Teilen

Bab 6

last update Veröffentlichungsdatum: 13.07.2026 07:20:16

Malam itu hujan turun sangat deras, membuat suhu di dalam rumah menjadi dingin menusuk tulang. Alika baru selesai menutup buku. Saat hendak tidur, tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu yang agak kasar.

Braak! Braak! Braak!

Ia kaget, lalu buru-buru membuka pintu. Ternyata sosok yang selama ini mengabaikannya sedang berdiri di sana. Ya, Arkana berdiri di depan pintu kamarnya.

Napasnya terdengar tidak teratur, bajunya pun terlihat berantakan, dan tercium bau alkohol yang sangat menyengat. Pria itu langsung melangkah masuk ke kamarnya tanpa izin, dan hampir saja tubuh tinggi tegap itu jatuh kalau saja Alika tidak cepat-cepat menahannya.

"Arkana! Kamu kenapa?" tanya Alika kaget, berusaha menopang tubuh berat itu.

Arkana menatapnya sebentar, matanya terlihat sayu dan kabur. Dia tersenyum samar, senyum yang bukan untuk Alika. Tangan kokohnya pun terulur, menyentuh pipi Alika pelan, tetapi tatapannya menembus jauh ke belakang, seolah dia melihat orang lain.

"Kamu pulang juga ternyata..." gumamnya pelan, suaranya terdengar parau. "Aku kira kamu tidak akan datang lagi... Nadia..." sambungnya lagi sambil menatap lekat-lekat mata Alika, lalu mengelus pipi Alika.

Deg!

Jantung Alika rasanya berhenti berdetak sejenak. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, berusaha melepaskan pelukan Arkana pelan-pelan. Tetapi pria itu malah semakin erat memeluknya, menyandarkan kepalanya di bahu Alika.

"Arkana... lepaskan aku," protes Alika, namun pelukan Arkana semakin kuat.

"Jangan pergi lagi, ya... Sayang. Aku cinta sekali sama kamu," bisiknya lagi, kali ini suaranya bergetar. "Aku janji tidak akan membuatmu sedih lagi... Nadia... aku sayang sekali sama kamu..." ucap Arkana dengan suara parau.

Tes.

Air mata Alika mulai menetes perlahan. Ia berdiri diam mematung, membiarkan pria yang sah menjadi suaminya ini memeluk erat sambil memanggil nama wanita lain. Rasanya sangat sakit, seperti ditusuk jarum berkali-kali.

"Aku di sini..." jawab Alika lirih, meski ia tahu kata-kata itu sia-sia. "Aku tidak ke mana-mana kok," ucap Alika dengan senyum paksa.

Arkana tertawa kecil senang, lalu mengecup pelan bahu Alika. "Bagus... jangan pernah tinggalkan aku... aku sangat mencintaimu, Nadia..." Suara Arkana lembut, tetapi sangat menyakiti hati Alika.

Alika menghabiskan waktu berjam-jam hanya duduk diam di situ, menahan beban tubuh Arkana dan rasa sakit yang semakin menumpuk di dada. Ia tidak berani bergerak, takut pria itu bangun dan marah.

Keesokan harinya, saat hari sudah mulai berganti dan fajar mulai menyingsing, pelukan Arkana akhirnya melonggar. Pria itu terlihat tidur pulas di tepi kasur Alika. Alika pelan-pelan melepaskan diri, hendak beralih ke sofa, tetapi tiba-tiba tangan Arkana mencengkeram pergelangan tangannya erat.

Ia membuka mata sedikit, menatap Alika sekilas, lalu wajahnya seketika berubah dingin dan jijik.

"Kamu? Ngapain di sini? Dan apa-apaan ini?" hardiknya dengan kasar, kemudian langsung melepaskan cengkeramannya dan mundur menjauh seolah Alika itu penyakit. "Kenapa aku bisa ada di kamar kamu? Dan kenapa kamu berani membiarkan aku tidur di sini?" sentak Arkana sambil menatap tajam ke arah Alika.

Alika tertegun melihat respons pertama suaminya. Wanita itu tidak percaya dengan perubahan sikap yang drastis itu. "Kamu datang sendiri tadi malam... Dan kamu juga mabuk berat. Aku tidak bisa menolakmu... apalagi sampai menyuruhmu pergi dari kamar ini."

"Alasan!" potong Arkana cepat sambil menatap tajam. Pria itu langsung berdiri dan merapikan bajunya dengan kasar. "Pasti kamu sengaja, kan? Sengaja ingin memanfaatkan aku yang tidak sadar agar kamu bisa dekat sama aku? Katanya kamu hanya butuh uang? Kenapa sekarang jadi licik begini, hah?!" hardik Arkana.

"Aku tidak bohong. Bahkan kamu... kamu yang tadi malam memanggil-manggil nama Nadia terus..." suara Alika langsung pecah. "Aku hanya berusaha menahan kamu supaya tidak jatuh, tidak ada niat lain!"

Arkana tertawa sinis, lalu menunjuk pintu dengan jari gemetar. "Tidak usah pura-pura sok suci! Ingat ya, meskipun aku tidur di sini, meskipun aku mabuk, dan mati sekalipun, hatiku tetap milik Nadia. Dan kamu tidak akan pernah bisa menggantikannya, bahkan sedetik pun di hatiku!" ucap Arkana dengan tegas.

Pria itu berbalik dan hendak pergi, tetapi tiba-tiba saja langkahnya berhenti di ambang pintu, menatap Alika dengan tatapan tajam yang membuat bulu kuduk merinding.

"Dan satu hal lagi yang harus kamu ingat! Jangan pernah berani cerita soal ini ke siapa pun, terutama Nadia! Kalau sampai Nadia tahu soal ini, akan aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidupmu! Camkan itu!" ucap Arkana kasar dan penuh penekanan.

Braak!

Arkana membanting pintu sampai bergetar, meninggalkan Alika yang gemetar hebat. Tetapi saat ia menunduk, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di lantai dekat kasur—sebuah kalung kecil bermata biru yang pasti bukan miliknya.

Itu kalung kesayangan Nadia.

"Sabar, Al. Kamu pasti kuat. Ingat, hanya setahun dan ini tidak akan lama," gumam Alika sambil meremas dadanya yang terasa amat sakit.

 

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 50

    Punggung Nadia yang menjauh di ujung lorong itu seolah memanggil keinginan untuk membiarkannya pergi begitu saja, membiarkan segalanya selesai seketika. Namun di balik langkahnya yang terburu-buru itu, Arkana bisa merasakan getaran kebencian yang masih tersisa kuat di hati wanita itu. Ia tahu, jika dibiarkan pergi dalam keadaan masih penuh prasangka dan kemarahan yang salah arah, benih-benih masalah baru pasti akan tumbuh dan mengancam ketenangan Alika serta Arka nanti. Ia tak mau lagi ada kesalahpahaman yang berlarut-larut, tak mau lagi Alika terus-menerus menanggung tuduhan yang tidak berdasar hanya karena kebohongan yang selama ini ditutup rapat. "Nadia, tunggu!" panggil Arkana dengan suara lantang namun tidak berteriak, cukup terdengar jelas hingga membuat langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti tepat di tengah lorong rumah sakit yang sepi itu. Perlahan namun pasti, Arkana melangkah mendekat, langkahnya tenang dan mantap. Wajahnya tidak lag

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 49

    Keheningan yang baru saja terbangun di ruangan itu belum sempat terasa menenangkan, tiba-tiba dipecah oleh suara langkah kaki yang dihentakkan keras, cepat, dan penuh kemarahan dari ujung lorong rumah sakit yang sepi. Semakin lama suara itu semakin mendekat, seolah setiap langkah membawa badai yang siap meluluhlantakkan segalanya. Belum sempat Alika atau Arkana saling bertukar pandang lebih lama, pintu ruang rawat itu terbuka tiba-tiba dengan bantingan yang sangat keras hingga menimbulkan bunyi brakk yang menggetarkan dinding.BRAK Alika dan Arkana serentak menoleh ke arah pintu. Di sana sudah berdiri seorang wanitq yang tak lain Nadia, dadanya naik turun hebat menahan napas yang memburu, wajahnya yang biasanya selalu tampil rapi dan manis kini merah padam terbakar amarah yang meluap-luap tak terkendali. Manik matanya yang indah kini menatap tajam, berkilat penuh kebencian, melirik bergantian dari wajah Alika, lalu berhenti lama menatap Arkana, hingga akhir

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 48

    Keheningan menyelimuti ruangan cukup lama, begitu pekat hingga seolah suara detak jam dinding saja terdengar begitu nyaring dan berat. Arkana berdiri diam mematung di tempatnya, seolah dipukul bongkahan batu besar yang menghantam dadanya berkali-kali, membuat napasnya tersendat-sendat. Kata-kata tajam namun penuh kepedihan yang baru saja meluncur dari mulut Alika terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya, menampar keras setiap sisi hati yang dulu tertutup rapat oleh ego buta dan penyangkalan yang konyol. Dia baru benar-benar sadar sekarang selama ini, selama bertahun-tahun lamanya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hanya memikirkan betapa perihnya hatinya saat melihat bayang-bayang masa lalu, betapa rindunya dia pada sosok yang salah dia letakkan di hati, betapa sakitnya melihat Alika begitu dekat dengan Satria, betapa menyesalnya dia telah melewatkan hari-hari tumbuh kembang putra kandungnya sendiri. Namun dalam keegoisan itu, dia lupa satu hal yan

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 47

    Suasana hangat yang tadi sempat terasa di ruangan itu perlahan mendingin kembali, berganti dengan kekakuan yang masih tersisa di antara mereka berdua. Arkana melepaskan cengkeramannya pelan dari bahu Alika, lalu mundur selangkah. Tatapannya yang tadi penuh bahagia dan takjub kini berubah tajam, menyimpan amarah yang tertahan lama—bukan pada Alika, melainkan pada kenyataan yang terasa begitu menyakitkan. Napasnya terdengar berat, seolah setiap tarikan napas menyisakan luka baru di dadanya. "Tiga tahun, Alika..." suaranya rendah namun bergetar hebat, setiap kata terasa tertahan di kerongkongan, keluar dengan susah payah. "Tiga tahun lebih kamu menyembunyikan dia dariku. Kamu tahu kan berapa lama waktu itu berlalu? Empat tahun, Alika. Empat tahun aku hidup dalam ketidaktahuan, tanpa pernah menyangka bahwa di luar sana sudah ada darah dagingku sendiri yang tumbuh sehat dan lucu. Empat tahun ibuku yang setiap malam berdoa dengan air mata semoga aku segera diberi ketu

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 46

    Pelukan hangat itu terasa begitu nyata, begitu menenangkan, namun di dalamnya tersimpan ribuan luka lama yang belum sempat benar-benar kering. Arkana tak melepaskan rangkulan pada tubuh Alika sedetik pun, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu dan segala kebahagiaan barunya akan lenyap kembali bagaikan kabut pagi yang hilang tertiup angin. Hatinya bergejolak hebat, tak menentu,separuh jiwanya terasa hancur lebur menjadi debu menyadari betapa bodoh dan butanya ia selama ini, sementara separuh sisanya meledak dalam kebahagiaan luar biasa yang tak terlukiskan karena menyadari bahwa takdir ternyata masih menyisakan keajaiban terindah dalam hidupnya. "Arka... anakku..." bisiknya berulang kali dengan suara parau dan bergetar, matanya tak lepas dari pintu ruang rawat tempat anak itu berbaring tenang. "Dia ada di sana... darahku baru saja mengalir di tubuhnya... dia benar-benar darah dagingku sendiri..." Ia perlahan melepaskan pelukann

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 45

    Suasana di dalam ruang rawat inap sementara itu hening, hanya terdengar suara teratur dari alat pemantau jantung yang kini berdetak tenang.menjadi bukti bahwa kondisi Arka perlahan namun pasti semakin membaik. Arkana masih duduk diam di kursi dekat ranjang, tangannya masih menekan sedikit kapas di bekas pengambilan darah tadi, namun sorot matanya tak pernah beralih sedetik pun dari wajah Alika yang berdiri kaku tak jauh dari situ. Wanita itu tampak gugup, matanya terus menunduk menghindari tatapan tajam yang seolah menembus masuk hingga ke dalam jiwanya. Tak lama berselang, pintu ruang terbuka perlahan. Dokter yang menangani Arka masuk sambil membawa berkas hasil pemeriksaan di tangannya. Wajahnya tampak lega bercampur senyum hangat melihat perkembangan kondisi pasiennya yang sangat positif. "Boleh saya masuk?" sapa dokter itu lembut sambil melangkah mendekat ke tengah ruangan. "Silakan, Dok," jawab Arkana pelan, suaranya terdengar masih

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status