MasukRuang tamu rumah itu terasa lebih sempit dari ingatannya. Kursi disusun rapi, wajah-wajah duduk berhadapan, dan udara dipenuhi bisik yang berhenti ketika Seeyana melangkah masuk. Ia datang sendiri. Tanpa Ravent di sisi, tanpa tameng.
Suryani duduk di tengah, punggung tegak, tatapannya siap menusuk. Beberapa kerabat menunduk, yang lain menatap penuh ingin tahu seolah hidup Seeyana adalah perkara yang layak diputuskan ramai-ramai.“Kita tunggu Ravent,” kata Suryani singkat.Pintu terbuka beberapa menit kemudian. Ravent masuk, wajahnya tegang tapi mantap. Ia duduk di sebelah Seeyana bukan terlalu dekat, bukan jauh. Posisi yang dipilih dengan sadar.“Baik,” Suryani memulai. “Kita bicara terang-terangan. Ada banyak cerita beredar. Aku ingin ini jelas.”Seeyana menarik napas. Ia tidak menyela. Ia menunggu.“Sebagai ibu,” lanjut Suryani, “aku merasa rumah tangga kalian jadi bahan omongan karena keputusan yang tidak dewasa.”RavAda perbedaan besar antara jarak yang terjadi dan jarak yang dipilih. Yang pertama bisa diterima dengan sabar. Yang kedua menuntut kejujuran.Seeyana menyadarinya pada Selasa pagi, saat ia menolak satu undangan makan malam yang sebenarnya tidak memberatkannya. Alasannya bukan jadwal melainkan intuisi. Ia tidak ingin mengisi malam dengan sesuatu yang tidak ia pilih sepenuh hati.Ia menutup kalender, mematikan notifikasi, lalu kembali ke laporan di depannya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak hanya mengatur waktu, tapi juga kedekatan.Di kantor, proyek memasuki fase validasi. Semua keputusan sebelumnya diuji oleh hasil nyata. Tidak ada ruang untuk improvisasi emosional. Seeyana berdiri di depan tim dengan nada yang tetap tenang.“Kita akan bertahan di jalur ini,” katanya. “Bukan karena ini paling aman, tapi karena ini paling jujur.”Tidak semua orang terlihat yakin. Tapi tidak ada yang mundur.Usai rapat, Livia menghamp
Jarak tidak selalu hadir sebagai kehilangan. Kadang ia muncul sebagai pengaturan ulang halus, terukur, dan sulit disalahkan.Seeyana merasakannya pada pekan kedua setelah ritme baru berjalan. Bukan karena ia dan Ravent berhenti berbagi kabar, melainkan karena jeda di antara pesan-pesan itu mulai memanjang. Tidak ada kesalahpahaman. Tidak ada pertanyaan. Hanya waktu yang menuntut perhatian penuh di tempat lain.Ia tidak panik. Tapi ia mencatatnya.Di kantor, fase proyek memasuki titik sensitif. Keputusan-keputusan kecil kini berdampak besar. Setiap perubahan jadwal beresonansi ke banyak divisi. Seeyana memimpin rapat dengan presisi yang hampir sunyi tidak meninggikan suara, tidak memotong, tapi menutup setiap celah abu-abu.“Kita tidak akan menyenangkan semua orang,” katanya pada tim inti. “Tapi kita bisa adil pada proses.”Beberapa orang mengangguk. Beberapa terlihat ragu. Tapi tidak ada yang mundur.Usai rapat, seorang rekan lam
Perubahan jarang terasa sebagai hentakan. Ia lebih sering hadir sebagai pergeseran kecil yang, jika dikumpulkan, mengubah cara seseorang menjalani hari.Seeyana merasakannya pada Senin pertama setelah rangkaian diskusi itu. Agenda kerjanya tidak tampak jauh berbeda—rapat, tenggat, evaluasi namun urutannya berubah. Beberapa hal yang dulu berada di pinggir kini pindah ke pusat. Beberapa yang dulu terasa mendesak mulai kehilangan prioritas.Ia tiba di kantor dengan langkah mantap, menyapa seperlunya, lalu menutup diri dalam fokus. Ada email dari kantor pusat bukan instruksi, melainkan pertanyaan lanjutan. Nada mereka profesional, menjaga jarak yang sehat. Tidak ada tekanan, tapi ada kesinambungan.Seeyana membalas dengan ringkas. Ia tidak ingin terlihat terlalu tersedia, tapi juga tidak ingin menghilang. Ritme baru menuntut presisi.Di sela pagi, satu rapat internal memanas. Bukan karena konflik terbuka, melainkan karena ketidakpastian. Proyek yang d
Keputusan jarang datang sebagai momen tunggal. Ia lebih sering hadir sebagai serangkaian tindakan kecil yang, tanpa disadari, sudah membentuk arah. Seeyana merasakannya pada Senin pagi, ketika ia tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Bukan karena gelisah, melainkan karena ia ingin memulai hari tanpa gangguan. Ia membuka laptop, meninjau kembali presentasi regional yang sudah ia lakukan dengan baik terlalu baik untuk dianggap kebetulan. Ponselnya bergetar. Email dari kantor pusat. Bukan jawaban final. Tapi permintaan lanjutan: diskusi tahap berikutnya, agenda terlampir, jadwal fleksibel. Ia menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Permintaan itu seperti pintu yang dibuka setengah cukup lebar untuk masuk, cukup sempit untuk mundur tanpa suara. Ia membalas singkat Saya tersedia Kamis sore. Tidak ada deklarasi. Tapi itu satu langkah ke depan. Di lantai yang sa
Pilihan paling sulit bukan antara benar dan salah, melainkan antara dua hal yang sama-sama masuk akal dan sama-sama menuntut konsekuensi.Seeyana menyadarinya pada Selasa pagi, ketika dua agenda bertabrakan di kalendernya. Yang pertama: presentasi lanjutan proyek strategis di depan direksi regional. Yang kedua panggilan resmi dari kantor pusat di kota lain undangan seleksi internal untuk posisi yang selama ini ia anggap sebagai “kemungkinan jauh”.Undangan itu bukan kejutan. Ia telah masuk radar sejak lama. Tapi waktunya terasa seperti ujian yang disengaja.Ia menatap layar tanpa segera memutuskan. Kedua hal itu penting. Keduanya hasil dari kerja panjang. Dan yang paling mengganggu keduanya tidak bisa ditunda.Ia menutup kalender, berdiri, dan berjalan pelan ke jendela. Kota di bawah bergerak seperti biasa tidak peduli pada dilema personal siapa pun.Untuk pertama kalinya setelah lama, Seeyana tidak tahu jawaban cepat.Di ruang r
Ujian berikutnya tidak datang dari ruang rapat atau email berlabel urgent. Ia datang dari tempat yang lebih dekat tempat yang biasanya dianggap aman.Seeyana menyadarinya pada Senin pagi, ketika kalender pribadinya berbunyi. Undangan makan siang dari seseorang yang sudah lama tidak ia temui: mentor lamanya di awal karier. Nama itu membawa campuran rasa hormat dan kewaspadaan.Ia membaca pesan itu perlahan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada agenda jelas. Hanya kalimat singkat Aku ingin menyusul kabarmu.Dulu, undangan semacam itu selalu ia terima tanpa pikir panjang. Sekarang, ia menandai kalender dengan tanda tanya kecil. Ia membalas sopan, meminta tujuan pertemuan dan durasi.Balasan datang cepat. Terlalu ringan.Santai saja. Nostalgia.Nostalgia, pikir Seeyana, sering menjadi pintu masuk yang paling halus.Ia tetap setuju, dengan satu penyesuaian makan siang singkat, tempat umum, satu jam. Tidak lebih.Pertemuan i







