LOGINDi dunia manusia, suasana malam itu terasa begitu tenang.
Lampu di rumah sederhana itu menyala lembut, menyorot wajah hangat keluarga kecil Seira yang kini tengah makan malam bersama. Aroma sayur rebus bercampur dengan wangi kayu dari lantai yang sudah tua.
Lucan duduk di antara mereka — untuk pertama kalinya, merasa… tenang.
“Makanlah lebih banyak, Nak,” ujar ibu Seira sambil menambah nasi di mangkuknya.
“Kau terlihat sangat lapar.”
Lucan mengangguk, lalu kembali menyuapkan makanan itu ke mulut. Lucan menyukainya. Perlahan lahan, bunyi asing di perutnya yang sejak tadi berbunyi, tak lagi terdengar.
Namun di tengah rasa itu—
DZZTTTTT—!!
Sendok di tangannya berhenti.
Seketika, napas Lucan menegang.
Ada sesuatu yang bergemuruh… jauh di dalam tubuhnya. Seperti ribuan sayap yang bergetar di balik kulitnya sendiri.
“Lucan?” suara lembut ibu Seira memecah kesunyian.
“Ada apa, Nak? Apakah masakanku kurang enak?”
Lucan tidak menjawab.
Matanya menatap kosong ke arah meja. Tangannya gemetar ringan.
Di telinganya, samar terdengar suara— seperti bisikan jauh dari dimensi lain.
Suara yang ia kenal…
Suara yang dulu membuatnya tunduk.
“...Lucan…”
“Kau pikir bisa bersembunyi dariku?”
Suara itu… suara Elyon.
Tubuh Lucan kaku. Tengkuknya terasa panas.
Cahaya tipis menyala di bawah kulitnya, tepat di belakang leher. Denyutnya semakin kuat, seperti api yang hendak keluar.
“Hei!”
Suara Seira membuyarkan lamunannya. Gadis itu menatap Lucan dengan alis mengerut, lalu menepuk punggung tangannya.
“Ibu bertanya padamu. Kau bahkan tidak menjawab! Tidak sopan sekali.” Gerutunya.
Lucan tersentak.
Sekejap saja, bisikan itu menghilang.
Udara yang berat tadi lenyap, digantikan suara jangkrik di luar rumah.
Ia menatap Seira, lalu ke ibunya.
Senyum kecil, dipaksakan, muncul di wajahnya.
“Ah… maaf. Masakannya sangat enak, Bibi. Aku menyukainya.”
Ibu Seira tersenyum lega, kembali menyendokkan lauk.
Namun Seira masih memperhatikan Lucan.
Tatapannya menelusuri wajah pria itu, hingga akhirnya matanya menangkap sesuatu — kilatan samar di tengkuk Lucan, seperti cahaya biru kecil yang muncul dan padam begitu cepat.
Lucan menyadarinya.
Dengan cepat, dia mengangkat tangannya, menutup bagian itu dengan telapak tangan.
“Apa itu tadi?” gumam Seira pelan.
“Tidak… bukan apa-apa,” jawab Lucan cepat, suaranya sedikit bergetar.
Seira mengerutkan kening.
Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh,
ZZZZZTTT—!
Lampu di langit-langit rumah itu tiba-tiba berkedip.
Seluruh ruangan bergetar pelan, seperti terkena aliran listrik yang tak terlihat.
Mangkok di meja bergeser. Air di dalamnya beriak.
Lucan memejamkan mata.
Ia bisa merasakannya — energi ilahi di udara, samar tapi familiar.
Dan itu bukan miliknya.
“Tidak mungkin…” bisiknya pelan.
“Mereka sudah sampai di sini…”
“Apa yang kau katakan, Lucan?” tanya ibu Seira dengan suara cemas.
Lucan membuka matanya perlahan.
Pupilnya sempat berubah — sekejap saja — menjadi warna emas lembut sebelum kembali normal.
Ia menatap mereka berdua, mencoba menenangkan diri.
“Maaf… aku hanya sedikit pusing,” katanya pelan.
“Aku butuh udara sebentar.”
Sebelum siapa pun sempat menahannya, Lucan sudah berdiri. Langkahnya cepat, tapi tidak kasar. Ia membuka pintu rumah itu dan keluar ke halaman.
Udara malam menyambutnya.
Langit gelap dipenuhi bintang.
Namun di antara bintang-bintang itu, ada satu cahaya yang bergerak perlahan—seperti sedang mencari sesuatu.
Lucan menatapnya tajam.
Tangannya mengepal.
“Elyon…” desisnya, pelan tapi sarat amarah.
“Jadi kau benar-benar mengikutiku ke dunia ini.”
Tengkuknya kembali berdenyut.
Namun kali ini, Lucan tidak menahannya.
Cahaya biru samar keluar dari kulitnya, berputar di udara sebentar sebelum lenyap ditelan angin.
Ia tahu.
Waktu tenangnya sudah berakhir.
Lucan menatap langit malam itu dari halaman kecil di samping rumah.
Langit tampak tenang, namun di baliknya, ada sesuatu yang bergetar.
Cahaya samar menembus awan, seperti kilatan yang tidak berasal dari petir.
Lucan menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.
“Mereka sudah mulai datang mencariku.”
Nada suaranya pelan, tapi mengandung ketegasan yang dingin. Tidak ada rasa takut di wajahnya — hanya ketenangan yang menyeramkan.
Ia mendongak lebih tinggi, menatap bintang yang tak lagi terlihat seperti dulu di Lumeris.
“Baiklah kalau begitu,” gumamnya.
“Cobalah mencariku. Aku ingin tahu… berapa lama kau bisa bertahan tanpa sigil ini, Elyon.”
Senyum itu kembali tersungging. Senyum yang tenang, namun di baliknya, menyimpan kemarahan lama yang nyaris padam — tapi tak pernah benar-benar mati.
Lucan berbalik, melangkah perlahan kembali ke rumah Seira.
JEGLEK!
Pintu kayu itu berderit keras ketika ditutup.
Seira berdiri tak jauh dari sana, kedua tangannya memegang kain lap, matanya menatap Lucan tajam.
“Kau darimana?” tanyanya cepat.
Lucan menatapnya sejenak. Pandangannya lembut tapi suaranya datar.
“Aku hanya ingin mencari udara segar di luar.” Jawabnya.
Suara air mengalir terdengar dari dapur — ibu Seira sedang mencuci piring kotor. Aroma sabun bercampur wangi sisa makanan memenuhi udara.
Lucan melangkah mendekat. Ia mengambil kain lap dari tangan Seira tanpa banyak bicara.
“Aku akan membantumu,” katanya pelan.
Gerakannya tenang, penuh ketelitian. Ia mulai membersihkan meja makan, menyeka noda-noda kecil dengan hati-hati.
Seira sempat terdiam, memperhatikannya dari samping. Gerak tubuh pria itu terlalu rapi, terlalu tenang — seolah dia pernah hidup dalam kehidupan yang jauh dari dunia ini.
“Kau sudah kenyang,” ucap Seira akhirnya.
“Seharusnya kau tidak lagi di sini. Kau harus pulang.”
Lucan berhenti mengelap. Tangannya menggenggam kain itu erat, tapi kepalanya tetap menunduk.
Suara air dari dapur berhenti sejenak, lalu terdengar suara lembut ibu Seira.
“Ini sudah terlalu malam, Seira. Biarkan Lucan menginap di sini malam ini.”
“Ibu… kenapa begitu?” Seira langsung berbalik dan berjalan cepat menuju dapur.
Suaranya meninggi, terdengar seperti sedang berdebat dengan ibunya di balik dinding kayu tipis.
Lucan tetap diam. Ia terus membersihkan meja dengan gerakan perlahan.
Namun, di balik ketenangannya, ada sesuatu yang lain — sesuatu yang bergetar halus dari dalam tubuhnya.
Cahaya di tengkuknya sempat berdenyut lembut… lalu padam kembali.
Ia tersenyum kecil, samar.
“Kehangatan seperti ini…” bisiknya.
“Sudah lama sekali aku tidak merasakannya.”
Matanya menatap meja yang kini bersih, lalu menoleh ke arah dapur tempat Seira dan ibunya berada.
Untuk sesaat, rumah itu terasa seperti tempat yang nyata — hangat, damai, dan manusiawi.
Namun di luar sana, langit mulai retak perlahan.
Dan sesuatu dari Lumeris… sedang turun ke bumi.
Tidak lama setelah itu suara pintu terdengar.
JEGLEK!!
Suara pintu terbuka keras memecah keheningan rumah kecil itu.
“Aku pulang…”
Lucan menoleh cepat. Seorang pria berdiri di ambang pintu — tubuhnya tidak setinggi dirinya, tegap, dan wajahnya membawa raut lelah setelah bekerja. Namun begitu matanya melihat Lucan, ekspresinya langsung berubah dingin dan penuh curiga.
“Siapa kau?” suara pria itu rendah, penuh kewaspadaan.
"Kau pacar Seira, ya?" ucapnya menuduh.
Langkahnya cepat menghampiri Lucan, lalu tanpa peringatan—
BRAKK!!
Tangannya mencengkeram kerah baju Lucan dan membantingnya ke dinding. Punggung Lucan membentur dinding dengan kuat.
Lucan tak melawan, tapi seketika matanya memancarkan cahaya biru pekat yang menyala sepersekian detik—seolah refleks pertahanan dari sesuatu yang lebih dalam.
FWOOMM!
Cahaya biru menyala singkat di matanya, seperti kilatan petir yang terpantul di permukaan air.
Pria itu terhempas!
BRUKK!!
Tubuhnya jatuh ke lantai, terguling mundur.
“A–apa itu tadi?!” serunya dengan nada terkejut, matanya melebar memandang Lucan.
DUK! DUK! DUK!Suara langkah kaki Seira terdengar cepat menuruni tangga. Ia masuk ke dapur tanpa benar-benar sadar apa yang sedang ia lakukan. Tangannya membuka lemari es, mengambil air dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas.Ia meneguknya perlahan.Namun pikirannya tidak di sana.Bayangan Lucan—wajah pucatnya, keringat dingin di pelipisnya, cara dia berjalan tergesa masuk ke kamar Leo—terus berputar di kepalanya.Seira menatap kosong ke depan.“Apa dia… sedang mencoba mengambil simpatiku?” gumamnya lirih.Namun kalimat itu bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi dirinya sendiri.Tubuhnya bersandar pada meja dapur.Gelas di tangannya masih setengah penuh.Matanya—tanpa sadar—berulang kali melirik ke arah tangga.Ke arah kamar Leo di lantai atas.Pintu itu…sedikit terbuka.**Di dalam kamar—Lucan terduduk di lantai.Punggungnya bersandar lemah pada sisi ranjang. Kepalanya sesekali terangkat, namun kembali jatuh. Matanya terpejam, rahangnya mengeras.“Agghh… hah… hah…”Napasnya tida
“Kau pria brengsek! Tidak seharusnya aku bertemu denganmu… menyebalkan!”Suara Seira pecah di punggung Lucan.Tangannya yang lemas beberapa kali memukul bahu pria itu, meski tanpa tenaga. Kepalanya bersandar berat di punggung Lucan, napasnya berbau alkohol, suaranya bercampur tangis yang tertahan.Lucan tidak menjawab.Tidak membela diri.Tidak juga menenangkan.Ia hanya berjalan.Langkahnya tetap tegak, meski setiap pijakan terasa seperti menghantam tubuhnya sendiri. Dadanya berdenyut pelan—bukan lagi ledakan rasa sakit seperti sebelumnya, tapi sisa-sisa nyeri yang menetap, menusuk dari dalam.Kekuatan di dalam dirinya belum pulih.Masih ada.Namun melemah.Seperti cahaya yang mulai redup, nyaris padam.Sesekali Lucan mengernyit tanpa sadar. Napasnya tertahan sepersekian detik sebelum kembali normal. Keringat dingin masih membekas di pelipisnya, meski udara sore mulai dingin.Namun ia tetap berjalan.Menggendong Seira.“Kenapa… kenapa harus kau…” gumam Seira lirih di punggungnya.Sua
Lucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k
Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap
“Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.
Tubuh Lucan terasa seperti sedang dilelehkan dari dalam. Sisa-sisa Ritual Cahaya garapan Dea Lira masih berkecamuk di dalam nadinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Setiap inci kulitnya terasa panas membara, seolah-olah cahaya itu ingin merobek dagingnya untuk keluar."Lucan...!! Akulah penawarmu! Jangan pernah berharap Seira akan datang ke sini!" Mia berbisik tajam, napasnya yang memburu terasa kontras di kulit Lucan yang mulai demam."Hanya aku yang bisa memadamkan api ini. HANYA AKU, LUCAN!"Tanpa peringatan, Mia menyambar bibir Lucan untuk kesekian kalinya, melumatnya dengan rakus seolah ingin menyerap paksa sisa nyawa pria itu. Lucan mengerang tertahan; setiap sentuhan Mia justru memicu rasa perih yang luar biasa pada sarafnya yang sedang meradang."Mia... tolong... hen... tikan..." rintih Lucan parau.Kelopak matanya bergetar hebat, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur menahan sakit.Mia menarik diri sejenak, namun bukan untuk memberi ru
Mia tersenyum memandang Lucan. Senyum yang tampak manis, namun di baliknya ada kepuasan yang perlahan mengembang. Tangannya terangkat, jari telunjuknya menyentuh pipi Lucan, menyusuri rahangnya, lalu berhenti di bibirnya. Gerakannya lambat. Seolah ia sedang mengukir sesuatu yang indah—atau menandai
“Bagaimana, Elyon?” suara Dea Lira menggema lembut namun berkuasa, memantul di dinding ruangan yang masih dipenuhi sisa cahaya ritual.Elyon tersenyum lebar. Napasnya stabil. Tubuhnya terasa penuh, kuat, seolah baru saja menyerap matahari ke dalam dadanya sendiri. Ia meraih kembali kemejanya dengan
Waktu terus berlalu. Jam sduah menunjukkan pukul lima sore lebih.Di waktu yang sama—Di lantai dua rumah besar itu, Dea Lira membuka matanya.Perlahan.Seolah ia baru saja terbangun dari tidur yang sangat nyenyak. Padahal tidak.Ia hanya sedang menunggu.Sudut bibirnya terangkat.“Lucan…” gumamnya
Mia merangkak naik, menindih tubuh Lucan dengan tekanan yang disengaja agar pria itu merasakan berat tubuhnya. Bibirnya menekan kasar, bukan sebuah ciuman lembut, melainkan sebuah klaim. Lidahnya memaksa masuk, menjelajahi rongga mulut Lucan dengan haus yang primitif.Lucan mengerang pelan, kepalan







