Share

Bab 7

Penulis: AmeeraKa94
last update Tanggal publikasi: 2026-07-13 07:45:00

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat.

Tanggal di kalender sudah dilingkari Alika sejak sebulan lalu. Hari ini tepat satu tahun sejak mereka menandatangani surat perjanjian kontrak pernikahan mereka, dan tepat pada hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.

Alika bangun pagi-pagi sekali. Dia sengaja mengenakan gaun warna krem yang sederhana tetapi terlihat cantik dan juga elegan. Wanita itu pun menata rambutnya dengan sangat rapi, bahkan tak lupa menyiapkan kue buatannya sendiri di meja makan. Dia memang tidak berharap Arkana bakal mengapresiasi usahanya dan memberi hadiah mahal. Alika hanya berusaha agar sekadar diingat saja, itu sudah cukup.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi lewat, lalu bergeser menjadi pukul sembilan, sampai pukul sepuluh pun, ternyata Arkana tidak muncul-muncul juga. Dan ponsel pria itu ternyata mati. Kue yang tadinya cantik mulai terlihat layu di pinggirannya.

Siang harinya, Alika akhirnya mendapat pesan singkat dari nomor Arkana, isinya hanya: "Kamu makan siang sendiri saja. Aku masih ada urusan di kantor."

Dia mencoba menghubungi lagi, namun tetap tidak diangkat. Sehingga tak terasa sudah pukul empat sore. Alika tak sengaja mendengar suara pelayan sedang berbisik-bisik di sebuah lorong.

"Eh, Mbak, sudah dengar berita baru belum?"

"Apaan?" timpal pelayan lainnya.

"Katanya Tuan Arkana sedang membawa Nona Nadia pergi ke vila di Puncak, lho. Katanya mereka sedang liburan berdua... ya semacam bulan madu gitu."

"Serius? Padahal kan hari ini tanggal pernikahan Tuan Arkana sama Nyonya Alika..."

"Ya namanya juga cinta lama, Mbak. Nyonya kita kan cuma pelengkap saja. Lagipula yang aku tahu, Tuan Arkana tidak pernah benar-benar menganggap Bu Alika sebagai istrinya."

"Sst, jangan bicara begitu, Marni. Nanti kalau sampai kedengaran Bu Alika, kan kasihan beliau."

"Iya, iya, Mbak. Sore-sore aku kelepasan."

Jleb.

Alika yang kebetulan lewat langsung berhenti melangkah. Dadanya terasa seolah diremas kuat sampai dia harus bersandar di tembok. "Jadi urusan kantor itu bohong. Dia sengaja pergi berlibur bersama Nadia, dan benar-benar lupa kalau hari ini tepat satu tahun pernikahan kami, atau sengaja tidak mau ingat—hari apa ini," gumam Alika sambil menarik napas dalam-dalam. "Sadar, Al, sadar. Kamu ini siapa," batinnya lagi.

Malamnya langit sudah mulai gelap, hujan deras turun lagi persis seperti hari-hari yang menyedihkan lainnya. Alika duduk sendirian di ruang tamu, menatap kue yang sudah tidak dimakan siapa pun. Tiba-tiba televisi di ruang tengah menyala otomatis, menayangkan berita hiburan.

"Pasangan kekasih Arkana Adhiraga dan Nadia Kirana terlihat sedang berlibur romantis di vila pribadi keluarga Adhiraga sore tadi. Keduanya tertawa bahagia berjalan berdua di taman vila, seolah mengukuhkan kabar bahwa pernikahan kontrak pewaris muda itu akan segera berakhir..."

Di layar besar televisi itu terlihat sangat jelas: Arkana sedang memeluk bahu Nadia begitu erat, lalu mencium kening wanita itu tepat di depan kamera wartawan.

Tes.

Air mata Alika jatuh satu per satu. Dia kemudian bangkit perlahan, mengambil kue itu, lalu membuangnya satu per satu ke tempat sampah. Tidak ada gunanya berharap pada orang yang hatinya sudah tertutup rapat untuk wanita lain.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Bukan dari Arkana, tetapi dari nomor tak dikenal. Alika sempat ragu sebentar, lalu tetap mengangkatnya.

"Halo. Maaf, ini siapa, ya?" sapa Alika saat sambungan telepon terhubung.

"Halo, Alika?" suara Nadia terdengar sangat ceria di seberang sana. "Gimana? Kamu lihat beritanya, kan? Hari ini Arkana lagi sama aku, lho. Dia peluk aku sekarang, pelukannya erat seakan tidak mau pergi dari aku," ejek Nadia dari seberang sana.

Alika tetap diam dan sengaja membiarkan perempuan itu tetap mengoceh sesuka hati.

"Dan kamu tahu juga, tidak? Kalau hari ini, dia sengaja pergi supaya kamu sadar diri, bahwa kamu itu tidak pantas jadi istrinya walaupun cuma sehari pun. Karena yang pantas jadi istrinya itu cuma aku!" suara Nadia terdengar mengejek.

"Lalu kenapa kamu sekarang menelepon aku cuma buat bilang begitu?" tanya Alika, suaranya bergetar namun sebisa mungkin ditahan.

"Gampang," jawab Nadia santai. "Aku cuma mau kasih tahu saja... Kalau hari ini Arkana sudah beli cincin baru buat aku. Dan dia juga rencananya bakal melamar aku tepat pada hari ulang tahun pernikahan kalian di hari kedua minggu depan. Dan saat itu juga kamu harus pergi dari rumah itu selamanya," ucap Nadia dengan tegas.

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon diputus sepihak. Alika memegang ponselnya erat, sampai jari-jarinya memutih. Ternyata dia tidak hanya dilupakan, namun dia memang sudah digantikan sepenuhnya. Bahkan tanggal penting baginya pun dijadikan momen terindah untuk bersama orang lain.

Tetapi saat dia akan melangkahkan kakinya hendak naik ke kamar, Alika tak sengaja melihat sebuah amplop putih tergeletak di lantai depan pintu kamarnya. Tanpa nama pengirim. Alika membukanya dengan tangan gemetar.

Isinya adalah salinan surat permohonan perceraian yang sudah ditandatangani Arkana... dan di bagian catatan kaki, tertulis tulisan tangan Arkana yang jelas: "Saya tidak pernah menganggap pernikahan ini pernah terjadi."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 45

    Suasana di dalam ruang rawat inap sementara itu hening, hanya terdengar suara teratur dari alat pemantau jantung yang kini berdetak tenang.menjadi bukti bahwa kondisi Arka perlahan namun pasti semakin membaik. Arkana masih duduk diam di kursi dekat ranjang, tangannya masih menekan sedikit kapas di bekas pengambilan darah tadi, namun sorot matanya tak pernah beralih sedetik pun dari wajah Alika yang berdiri kaku tak jauh dari situ. Wanita itu tampak gugup, matanya terus menunduk menghindari tatapan tajam yang seolah menembus masuk hingga ke dalam jiwanya. Tak lama berselang, pintu ruang terbuka perlahan. Dokter yang menangani Arka masuk sambil membawa berkas hasil pemeriksaan di tangannya. Wajahnya tampak lega bercampur senyum hangat melihat perkembangan kondisi pasiennya yang sangat positif. "Boleh saya masuk?" sapa dokter itu lembut sambil melangkah mendekat ke tengah ruangan. "Silakan, Dok," jawab Arkana pelan, suaranya terdengar masih

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 44

    Suasana di lorong rumah sakit terasa dingin dan menyesakkan. Deru napas Alika terputus-putus, dadanya sesak bukan main. Sejak tadi ia mondar-mandir kecil di depan ruang gawat darurat, matanya tak lepas dari pintu tertutup itu. Di dalam sana, nyawa buah hatinya, Arka, sedang bertarung melawan waktu. Dokter sudah memperingatkan dengan tegas kalau anak itu butuh transfusi darah secepatnya, dan golongan darah yang dibutuhkan sangatlah langka. Alika sudah putus asa. Ia sendiri sudah diperiksa, namun tidak cocok. Begitu juga dengan Satria, hasilnya tetap sama. Tak ada pilihan lain. Hanya satu nama yang terngiang di kepalanya, satu-satunya harapan yang tersisa, meski mengucapkannya saja terasa seperti mengoyak hatinya sendiri. Dengan tangan gemetar hebat, jari-jemarinya dingin hingga ke tulang, Alika merogoh saku tasnya dan mengeluarkan ponsel. Benda itu terasa seberat batu di genggamannya. Ia menatap layar yang menyala, menatap nama yang tersimpan di sa

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 43

    Suasana di lobi kantor masih terasa kaku dan berat, seolah udara di sana memadat oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Alika tidak berani menoleh ke belakang, meski rasanya punggungnya terbakar oleh tatapan tajam dan penuh tanda tanya milik Arkana. Dia menggenggam tangan kecil Arka dengan erat, seolah takut jika dilepaskan, dunia yang dia bangun dengan susah payah ini akan runtuh seketika. Hatinya berteriak meminta lari sejauh mungkin, namun setiap langkah kakinya terasa berat, seolah terikat kuat oleh rasa bersalah yang selama ini dia pendam rapat-rapat. "Pergilah dulu, Alika. Bawa Arka beristirahat," suara Satria terdengar lembut namun tegas di sampingnya. Pria itu berjalan selangkah di sebelahnya, menciptakan perisai tak kasat mata dari segala pandangan penasaran karyawan yang masih melirik sembunyi-sembunyi. "Kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku pastikan... Pak Direktur itu tidak akan mengikutimu sekarang. Berikan dia sedikit ruang, begitu juga kamu."uc

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 42

    Suasana di dalam lift yang sempit itu terasa sarat dengan perasaan yang tak terucapkan. Alika menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang merayap di setiap inci wajahnya. Tangannya masih erat menggenggam tangan mungil Arka, namun ia bisa merasakan betapa santainya anak itu berjalan di sampingnya, seolah kehadiran sosok gagah di sebelah mereka adalah hal yang paling wajar di dunia ini. Arkana berjalan tegak, tatapannya lurus ke depan namun sesekali melirik ke samping—ke arah wajah Arka yang sedang menatap penasaran ke sekeliling ruang lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai tempat Alika bekerja, suasana masih terasa hening. Namun, baru saja mereka melangkah keluar, Alika seolah teringat akan bahaya yang mengintai. Ia segera berlutut perlahan menyamai tinggi tubuh kecil anaknya, tidak peduli lagi siapa yang melihatnya di koridor kantor. Kedua tangannya bergetar hebat saat memeluk erat bahu Arka, memeriksa wajah, tangan, hingga seluruh badannya dengan

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 41

    Suasana di lobi utama perlahan kembali tenang, namun hati Arkana masih berdegup kencang tak beraturan. Ia masih tetap berjongkok di tempatnya, tatapannya tak lepas dari sosok mungil yang kini berdiri di samping Alika. Pertanyaan polos Arka tadi"Apakah Om ini Papi yang selama ini Arka tunggu?"seperti petir di siang bolong yang menghantam kesadaran semua orang yang hadir di sana. Udara di sekitar mereka terasa hening, sarat dengan ketegangan dan perasaan yang tak terucap.Glek Alika menelan ludah dengan susah payah, tangannya meremas bahu Arka erat seolah mencari kekuatan. Ia tak sanggup menatap mata Arkana yang begitu tajam namun menyimpan harapan meluap. Dengan suara bergetar, ia berusaha mengalihkan perhatian anaknya, berusaha menutup celah yang terbuka lebar itu. "Sayang, mari kita naik ke atas dulu ya," bisik Alika lembut, berusaha tersenyum meski matanya berkaca-kaca. "Mami masih bekerja sebentar. Kita bicara di ruangan Mami saja, di sana lebih

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 40

    Siang itu suasana lobi utama PT Adhiraga Group biasanya tenang, berwibawa, dan sunyi senyap. Lantai marmer putih mengkilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang besar, deretan sofa kulit hitam tersusun rapi di sudut ruangan, dan setiap orang yang lewat selalu berjalan dengan tertib dan sopan. Namun hari ini, semua keheningan itu berubah seketika. Langkah kaki orang-orang yang hendak keluar masuk tiba-tiba terhenti serentak. Mata semua orang tertuju heran pada sosok kecil laki-laki yang berdiri tegak tepat di tengah lantai marmer itu. Arka mengenakan seragam olahraga TK berwarna biru muda yang agak lusuh di bagian ujung lengan, topi kecilnya tergantung lemas di leher, dan satu tangannya memeluk erat boneka beruang cokelat kesayangannya yang sudah sedikit kusam karena sering dibawa ke mana-mana. Matanya yang besar, tajam, dan bening menatap sekeliling dengan keberanian yang luar biasa, sama sekali tak tampak takut meski berada di tempat asing yang sangat megah dan penuh orang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status