Share

Bab 61 : Titik Tekan

Penulis: qia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 14:11:19

Minggu itu dimulai dengan tekanan yang tidak kasat mata tapi terasa berat. Seeyana membuka laptop pagi-pagi sekali. Ada notifikasi email dari manajemen pusat: laporan tengah tahun tim lintas divisi harus dikirim hari itu, beserta analisis risiko dan rekomendasi penyesuaian. Waktu sempit, data belum lengkap sepenuhnya. Tantangan yang sama, namun skala sedikit lebih besar.

Ia menenggelamkan diri dalam angka, grafik, dan catatan internal. Setiap keputusan dipertanyakan: apakah sudah cukup jelas? Apakah bisa dipertanggungjawabkan? Ia menolak godaan untuk menunda. Lima jam berlalu, ia menata laporan, menulis ringkasan eksekutif, dan mengirim dokumen tepat waktu. Napasnya panjang, namun tidak lega. Kepuasan itu tenang, bukan euforia.

Di ruang istirahat, Alya menatapnya sambil menuang kopi. “Kamu kelihatan tidak tergoyahkan,” ujarnya.

“Tidak tergoyahkan, hanya disiplin,” jawab Seeyana. “Disiplin memberi ruang untuk bernapas saat tekanan datang.”

Sementar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 83 : Normal Baru

    Tidak ada hari yang benar-benar menandai kapan sesuatu berubah menjadi kebiasaan. Normal baru tidak datang dengan pengumuman, ia menyusup melalui pengulangan.Seeyana menyadari itu pada Selasa pagi, ketika ia membuka agenda dan tidak lagi terkejut melihat blok rapat tambahan. Tangannya bergerak otomatis: membaca, memilah, menghapus yang tidak perlu, menegosiasikan sisanya. Tidak ada ketegangan di rahang. Tidak ada tarikan napas berlebihan.Ia tidak lebih kuat dari minggu lalu. Ia hanya lebih terbiasa menjaga garis.Di ruang kerja, dinamika tim perlahan menyesuaikan. Orang-orang mulai mengajukan pertanyaan lebih awal, bukan di menit terakhir. Beberapa kebiasaan lama masih mencoba bertahan email mendadak, permintaan samar tetapi kini cepat tertangkap karena kontrasnya jelas.Yang samar terlihat mencurigakan.Salah satu manajer lintas divisi menghampirinya selepas rapat. Nada suaranya bersahabat, tapi matanya menghitung.“Kamu ketat

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 82 : Beban yang Terlihat

    Program itu resmi dimulai pada hari Senin, tanpa seremoni. Tidak ada pengumuman besar, tidak ada email massal yang mengutip nama Seeyana berulang-ulang. Hanya satu undangan kalender tambahan dan satu folder baru di sistem internal. Cukup untuk menandai perubahan, tidak cukup untuk mengganggu ritme.Seeyana menyadari sejak pagi beban tidak datang sebagai lonjakan, melainkan sebagai distribusi ulang. Tugas-tugas kecil berpindah tangan. Rapat-rapat singkat menyelip di sela jadwal. Tidak berat jika dilihat satu per satu tapi terasa jika dihitung keseluruhan.Ia menandai semuanya. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk membaca pola.Di rapat koordinasi pertama, fasilitator yang sama muncul. Nada masih ramah. Bahasa masih bersih. Tapi kini ada ekspektasi yang lebih spesifik.“Kita akan butuh respons cepat,” katanya. “Kadang di luar jam kerja.”Seeyana mengangkat tangan, tidak tergesa. “Sesuai kesepakatan, respons di luar jam kerja dijadwalkan da

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 81 : Garis yang Terpilih

    Pagi itu, Seeyana bangun tanpa rasa tergesa. Alarm berbunyi seperti biasa, dan tubuhnya merespons dengan patuh bukan karena disiplin kaku, melainkan karena kebiasaan yang sudah menyatu. Ia menyeduh kopi, membuka tirai, dan membiarkan cahaya masuk secukupnya. Hari konfirmasi tersisa satu.Ia tidak membuka surel lebih dulu. Ia memilih menyelesaikan rutinitasnya olahraga singkat, mandi, sarapan. Seolah-olah keputusan yang akan ia ambil nanti tidak berhak mencuri pagi yang rapi.Di kantor, kalender menunggu dengan blok warna yang tertata. Seeyana menambahkan satu catatan kecil di sela jadwal waktu berpikir. Bukan rapat. Bukan panggilan. Waktu yang ia jaga.Rapat pertama berjalan cepat. Di rapat kedua, seseorang menyelipkan kalimat, “Kalau Seeyana ikut program itu, kita bisa atur ulang beban tim.”Nada kalimatnya netral. Dampaknya tidak.Seeyana menatap pembicara itu. “Pengaturan ulang seperti apa?”“Lebih fleksibel,” jawabnya.

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 80 : Kesempatan yang Rapi

    Kesempatan itu datang dengan wajah yang nyaris sempurna.Seeyana menerimanya lewat surel singkat pada Senin pagi bahasanya bersih, strukturnya jelas, dan manfaatnya tertulis rapi. Program lintas divisi dengan mandat strategis. Durasi enam bulan. Visibilitas tinggi. Akses langsung ke pengambil keputusan. Tidak ada syarat yang terlihat mencurigakan.Ia membaca dua kali. Tidak menemukan celah. Justru itu yang membuatnya waspada.Di rapat pengantar, penjelasan disampaikan tanpa basa-basi. Program ini, kata fasilitator, ditujukan untuk mereka yang sudah menunjukkan konsistensi. “Kami ingin cara kerja yang bisa direplikasi,” katanya. “Dan Anda termasuk di dalamnya.”Beberapa pasang mata mengarah pada Seeyana. Tidak ada senyum iri. Tidak ada bisik. Hanya pengakuan singkat yang terasa resmi.“Partisipasi bersifat sukarela,” lanjut fasilitator. “Namun komitmen waktu cukup intens.”Di sanalah pengorbanan kecil itu disebut tanpa tekana

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 79 : Hal - Hal Sepele

    Ujian itu datang dalam bentuk yang nyaris tak terlihat.Tidak ada konflik besar. Tidak ada keputusan yang diumumkan. Hanya satu hari kerja yang tampak biasa dan justru karena itulah, ia berbahaya. Seeyana tiba di kantor lebih pagi dari biasanya, membawa daftar tugas yang tidak panjang namun padat. Ia sudah belajar: hari-hari seperti ini menguji konsistensi lebih keras daripada krisis terbuka.Email pertama yang ia buka adalah permintaan sederhana dari unit lain. Satu penyesuaian kecil pada laporan katanya agar lebih fleksibel. Seeyana membaca pelan. Kalimatnya halus. Alasannya masuk akal. Namun di lampiran, ia melihat satu angka yang digeser tanpa catatan.Ia membalas singkat, meminta klarifikasi tertulis dan rujukan perubahan. Tidak menuduh. Tidak menolak. Hanya meminta terang.Balasan datang cepat lebih cepat dari biasanya. Nada mulai berubah. Ada kalimat defensif yang diselipkan di antara basa-basi. Seeyana tidak terpancing. Ia mengulang permin

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 78 : Waktu yang Jujur

    Pertemuan itu akhirnya terjadi bukan karena rencana besar, melainkan karena kelelahan yang tidak lagi bisa ditunda.Seeyana menyadarinya pada Sabtu pagi, ketika ia duduk di meja makan dengan kopi yang sudah mendingin. Hari itu kosong. Tidak ada agenda. Tidak ada tenggat. Dan untuk pertama kalinya, kekosongan itu tidak terasa menenangkan.Ia membuka ponsel, menatap percakapan terakhir dengan Ravent. Kalimat mereka rapi, saling menghormati, dan jujur terlalu aman. Seolah mereka berdua sepakat untuk tidak menyentuh lapisan yang bisa mengubah segalanya.Seeyana menghela napas, lalu mengetik.Kita perlu bertemu. Bukan untuk memutuskan. Untuk jujur.Balasan datang tidak lama kemudian.Aku siap. Di mana?Tempat biasa, jawab Seeyana. Tanpa janji.Taman kota itu masih sama. Bangku kayu yang sedikit aus. Pohon besar yang menaungi separuh area. Dunia tetap berjalan di sekelilingnya, tak peduli pada dua orang yang datang de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status