LOGINSepulang dari pertemuan terakhirnya dengan Reyla. Gadis itu lebih banyak tenggelam ke dalam pikirannya.
Bagaimana mungkin kebetulan yang tidak mengenakan ini terus saja menimpa hidupnya. Hanya membayangkan dirinya yang bekerja dalam satu instansi yang sama dengan Arthur saja berhasil membuatnya hampir gila, apalagi saat menjalaninya. Dua hari, Valerie menghabiskan waktunya memikirkan cara untuk bertahan di tempat itu. Ia tidak lagi ketakutan akan cerita dunia perkoasan yang akan mungurangi jadwal tidurnya, perbedaan kasta dari latar belakanh keluarga atau sesederhana terkunci di ruang penyimpanan mayat. Itu semua terasa ringan begitu mengetahui dirinya akan sekantor dengan Arthur. Laki-laki yang berhasil mengobrak-abrik isi kepalanya selama 4 hari belakangan. Belum lagi, anak dari pria itu masih terus heboh menghubunginya. Sahabat satu-satunya juga pinda negara. Hampir seminggu ini, kepala Valerie dibuat penuh dengan berbagai macam unsur masalah. Gadis itu memejamkan matanya, lalu mengambil napas panjang dan mengulanginya beberapa kali sampai merasa lebih baik. Jemari panjangnya menggenggam pulpen, men-checklist barang-barang untuk koas besok pagi, kemudian memasukkannya ke dalam ransel. Ia memutuskan untuk beristirahat setelahnya. *** Valerie mengeratkan pegangan pada tali ranselnya, kakinya melangkah panjang mengejar pos penjaga rumah sakit. "Permisi ... pak, gedung A letaknya di mana, ya?" Valerie bertumpu pada lututnya, menetralkan napasnya yang tersengal. "Kau residen? Wah ... kau sangat terlambat. Teman-temanmu sudah tiba setengah jam yang lalu." "Benarkah?" Laki-laki berseragam petugas keamanan itu mengangguk, "Ya, sekarang kau masuk lalu naik lift ke lantai 3. Ambil lift yang ada di sisi kanan, lalu belok ke kiri." Valerie menelan ludah kasar bersiap untuk kembali berlari mengejar ketertinggalannya, "Terima kasih, pak!" "Semangat, dokter muda!" Ucapan pria itu berhasil menarik sebuah garis senyuman di wajahnya. Valerie berjanji akan mampir dan meneraktir laki-laki itu jika ada waktu. Ia menekan tombol empat dan segera menutup pintu lift yang kebetulan hanya diisi dirinya seorang. Lift berdenting ketika mencapai lantai empat, Valerie segera keluar. "Valerie Miller?" Langkah gadis itu tertahan di udara, matanya membola menatap pemandangan di depannya. Arthur berdiri tepat di hadapannya bersama dengan tiga orang anak muda, yang Valerie asumsikan sebagai teman koasnya nanti, memandangnya dengan tatapan mengasihi. "Benar kau Valerie Miller?" Arthur melirik jam tangannya, "Kau terlambat 45 menit 27 detik." "M-maaf, Prof, tadi saya—" Arthur mengangkat tangannya, memberi gestur berhenti. "Temui saya di kantor, sekarang ikuti saya." Valerie menundukkan kepalanya, mundur ke belakang membiarkan empat orang di depannya masuk. Semua orang di dalamnya hanya diam, sama sekali takut bergerak bahkan mengembuskan napas. Pintu terbuka, Arthur melangkah di ikuti oleh empat orang di belakangnya. "Kenalkan namaku Ashley." Valerie menoleh ketika mendengar bisikan di telinga kanannya. "Aku Harry dan ini James." Ia menoleh ke kiri begitu mendengar bisikan itu. Bibirnya memasang senyum kikuk, "Valerie." Langkah mereka berhenti ketika Arthur menghentikan langkahnya. "Untuk hari pertama, tugas kalian hanya mencatat riwayat pasien. Mulai besok persiapkan diri jika saya menanyakan sesuatu. Mengerti?" Mata pria itu memindai wajah anak-anak bimbingannya. Empat mahasiswa itu mengangguk cepat tanpa berani mengeluarkan suara. "Bagus, sekarang keluarkan catatan kalian." Setelahnya, mereka masuk ke dalam ruang inap pasien dan mendengarkan ucapan Arthur kemudian mencatat. Satu persatu unit mereka kunjungi. Empat dokter muda itu diam-diam mengibaskan tangannya yang terasa kebas mencatat riwayat pasien. Valerie menyandarkan punggung ke lift, merasakan tulang belakangnya yang pegal-pegal. Tentu saja, mereka baru saja berkeliling ke 30 unit yang berisi 3-4 orang per unitnya. Kini, kelima orang tersebut kembali ke lantai 3. "Ikuti saya." Arthur menatapnya lalu berjalan terlebih dahulu. Tanpa bertanya, Valerie mengikuti setiap langkah pria itu dengan jantung yang berdebar tak karuan. "Duduk." ucap Arthur ketika sudah sampai di ruang kerjanya. Ia mengikuti perintah laki-laki itu tanpa bertanya, bersamaan dengan bulu kuduknya yang berdiri. Netra gadis itu terpaku pada ujung sepatunya daripada melirik pria di hadapannya yang menatapnya lekat. "Apa alasanmu terlambat?" Valerie meremas jemarinya merasa terancam mendengar nada suara laki-laki itu, "T-tadi mobil saya mendadak mati di jalan, Prof." "Yakin, bukan karena terlambat bangun?" Kepalanya menggeleng cepat, "Tidak, Prof. Saya bangun satu jam lebih awal." Arthur berdiri, melepas jas putihnya. "Baik ..." ia kembali duduk, "Aku tak menyangka kita akan bertemu dengan posisi seperti ini." Bibir pria itu melengkung menerbitkan sebuah senyuman manis. "Menurutmu apa yang harus kulakukan kepada koasku yang terlambat?" Valerie mengepalkan tangannya gugup, "Saya akan menerima semua hukuman yang diberikan." "Benarkah?" Arthur mengangkat salah satu alisnya merasa tertarik. Tangan laki-laki itu menopang dagunya di atas meja. "Kau yakin?" "Saya siap menerimanya, Prof." Kepalanya mengangguk kecil. "Hmm, ok? Kalau begitu kau harus menjadi kekasihku." Valerie melebarkan matanya tidak percaya, "Apa?" "Kau bilang akan menerima semua hukuman, kan? Aku ingin kau menjadi kekasihku mulai saat ini." "Tidak. K-kau ... yang benar saja! Ini bukan masalah pekerjaan." sungutnya tak terima. "Memang tapi ini tawaran yang lebih bermanfaat untuk kita daripada hukuman pada umumnya." "Aku menolak. Aku lebih memilih hukuman pada umumnya." "Kenapa? Apa kau masih tidak mau menerima fakta kau berhubungan denganku?" Mata gadis itu mendelik seketika, "Pelankan suaramu, orang-orang bisa mendengarnya." Laki-laki di depannya hanya menggulum bibir sebelum mengeluarkan kekehan kecil. "Jadi, kau masih menggelak?" Valerie melempar tatapan mematikan. "Oh ... kau sudah menerima. Lalu apa masalahnya berkencan denganku? Arsen?" balas laki-laki itu seakan membaca isi kepala Valerie. Sang gadis memejamkan matanya sembari menghirup napas, "Tentu tidak ..." tapi percuma saja karena berikutnya Valerie mengusap wajahnya, "Kau konsulenku, dammit!" "Wow, lihatlah nona muda ini," komentar Arthur diikuti kekehan dari pria itu setelahnya. "Aku suka keberanianmu sekarang." Valerie menggigit bibir bawahnya menahan kesal dengan kelakuan sang konsulen yang terlihat terhibur dengan reaksinya. "Ayolah, terima saja. Banyak keuntungan yang bisa kau rasakan dengan mengencaniku." "Aku tak pernah tahu kau punya kepercayaan diri setinggi ini." "Akh hanya memperlihatkannya kepada orang yang spesial. Bagaimana, tertarik?" Valerie mengedipkan matanya tidak percaya, "Yikes. Aku memilih untuk mendapat perlakuan seperti teman-temanku yang lain." Arthur menatapnya lekat. Jemari pria itu mengetuk permukaan meja dengan tempo sedang yang membuat suasana sedikir mencekam. "Perlakuan seperti yang lain ... ok," Pria itu menggerakkan alisnya ke atas lalu melihat jam di tangannya. Valerie mengelus ibu jarinya pelan, menyesali perkataan dan pemilihan kalimat yang dia ucapkan. Instingnya berbisik bahwa ia baru saja membangunkan singa yang tidur. "Saya ada jadwal operasi setengah jam lagi. Kabari temanmu, kau boleh keluar." Pria itu berdiri dari kursinya, kali ini dia melepaskan kemejanya, menampakkan tubuh bagian atasnya yang masih sekal dengan otot. Valerie melempar pandangan ke arah rak buku untuk mengalihkan perhatiannya. "Kenapa masih di sini? Kau boleh pergi sekarang." "B-baik, Prof. Emm, jadi saya tidak dihukum , Prof?" "Tentu saja tidak, kau akan tahu hukumannya nanti. Sekarang keluar." balas laki-laki itu tanpa menoleh ke arahnya.Sepulang dari pertemuan terakhirnya dengan Reyla. Gadis itu lebih banyak tenggelam ke dalam pikirannya.Bagaimana mungkin kebetulan yang tidak mengenakan ini terus saja menimpa hidupnya. Hanya membayangkan dirinya yang bekerja dalam satu instansi yang sama dengan Arthur saja berhasil membuatnya hampir gila, apalagi saat menjalaninya. Dua hari, Valerie menghabiskan waktunya memikirkan cara untuk bertahan di tempat itu. Ia tidak lagi ketakutan akan cerita dunia perkoasan yang akan mungurangi jadwal tidurnya, perbedaan kasta dari latar belakanh keluarga atau sesederhana terkunci di ruang penyimpanan mayat. Itu semua terasa ringan begitu mengetahui dirinya akan sekantor dengan Arthur. Laki-laki yang berhasil mengobrak-abrik isi kepalanya selama 4 hari belakangan. Belum lagi, anak dari pria itu masih terus heboh menghubunginya. Sahabat satu-satunya juga pinda negara. Hampir seminggu ini, kepala Valerie dibuat penuh dengan berbagai macam unsur masalah. Gadis itu memejamkan matanya, lalu
"Tidak." Balas Valerie tanpa panjang lebar membuat ekspresi wajah dari laki-laki di depannya berubah dari penuh harapan dengan mata berkaca-kaca menjadi membelalak lebar. "Aku mohon—" "Tidak sekarang." Potongnya cepat. Arsen memiringkan kepalanya, seolah bertanya: kenapa tidak sekarang? "Dosenku sudah sampai." Tangannya menunjuk ke arah orang yang dimaksud. Tanpa menunggu jawaban, Valerie kembali ke tempat duduknya. Tak lama, dosen masuk ke dalam, menata barang-barang bawaan dan mulai membagikan selembar kertas satu per satu. Setelahnya, pria paruh baya dengan kacamata tebal itu memberikan instruksi singkat mengenai koas. Begitu sang dosen meninggalkan kelas, Valerie segera keluar mengingat Arsen yang menunggu di luar, tapi ia sama sekali tidak menemukan batang hidung laki-laki itu. Kepalanya bergerak kesana-kemari sambil berjinjit, menelisik lebih teliti tapi hasilnya tetap sama. Decakan kecil keluar dari sudut bibirnya. Valerie memilih untuk pulang. Dia sudah lelah d
"Kau mau muntah atau apa? Jangan menatapku seolah aku yang bersalah di sini." Valerie mengelus wajahnya kasar. Memang benar sejak tadi gadis itu tak melepaskan lirikannya dari setiap pergerakan yang Arthur lakukan, ia pikir pria itu tidak menyadarinya. "Aku hanya—tidak percaya?" Tangannya menutupi mata. Dia juga tak percaya, ketika otaknya berbisik laki-laki itu tampak menawan dengan apron dan juga otot tangannya yang menegang saat mengocok telur. Arthur mengerutkan dahi seraya melumuri roti dengan butter. "Ini sudah hampir satu jam sejak kau bangun dan kau masih tidak percaya?" "Ayolah—" Valerie berdecak. "Kau ayah tunanganku..." Arthur menggeleng tidak setuju, "Mantan." koreksinya. Aroma roti panggang dan lelehan butter yang diletakkan Arthur entah mengapa malah membuat perutnya bergejolak. "Kau tahu? Arsen yang bilang?" Perlahan mendorong piring itu menjauh darinya. Laki-laki itu menyuap makanannya sebelum menjawab, "Tidak—Ah, panas! K-kau yang mengatakannya?" Gadis itu me
"Terima kasih atas hadiah kelulusannya. Aku bersumpah akan membalasnya." Barisan kata itu terus berputar tanpa henti di kepala Valerie. Tapi siapa yang dia bohongi sekarang? Alkohol dan patah hati adalah kombinasi yang pas karena berhasil membuang otak cerdasnya ke dasar jurang. Di tengah hujan deras dan kesunyian malam, gadis itu bersikeras meminta sopir menurunkannya. Dia sama sekali enggan menanggapi ucapan si pengemudi yang menawarinya payung sebelum keluar dari kabin. Langkahnya berhenti di depan pagar besi yang menjulang tinggi sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Kakinya menjejak di atas paving bata tanpa keseimbangan utuh, layaknya zombie. Dua hari pascamalam kelulusannya, Valerie tak dapat memungkiri perasaan gamang akan penjelasan Arsen. Malam ini akal sehatnya tenggelam dalam lautan vodka dan berhasil mendorongnya untuk menggubris tuntutan kejelasan yang mengganggunya, walaupun bukti mutlak sudah berada di tangannya. Valerie masih tidak terima pasaln
Selama dua tahun berpacaran dan satu tahun menyandang status bertunangan, Valerie tidak pernah sedikit pun menaruh curiga pada kesetiaan Arsen—tidak pernah setitik pun. Namun, prasangkanya terbantahkan setelah menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Di tengah gemerlap pesta perayaan kelulusan mahasiswa kedokteran yang kini resmi menyandang gelar sarjana, Valerie justru terpaku menatap layar ponselnya, alih-alih menikmati kemeriahan bersama yang lain. Perpaduan musik pop yang mengalun bersama dengan gelak tawa dari sekitar berputar di kepalanya seolah menertawakan situasi yang sedang dihadapi. Ponsel di tangannya menampilkan dua insan berlawanan jenis tengah tidur saling memeluk dalam keadaan tanpa busana. Penampakan figur familiar itu berhasil memacu darah ke area wajah Valerie dengan cepat, tetapi mengingat kecanggihan teknologi zaman sekarang membuatnya ragu akan keaslian gambar tersebut. Setelah mengirimkan balasan, ia berniat mencari tempat duduk. Sepatu berhak







