แชร์

KEDATANGAN SERAPHINE

ผู้เขียน: KEZHIA ZHOU
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-14 18:37:35

Di dunia manusia, suasana malam itu terasa begitu tenang.

Lampu di rumah sederhana itu menyala lembut, menyorot wajah hangat keluarga kecil Seira yang kini tengah makan malam bersama. Aroma sayur rebus bercampur dengan wangi kayu dari lantai yang sudah tua.

Lucan duduk di antara mereka — untuk pertama kalinya, merasa… tenang.

“Makanlah lebih banyak, Nak,” ujar ibu Seira sambil menambah nasi di mangkuknya. 

“Kau terlihat sangat lapar.”

Lucan mengangguk, lalu kembali menyuapkan makanan itu ke mulut. Lucan menyukainya. Perlahan lahan, bunyi asing di perutnya yang sejak tadi berbunyi, tak lagi terdengar.

Namun di tengah rasa itu—

DZZTTTTT—!!

Sendok di tangannya berhenti.

Seketika, napas Lucan menegang.

Ada sesuatu yang bergemuruh… jauh di dalam tubuhnya. Seperti ribuan sayap yang bergetar di balik kulitnya sendiri.

“Lucan?” suara lembut ibu Seira memecah kesunyian. 

“Ada apa, Nak? Apakah masakanku kurang enak?”

Lucan tidak menjawab.

Matanya menatap kosong ke arah meja. Tangannya gemetar ringan.

Di telinganya, samar terdengar suara— seperti bisikan jauh dari dimensi lain.

Suara yang ia kenal…

Suara yang dulu membuatnya tunduk.

“...Lucan…”

“Kau pikir bisa bersembunyi dariku?”

Suara itu… suara Elyon.

Tubuh Lucan kaku. Tengkuknya terasa panas.

Cahaya tipis menyala di bawah kulitnya, tepat di belakang leher. Denyutnya semakin kuat, seperti api yang hendak keluar.

“Hei!”

Suara Seira membuyarkan lamunannya. Gadis itu menatap Lucan dengan alis mengerut, lalu menepuk punggung tangannya.

“Ibu bertanya padamu. Kau bahkan tidak menjawab! Tidak sopan sekali.” Gerutunya.

Lucan tersentak.

Sekejap saja, bisikan itu menghilang.

Udara yang berat tadi lenyap, digantikan suara jangkrik di luar rumah.

Ia menatap Seira, lalu ke ibunya.

Senyum kecil, dipaksakan, muncul di wajahnya.

“Ah… maaf. Masakannya sangat enak, Bibi. Aku menyukainya.”

Ibu Seira tersenyum lega, kembali menyendokkan lauk.

Namun Seira masih memperhatikan Lucan.

Tatapannya menelusuri wajah pria itu, hingga akhirnya matanya menangkap sesuatu — kilatan samar di tengkuk Lucan, seperti cahaya biru kecil yang muncul dan padam begitu cepat.

Lucan menyadarinya.

Dengan cepat, dia mengangkat tangannya, menutup bagian itu dengan telapak tangan.

“Apa itu tadi?” gumam Seira pelan.

“Tidak… bukan apa-apa,” jawab Lucan cepat, suaranya sedikit bergetar.

Seira mengerutkan kening.

Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, 

ZZZZZTTT—!

Lampu di langit-langit rumah itu tiba-tiba berkedip.

Seluruh ruangan bergetar pelan, seperti terkena aliran listrik yang tak terlihat.

Mangkok di meja bergeser. Air di dalamnya beriak.

Lucan memejamkan mata.

Ia bisa merasakannya — energi ilahi di udara, samar tapi familiar.

Dan itu bukan miliknya.

“Tidak mungkin…” bisiknya pelan. 

“Mereka sudah sampai di sini…”

“Apa yang kau katakan, Lucan?” tanya ibu Seira dengan suara cemas.

Lucan membuka matanya perlahan.

Pupilnya sempat berubah — sekejap saja — menjadi warna emas lembut sebelum kembali normal.

Ia menatap mereka berdua, mencoba menenangkan diri.

“Maaf… aku hanya sedikit pusing,” katanya pelan.

“Aku butuh udara sebentar.”

Sebelum siapa pun sempat menahannya, Lucan sudah berdiri. Langkahnya cepat, tapi tidak kasar. Ia membuka pintu rumah itu dan keluar ke halaman.

Udara malam menyambutnya.

Langit gelap dipenuhi bintang.

Namun di antara bintang-bintang itu, ada satu cahaya yang bergerak perlahan—seperti sedang mencari sesuatu.

Lucan menatapnya tajam.

Tangannya mengepal.

“Elyon…” desisnya, pelan tapi sarat amarah.

“Jadi kau benar-benar mengikutiku ke dunia ini.”

Tengkuknya kembali berdenyut.

Namun kali ini, Lucan tidak menahannya.

Cahaya biru samar keluar dari kulitnya, berputar di udara sebentar sebelum lenyap ditelan angin.

Ia tahu.

Waktu tenangnya sudah berakhir.

Lucan menatap langit malam itu dari halaman kecil di samping rumah.

Langit tampak tenang, namun di baliknya, ada sesuatu yang bergetar.

Cahaya samar menembus awan, seperti kilatan yang tidak berasal dari petir.

Lucan menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.

“Mereka sudah mulai datang mencariku.”

Nada suaranya pelan, tapi mengandung ketegasan yang dingin. Tidak ada rasa takut di wajahnya — hanya ketenangan yang menyeramkan.

Ia mendongak lebih tinggi, menatap bintang yang tak lagi terlihat seperti dulu di Lumeris.

“Baiklah kalau begitu,” gumamnya.

“Cobalah mencariku. Aku ingin tahu… berapa lama kau bisa bertahan tanpa sigil ini, Elyon.”

Senyum itu kembali tersungging. Senyum yang tenang, namun di baliknya, menyimpan kemarahan lama yang nyaris padam — tapi tak pernah benar-benar mati.

Lucan berbalik, melangkah perlahan kembali ke rumah Seira.

JEGLEK!

Pintu kayu itu berderit keras ketika ditutup.

Seira berdiri tak jauh dari sana, kedua tangannya memegang kain lap, matanya menatap Lucan tajam.

“Kau darimana?” tanyanya cepat.

Lucan menatapnya sejenak. Pandangannya lembut tapi suaranya datar.

“Aku hanya ingin mencari udara segar di luar.” Jawabnya.

Suara air mengalir terdengar dari dapur — ibu Seira sedang mencuci piring kotor. Aroma sabun bercampur wangi sisa makanan memenuhi udara.

Lucan melangkah mendekat. Ia mengambil kain lap dari tangan Seira tanpa banyak bicara.

“Aku akan membantumu,” katanya pelan.

Gerakannya tenang, penuh ketelitian. Ia mulai membersihkan meja makan, menyeka noda-noda kecil dengan hati-hati.

Seira sempat terdiam, memperhatikannya dari samping. Gerak tubuh pria itu terlalu rapi, terlalu tenang — seolah dia pernah hidup dalam kehidupan yang jauh dari dunia ini.

“Kau sudah kenyang,” ucap Seira akhirnya. 

“Seharusnya kau tidak lagi di sini. Kau harus pulang.”

Lucan berhenti mengelap. Tangannya menggenggam kain itu erat, tapi kepalanya tetap menunduk.

Suara air dari dapur berhenti sejenak, lalu terdengar suara lembut ibu Seira.

“Ini sudah terlalu malam, Seira. Biarkan Lucan menginap di sini malam ini.”

“Ibu… kenapa begitu?” Seira langsung berbalik dan berjalan cepat menuju dapur. 

Suaranya meninggi, terdengar seperti sedang berdebat dengan ibunya di balik dinding kayu tipis.

Lucan tetap diam. Ia terus membersihkan meja dengan gerakan perlahan.

Namun, di balik ketenangannya, ada sesuatu yang lain — sesuatu yang bergetar halus dari dalam tubuhnya.

Cahaya di tengkuknya sempat berdenyut lembut… lalu padam kembali.

Ia tersenyum kecil, samar.

“Kehangatan seperti ini…” bisiknya. 

“Sudah lama sekali aku tidak merasakannya.”

Matanya menatap meja yang kini bersih, lalu menoleh ke arah dapur tempat Seira dan ibunya berada.

Untuk sesaat, rumah itu terasa seperti tempat yang nyata — hangat, damai, dan manusiawi.

Namun di luar sana, langit mulai retak perlahan.

Dan sesuatu dari Lumeris… sedang turun ke bumi.

Tidak lama setelah itu suara pintu terdengar.

JEGLEK!!

Suara pintu terbuka keras memecah keheningan rumah kecil itu.

“Aku pulang…”

Lucan menoleh cepat. Seorang pria berdiri di ambang pintu — tubuhnya tidak setinggi dirinya, tegap, dan wajahnya membawa raut lelah setelah bekerja. Namun begitu matanya melihat Lucan, ekspresinya langsung berubah dingin dan penuh curiga.

“Siapa kau?” suara pria itu rendah, penuh kewaspadaan.

"Kau pacar Seira, ya?" ucapnya menuduh. 

Langkahnya cepat menghampiri Lucan, lalu tanpa peringatan—

BRAKK!!

Tangannya mencengkeram kerah baju Lucan dan membantingnya ke dinding. Punggung Lucan membentur dinding dengan kuat. 

Lucan tak melawan, tapi seketika matanya memancarkan cahaya biru pekat yang menyala sepersekian detik—seolah refleks pertahanan dari sesuatu yang lebih dalam.

FWOOMM!

Cahaya biru menyala singkat di matanya, seperti kilatan petir yang terpantul di permukaan air.

Pria itu terhempas!

BRUKK!!

Tubuhnya jatuh ke lantai, terguling mundur.

“A–apa itu tadi?!” serunya dengan nada terkejut, matanya melebar memandang Lucan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   MABUK

    Lucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEBENTAR SAJA

    Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RINDU

    “Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   FOTO VULGAR

    Tubuh Lucan terasa seperti sedang dilelehkan dari dalam. Sisa-sisa Ritual Cahaya garapan Dea Lira masih berkecamuk di dalam nadinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Setiap inci kulitnya terasa panas membara, seolah-olah cahaya itu ingin merobek dagingnya untuk keluar."Lucan...!! Akulah penawarmu! Jangan pernah berharap Seira akan datang ke sini!" Mia berbisik tajam, napasnya yang memburu terasa kontras di kulit Lucan yang mulai demam."Hanya aku yang bisa memadamkan api ini. HANYA AKU, LUCAN!"Tanpa peringatan, Mia menyambar bibir Lucan untuk kesekian kalinya, melumatnya dengan rakus seolah ingin menyerap paksa sisa nyawa pria itu. Lucan mengerang tertahan; setiap sentuhan Mia justru memicu rasa perih yang luar biasa pada sarafnya yang sedang meradang."Mia... tolong... hen... tikan..." rintih Lucan parau.Kelopak matanya bergetar hebat, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur menahan sakit.Mia menarik diri sejenak, namun bukan untuk memberi ru

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KEGILAAN MIA

    “Bagaimana, Elyon?” suara Dea Lira menggema lembut namun berkuasa, memantul di dinding ruangan yang masih dipenuhi sisa cahaya ritual.Elyon tersenyum lebar. Napasnya stabil. Tubuhnya terasa penuh, kuat, seolah baru saja menyerap matahari ke dalam dadanya sendiri. Ia meraih kembali kemejanya dengan santai.“Selalu menarik, Ibu. Tubuhku selalu jauh lebih kuat dari sebelumnya.”Sementara itu—Lucan masih bersimpuh di lantai.Kedua lututnya menekan marmer dingin. Kedua tangannya gemetar, berusaha menopang tubuhnya sendiri. Napasnya tersengal, tidak beraturan.DUG. DUG. DUG.Langkah kaki Elyon mendekat.Seorang Seraphine maju dan menarik kedua lengan Lucan ke belakang dengan kasar.“Aghh—” erang Lucan tertahan.Sendi bahunya terasa seperti ditarik keluar dari tempatnya. Rasa sakit belum selesai dari ritual tadi—dan kini ditambah tekanan baru.Tubuhnya terasa hampa. Seperti sumur yang baru saja dikuras sampai dasar.Elyon berjongkok, menyamakan tinggi wajahnya dengan Lucan. Tangannya terang

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PENGORBANAN PERTAMA

    Mia tersenyum memandang Lucan. Senyum yang tampak manis, namun di baliknya ada kepuasan yang perlahan mengembang. Tangannya terangkat, jari telunjuknya menyentuh pipi Lucan, menyusuri rahangnya, lalu berhenti di bibirnya. Gerakannya lambat. Seolah ia sedang mengukir sesuatu yang indah—atau menandai sesuatu yang sudah menjadi miliknya.“Aku benar-benar bahagia, Lucan,” bisiknya.“Aku suka kau berada di sini. Bersamaku.”Lucan tidak bergerak.Ia berdiri tegak, tetapi tubuhnya terasa kaku. Setiap sentuhan Mia bukanlah kelembutan baginya—melainkan pengingat bahwa ia berada di bawah kendali seseorang yang memegang kelemahannya.Dengan dorongan kecil di dada, Mia mendorongnya.Lucan terjatuh duduk di ujung ranjang. Refleks, kedua tangannya bertumpu ke belakang agar tubuhnya tidak sepenuhnya rebah. Posisi itu membuatnya tampak seperti seseorang yang dipaksa bertahan, bukan menikmati.Tatapan mereka bertemu.Mia membungkuk sedikit, menyamakan tinggi wajah mereka. Lalu perlahan, tanpa ragu, ia

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEBELUM KEJATUHAN LUCAN

    “Lucan…”Langkah Elyon terdengar pelan di dalam kuil cahaya.“Aku tahu kau akan bertahan,” lanjutnya, suaranya tenang.“Jadi lakukan ini untukku.”Di atas altar suci Lumeris, tubuh Lucan terikat rantai ilahi. Sigil di dadanya berdenyut keras, memancarkan cahaya biru yang terasa panas hingga ke tula

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   CANGGUNG

    Jam di ponsel Seira menunjukkan pukul enam sore.Langit di atas kota perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang mendominasi kini tergeser oleh jingga lembut, seolah matahari enggan pergi sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per s

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PERASAAN ASING

    “Ahhh… aku ini kenapa, sih?” gumam Seira kesal sambil berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.“Tiap kali matanya menatapku, aku selalu terlihat bodoh.”Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa panas yang masih tersisa di wajahnya.Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya berhenti di tepi

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEOUL

    Bus melaju kencang membelah jalanan menuju Seoul. Getaran mesin dan dengung roda berpadu dengan suara angin yang menampar kaca jendela. Lucan duduk diam, punggungnya tegak, telapak tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengatur napas—pelan, terukur—seperti manusia.Tenang. Jangan mencolok. Janga

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status