로그인Suasana di dalam ruang rawat inap sementara itu hening, hanya terdengar suara teratur dari alat pemantau jantung yang kini berdetak tenang.menjadi bukti bahwa kondisi Arka perlahan namun pasti semakin membaik. Arkana masih duduk diam di kursi dekat ranjang, tangannya masih menekan sedikit kapas di bekas pengambilan darah tadi, namun sorot matanya tak pernah beralih sedetik pun dari wajah Alika yang berdiri kaku tak jauh dari situ. Wanita itu tampak gugup, matanya terus menunduk menghindari tatapan tajam yang seolah menembus masuk hingga ke dalam jiwanya. Tak lama berselang, pintu ruang terbuka perlahan. Dokter yang menangani Arka masuk sambil membawa berkas hasil pemeriksaan di tangannya. Wajahnya tampak lega bercampur senyum hangat melihat perkembangan kondisi pasiennya yang sangat positif. "Boleh saya masuk?" sapa dokter itu lembut sambil melangkah mendekat ke tengah ruangan. "Silakan, Dok," jawab Arkana pelan, suaranya terdengar masih
Suasana di lorong rumah sakit terasa dingin dan menyesakkan. Deru napas Alika terputus-putus, dadanya sesak bukan main. Sejak tadi ia mondar-mandir kecil di depan ruang gawat darurat, matanya tak lepas dari pintu tertutup itu. Di dalam sana, nyawa buah hatinya, Arka, sedang bertarung melawan waktu. Dokter sudah memperingatkan dengan tegas kalau anak itu butuh transfusi darah secepatnya, dan golongan darah yang dibutuhkan sangatlah langka. Alika sudah putus asa. Ia sendiri sudah diperiksa, namun tidak cocok. Begitu juga dengan Satria, hasilnya tetap sama. Tak ada pilihan lain. Hanya satu nama yang terngiang di kepalanya, satu-satunya harapan yang tersisa, meski mengucapkannya saja terasa seperti mengoyak hatinya sendiri. Dengan tangan gemetar hebat, jari-jemarinya dingin hingga ke tulang, Alika merogoh saku tasnya dan mengeluarkan ponsel. Benda itu terasa seberat batu di genggamannya. Ia menatap layar yang menyala, menatap nama yang tersimpan di sa
Suasana di lobi kantor masih terasa kaku dan berat, seolah udara di sana memadat oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Alika tidak berani menoleh ke belakang, meski rasanya punggungnya terbakar oleh tatapan tajam dan penuh tanda tanya milik Arkana. Dia menggenggam tangan kecil Arka dengan erat, seolah takut jika dilepaskan, dunia yang dia bangun dengan susah payah ini akan runtuh seketika. Hatinya berteriak meminta lari sejauh mungkin, namun setiap langkah kakinya terasa berat, seolah terikat kuat oleh rasa bersalah yang selama ini dia pendam rapat-rapat. "Pergilah dulu, Alika. Bawa Arka beristirahat," suara Satria terdengar lembut namun tegas di sampingnya. Pria itu berjalan selangkah di sebelahnya, menciptakan perisai tak kasat mata dari segala pandangan penasaran karyawan yang masih melirik sembunyi-sembunyi. "Kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku pastikan... Pak Direktur itu tidak akan mengikutimu sekarang. Berikan dia sedikit ruang, begitu juga kamu."uc
Suasana di dalam lift yang sempit itu terasa sarat dengan perasaan yang tak terucapkan. Alika menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang merayap di setiap inci wajahnya. Tangannya masih erat menggenggam tangan mungil Arka, namun ia bisa merasakan betapa santainya anak itu berjalan di sampingnya, seolah kehadiran sosok gagah di sebelah mereka adalah hal yang paling wajar di dunia ini. Arkana berjalan tegak, tatapannya lurus ke depan namun sesekali melirik ke samping—ke arah wajah Arka yang sedang menatap penasaran ke sekeliling ruang lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai tempat Alika bekerja, suasana masih terasa hening. Namun, baru saja mereka melangkah keluar, Alika seolah teringat akan bahaya yang mengintai. Ia segera berlutut perlahan menyamai tinggi tubuh kecil anaknya, tidak peduli lagi siapa yang melihatnya di koridor kantor. Kedua tangannya bergetar hebat saat memeluk erat bahu Arka, memeriksa wajah, tangan, hingga seluruh badannya dengan
Suasana di lobi utama perlahan kembali tenang, namun hati Arkana masih berdegup kencang tak beraturan. Ia masih tetap berjongkok di tempatnya, tatapannya tak lepas dari sosok mungil yang kini berdiri di samping Alika. Pertanyaan polos Arka tadi"Apakah Om ini Papi yang selama ini Arka tunggu?"seperti petir di siang bolong yang menghantam kesadaran semua orang yang hadir di sana. Udara di sekitar mereka terasa hening, sarat dengan ketegangan dan perasaan yang tak terucap.Glek Alika menelan ludah dengan susah payah, tangannya meremas bahu Arka erat seolah mencari kekuatan. Ia tak sanggup menatap mata Arkana yang begitu tajam namun menyimpan harapan meluap. Dengan suara bergetar, ia berusaha mengalihkan perhatian anaknya, berusaha menutup celah yang terbuka lebar itu. "Sayang, mari kita naik ke atas dulu ya," bisik Alika lembut, berusaha tersenyum meski matanya berkaca-kaca. "Mami masih bekerja sebentar. Kita bicara di ruangan Mami saja, di sana lebih
Siang itu suasana lobi utama PT Adhiraga Group biasanya tenang, berwibawa, dan sunyi senyap. Lantai marmer putih mengkilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang besar, deretan sofa kulit hitam tersusun rapi di sudut ruangan, dan setiap orang yang lewat selalu berjalan dengan tertib dan sopan. Namun hari ini, semua keheningan itu berubah seketika. Langkah kaki orang-orang yang hendak keluar masuk tiba-tiba terhenti serentak. Mata semua orang tertuju heran pada sosok kecil laki-laki yang berdiri tegak tepat di tengah lantai marmer itu. Arka mengenakan seragam olahraga TK berwarna biru muda yang agak lusuh di bagian ujung lengan, topi kecilnya tergantung lemas di leher, dan satu tangannya memeluk erat boneka beruang cokelat kesayangannya yang sudah sedikit kusam karena sering dibawa ke mana-mana. Matanya yang besar, tajam, dan bening menatap sekeliling dengan keberanian yang luar biasa, sama sekali tak tampak takut meski berada di tempat asing yang sangat megah dan penuh orang







