ANMELDENRuang rapat utama La Grande pagi itu dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Para pemegang saham utama, jajaran direksi, dan komisaris duduk mengelilingi meja panjang berlapis kayu mahoni. Di ujung meja, Satya duduk tenang dengan ekspresi yang sulit ditebak, sementara di sisi kanan, Raga tampak rapi dan professional, seolah ia tidak sedang memimpin sebuah kudeta halus di balik topeng ketenangannya.
"Baik," ujar Satya sambil meletakkan dokumen di hadapannya. "Karena rapat iniSalva tertidur pulas di atas ranjang setelah meminum obat penurun demam yang diberikan dokter. Wajahnya masih tampak pucat. Bahkan saat tidur pun, alisnya sedikit berkerut seolah tubuhnya masih berjuang melawan sesuatu. Juna duduk di kursi di samping ranjang, memperhatikan istrinya dalam diam. Ia seharusnya senang. Berita yang selama ini menghancurkan mereka akhirnya berbalik arah. Hasil tes DNA yang diumumkan Satya membuat publik mulai mempertanyakan Aleya. Banyak orang yang sebelumnya menghujat Juna kini berbalik menyerang mantan istrinya. Namun anehnya, Juna tidak merasakan kemenangan apa pun. Karena selama tiga hari terakhir, pikirannya hanya dipenuhi oleh Salva. Keadaan wanita itu terus memburuk. Demamnya naik turun dan nafsu makannya hampir hilang sepenuhnya. Ia juga mulai menghindari cahaya matahari. Bahkan saat tirai dibuka sedikit saja, Salva akan memejamkan mata dan mengeluh pusing. Belum lagi rasa mual yang datang tanpa peri
Seminggu berlalu, dan alih-alih mereda, skandal tentang Juna justru membara. Nama Juna Wiwaha menjadi santapan harian media yang berlomba-lomba mengangkat narasi klise. Satya awalnya memilih diam, karena ia tahu dalam dunia bisnis, tidak semua serangan layak dibalas. Namun, ketika fitnah tersebut mulai menyeret nama besar keluarga Wiwaha dan menggerogoti harga saham La Grande, kesabarannya mencapai titik nadir. Pagi itu, sebuah konferensi pers mendadak diumumkan. Ruang utama La Grande dipadati awak media. Tak ada yang menyangka Satya akan muncul sendiri. Pria tua itu berjalan masuk dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi, didampingi Vicky dan jajaran pengacara dari firma hukum paling bergengsi. Kilatan kamera segera membabi buta, memenuhi ruangan dengan cahaya yang menyilaukan. Satya duduk di depan mikrofon. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, yang justru membuat suasana ruangan terasa jauh lebih mencekam. "Kalian s
Juna dan Salva sama sekali tidak tahu bahwa di belahan dunia lain, nama mereka sedang menjadi bahan perbincangan panas. Saat berbagai portal berita dan akun gosip bisnis sibuk menyebarkan narasi tentang seorang pria yang menghamili mantan istrinya lalu kabur ke luar negeri demi menikahi wanita lain, keduanya justru sedang duduk tenang di ruang konsultasi dokter. Dokter yang menangani Juna tampak jauh lebih ceria dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Ia membuka hasil pemeriksaan terbaru sambil tersenyum lebar. "Perkembangannya sangat baik, Tuan Juna." Salva yang duduk di samping suaminya langsung terlihat lega. "Benarkah, Dok?" Dokter mengangguk mantap. "Jauh lebih baik dari yang kami perkirakan. Setelah operasi terakhir, respons saraf dan ototnya meningkat signifikan. Saya bahkan ingin mulai mengurangi ketergantungan Anda pada kursi roda." Mata Salva langsung berbinar. "Maksudnya?" "Kita mulai latihan menggunakan kruk,"
Ruang rapat utama La Grande pagi itu dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Para pemegang saham utama, jajaran direksi, dan komisaris duduk mengelilingi meja panjang berlapis kayu mahoni. Di ujung meja, Satya duduk tenang dengan ekspresi yang sulit ditebak, sementara di sisi kanan, Raga tampak rapi dan professional, seolah ia tidak sedang memimpin sebuah kudeta halus di balik topeng ketenangannya. "Baik," ujar Satya sambil meletakkan dokumen di hadapannya. "Karena rapat ini diminta secara resmi, saya ingin mendengar alasan-alasannya." Seorang direktur senior segera membuka suara. "Kita tidak bisa memungkiri bahwa Tuan Juna sudah cukup lama tidak menjalankan tugas secara langsung." Beberapa orang mengangguk setuju. "Seluruh keputusan operasional tertunda," sahut yang lain. "Koordinasi lintas divisi menjadi lambat, dan investor mulai mempertanyakan stabilitas perusahaan." Satya hanya mendengarkan. Ia tidak membela Juna, pun tidak menyela
Sore itu, bias mentari senja di Jerman meluncur turun dengan anggun. Cahaya keemasan menerobos masuk menembus jendela kaca besar di ruang keluarga kastil, membasuh ruangan itu dalam atmosfer yang hangat sekaligus tenang. Juna duduk di kursi rodanya, tepat di dekat perapian yang sedang padam. Di atas meja kecil di hadapannya, sebuah tablet menampilkan panggilan video layar penuh yang memperlihatkan wajah Satya Wiwaha dan Vicky. "Kami menerima pemberitahuan resminya pagi ini," buka Vicky, memecah keheningan. "Raga mendesak diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa darurat. Agenda utamanya murni untuk mengevaluasi posisimu sebagai Direktur Pelaksana." Juna mengangguk pelan. Tidak ada riak keterkejutan di wajahnya. Sikap tenangnya justru membuat Vicky yang berada di seberang lini video merasa heran. "Kalau mereka memang berhasil menggulingkanku, ya sudah," sahut Juna enteng. Sepasang mata tua Satya seketika menyipit tajam. "Ya sud
Di tengah kesibukan mempersiapkan rapat darurat pemegang saham, keheningan ruang kerja Raga pecah. Pintu ganda ruangan itu terbuka kasar tanpa ketukan, menampilkan sosok Aleya dengan napas memburu dan wajah yang diselimuti amarah membara. "Aku sudah mencarimu selama berhari-hari, Raga!" Raga yang sedang meneliti berkas di atas meja hanya mengangkat pandangan sekilas, lalu kembali fokus pada dokumennya. "Ada apa?" "Ada apa?" Aleya tertawa getir, nada suaranya bergetar menahan ketidakpercayaan. "Anakku hampir celaka, Raga! Aku telantar di rumah sakit, pria tua bangka itu mendatangi dan menginterogasiku layaknya penjahat. Dan selama neraka itu terjadi, kamu bahkan tidak menunjukkan batang hidungmu sekali pun!" Raga meletakkan pulpennya perlahan. Gerakannya begitu tenang, sangat kontras dengan badai emosi yang dibawa Aleya. Tatapannya turun, tertuju lurus pada perut Aleya yang kini mulai membulat. "Aku tahu." "Kalau kamu tahu,
Pertanyaan Satya itu terus bergema di kepala Juna, bahkan setelah sambungan telepon berakhir lama. "Apa kau masih yakin itu anakmu?" Awalnya, ego Juna ingin langsung membantah. Namun, semakin lama ia memikirkannya, riak-riak keraguan justru bermunculan ke permukaan. Jika anak
Di belahan dunia lain, jauh dari bayang-bayang nama La Grande, ancaman Raga yang tak pernah berakhir, dan permainan kekuasaan yang melelahkan, Juna menjalani hari-harinya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Semuanya terasa tenang, lambat, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia
Ketegangan yang memenuhi meja itu akhirnya memuncak. Aleya yang sejak tadi berusaha mempertahankan kesombongannya mendadak memucat. Jemarinya yang mencengkeram tepi meja bergetar hebat. Rasa nyeri yang tajam menusuk bagian bawah perutnya. Skenario sempurna yang ia susun buyar
Aleya berdiri di depan cermin kamarnya, jemarinya mengusap lembut perut yang kini mulai menonjol. Senyum tipis terbit di bibirnya. Perasaan ini, perasaan yang sudah bertahun-tahun ia nantikan, akhirnya menjadi kenyataan. Dulu, bisik-bisik orang selalu menghantuinya. Mandul. Tidak bisa m







