LOGINPagi itu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Seeyana merapikan tas kerjanya dengan gerakan terukur, seolah setiap benda punya tempat yang harus dipastikan aman. Semalam meninggalkan hangat dan hari ini menuntut ketegasan.
Di percetakan, suasana lebih ramai. Klien besar yang ia presentasikan kemarin datang membawa revisi cepat. Pak Hendra memanggilnya.“Mereka minta kamu yang pegang komunikasi,” katanya. “Langsung.”Seeyana mengangguk. “Siap.”Ia bekerj“Aku ingin namanya.”Suara Arkan tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Raka berhenti bernapas sesaat.Pak Surya memandang anaknya lama. Api di belakang mereka tinggal bara merah yang sesekali berderak pelan.“Kau sudah tahu jawabannya,” katanya akhirnya.“Tidak. Aku ingin kau yang mengatakannya.”Sunyi beberapa detik. Lalu ada nama yang ia ingat ‘Leonard Adipratama’. Nama itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang sudah lama tenang.Clarisa mengerutkan kening. “Bukankah dia....”“......mantan komisaris utama,” potong Raka pelan. “Yang ‘mengundurkan diri’ tiga tahun lalu.”Pak Surya tersenyum tipis. “Mengundurkan diri adalah kata yang lebih halus dari dipaksa keluar.”Arkan tidak bereaksi.“Tiga tahun lalu,” lanjut Pak Surya, “Leonard kehilangan pengaruhnya karena keputusan dewan. Tapi jaringan yang ia bangun tidak pernah benar-benar hilang.”“Dan proyek itu?” tanya Clarisa.Pak Surya menghemb
“Kau sudah tahu.”Kalimat itu keluar lebih dulu dari mulut Pak Surya sebelum Arkan sempat berbicara.Mereka berdiri berhadapan di trotoar depan gedung yang masih berasap. Bau hangus dan logam terbakar bercampur dalam udara dini hari.Clarisa berdiri beberapa langkah di belakang Arkan. Raka di sisi lain, selalu tetap waspada.Arkan tidak menjawab langsung. Sorot matanya tajam, tapi suaranya tetap rendah. “IP dari rumah keluarga.”Pak Surya mengangguk pelan. Tidak menyangkal. “Itu bukan hal sulit untuk diatur,” katanya tenang. “Rumah itu punya banyak akses lama.”“Jangan bermain kata-kata,” potong Arkan.Sunyi menegang.Lampu ambulans memantul di wajah mereka.“Aku menghapus sesuatu,” lanjut Pak Surya akhirnya. “Tapi bukan untuk menyelamatkan diriku.”Clarisa menatap pria tua itu.“Lalu untuk siapa?” tanyanya.Tatapan Pak Surya beralih padanya.“Untukmu.”Kata itu menggantung aneh di udar
“Berapa lantai yang terbakar?”Suara Arkan terdengar lebih dingin dari biasanya.Petugas itu menelan ludah. “Api mulai dari lantai arsip. Menyebar cepat ke dua lantai di atasnya. Sistem pemadam otomatis tidak aktif.”“Tidak aktif?” ulang Raka tajam.“Kami masih menyelidiki.”Arkan sudah berjalan menuju mobil sebelum kalimat itu selesai. Clarisa mengikuti tanpa diminta. Disisi lain Pak Surya tidak menahan mereka kali ini. Ia hanya berkata pelan, “Jika ini memang direncanakan… maka kita semua terlambat satu langkah.”Sirene mobil polisi mengiringi mereka menuju pusat kota. Dari kejauhan, cahaya oranye memantul di langit malam. Asap tebal membumbung tinggi. Gedung Wirawan Group berdiri seperti obor raksasa.Clarisa menahan napas saat mobil berhenti. Karyawan yang dievakuasi berdiri berkelompok di seberang jalan, wajah-wajah mereka panik dan bingung.Arkan turun. La
Dor!Kaca kedua pecah. Pecahannya berhamburan ke lantai marmer. Salah satu penjaga berteriak dari luar, lalu terdengar suara tubuh jatuh menghantam tanah. Arkan refleks menarik Clarisa ke belakang sofa besar. “Jangan bergerak,” bisiknya tegas.Pak Surya tetap berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya—seolah menimbang situasi dengan kepala dingin yang mengerikan sebelum akhirnya mundur selangkah.“Berapa orang?” tanyanya pada Raka tanpa menoleh.“Minimal enam. Mungkin lebih. Mereka datang dari dua sisi.”“Direktur lama?” tanya Arkan.Raka mengangguk singkat. “Aku lihat dia turun dari mobil paling belakang.”Arkan menghela napas pelan.“Dia nekat.”“Dia putus asa,” koreksi Pak Surya tenang.Tembakan kembali terdengar.Dor! Dor!Peluru menghantam dinding luar. Lampu gantung bergoyang
“Lepaskan dia!”Suara Arkan membelah gelap. Ia tidak peduli darah yang terus mengalir dari bahunya. Tangannya masih menggenggam pistol, meski cengkeramannya mulai melemah.Lampu kawasan industri menyala kembali satu per satu. Dan dalam cahaya yang berkedip itu—Clarisa sudah tidak ada. Hanya Dimas yang tergeletak setengah sadar di depan pintu pabrik.Raka berlari menghampiri Arkan. “Kita harus mundur! Mereka bukan cuma satu tim!”Arkan menepisnya. “Ke mana dia dibawa?”“Ada mobil lain tadi dari sisi timur!” teriak Raka. “SUV gelap!”Arkan menoleh tajam ke arah jalan samping. Ban mobil baru saja meninggalkan bekas panjang di aspal. Tanpa ragu, ia berjalan menuju mobilnya.“Kau terluka!” bentak Raka.“Aku belum mati,” jawab Arkan dingin.Ia masuk ke kursi penumpang. Raka mengemudi kali ini tanpa banyak bicara. Mesin meraung. Mobil mele
Pesan itu belum sempat terbuka ketika salah satu pria bersenjata menendang ponsel itu menjauh.“Tak ada siapa pun!” teriaknya.Gudang kosong. Bau oli menyengat. Hanya kursi terbalik dan tali yang tergeletak di lantai.Pemimpin mereka mengambil ponsel itu, membaca nama di layar.Arkan.Ia menyeringai tipis. “Jadi ini benar.”Di luar, dua mobil hitam masih menyala mesinnya. Mereka datang bukan untuk menyelamatkan Clarisa. Mereka datang untuk mengambil sesuatu yang lebih berharga. Sementara itu Arkan menatap layar laptop di mobilnya. Titik kecil berkedip di peta digital.“Dia menjatuhkan ponselnya,” gumam Raka yang duduk di kursi kemudi.“Bukan menjatuhkan,” jawab Arkan tenang. “Dia meninggalkannya.”“Untukmu?”Arkan tidak menjawab. Tapi tatapannya berubah.Clarisa tidak panik.Itu berarti dia masih berpikir jernih. Dan itu berarti ia sedang memberi petunjuk.“Belok kiri di perempatan berikutnya,







