan untuk tetap bersinar.
Dan Lucan… adalah bayangan itu.
Matanya kembali terpejam. Suara erangannya kala itu masih bisa dia dengar, suara permohonan supaya sang ibu melepaskannya masih terngiang jelas.
“Ibu…” suaranya hampir hilang.
“Berapa lama lagi aku harus menderita agar Elyon tetap hidup?”
Di sisi ruangan, Elyon berdiri diam. Wajahnya tidak setampan Lucan, wajahnya pucat. Sayapnya bergetar kecil, cahaya dari tubuhnya tampak lebih kuat dari sebelumnya — tanda sigil Lucan sedang mentransfer energi.
DUK! DUK! DUK!Suara langkah kaki Seira terdengar cepat menuruni tangga. Ia masuk ke dapur tanpa benar-benar sadar apa yang sedang ia lakukan. Tangannya membuka lemari es, mengambil air dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas.Ia meneguknya perlahan.Namun pikirannya tidak di sana.Bayangan Lucan—wajah pucatnya, keringat dingin di pelipisnya, cara dia berjalan tergesa masuk ke kamar Leo—terus berputar di kepalanya.Seira menatap kosong ke depan.“Apa dia… sedang mencoba mengambil simpatiku?” gumamnya lirih.Namun kalimat itu bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi dirinya sendiri.Tubuhnya bersandar pada meja dapur.Gelas di tangannya masih setengah penuh.Matanya—tanpa sadar—berulang kali melirik ke arah tangga.Ke arah kamar Leo di lantai atas.Pintu itu…sedikit terbuka.**Di dalam kamar—Lucan terduduk di lantai.Punggungnya bersandar lemah pada sisi ranjang. Kepalanya sesekali terangkat, namun kembali jatuh. Matanya terpejam, rahangnya mengeras.“Agghh… hah… hah…”Napasnya tida
“Kau pria brengsek! Tidak seharusnya aku bertemu denganmu… menyebalkan!”Suara Seira pecah di punggung Lucan.Tangannya yang lemas beberapa kali memukul bahu pria itu, meski tanpa tenaga. Kepalanya bersandar berat di punggung Lucan, napasnya berbau alkohol, suaranya bercampur tangis yang tertahan.Lucan tidak menjawab.Tidak membela diri.Tidak juga menenangkan.Ia hanya berjalan.Langkahnya tetap tegak, meski setiap pijakan terasa seperti menghantam tubuhnya sendiri. Dadanya berdenyut pelan—bukan lagi ledakan rasa sakit seperti sebelumnya, tapi sisa-sisa nyeri yang menetap, menusuk dari dalam.Kekuatan di dalam dirinya belum pulih.Masih ada.Namun melemah.Seperti cahaya yang mulai redup, nyaris padam.Sesekali Lucan mengernyit tanpa sadar. Napasnya tertahan sepersekian detik sebelum kembali normal. Keringat dingin masih membekas di pelipisnya, meski udara sore mulai dingin.Namun ia tetap berjalan.Menggendong Seira.“Kenapa… kenapa harus kau…” gumam Seira lirih di punggungnya.Sua
Lucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k
Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap
“Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.
Tubuh Lucan terasa seperti sedang dilelehkan dari dalam. Sisa-sisa Ritual Cahaya garapan Dea Lira masih berkecamuk di dalam nadinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Setiap inci kulitnya terasa panas membara, seolah-olah cahaya itu ingin merobek dagingnya untuk keluar."Lucan...!! Akulah penawarmu! Jangan pernah berharap Seira akan datang ke sini!" Mia berbisik tajam, napasnya yang memburu terasa kontras di kulit Lucan yang mulai demam."Hanya aku yang bisa memadamkan api ini. HANYA AKU, LUCAN!"Tanpa peringatan, Mia menyambar bibir Lucan untuk kesekian kalinya, melumatnya dengan rakus seolah ingin menyerap paksa sisa nyawa pria itu. Lucan mengerang tertahan; setiap sentuhan Mia justru memicu rasa perih yang luar biasa pada sarafnya yang sedang meradang."Mia... tolong... hen... tikan..." rintih Lucan parau.Kelopak matanya bergetar hebat, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur menahan sakit.Mia menarik diri sejenak, namun bukan untuk memberi ru
Mia tersenyum memandang Lucan. Senyum yang tampak manis, namun di baliknya ada kepuasan yang perlahan mengembang. Tangannya terangkat, jari telunjuknya menyentuh pipi Lucan, menyusuri rahangnya, lalu berhenti di bibirnya. Gerakannya lambat. Seolah ia sedang mengukir sesuatu yang indah—atau menandai
“Bagaimana, Elyon?” suara Dea Lira menggema lembut namun berkuasa, memantul di dinding ruangan yang masih dipenuhi sisa cahaya ritual.Elyon tersenyum lebar. Napasnya stabil. Tubuhnya terasa penuh, kuat, seolah baru saja menyerap matahari ke dalam dadanya sendiri. Ia meraih kembali kemejanya dengan
Waktu terus berlalu. Jam sduah menunjukkan pukul lima sore lebih.Di waktu yang sama—Di lantai dua rumah besar itu, Dea Lira membuka matanya.Perlahan.Seolah ia baru saja terbangun dari tidur yang sangat nyenyak. Padahal tidak.Ia hanya sedang menunggu.Sudut bibirnya terangkat.“Lucan…” gumamnya
Mia merangkak naik, menindih tubuh Lucan dengan tekanan yang disengaja agar pria itu merasakan berat tubuhnya. Bibirnya menekan kasar, bukan sebuah ciuman lembut, melainkan sebuah klaim. Lidahnya memaksa masuk, menjelajahi rongga mulut Lucan dengan haus yang primitif.Lucan mengerang pelan, kepalan







