LOGINAncaman Jonas pada akhirnya berhasil membuat Kiara bersedia bicara berdua dengan Fandy.Atas saran Jonas juga, Kiara mengajak kekasihnya itu ke taman belakang rumah agar lebih santai dan tidak mudah emosi. Mengingat suasana hati Kiara yang sedang tidak baik-baik saja."Papi harus ikut--" "Papi!" sentakan keras Nyonya Aisha menghentikan gerakan Tuan Pramudya yang bergegas ingin menyusul."Mami, papi takut laki-laki itu menyakiti Kiara lagi. Biar papi jaga Kiara ya?" bujuk Tuan Pramudya.Nyonya Aisha menghela napas panjang, beliau malas menyahuti perkataan suaminya, maka ia limpahkan tugas ini pada putra sulungnya saja.Dan kepala Jonas mengangguk paham untuk kode yang diberikan sang mami."Papi, Fandy itu laki-laki baik. Kemungkinan dia menyakiti Kiara sangat kecil, karena dia sangat mencintai Kia, Pi.""Enggak. Papi mana mungkin percaya begitu saja sama dia. Buktinya gara-gara ulah dia, dari kemarin putri kesayangan papi murung terus!" sahut Tuan Pra
Keduanya kembali bergegas meninggalkan rumah, menuju kediaman keluarga Pramudya."Ada apa sih sebenernya?" tanya Alesha bingung."Huft, aku juga belum tau, Sayang... kan kamu tadi dengar sendiri teman kamu itu cuma bilang kita diminta cepat-cepat ke rumah mami-papi, katanya urgent!"Bibir Alesha berdecak sebal. "Dasar si Fandy! Harusnya tadi to the point saja ada masalah apa, enggak bikin penasaran kayak gini. Ck, sudah tau aku gampang kepoan!"Jonas terkekeh pelan mendengarkan omelan sang istri. Lucu sekali. "Sudah, sabar dulu ya?""Ck terlanjur penasaran, Jonas! Huft, apa telepon Kiara saja ya? Tanya dia ada apa....""Jangan dulu, Sayang. Kita lihat situasi di sana dulu ya?"Berkat bujukan sang suami, Alesha akhirnya bersedia untuk lebih sabar lagi. Dan beruntungnya, jalanan siang ini tidak ada kendala berarti. Jadi secepatnya mereka bisa segera sampai di kediaman Pramudya."Huh, akhirnya kalian sampai juga!" sambut Fandy yang menghadang mobil yang Jonas dan Alesha tumpangi, di depa
"Kamu mau bantu gimana?"Jonas tersenyum lalu menepuk pelan kepala istrinya. "Belum tau, tapi aku sudah punya gambaran harus seperti apa untuk bantu hubungan mereka ini.""Oke, pokoknya masalah ini aku mengandalkan kalian. Untuk bantuan yang aku tawarkan, kalian akan terima beres. Akan aku lakukan semaksimal yang aku bisa!" sahut Fandy sangat yakin."Memangnya kamu mau bantu suami aku apa?" Alesha semakin dibuat penasaran."Kamu nanti tanya-tanya suami kamu saja, sekarang aku harus buru-buru susul Kiara, sebelum dia makin ngambek!" Usai berkata seperti itu dan berpamitan secara singkat, Fandy berjalan cepat ke arah pintu dan meninggalkan ruangan VIP."Jonas, jelasin ke aku sekarang, aku sudah sangat penasaran!" rengek Alesha yang dibalas kekehan geli oleh Jonas."Iya-iya, setelah ini aku jelaskan, tapi nanti di mobil saja ya?"Alesha menghela napas panjang, terpaksa mengangguk. Meski rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun, tetapi untuk sekarang ia ikuti saja kemauan suaminya. L
"Gue akan--" Baru dua kata, Fandy menghentikan kata-katanya karena pukulan cukup keras menyasar lengan bagian atasnya."Apa-apaan kamu, Sha?" protes laki-laki itu tak terima.Sementara Alesha memberikan tatapan penuh peringatan pada sahabat baiknya tersebut. "Yang sopan kalau ngomong! Jonas itu calon kakak ipar kamu, hargai dia dong!"Fandy melongo beberapa detik, lalu berdecak protes. Namun belum mengeluarkan pembelaan, Alesha mendahuluinya mencari sekutu. "Kia, lihat tuh pacar kesayangan kamu enggak sopan ke kakak kamu! Apa-apaan calon adik ipar ngomongnya lo-gue, masih butuh restu enggak sih?"Terpengaruh oleh provokasi Alesha, Kiara berdecak sebal dan melotot tak terima. "Kamu itu sayang enggak sih sama aku? Kalau sayang harusnya baik-baik ke kakak aku!"Fandy menghela napas panjang, sementara Jonas menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dua wanita kesayangannya itu. Lalu merangkul pundak sang istri. "Sayang, sudah ya... jangan diperpanjang lagi, oke?
Meski belum mendapat penjelasan lebih lanjut dari suaminya, Alesha tetap ikut saja kemana dibawa pergi.Untuk saat ini sepertinya mereka sedang dikejar waktu dan mustahil Jonas akan menjelaskan di saat mereka berjalan cepat menuju lantai satu. Maka, Alesha menunggunya dengan sabar.Baru setelah berada di dalam mobil dan melaju dibawah kendali seorang sopir, Alesha mulai menanyakan apa yang sedang terjadi."Ada apa? Kok kamu panik banget? Apa ada masalah?" tanyanya beruntun. Sudah penasaran sekali.Kepala Jonas mengangguk. Raut wajahnya nampak gelisah sedari tadi, pasca menerima sambungan telepon."Kenapa?" tanya Alesha lebih mendesak karena sudah tidak sabar menangkap alasan ketegangan sang suami. Tangannya terulur untuk menggenggam erat tangan Jonas."Huft, Kiara--"Alesha terkesiap kaget. Dan karena khawatir, Alesha memotong cepat kata-kata suaminya. "Kiara kenapa, Jonas? Dia baik-baik saja kan?"Melihat istrinya ikut-ikutan panik, bahkan lebih panik dari dirinya, timbul senyuman t
Sentakan keras Jonas tak membuat Sinta yang saat ini menyandera Alesha menciut nyalinya. Wanita itu justru tertawa sinis serta puas melihat atasannya tampak sangat khawatir."Sepertinya akan sangat menyenangkan menyiksa lebih dahulu istri kesayangan Pak bos ini ya?" ucap Sinta dengan memainkan belati yang dipegangnya di leher Alesha."Jangan sakiti istri saya!" Sudah tak karuan kepanikan Jonas. Pria itu hampir hilang akal jika tak melihat kode kedipan mata Alesha yang ditujukan padanya.Dahinya mengernyit samar, mencerna baik-baik kode dari istrinya. Ia harus tepat dalam membaca maksud Alesha. Jangan sampai salah paham, karena resikonya bisa fatal."Sinta, tolong jangan kamu apa-apakan istri saya. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini!" Jonas berusaha bernegosiasi seorang diri.Sementara dari banyaknya orang di ruangan tersebut, tidak ada yang berani ikut campur. Termasuk Kiara, Amelia maupun anak buah Jonas yang banyak itu.Bukan karena mereka tidak ingin membantu, hanya saja
"Marissa!" Tiba-tiba ada suara seruan panik yang terdengar tak jauh dari tempat Alesha jatuh. Di tengah kesakitannya, Allesha menyempatkan menoleh ke sumber suara. "Mbak Amel...." "Ya ampun, kamu baik-baik saja? Mana yang sakit, Sha?" Amelia sudah berjongkok di depan Alesha dan memeriksa kond
Seketika langkah Alesha terhenti. Jantungnya berdegup sangat kencang. Takut jika di hari pertamanya bekerja akan gagal karena dipecat hanya gara-gara terlambat datang. Pelan, Alesha membalikkan badannya. Menghadap pemilik suara yang berdiri di belakangnya. "Em m-maaf, saya terjebak macet." Ales
Kata-kata Alesha bagaikan sebuah tamparan keras untuk kedua orang tuanya, yang di masa lalu melakukan banyak kesalahan hingga berujung perceraian dan saling bermusuhan hingga sekarang ini. Maka, untuk menghindari agar rumah tangga sang putri tak seperti kisah mereka, pada akhirnya dengan berat ha
Dari keterkejutannya mengenai informasi yang disampaikan Alesha, tanpa pikir panjang Jonas segera menghubungi Jeno. "Je, kenapa manajer keuangan tiba-tiba dipegang Sinta? Kemana Pak Rustam? Apa kamu tau kalau Sinta ini masih punya hubungan dengan salah satu pemegang saham di perusahaan?" tanya Jo







