Home / Romansa / Rahasia Istri Yang Disakiti / Bab 62 : Garis yang Ditarik

Share

Bab 62 : Garis yang Ditarik

Author: qia
last update Last Updated: 2026-01-20 11:31:58
Hari Senin membuka minggu dengan ritme yang berbeda. Bukan lebih cepat, bukan lebih lambat hanya lebih padat. Seeyana tiba di kantor lebih awal dari kebanyakan orang, seperti kebiasaan yang kini menjadi jangkar. Ia meletakkan tas, menyalakan komputer, dan membaca ulang agenda hari itu tanpa ekspresi berlebih.

Ada satu rapat lintas divisi yang ditandai merah.

Bukan karena skalanya besar, melainkan karena kepentingannya berlapis. Proyek yang ia pimpin kini menyentuh area yang selama ini dijaga orang lain wilayah abu-abu yang sering menjadi sumber gesekan. Seeyana tidak gentar, tapi ia tahu di titik seperti ini, kesalahan kecil bisa ditarik menjadi persoalan besar.

Ia menarik napas, menyesap kopi, dan mulai bekerja.

Rapat dimulai tepat waktu. Ruang kaca lantai delapan dipenuhi suara kursi ditarik dan layar presentasi yang menyala. Seeyana duduk tegak, mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Ia membiarkan orang lain memaparkan kekhawatiran mereka, mencatat tanpa menyela.

Ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 82 : Beban yang Terlihat

    Program itu resmi dimulai pada hari Senin, tanpa seremoni. Tidak ada pengumuman besar, tidak ada email massal yang mengutip nama Seeyana berulang-ulang. Hanya satu undangan kalender tambahan dan satu folder baru di sistem internal. Cukup untuk menandai perubahan, tidak cukup untuk mengganggu ritme.Seeyana menyadari sejak pagi beban tidak datang sebagai lonjakan, melainkan sebagai distribusi ulang. Tugas-tugas kecil berpindah tangan. Rapat-rapat singkat menyelip di sela jadwal. Tidak berat jika dilihat satu per satu tapi terasa jika dihitung keseluruhan.Ia menandai semuanya. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk membaca pola.Di rapat koordinasi pertama, fasilitator yang sama muncul. Nada masih ramah. Bahasa masih bersih. Tapi kini ada ekspektasi yang lebih spesifik.“Kita akan butuh respons cepat,” katanya. “Kadang di luar jam kerja.”Seeyana mengangkat tangan, tidak tergesa. “Sesuai kesepakatan, respons di luar jam kerja dijadwalkan da

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 81 : Garis yang Terpilih

    Pagi itu, Seeyana bangun tanpa rasa tergesa. Alarm berbunyi seperti biasa, dan tubuhnya merespons dengan patuh bukan karena disiplin kaku, melainkan karena kebiasaan yang sudah menyatu. Ia menyeduh kopi, membuka tirai, dan membiarkan cahaya masuk secukupnya. Hari konfirmasi tersisa satu.Ia tidak membuka surel lebih dulu. Ia memilih menyelesaikan rutinitasnya olahraga singkat, mandi, sarapan. Seolah-olah keputusan yang akan ia ambil nanti tidak berhak mencuri pagi yang rapi.Di kantor, kalender menunggu dengan blok warna yang tertata. Seeyana menambahkan satu catatan kecil di sela jadwal waktu berpikir. Bukan rapat. Bukan panggilan. Waktu yang ia jaga.Rapat pertama berjalan cepat. Di rapat kedua, seseorang menyelipkan kalimat, “Kalau Seeyana ikut program itu, kita bisa atur ulang beban tim.”Nada kalimatnya netral. Dampaknya tidak.Seeyana menatap pembicara itu. “Pengaturan ulang seperti apa?”“Lebih fleksibel,” jawabnya.

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 80 : Kesempatan yang Rapi

    Kesempatan itu datang dengan wajah yang nyaris sempurna.Seeyana menerimanya lewat surel singkat pada Senin pagi bahasanya bersih, strukturnya jelas, dan manfaatnya tertulis rapi. Program lintas divisi dengan mandat strategis. Durasi enam bulan. Visibilitas tinggi. Akses langsung ke pengambil keputusan. Tidak ada syarat yang terlihat mencurigakan.Ia membaca dua kali. Tidak menemukan celah. Justru itu yang membuatnya waspada.Di rapat pengantar, penjelasan disampaikan tanpa basa-basi. Program ini, kata fasilitator, ditujukan untuk mereka yang sudah menunjukkan konsistensi. “Kami ingin cara kerja yang bisa direplikasi,” katanya. “Dan Anda termasuk di dalamnya.”Beberapa pasang mata mengarah pada Seeyana. Tidak ada senyum iri. Tidak ada bisik. Hanya pengakuan singkat yang terasa resmi.“Partisipasi bersifat sukarela,” lanjut fasilitator. “Namun komitmen waktu cukup intens.”Di sanalah pengorbanan kecil itu disebut tanpa tekana

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 79 : Hal - Hal Sepele

    Ujian itu datang dalam bentuk yang nyaris tak terlihat.Tidak ada konflik besar. Tidak ada keputusan yang diumumkan. Hanya satu hari kerja yang tampak biasa dan justru karena itulah, ia berbahaya. Seeyana tiba di kantor lebih pagi dari biasanya, membawa daftar tugas yang tidak panjang namun padat. Ia sudah belajar: hari-hari seperti ini menguji konsistensi lebih keras daripada krisis terbuka.Email pertama yang ia buka adalah permintaan sederhana dari unit lain. Satu penyesuaian kecil pada laporan katanya agar lebih fleksibel. Seeyana membaca pelan. Kalimatnya halus. Alasannya masuk akal. Namun di lampiran, ia melihat satu angka yang digeser tanpa catatan.Ia membalas singkat, meminta klarifikasi tertulis dan rujukan perubahan. Tidak menuduh. Tidak menolak. Hanya meminta terang.Balasan datang cepat lebih cepat dari biasanya. Nada mulai berubah. Ada kalimat defensif yang diselipkan di antara basa-basi. Seeyana tidak terpancing. Ia mengulang permin

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 78 : Waktu yang Jujur

    Pertemuan itu akhirnya terjadi bukan karena rencana besar, melainkan karena kelelahan yang tidak lagi bisa ditunda.Seeyana menyadarinya pada Sabtu pagi, ketika ia duduk di meja makan dengan kopi yang sudah mendingin. Hari itu kosong. Tidak ada agenda. Tidak ada tenggat. Dan untuk pertama kalinya, kekosongan itu tidak terasa menenangkan.Ia membuka ponsel, menatap percakapan terakhir dengan Ravent. Kalimat mereka rapi, saling menghormati, dan jujur terlalu aman. Seolah mereka berdua sepakat untuk tidak menyentuh lapisan yang bisa mengubah segalanya.Seeyana menghela napas, lalu mengetik.Kita perlu bertemu. Bukan untuk memutuskan. Untuk jujur.Balasan datang tidak lama kemudian.Aku siap. Di mana?Tempat biasa, jawab Seeyana. Tanpa janji.Taman kota itu masih sama. Bangku kayu yang sedikit aus. Pohon besar yang menaungi separuh area. Dunia tetap berjalan di sekelilingnya, tak peduli pada dua orang yang datang de

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 77 : Jarak yang Bertahan

    Sunyi yang datang setelah keputusan bukan sunyi yang kosong.Ia penuh dengan jeda-jeda kecil yang harus diisi tanpa kebisingan. Seeyana merasakannya di minggu itu hari-hari berjalan rapi, nyaris tanpa gangguan, namun justru di situlah pikirannya diuji. Tidak ada konflik terbuka untuk dilawan. Tidak ada drama untuk diselesaikan. Hanya rutinitas yang menuntut ketekunan.Ia bekerja dengan ritme yang sama. Datang tepat waktu. Pulang tanpa membawa sisa pekerjaan yang seharusnya selesai. Ia menolak lembur yang tidak perlu, bukan sebagai pernyataan melainkan sebagai batas yang konsisten.Beberapa orang mulai menyesuaikan. Yang lain masih mengamati.Dalam satu rapat kecil, seorang anggota tim berkata, “Cara kerja kita sekarang… lebih sunyi dan damai.”“Sunyi bukan berarti lambat,” jawab Seeyana. “Ia hanya tidak ramai.”Tidak ada bantahan. Tidak ada pujian. Sunyi itu diterima.Di luar kantor, hidupnya juga bergerak dengan pola se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status