تسجيل الدخولKeheningan menyelimuti ruangan cukup lama, begitu pekat hingga seolah suara detak jam dinding saja terdengar begitu nyaring dan berat. Arkana berdiri diam mematung di tempatnya, seolah dipukul bongkahan batu besar yang menghantam dadanya berkali-kali, membuat napasnya tersendat-sendat. Kata-kata tajam namun penuh kepedihan yang baru saja meluncur dari mulut Alika terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya, menampar keras setiap sisi hati yang dulu tertutup rapat oleh ego buta dan penyangkalan yang konyol. Dia baru benar-benar sadar sekarang selama ini, selama bertahun-tahun lamanya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hanya memikirkan betapa perihnya hatinya saat melihat bayang-bayang masa lalu, betapa rindunya dia pada sosok yang salah dia letakkan di hati, betapa sakitnya melihat Alika begitu dekat dengan Satria, betapa menyesalnya dia telah melewatkan hari-hari tumbuh kembang putra kandungnya sendiri. Namun dalam keegoisan itu, dia lupa satu hal yan
Suasana hangat yang tadi sempat terasa di ruangan itu perlahan mendingin kembali, berganti dengan kekakuan yang masih tersisa di antara mereka berdua. Arkana melepaskan cengkeramannya pelan dari bahu Alika, lalu mundur selangkah. Tatapannya yang tadi penuh bahagia dan takjub kini berubah tajam, menyimpan amarah yang tertahan lama—bukan pada Alika, melainkan pada kenyataan yang terasa begitu menyakitkan. Napasnya terdengar berat, seolah setiap tarikan napas menyisakan luka baru di dadanya. "Tiga tahun, Alika..." suaranya rendah namun bergetar hebat, setiap kata terasa tertahan di kerongkongan, keluar dengan susah payah. "Tiga tahun lebih kamu menyembunyikan dia dariku. Kamu tahu kan berapa lama waktu itu berlalu? Empat tahun, Alika. Empat tahun aku hidup dalam ketidaktahuan, tanpa pernah menyangka bahwa di luar sana sudah ada darah dagingku sendiri yang tumbuh sehat dan lucu. Empat tahun ibuku yang setiap malam berdoa dengan air mata semoga aku segera diberi ketu
Pelukan hangat itu terasa begitu nyata, begitu menenangkan, namun di dalamnya tersimpan ribuan luka lama yang belum sempat benar-benar kering. Arkana tak melepaskan rangkulan pada tubuh Alika sedetik pun, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu dan segala kebahagiaan barunya akan lenyap kembali bagaikan kabut pagi yang hilang tertiup angin. Hatinya bergejolak hebat, tak menentu,separuh jiwanya terasa hancur lebur menjadi debu menyadari betapa bodoh dan butanya ia selama ini, sementara separuh sisanya meledak dalam kebahagiaan luar biasa yang tak terlukiskan karena menyadari bahwa takdir ternyata masih menyisakan keajaiban terindah dalam hidupnya. "Arka... anakku..." bisiknya berulang kali dengan suara parau dan bergetar, matanya tak lepas dari pintu ruang rawat tempat anak itu berbaring tenang. "Dia ada di sana... darahku baru saja mengalir di tubuhnya... dia benar-benar darah dagingku sendiri..." Ia perlahan melepaskan pelukann
Suasana di dalam ruang rawat inap sementara itu hening, hanya terdengar suara teratur dari alat pemantau jantung yang kini berdetak tenang.menjadi bukti bahwa kondisi Arka perlahan namun pasti semakin membaik. Arkana masih duduk diam di kursi dekat ranjang, tangannya masih menekan sedikit kapas di bekas pengambilan darah tadi, namun sorot matanya tak pernah beralih sedetik pun dari wajah Alika yang berdiri kaku tak jauh dari situ. Wanita itu tampak gugup, matanya terus menunduk menghindari tatapan tajam yang seolah menembus masuk hingga ke dalam jiwanya. Tak lama berselang, pintu ruang terbuka perlahan. Dokter yang menangani Arka masuk sambil membawa berkas hasil pemeriksaan di tangannya. Wajahnya tampak lega bercampur senyum hangat melihat perkembangan kondisi pasiennya yang sangat positif. "Boleh saya masuk?" sapa dokter itu lembut sambil melangkah mendekat ke tengah ruangan. "Silakan, Dok," jawab Arkana pelan, suaranya terdengar masih
Suasana di lorong rumah sakit terasa dingin dan menyesakkan. Deru napas Alika terputus-putus, dadanya sesak bukan main. Sejak tadi ia mondar-mandir kecil di depan ruang gawat darurat, matanya tak lepas dari pintu tertutup itu. Di dalam sana, nyawa buah hatinya, Arka, sedang bertarung melawan waktu. Dokter sudah memperingatkan dengan tegas kalau anak itu butuh transfusi darah secepatnya, dan golongan darah yang dibutuhkan sangatlah langka. Alika sudah putus asa. Ia sendiri sudah diperiksa, namun tidak cocok. Begitu juga dengan Satria, hasilnya tetap sama. Tak ada pilihan lain. Hanya satu nama yang terngiang di kepalanya, satu-satunya harapan yang tersisa, meski mengucapkannya saja terasa seperti mengoyak hatinya sendiri. Dengan tangan gemetar hebat, jari-jemarinya dingin hingga ke tulang, Alika merogoh saku tasnya dan mengeluarkan ponsel. Benda itu terasa seberat batu di genggamannya. Ia menatap layar yang menyala, menatap nama yang tersimpan di sa
Suasana di lobi kantor masih terasa kaku dan berat, seolah udara di sana memadat oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Alika tidak berani menoleh ke belakang, meski rasanya punggungnya terbakar oleh tatapan tajam dan penuh tanda tanya milik Arkana. Dia menggenggam tangan kecil Arka dengan erat, seolah takut jika dilepaskan, dunia yang dia bangun dengan susah payah ini akan runtuh seketika. Hatinya berteriak meminta lari sejauh mungkin, namun setiap langkah kakinya terasa berat, seolah terikat kuat oleh rasa bersalah yang selama ini dia pendam rapat-rapat. "Pergilah dulu, Alika. Bawa Arka beristirahat," suara Satria terdengar lembut namun tegas di sampingnya. Pria itu berjalan selangkah di sebelahnya, menciptakan perisai tak kasat mata dari segala pandangan penasaran karyawan yang masih melirik sembunyi-sembunyi. "Kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku pastikan... Pak Direktur itu tidak akan mengikutimu sekarang. Berikan dia sedikit ruang, begitu juga kamu."uc







